
Samuel terkekeh ketika Ayu kembali menunjukkan rasa tidak percaya atas kesetiaannya. Sebenarnya dia tidak merasa konyol dengan dugaan tersebut. Namun mimik wajah Ayu yang di perlihatkan, membuat hatinya kembali merasa terhibur.
"Kamu satu-satunya lawan mainku Babe."
"Kamu tersenyum Bee. Itu tandanya kamu tidak serius."
"Aku tersenyum karena ekspresi wajahmu bukan pembicaraan ini."
"Kamu pintar beralasan Bee."
"Kecantikan mu tidak ada obatnya. Mana bisa di gantikan."
"Aku tidak seberapa cantik." Samuel meraih jemari Ayu dan menggenggamnya.
"Lihatlah perbedaannya." Samuel menunjukkan perbedaan warna kulit milik Ayu dan dirinya." Kamu putih sekali. Bagaimana bisa kamu tidak menyebut dirimu cantik." Imbuhnya tersenyum.
"Hanya putih."
"Kamu candu ku."
"Karena aku Istri mu."
"Sebelum menjadi Istri aku sudah lebih dulu membayangkan." Jawab Samuel asal. Dia kehabisan cara merajuk Ayu.
"Membayangkan apa?" Tanya Ayu terbata.
"Sesuai tebakan yang bersarang di hatimu. Kita sampai." Samuel memasuki area parkir yang luas sebab toko tas yang di kunjungi merupakan terlengkap di kota itu.
Keduanya pun turun dan memasuki area pertokoan yang khusus menyediakan tas. Sangat banyak tas berbagai model sehingga tanpa sadar bibir Ayu tersungging.
Sekalipun dia tidak pernah melihat suasana seperti sekarang. Biasanya dia membeli tas di toko pinggiran jalan itupun tanpa banyak pilihan. Ayu hanya melihat dari segi nyaman dan simpelnya.
Tapi hari ini, tas yang terpajang terlihat berkilau di matanya seakan memanggilnya untuk di miliki.
"Silahkan Tuan. Ada yang bisa kami bantu." Sapa si pegawai ramah.
"Saya ingin mencari tas yang simpel dan cocok di bawa kemana-mana." Jawab Samuel juga tidak kalah ramah.
"Mari Tuan saya tunjukkan tas yang baru saja datang sore kemarin." Ayu melihat jika toko yang di masuki Samuel lebih sepi. Model tasnya juga tidak seberapa banyak yang terpajang.
Sepi sekali. Padahal model tasnya bagus-bagus.
Ayu tidak memahami berapa harga orisinil tas branded yang di tawarkan toko tersebut. Sementara yang berada di depan pertokoan. Hanyalah barang KW yang memang sengaja pihak toko sediakan untuk mengukur keuangan masing-masing pengunjung. Toko yang menyediakan barang orisinil berada di area belakang.
"Ini adalah model yang baru datang sore kemarin Tuan." Tunjuknya pada beberapa tas yang berjajar dengan model berbeda. Tas itu berada di dalam etalase kaca yang terkunci rapat.
"Pilih mana yang kamu sukai." Pinta Samuel sambil mengelus puncak kepala Ayu.
"Coba lihat yang warna coklat." Pinta Ayu menunjuk sebuah tas dengan model simpel.
Segera saja si pegawai mengeluarkan tas tersebut dan menunjukkan detail dari isi tas.
"Hehe dari kulit buaya." Gumam Ayu seakan berbicara pada dirinya sendiri. Samuel mengisyaratkan si pegawai untuk diam saja daripada harus menjelaskan pada Ayu yang memang tidak tahu menahu soal itu." Aku suka modelnya Bee. Tidak terlalu besar dan sederhana." Ayu mengembalikan tas tersebut pada si pegawai.
"Pilihkan satu lagi untuk di bawa ketika ada pesta." Pinta Samuel lagi.
"Kalau untuk pesta, ada di sebelah sana Tuan."
__ADS_1
Kembali, Ayu memilih tas sederhana dan simpel menyesuaikan seleranya. Samuel juga menyuruhnya untuk memilih sandal juga sepatu.
"Silahkan Tuan. Total belanjanya 3 milyar lima ratus juta rupiah." Ayu melongok sambil menatap ke arah tangan Samuel yang tengah memberikan empat buah kartu ATM berwarna hitam.
