
Satu Minggu lalu, Ayu menanyakan pada Dokter perihal kegiatan di luar rumah juga pelayanan untuk Samuel yang sudah tiga bulan tidak di lakukan.
Selama ini Ayu tidak keluar rumah, bahkan Samuel rela menahan hasrat karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan si jabang bayi.
Dokter menjelaskan memang lebih baik mengurangi aktivitas di luar namun tidak ada larangan untuk melakukannya asal selalu berhati-hati. Begitupun percintaan yang sebenarnya bisa di lakukan meski tidak sebebas ketika belum hamil.
Namun penjelasan itu tidak membuat Ayu percaya. Dia masih saja merasa takut karena tidak ingin kehilangan calon anaknya untuk kedua kali.
Hari ini, Ayu berniat ikut Samuel ke perusahaan. Ada beberapa hal yang perlu di selesaikan dan di tinjau setelah beberapa bulan Samuel tidak pernah datang ke perusahaan.
"Bee."
"Hm."
"Sebaiknya aku di rumah saja." Ucap Ayu pelan.
"Jalan-jalan sangat baik untuk psikologi mu. Bukankah dokter menyarankan itu agar kamu tidak lagi takut." Samuel sempat bercerita tentang ketakutan Ayu yang terkadang berlebihan. Ayu enggan mengkonsumsi susu yang seharusnya baik untuk pertumbuhan janin juga mengurangi rasa mual.
Trauma akan kehilangan anak melekat di otaknya sampai-sampai hampir setiap malam mimpi buruk mendatangi.
"Tunggu sampai enam bulan Bee. Agar lebih kuat lagi." Samuel menghampiri Ayu dengan tatapan hangat.
"Dokter menyarankan untuk meminum susu."
"Aku dan dia sehat Bee." Jawabnya seraya mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
"Berat janinnya tidak sesuai umur kandungan."
Meski Ayu sering mengkonsumsi minuman manis tapi berat janin masih di bawah normal. Dokter menebak jika mungkin psikologi Ayu sedang terganggu akibat insiden keguguran beberapa tahun silam.
Samuel membenarkan hal tersebut karena selama ini Ayu tidak pernah mengkonsumsi susu dan menganggap susu tidak aman untuk janinnya.
Ingin rasanya Samuel membawa Ayu ke ahli psikologi. Tapi tidak di lakukan sebab takut membuat Ayu tersinggung.
"Itu bukan karena susu." Jawabnya mengelak.
"Memang bukan. Tapi kalau kamu sudah mau meminum susu, itu berarti kamu sudah melupakan kejadian buruk yang menimpa mu dulu." Samuel berusaha menjelaskan dengan bahasa selembut-lembutnya." Kamu tidak boleh stres Babe. Lupakan soal itu." Imbuhnya merajuk.
"Bukankah kamu tahu kalau mimpi itu selalu mendatangi ku?"
"Hm ikut aku kalau kamu memang menyanyangi calon anak kita." Samuel kehilangan akal untuk membujuk. Sudah satu Minggu ini dia selalu gagal pergi ke perusahaan hanya karena kebimbangan Ayu. Ini demi psikologi mu Babe.
"Tentu saja aku sayang Bee. Dia anakku."
"Ganti bajumu. Kita pergi ke perusahaan lalu berjalan-jalan sebentar. Ibu hamil harus rileks dan tidak boleh punya fikiran buruk."
"Tapi Bee..."
"Aku melakukan ini untuk mu juga kesehatan calon anak kita. Kalau memang kamu keberatan, aku akan pergi sendiri dan tidak lagi meminta ini padamu." Samuel mengecup kening Ayu sejenak lalu mengambil jas dan memakainya." Tapi jangan salahkan kalau nanti ada seorang staf wanita mendekat." Imbuh Samuel mengancam. Sontak Ayu menoleh sambil memasang wajah kesal.
"Apa katamu Bee?! Coba ulangi!"
"Pilihannya hanya dua. Ikut atau tidak. Aku tidak bisa menunda ini lagi Babe. Sudah tiga bulan aku tidak datang ke perusahaan." Penjelasan Samuel adalah bagian dari ancaman.
