Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Tidak berhak cemburu!!


__ADS_3

Dika memicingkan matanya ketika dia melihat pemandangan yang sanggup membuat hatinya berkedut nyeri. Tania menyuruhnya keluar untuk membeli makanan karena tidak menyukai sajian yang di hidangkan Bibik. Tania merasa jijik melihat tangan keriput si pembantu yang memang sudah lanjut usia.


Untuk memastikan dugaannya, Dika membelokkan mobilnya bahkan rela memotong jalan. Beruntung tidak ada mobil atau motor melintas. Jika saja ada, perbuatannya sekarang pasti akan menimbulkan sedikit kericuhan.


Itu benar mereka. Dia mengajaknya makan di tempat kumuh ini? Apa Ayu bisa menelannya?


Selayaknya orang kaya baru, Dika mencibir di dalam hati seraya turun dari mobilnya. Matanya menatap warung nasi dengan mimik wajah penuh hinaan.


Padahal dulu, dia selalu hidup sederhana bahkan pernah memakan sesuatu yang tidak layak. Seharusnya kehidupan pahit itu bisa di jadikan pelajaran juga pengalaman. Tapi rupanya harta dan jabatan membuat hatinya di tutupi kesombongan.


"Jadi benar ini kalian." Sapa Dika berdiri di belakang Ayu dan Samuel yang langsung menoleh.


"Oh.. Kau?" Jawab Ayu ketus. Dia kembali duduk tegak. Mencoba untuk tidak menghiraukan sapaan Dika.


"Sudah ku katakan bukan. Pilihlah lelaki yang lebih baik, jangan yang lebih buruk seperti dia!" Menunjuk kasar ke Samuel." Kau akan hidup susah dan makan di pinggir jalan seperti sekarang!!" Dika tidak memahami kalau mobil mewah yang terparkir di depan mobil miliknya adalah mobil Samuel.


"Kita sudah tidak ada urusan Mas. Besok surat resmi perceraian kita akan keluar." Ayu kembali mencoba bersikap acuh agar rasa kecewa dan sakitnya tidak terlihat di mata Dika. Dia masih tidak ingin di sebut lemah agar Dika tidak semakin mengoloknya.


"Fikirkan lagi. Kau akan menyesal memilih dia." Samuel berdiri di ikuti oleh Ayu yang langsung berdiri di depannya. Dia tidak ingin kejadian di swalayan kembali terulang.


"Menyesal atau tidak. Kau tidak ada urusan lagi. Silahkan nikmati hidup yang kau pilih. Tidak perlu mengganggu ku." Ayu menggenggam erat tangan Samuel yang akan terayun." Tidak sayang. Jangan kotori tanganmu dengan menyentuh lelaki ini." Pinta Ayu lirih. Dia kembali melontarkan kata-kata yang langsung bisa di mengerti Samuel.


Dia bahkan tidak pernah memanggil ku sayang! Tapi dia dengan mudah memanggil lelaki asing ini dengan sebutan sayang.


Rasa cemburu menjalar cepat sebab sejatinya Dika masih memiliki rasa untuk Ayu. Keputusan untuk berpisah terasa mengambang hingga saat ini, walaupun dia tidak sanggup menolak godaan dari Tania.


"Waw. Hubungan kalian cepat akrab ya. Aku pastikan bukan karena uang tapi.. Apa dia sudah memberikan mu sentuhan yang sudah lama tidak ku berikan."


Tanpa basa-basi, Ayu mengangkat tangannya lalu menghadiahkan sebuah tamparan keras sebanyak tiga kali. Dia sungguh geram mendengar hal itu padahal semua keburukan sudah di tumpahkan pada tubuhnya tadi pagi.


"Jaga mulutmu Mas!!" Tuturnya mendorong pundak kanan Dika." Aku sama sekali tidak menyangka kau bisa berkata itu seakan kau tidak mengenalku dengan baik! Apa jabatan sudah membutakan mu hah!" Ayu menatap geram ke arah Dika dengan mata berkaca-kaca." Apa kau merasa hebat dengan hidupmu sekarang hingga kau lebih memilih pellacur itu daripada aku!" Samuel sengaja membiarkan semuanya terjadi. Dia ingin Ayu bisa meluapkan kekesalannya.


"Dia bukan pellacur! Dia berbeda darimu! Itu kenapa aku memilihnya."