"Masing-masing satu milyar kan."
"Baik Tuan sebentar." Setelah kepergian si pegawai, Ayu menggeser tempat duduknya sambil memegang lengan Samuel dengan kedua tangannya.
"Apa aku tidak salah dengar Bee?"
"Kamu dengar apa?"
"Ti tiga milyar."
"Iya."
"Mahal sekali. Kenapa tadi di beli."
"Katanya kamu suka modelnya. Memang harganya segitu. Itu barang branded Babe."
"Tapi.." Ucapan Ayu tertahan ketika si pegawai kembali dengan sebuah mesin mesin ATM kecil.
"Silahkan masukkan PINnya." Setelah beberapa kali memasukkan pin, pembayaran pun selesai.
"Mahal sekali Bee. Aku tidak pernah melihat uang sebanyak itu." Gumam Ayu membuka mengintip paper bag yang sedang di bawa Samuel.
"Aku juga tidak. Kami selalu melakukan pembayaran lewat transfer jadi uang nya tidak terlihat."
"Uang sebanyak itu hanya mendapatkan dua tas, sandal dan sepatu."
"Kamu bisa berbelanja seperti ini setiap hari." Ayu tersenyum aneh.
"Bukankah kemarin kamu memakai tas pemberianku? Harganya satu koma lima.."
"Juta?"
"Milyar." Ayu menelan salivanya kasar." Kalau kamu menyukai sesuatu yang sederhana dengan harga terjangkau. Ada banyak pilihan." Imbuhnya menjelaskan. Pengetahuan tentang toko tas dan sepatu di dapatkan Samuel dari mantan Istrinya yang hobi mengkoleksi tas mahal.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Aku ingin memberikan yang terbaik saja."
"Aku biasa hidup sederhana."
"Sekarang sudah lain cerita Babe. Kamu bersama ku."
"Iya mungkin aku yang terlalu ketinggalan dunia mode."
"Tidak apa. Aku suka kepolosan mu." Syukurlah dia bisa tersenyum lagi dan melupakan kekesalannya tadi.
🌹🌹🌹🌹
Mita pulang dengan raut wajah kesal. Bisa di pastikan jika tadi dia memang sedang berbohong pada Ayu sebab setelah Alan menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya. Dia sudah tidak lagi berkerja di Cafe tersebut.
Sudah tiga hari Mita menghabiskan waktu dengan merawat diri, demi tercapainya keinginan Alan juga keinginannya untuk tampil cantik.
Setibanya di rumah, dia sudah melihat mobil Alan terparkir di halaman. Mita mempercepat langkahnya agar Alan tidak berbicara macam-macam pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku tadi ke salon tapi katanya kamu sudah pulang." Sapa Alan memasang wajah datar dan sulit di artikan. Sudah tiga hari aku menghabiskan banyak uang tapi kenapa kulit Mita masih saja gelap.
"Maaf Mas, aku tadi berjalan-jalan sebentar. Ku fikir kamu sibuk." Mita duduk di hadapan Alan sambil memangku tas kecilnya.
"Besok kita cari salon lain. Tubuhmu hanya berubah sedikit. Apa kau sudah melakukan perawatan suntik putih?"
"Sudah Mas. Sesuai keinginan mu."
"Tapi kenapa kau masih saja kusam? Paling tidak milikilah 50 persen kecantikan dari Ayu." Pinta Alan memelankan suaranya. Dia takut obrolannya terdengar kedua orang tua Mita yang menganggapnya sebagai lelaki yang berwibawa dan dewasa.
"Mana mungkin bisa. Aku memang bukan Ayu." Ucapan Mas Alan semakin membuatku membencinya dan juga sosok Ayu yang selalu saja menjadi bayang-bayang di hidupku!!
"Itu tujuan kau melakukan perawatan. Kalau tidak ada hasil, ini perkerjaan yang sia-sia."
Seharusnya Mita kabur saja daripada harus di jodohkan dengan lelaki yang sudah terlihat keburukannya. Tapi ternyata, dia masih ingin bertahan hanya untuk uang Alan.
"Ya sudah batalkan saja pernikahan nya." Jawab Mita mengancam.