"Bukankah dulu kamu meninggalkan semuanya selama bertahun-tahun."
"Oh No no no Babe. Sesekali aku masih hadir pada pertemuan penting. Em oke, aku pergi."
"Tunggu Bee. Aku belum berganti baju." Tentu saja Ayu panik dan langsung mengambil baju dress yang sudah Samuel persiapkan.
"Biar ku bantu." Sebisa mungkin Samuel berusaha meringankan perkerjaan Ayu meski hanya sekedar mengganti baju.
Terlihat, Ayu menatap lekat sosoknya dari pantulan cermin. Wajahnya terlihat buruk dengan perut buncit yang mulai terlihat.
"Bee."
__ADS_1
"Kenapa lagi?"
"Wajahku." Eluhnya merengek dengan tangan menunjuk wajah.
"Masih cantik." Puji Samuel tersenyum.
"Cantik apa? Kasar dan sangat buruk."
"Itu bawaan bayi. Nanti akan menghilang sendiri."
"Aku tidak bisa menutupi ini. Bagaimana pendapat mereka tentangku nanti."
"Mereka akan memuji kecantikan mu."
"Aku sedang berbicara serius Bee. Kita ke salon lalu menutupi nya dengan makeup agar wajahku tidak terlalu buruk." Pinta Ayu lirih.
"Kandungan make up tidak baik untuk wanita hamil."
"Hanya saat di luar saja."
"Kamu masih paling cantik, percayalah." Samuel mengiring Ayu keluar kamar lalu masuk ke dalam lift.
"Itu menurut mu."
"Mana pernah aku mendengarkan penilaian orang lain. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama." Samuel menelungkup wajah Ayu lalu melummat bibirnya sejenak." Jangan dengarkan perkataan orang lain. Kamu harus yakin kalau aku satu-satunya orang yang berbicara jujur. You look so beautiful, Babe." Ayu tersenyum merasakan sikap Samuel yang tidak berubah walaupun fisiknya mulai berubah. Dia malah merasa kalau semenjak hamil, perhatian Samuel semakin terasa manis.
.
.
.
Singkat waktu, setibanya di perusahaan. Dimas menyambut kedatangan Samuel dan langsung melakukan peninjauan pada bagian produksi juga staf kantor.
Semua masih terlihat baik di mata Samuel. Sesuai dengan penjelasan Dimas yang selalu memberikan laporan setiap Minggunya.
"Sengaja ya Dim." Ujar Ayu ketus. Hatinya langsung tersinggung dengan tawaran Dimas.
"Maksud Nona."
"Kalau aku di ruangan, Mas Sam bisa bebas melihat-lihat." Ayu merasa tersaingi dengan staf wanita walaupun seragam mereka sudah tidak lagi rok ketat.
"Bu bukan Nona. Saya takut kalau Nona kelelahan."
"Memangnya aku terlihat lelah." Menunjuk ke wajahnya. Samuel menghembuskan nafas berat, sikap yang di tunjukkan Ayu kerapkali terjadi.
"Maafkan saya Nona."
"Lain kali jangan mengatur ku."
"Sudahlah Babe. Maksud Dimas itu baik." Sontak Ayu menghentikan langkahnya di tengah banyaknya para pekerja di sana.
"Katakan saja kalau kamu malu mengajakku kan!"
"Bu bukan begitu."
"Kamu berusaha mengurung ku di ruangan agar mereka tidak bisa melihat betapa buruknya aku sekarang." Dimas tertunduk, merasa menyesal menawarkan sesuatu yang seharusnya bisa Ayu terima dengan baik.
"Mana mungkin begitu. Ibu hamil biasanya cepat lelah." Jawab Samuel menjelaskan.
"Aku malas melihatmu! Aku mau pulang!" Ayu berjalan pergi meninggalkan Dimas dan Samuel yang tengah saling menatap satu sama lain.
"Maaf Tuan. Saya hanya mengatakan sesuai perintah." Ucap Dimas merasa ikut bersalah.