"Hahaha tentu saja berbeda! aku juga tidak ingin kau menyamakan ku dengannya. Dia wanita perebut dan aku..." Menunjuk dadanya sendiri." Aku menyesal sudah menunggu mu saat itu. Seharusnya aku bisa menikah dengan lelaki yang setidaknya tidak seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Apa kau tidak malu mengumpat padaku!! Aku menemani mu dari saat kau tidak memiliki apapun hingga sekarang! Lalu setelah kau bisa hidup berkecukupan, kau menggantikan posisiku dengan batu kerikil itu. Pergi!" Ayu kembali mendorong tubuh Dika seraya menunjuk wajahnya." Aku tidak ingin melihat mu! Tidak perlu susah-susah mencibir hidupku sekarang. Lebih baik aku memiliki pasangan miskin daripada lelaki seperti mu!!" Dika yang tidak mau kalah, mencoba tetap tersenyum walaupun perkataan Ayu membuatnya semakin di rundung penyesalan.


Rentetan kenangan dari awal pertemuan melintas. Ayu hanya memiliki hubungan dengannya. Dia tidak pernah mengenal lelaki lain walaupun sangat banyak orang tua yang menginginkannya untuk menjadi menantu.


"Kenapa kau malah tersenyum. Pergi dari sini." Pinta Samuel penuh penekanan. Tangannya merangkul kedua pundak Ayu erat. Sabar dulu Babe. Sebentar lagi lelaki ini akan menyadari betapa kecilnya dirinya..


"Aku akan pergi! Aku hanya sekedar mengingatkan dia saja!" Menunjuk ke Ayu.


"Tidak perlu repot-repot. Dia menjadi tanggung jawabku sekarang. Walaupun aku hanya bisa memberikan makanan sederhana, setidaknya aku tidak menekan hidupnya seperti yang kau lakukan." Dika membuang nafas kasar, ini kali pertama dia berbicara dengan Samuel yang dulu hanya melontarkan perkataan singkat.


"Dia memang pantas denganmu! Tapi untuk menjadi Istri Direktur, dia jauh dari kata pantas!"


Sungguh menggelikan perkataan Dika. Dia tidak sadar kalau lelaki yang berdiri di hadapannya merupakan pemilik perusahaan tempatnya mencari nafkah.


"Och Babe. Kamu memang pantas menjadi Istri ku. Bukan Istri seorang Direktur. Pergilah sampah. Sebelum aku menjahit mulut mu yang mirip wanita itu."


Seharusnya Samuel bisa membawa Ayu pergi. Tapi dia merasa jika ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan kekuasaannya.

__ADS_1


"Pergi kataku!!" Samuel meraih kerah baju Dika lalu mendorongnya hingga terduduk di tanah." Kau akan membayar mahal untuk air matanya yang jatuh!" Imbuh Samuel menunjuk kasar.


"Sialan!! Pegawai Cafe bisa apa! Hahaha... Ingat perkataan ku Ayu! Kau akan menyesal hidup dengan lelaki miskin itu." Teriak Dika seraya pergi dengan wajah masam.


Beberapa orang yang ada di sana malah di buat bingung termasuk si pemilik warung. Sebab mereka melihat sendiri kalau Samuel datang dengan mobil mewahnya sementara mobil Dika terlihat biasa saja.


Sebenarnya siapa yang miskin? Mobil milik lelaki yang di sebut miskin sepuluh kali lipat lebih mahal daripada mobilnya..


"Berapa semuanya Pak." Tanya Samuel ramah. Sementara Ayu sejak tadi tidak berbicara sepatah katapun.


"40 ribu sama es nya Mas." Samuel meletakkan pecahan uang 100.


"Kembaliannya buat Bapak saja sebagai ucapan permintaan maaf atas ketidaknyamanannya."


"Tidak perlu Mas. Yang membuat keributan kan lelaki tadi." Pak Karyo akan mengembalikan uang tapi Samuel menolak.


"Buat Bapak saja. Em lelaki tadi, baru keluar dari rumah sakit jiwa. Jadi Bapak harus maklum." Pak Karyo tersenyum.


"Mas ini bisa saja."


"Ini serius Pak. Dia berusaha merebut dia lagi padahal mereka sudah bercerai. Kami akan menikah dalam waktu dekat ini.."