"Mana mungkin! Kau satu-satunya kandidat yang memiliki sifat seperti Ayu. Hanya saja kau kurang cantik." Rasanya sungguh bosan sebab Alan kerapkali melontarkan kata-kata tersebut ketika pertemuan terjadi.
"Ya sudah terima kekurangan ku Mas. Aku memang tidak secantik Ayu."
"Aku yakin kau bisa secantik dia agar nantinya aku merasa bangga memiliki mu."
"Ya sudah terserah Mas. Kalau memang kamu ingin mengganti lokasi salon, aku tidak masalah."
"Hm. Aku pulang." Tanpa berpamitan selayaknya pasangan pada umumnya. Alan melenggang keluar ruang tamu berukuran kecil tersebut.
Semua ini gara-gara Ayu!!! Namanya selalu saja menganggu hidupku!!
"Bukankah Ayu itu temanmu Mit." Sahut Ibu Mita yang ternyata tidak sengaja mendengar obrolan keduanya.
"Ma Ma." Raut wajah Mita seketika berubah saat melihat sosok Ibunya keluar dari ruang tengah.
"Mama masih ingat. Bukankah Ayu itu Ayunda temanmu. Apa itu yang sedang kalian bicarakan?"
"Bu bukan Ma. Itu Ayu yang lain."
"Syukurlah. Sebab anak itu baik sekali. Dia membawa aura positif ketika berteman denganmu." Ibu Mita bahkan sudah merasakan pengaruh positif yang Ayu bawa. Mita lebih menjadi anak penurut dan hampir tidak pernah menuntut macam-macam." Dia tidak pernah ke sini. Bukankah dulu dia sudah menikah?" Imbuhnya ingin tahu.
"Aku tidak tahu Ma. Sejak menikah dia melupakan aku." Jawab Mita ketus.
"Jangan sampai kita menanam keburukan Mit. Apalagi sampai membalas kebaikan orang dengan keburukan. Itu semua akan kembali lagi pada kita suatu saat nanti." Ibu Mita mengingat sebuah jasa sederhana yang pernah Ayu berikan untuk keluarganya. Walaupun itu seharga lima kilo beras tapi tetap saja jasa itu terkenang sampai sekarang.
"Mama bicara apa?"
"Mama hanya mengingatkan saja. Takut kalau kamu salah jalan. Sebaiknya kamu mandi, ini sudah sore. Tadi Nak Alan memberikan banyak oleh-oleh untuk makan malam." Ibu Mita menepuk pundak anaknya sebentar kemudian berjalan masuk.
Mita menghela nafas panjang. Mengingat kebersamaannya dengan Ayu. Sifat buruknya adalah alasan kenapa dirinya sulit untuk akrab dan mencari teman baru. Ayu satu-satunya orang yang mampu mengimbangi sifat Mita yang plin plan sebab Ayu tipe wanita yang acuh. Dia tidak perduli dengan seberapa buruk sifat temannya. Asalkan saling menjaga satu sama lain, menurut Ayu sudah lebih dari cukup.
Apa aku mengurung kan niatku saja untuk merebut Mas Sam? Aku akan kabur dari rumah daripada harus menikah dengan Alan yang tidak bisa menerima ku apa adanya.
Sebuah jasa juga tengah melintas di benak Mita. Ketika keluarganya mengalami masa sulit bahkan tidak sanggup membeli beras. Ayu dengan senang hati memberikannya padahal kala itu dirinya juga tengah berada dalam kesulitan melunasi hutang kedua orang tuanya.
Semua orang juga akan melakukan hal yang sama. Itu bukan jasa, tapi selayaknya seorang teman membantu temannya yang kesulitan. Aku juga sering memberikannya uang secara cuma-cuma kan. Berarti kita impas..
Mita tidak menyadari. Jika sangat sulit menyisikan uang ketika kita sendiri sedang berada dalam kesulitan. Sementara apa yang di sebut balasan, karena dirinya kini sudah hidup berkecukupan dan sangat wajar baginya memberikan bantuan pada Ayu kala itu. Mita tidak berusaha menyelami arti dari ketulusan lebih dalam. Sehingga dia menganggap bantuan yang di berikan Ayu sudah terbayar lunas.
__ADS_1
🌹🌹🌹