
Tidak henti-hentinya aku mengingatkan 😁🤭
Warning 21+
Ada adegan dewasa yang mungkin akan sedikit menganggu
Bagi yang tidak suka dengan adegan fulgar. Harap di skip tanpa meninggalkan jejak komentar 🤭🤭😁
Terimakasih..
Happy reading..
🌹
🌹
🌹
🌹
🌹
Dika menahan diri ketika tiba-tiba sebuah surat pemecatan di terima. Tidak tanggung-tanggung, sebab surat pemecatan langsung berasal dari kantor pusat.
Di dalam surat terselip sebuah cek dengan jumlah uang yang cukup fantastis. Dika tersungging dan bergegas berjalan menuju ruangannya untuk berkemas.
"Pak Dika mau kemana?" Tanya Della si karyawan cantik yang menjadi primadona di sana.
"Oh Della. Mulai hari ini aku sudah tidak berkerja di sini lagi." Raut wajah Della seketika berubah sebab dia menjadi bersemangat semenjak Dika menjadi pengawas gudang di sana.
"Tidak bisa bertemu dong Pak."
"Memangnya mau apa sih ketemu." Jawab Dika menggoda. Dia cukup tertarik dengan tubuh molek yang di miliki Della.
"Apa saja kan bisa Pak. Kapan-kapan mampir ya ke kost-an saya."
"Wah bahaya itu kalau mampir ke sana."
"Bahaya kalau saya berteriak. Di sana aman Pak. Kita bisa mengobrol bebas." Dika mengangguk seraya tersenyum.
"Tulis kontak milik mu. Nanti ku hubungi pakai ponselku yang lain. Aku takut ketahuan Istri ku." Dika memberikan secarik kertas dan bulpen yang selalu terselip di sakunya.
"Pakai nama laki-laki Pak." Segera saja Della menulis kontak miliknya.
"Kamu kelihatan sedang menantang ku."
"Pak Dika cakep sih. Jadi saya merasa tertantang."
"Ya sudah aku pulang ya. Nanti ku hubungi. Baik-baik kamu di sini." Setelah mengucapkan itu, Dika melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan. Dia mengemasi barang-barangnya dan membawanya dengan kardus kecil." Aku pasti bisa mendapatkan perkerjaan yang lebih baik dari ini!!! Cih!!! Sialan!!" Umpatnya sambil meludah lalu pergi dengan wajah kesal tanpa perduli dengan sapaan teman-temannya yang tidak sengaja melihat kepergiannya.
🌹🌹🌹
Samuel membuka satu bungkus spaghetti dan menyajikannya di hadapan Ayu. Setelah itu, dia menyiapkan spaghetti untuknya sendiri sambil memperhatikan Ayu yang mulai makan.
"Tidak di tambah nasi?" Samuel mengambil satu centong nasi dan menambahkan pada piring Ayu.
"Katanya tidak sehat Bee."
"Asal jangan terlalu sering." Menu yang menurut Samuel aneh. Dia baru melihat sebuah spaghetti di tambahkan nasi ketika Ayu meminta itu saat tamu bulanan datang beberapa hari lalu.
"Makan mie saja tidak akan kenyang."
"Kapan-kapan kita beli mie ayam lalu tambahkan nasi juga." Ayu tersenyum manis. Dia melahap sajian sambil manggut-manggut.
"Bagaimana jika nanti malam Bee."
"Setelah ini jangan harap bisa keluar." Samuel menyodorkan sebuah vitamin ke arah Ayu." Setelah makan kamu harus meminum ini agar kita bisa melakukannya semalaman." Ayu terkekeh seraya mengambil satu butir kapsul yang sudah Samuel persiapkan." Em Bibik juga pergi malam ini. Untuk satu bulan ke depan dia meminta izin pulang kampung." Imbuh Samuel menjelaskan.
"Ada apa Bee? Apa saudaranya ada yang sakit?"
"Tidak ada. Bibik selalu meminta pulang satu bulan dalam satu tahun. Sebagai obat rindu saja. Tapi tenang saja. Aku akan mencari pembantu sementara untuk menggantikannya."
__ADS_1
"Tidak perlu Bee. Biar aku yang mengurus perkerjaan rumah. Tidak ada kegiatan kan. Kita juga belum memiliki anak. Bukankah sebaiknya kita handle sendiri."
"Itu tandanya kamu sedang menyuruh ku mengerjakannya."