"Ish... Kenapa cerita itu sih Mas." Akhirnya cara Samuel cukup jitu untuk membuat Ayu merespon kata-katanya.


"Kita memang akan menikah."


"Iya tapi tidak perlu begitu. Ayo.. Aku mau pulang." Ayu tertunduk, menatap sekitar yang sesekali memperhatikannya.


"Sebar undangannya pakai helikopter Mas, biar tamunya banyak."


"Hahaha cocok itu Pak."


"Jangan dengarkan Pak. Dia juga baru keluar dari rumah sakit jiwa. Permisi." Ayu menyeret lembut Samuel untuk keluar dari warung." Kenapa cerita seperti itu sih Mas." Protes Ayu ketika sudah berada di dalam mobil.


"Kamu juga kenapa menyebut ku baru keluar dari rumah sakit jiwa?"


"Mas Sam sih begitu."


"Begitu bagaimana." Sam meraih jemari Ayu dan menyetir dengan satu tangan.


"Lepas! Aku sedang tidak ingin di sentuh."


"Oke baik Babe."


Tangan Samuel terlepas dan malah beralih pada kepala Ayu lalu memaksanya untuk bersandar pada pundaknya.


Awalnya Ayu menolak tapi kuncian pada lengan Ayu membuat tubuhnya miring ke samping.


"Suamimu bukan lagi dia, tapi aku."


"Belum resmi."

__ADS_1


"Perduli apa." Ayu terdiam sesaat. Ingin melontarkan sesuatu yang sejak kemarin mengganjal.


"Bukankah menikah itu pakai mahar Mas." Tanyanya lirih. Sandaran pundak yang lebih tegap membuatnya nyaman.


"Hm iya. Kamu ingin berapa?"


"35 juta." Walaupun Mas Dika sudah ikhlas. Tapi aku tidak ingin uang ponsel itu menjadi masalah.


"Sedikit sekali. Terus, apa kamu ingin dalam bentuk uang atau perhiasan?"


"Uang cash."


"Untuk apa?" Tanya Samuel ingin tahu.


"Mas lupa kalau aku punya hutang karena merusakkan ponselnya." Ayu tidak mungkin melupakan kejadian tersebut. Hanya demi ponsel, Dika sampai tega menamparnya hingga membuat hatinya kembali tercabik.


"Hm.. Biarkan Dimas yang mengurus. Berapa lama kalian menikah?" Tiba-tiba saja terlintas sebuah niat ketika Samuel menatap wajah sayu Ayu dari spion mobil.


"Lima tahun. Kami berpacaran selama dua tahun."


"Apa saja yang pernah dia berikan padamu selain makan?"


"Ponsel ini." Menunjukkan ponsel miliknya." Juga beberapa baju dan tas." Jawab Ayu lirih.


"Em berikan padaku."


"Apa?"


"Ponselnya Babe."


"Untuk apa?"


"Agar tidak lagi di ungkit."


Perlahan, Ayu menyerahkan ponselnya. Dengan gerakan cepat, Samuel membuka kaca mobil lalu melemparkan ponsel tersebut tanpa melihat keadaan sekitar.


"Kenapa di buang Mas?" Tanya Ayu panik.


"Masa lalu wajib di buang. Kalau kamu ingin menghubungi Mita, aku memiliki kontaknya." Samuel kembali menutup kaca mobilnya." Motor itu?" Seakan tidak ingin ada yang tertinggal. Samuel menanyakan motor yang ternyata sudah berada di bagasi rumahnya.


"Itu milikku walaupun butut. Jangan membuangnya."


"Dia sudah ada di bagasi rumah. Aku tidak akan membuangnya. Kita pulang dulu, aku takut kamu kelelahan. Besok setelah fitting baju pengantin, kita membeli ponsel baru." Ayu mengangguk pelan. Dia membiarkan ketika tangan Samuel kembali menggiringnya untuk bersandar pada pundaknya.


Apa yang bisa kulakukan? Dia begitu menginginkan ku dan memperlakukan ku sangat baik. Kami juga akan menikah dan aku tidak memiliki siapapun di sini.


Ayu melirik ke arah Samuel sejenak lalu mencari posisi nyaman untuknya bersandar.


Aku ingin perasaan ini cepat membaik. Agar aku bisa menerima Mas Samuel dengan ikhlas.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2