"Tidak Dim. Dia memang seperti itu."
__ADS_1
"Nona Ayu marah sekali."
"Hm butuh waktu lama untuk merajuk nya." Samuel mempercepat langkahnya untuk menyusul Ayu. Sambil berjalan, dia memikirkan cara merajuk agar Ayu melupakan perkataan Dimas.
Namun tiba-tiba langkah Samuel terhenti ketika melihat Ayu berjalan ke arahnya dengan senyuman simpul.
Kenapa lagi hehe.. Apa yang dia lihat sampai-sampai tersenyum seperti itu..
"Bee aku ingin membeli sesuatu." Pintanya memegang lengan Samuel seakan kemarahan tadi sudah menghilang dengan cepat.
"Membeli apa?"
"Salah satu pegawai mu menjual manisan mangga. Aku tidak sengaja melihatnya."
Seharusnya Samuel merasa marah karena peraturan perusahaan tidak memperbolehkan adanya perdagangan di area pabrik. Apalagi membawa dagangannya ke dalam gudang. Namun karena hal itu mampu meredam emosi Ayu, sehingga Samuel memenuhi keinginan tersebut.
"Maaf Pak saya. Ini hanya pesanan teman-teman." Wajah si pekerja terlihat pucat. Dia tahu kalau perbuatannya tidak di perbolehkan namun lagi lagi ekonomi menjadi alasan.
"Berapa harga nya." Tanya Samuel mengeluarkan dompet.
"Tujuh ribu Pak." Jawabnya lirih dengan wajah tertunduk.
"Boleh ku beli? Istriku sedang ingin memakan itu."
"Boleh Pak. Silahkan."
"Katanya pesanan?" Tanya Ayu tidak ingin merepotkan.
"Tidak masalah Bu. Saya bisa menyiapkannya lagi nanti."
"Kamu tahu ini melanggar?" Si pekerja mengangguk pelan." Apa gaji yang ku berikan kurang." Samuel asal menebak karena setiap kali Ayu menyuruh nya membeli makanan, pasti si penjual sedang merasa kesulitan.
"Cu cukup Pak."
"Lalu untuk apa berdagang di area perusahaan?" Samuel merasa tergelitik padahal gaji untuk para pekerja sudah melebihi standar. Itu semua belum terhitung gaji lembur dan uang makan.
"Itu Pak. Em.. Ayah saya sakit dan tidak bisa berkerja. Jadi saya harus membiayai sekolah Adik-adik saya." Ayu manggut-manggut setelah mencicipi manisan yang terasa pas.
"Siapa yang membuat? Apa kamu?" Tanya Ayu ramah.
"Mama Saya Bu."
"Oh pantas saja. Rasanya segar sekali." Puji Ayu tersenyum.
"Ada masalah apa Tuan?" Tanya Dimas baru saja datang.
"Tanyakan padanya di mana Adik-adiknya bersekolah. Berikan beasiswa penuh dan carikan tempat di kantin agar nantinya dia tidak berdagang di sini." Langsung saja si pegawai mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Beberapa kali dia mengajukan permohonan untuk menitipkan jajanan buatan Ibunya di kantin, namun hasilnya nihil sebab tidak adanya orang dalam.
"Terimakasih Pak."
"Hm ya. Kamu mau ambil berapa Babe."
"Ambil semua Bee. Nanti letakkan di dalam kulkas." Jawab Ayu cepat.
"Berapa totalnya."
"Tidak perlu Pak. Silahkan ambil untuk ucapan terimakasih."
"Hitung saja totalnya." Pinta Samuel tegas.
"Ada 20 biji Pak."
"Hm." Samuel menyerahkan beberapa lembar uang seratusan.
"Ini terlalu..."
__ADS_1
"Bungkus saja. Terimakasih sudah membuat hati Istri ku membaik." Para pekerja lain yang mendengar itu terpatahkan fikiran buruknya. Selama ini mereka menganggap kalau Samuel bos yang angkuh dan jarang tersenyum.
🌹🌹🌹🌹