"Kenapa begitu?"
"Mana mungkin aku membiarkan mu mengerjakan perkerjaan rumah. Tapi aku merasa itu ada benarnya. Biar aku yang mengurus perkerjaan rumah, aku juga pengangguran dan rumah juga tidak seberapa kotor."
"Kita lakukan berdua."
"Aku ingin kamu cepat hamil. Kamu tidak boleh terlalu lelah."
"Membantumu melihat hasil perkerjaannya." Jawab Ayu menggoda. Samuel tersenyum seraya menguyah makanannya pelan.
"Aku bisa membersihkan lebih baik daripada Bibik."
"Kamu memang selalu bisa di andalkan Bee."
"Apalagi di andalkan untuk membahagiakan mu."
"Sejauh ini aku terlalu bahagia sampai-sampai aku takut kalau ini akan berakhir singkat."
"Buang fikiran negatif mu."
"Positif tanpa negatif tidak akan bisa berjalan. Aku hanya berharap kamu bisa lebih sabar dalam menyikapi semuanya."
"Tentu saja." Tiba-tiba saja Bik Ijah datang dengan tas besarnya.
"Maaf Tuan. Pulangnya di percepat karena takut hujan. Em di kampung saya juga sedang ada hajatan jadi saya ingin menghadiri itu setelah sampai ke sana."
"Em oke. Tunggu." Samuel beranjak dari tempatnya untuk mengambil sejumlah uang yang sudah di siapkan.
"Maaf ya Non."
"Maaf untuk apa Bik?"
"Bibik minta cuti."
"Tidak apa Bik. Em berarti waktu Tuan Samuel tidak tinggal di sini. Bibik masih tetap di rumah?"
"Ini untuk tambahan uang pulang kampung." Setiap kali pulang kampung. Samuel selalu menambah uang walaupun sebenarnya Bibik sudah memiliki simpanan banyak uang untuk di bawa pulang.
"Terimakasih Tuan."
"Sama-sama Bik. Biar Pak Kirman yang mengantar. Sudah ada Mail kan."
"Iya Tuan sudah. Dia datang tadi pagi."
"Bagus."
"Bibik pamit ya Non Tuan."
"Ya Bik hati-hati."
Setelah melihat kepergian Bik Ijah keduanya melanjutkan makan.
"Mail itu siapa Bee?"
"Penjaga rumah yang lebih bisa di andalkan. Aku tidak ingin ada penyusup masuk. Dimas belum menemukan seseorang yang tepat untuk menjaga rumah. Mencari orang yang bisa di percaya itu sulit."
"Karena aku, rumahmu jadi sedikit terekspos."
"Mereka saja yang tidak tahu diri." Ayu menggeser piringnya yang kosong lalu meminum vitamin yang di berikan Samuel tadi.
Terlihat, Samuel mempercepat kunyahannya karena tidak sabar untuk merasakan percintaan panas.
"Hati-hati tersedak Bee."
"Tidak." Dengan gerakan cepat, Samuel membereskan piring bahkan mencucinya. Ayu tersenyum melihat tingkah konyol tersebut dan lebih memilih melihat tingkah laku Samuel dari tempatnya duduk.
"Bagaimana jika ada tamu Bee."
__ADS_1
"Kamu tidak mengerti betapa canggihnya teknologi."
Samuel mengisyaratkan Ayu untuk mengikutinya. Dia segera beranjak dan mengikuti langkah Samuel menuju lantai dua.
"Pintu utama belum di kunci."
"Sebentar Babe." Sontak mata Ayu membulat ketika Samuel malah masuk ke ruangan kerjanya. Dia membuka laptopnya lalu mengaktifkan kunci otomatis pada rumah." Hanya kita yang bisa membukanya." Gumamnya tersenyum.
"Sama seperti kamar kita?"
"Lebih canggih. Kita bisa mengontrol ini dari jarak jauh. Aku memasang ini setelah tahu kenyataannya sangat banyak gangguan yang datang untuk merebut mu."
"Sejak kapan Bee?"
"Jadi satu dengan pemasangan lift." Samuel menarik tubuh Ayu lalu memangku nya." Belum tahu rasanya bercinta di ruang kerja?" Ayu tersenyum. Membiarkan Samuel memulai permainannya.
Darah Ayu berdesir hebat ketika bibir Samuel mulai mencumbu bagian leher. Sensasinya seakan tubuhnya di bawa melayang entah kemana. Ayu hanya mampu menerima sementara Samuel sibuk melucuti pakaiannya.
Setiap kali percintaan, tangan miliknya mendadak lemah. Jangankan untuk menolak. Untuk membuka celana miliknya sendiri saja Ayu tidak mampu.
"Katakan Babe. Apa kamu merindukan ini."
"Iya Bee. Sangat." Jawab Ayu dengan suara parau. Samuel mengangkat sedikit tubuhnya untuk melepas satu-satunya penghalang. Setelah tubuh Ayu berubah polos segera saja dia memasukkan miliknya dengan posisi duduk.
Sempit! Samuel merasakan miliknya di hisap kuat sementara Ayu merasa nyeri ketika benda panjang itu menerobos masuk.
"Pelan Bee! Sakit! Sedikit nyeri." Cegah Ayu memukul-mukul pundak Samuel yang tengah mencoba menekan pinggangnya.
"Apa kamu berubah menjadi gadis lagi?" Puji Samuel dengan nafas memburu." Ah Babe. Biar ku lanjutkan agar tidak semakin sakit." Rajuk Samuel tidak tahan ingin segera mengerakkan miliknya.
"Sepertinya tertutup lagi. Cabut dulu Bee. Mungkin posisinya kurang tepat."
"Ini sudah di tempat yang tepat. Aku tinggal mendorongnya lebih masuk lagi."
"Ini nyeri sekali."
"Bagiku ini sangat sempit. Maafkan aku, drama ini terlalu lama." Samuel menekan pinggang Ayu seraya mendorong miliknya lebih keras.
Ayu sempat menjerit karena rasa nyeri benar-benar menjalar. Namun setelah beberapa saat kemudian, dia mulai ikut tenggelam dalam percintaan panas yang begitu membara.
Sungguh melelahkan, sebab sudah satu jam lebih berjalan Samuel belum juga berhenti bergerak. Mengoyak miliknya yang mulai terasa panas.
"Apa kamu meminum semacam obat Bee?"
"Jangan tanyakan macam-macam Babe. Ini nikmat sekali.."
"Terlalu lama, aku lelah." Meski eluhan terlontar namun ketika Samuel menambahkan tempo gerakan. Ayu tetap saja mengeluarkan dessahan.
"Sudah ku katakan. Kau tidak akan bisa berjalan setelah ini."
"Jangan banyak bicara Bee. Cepat selesaikan."
"Walaupun selesai, ini tidak akan berakhir. Aku ingin membalas dendam karena seminggu lalu kita tidak melakukannya."
"Kamu sedang menyalahkan Tuhan."
"Emmm tidak. Aku hanya rindu benda sempit ini." Samuel menggendong Ayu dengan tubuh saling terpaut. Dia membawa Ayu keluar ruangan kerja lalu membaringkannya di atas ranjang.
Samuel bergerak bebas bahkan brutal. Sampai-sampai tangan kanannya terangkat agar Ayu bisa meredam suaranya dengan mengigit telunjuknya.
Tapi itu berlangsung sebentar. Sebab kini Samuel fokus pada gerakannya agar pelepasan segera di dapatkan. Tubuh tegapnya menghimpit tubuh Ayu seakan tengah menguncinya.
Selayaknya seorang mangsa, Ayu tidak sanggup berkutik sedikitpun berada di antara kungkungan tubuh Samuel. Erangan panjang terdengar beberapa kali. Seiring benih yang menyembur keluar menembus pertahanan. Akankah menjadi benih? Sebab Ayu merasakan sensasi lain seakan benih itu berhasil masuk ke ruangan khusus yang terletak di dinding rahimnya.
🌹🌹🌹
Sengaja tidak ku tulis detail nya😁Agar pembacanya tidak terbawa hasrat terlarang🤭🤣🤣Tidak masalah kalau ingin ujian praktek. Tapi sama Pak Su masing-masing 🥰Semoga teman-teman terhindar dari banyaknya pelakor yang menghuni bumi Pertiwi ini😁🤭
Terimakasih sudah berkenan mampir ke cerita receh ku.
Beri dukungan agar aku bisa terus melanjutkan cerita sampai si Ayu hamil🤗🥰
__ADS_1
Puncak permasalahan masih berporos pada Dika. Nanti akan ada momen keduanya di pertemukan lagi dan itu mungkin menjadi akhir dari konflik..
Bye bye. Salam love love untuk kalian yang membaca😚