Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Baju haram di musim hujan


__ADS_3

Samuel memilih untuk sarapan nanti karena menunggu Ayu selesai makan. Jika tidak, Ayu akan mual melihat masakan berbumbu yang biasanya di sukai.


Baru saja Samuel akan melahap makanannya. Si penjaga rumah datang dengan membawa paket berukuran cukup besar.


"Ada paket Tuan. Untuk Nona Ayu."


"Oh sudah di bayar?"


"Sudah Tuan."


"Hm letakkan di situ."


"Baik Tuan permisi."


Dia sudah pintar bertransaksi. Sebaiknya ku antarkan dulu.


Samuel berdiri dan mengambil paket. Dia berniat mengantarkan paket terlebih dahulu baru melanjutkan sarapannya.


"Babe. Ini paket mu datang." Segera saja Ayu beranjak lalu mengambil paket dari tangan Samuel.


"Aku fikir datang siang." Jawabnya senang.


"Hm. Aku lanjutkan sarapan dulu ya."


"Iya Bee. Tapi setelah sarapan, langsung ke kamar ya. Aku ingin menunjukkan baju yang ku beli."


"Iya. Aku akan sarapan dengan cepat." Samuel mengecup pipi Ayu sejenak kemudian berjalan keluar.


Ayu meletakkan paket di atas meja, dia beranjak untuk mengambil gunting. Setelah mendapatkannya, dia menggunting lakban hitam yang mengelilingi paket.


Bibir Ayu tersungging, mengambil satu persatu gaun tidak berlengan yang di beli. Bukan hanya tidak memiliki lengan tapi dress itu sangat terbuka.


"Kalau seperti ini kan sejuk kalau di pakai." Gumamnya menumpuk baju lalu meletakan kardus pada samping bak tempat sampah." Sebaiknya ku coba satu agar Mas Sam bisa memberikan pendapat." Ayu mengambil satu buah baju lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Dia mengganti dress miliknya dengan baju yang baru di beli.


Lima menit kemudian..


Samuel terlihat masuk, dia menutup pintu lalu memutar tubuhnya. Langkahnya terhenti dengan saliva tertelan kasar ketika dia melihat pemandangan di hadapannya.


"Bagaimana Bee. Bagus kan." Tanya Ayu meminta pendapat.


Ya bagus kalau seandainya bisa bercinta seperti biasanya. Tapi ini...


Nafas Samuel terbuang kasar ketika tahu di luar sedang turun hujan. Apalagi suhu kamar begitu dingin, mirip kulkas berukuran besar.


Lalu Ayu mempertanyakan penampilan terbukanya dengan belahan dada yang memang sejak awal berukuran cukup besar.


Aku berusaha menjaga naffsu ku tapi dia menggoda ku. Ya Tuhan, ini cobaan yang paling berat..


"Ya bagus sekali." Samuel melangkah masuk dan sesekali berpaling. Ingin mengendalikan hasrat yang pasti langsung tersulut." Ingat untuk tidak memakainya di luar kamar." Imbuhnya duduk di sisi Ayu.


"Iya Bee, aku ingat. Lihatlah, aku membeli banyak model."


Ayu memperlihatkan satu persatu dress dengan berbagai model sampai-sampai mata Samuel memanas. Bagaimana tidak karena semua dress begitu minim kain bahkan sangat minim.


"Nanti kamu masuk angin Babe."


"Aku selalu gerah Bee."

__ADS_1


"Ya tapi ini terlalu terbuka." Pakai setelah trimester awal sudah terlewat. Jangan sekarang.


"Pokoknya aku mau memakai ini kalau di dalam kamar. Aku berjanji tidak akan memakainya di luar." Jawab Ayu tidak menerima pilihannya di tolak.


Sangat berbahaya. Aku takut lupa diri..


"Sebaiknya di cuci dulu Babe. Baju dari toko sangat kotor."


"Iya. Aku tadi hanya mencobanya." Ayu beranjak dari tempatnya. Dia berjalan masuk ke kamar mandi tanpa perduli pada tatapan Samuel yang ingin mengutarakan keinginannya lewat mimik wajah.


Biasanya dia peka. Calon anakku memang hebat. Dia sedang mengendalikan inang nya sampai-sampai Istri ku berubah aneh..


Ayu keluar dengan pakaian lamanya. Dia kembali duduk di samping Samuel setelah mengambil satu toples cemilannya.


"Bee aku takut."


"Takut apalagi? Mimpi tadi pagi?" Tangan kanannya merangkul pundak Ayu erat dan menggiring tubuh Ayu bersandar padanya.


"Iya."


"Kita berdua akan menjaganya."


"Aku takut kalau mimpi itu pertanda buruk."


"Itu kenapa kamu harus berada di rumah. Jangan berpergian sampai umur janin empat bulan. Aku sudah membicarakan ini pada Dimas. Tidak akan ada pertemuan untuk tiga bulan ke depan." Jawab Samuel menjelaskan. Dia sudah memutuskan ketika Ayu di nyatakan hamil.


Samuel ingin fokus pada Ayu sebab dia mengerti mungkin akan banyak kebimbangan mengingat Ayu pernah mengalami keguguran.


"Kalau mereka sangat ingin bertemu denganmu?"


"Kalau mereka memutuskan kerja sama karena kamu tidak hadir."


"Terserah Babe. Aku tidak perduli." Jawab Samuel tegas.


"Jangan begitu Bee. Perkerjaan tetap perkerjaan. Aku akan berada di rumah kalau kamu pergi."


"Lalu kejadian dulu terulang? Kamu hampir kehilangan nyawa? Aku lebih baik kehilangan harta daripada kalian." Hati Ayu seketika tersentuh ketika Samuel sudah mengakui kehadiran janin yang masih sangat kecil.


"Aku tidak sabar dia tumbuh besar." Gumam Ayu mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


"Begitupun aku." Samuel menumpukan tangannya pada jemari Ayu yang masih berada di perutnya.


"Semoga dia setampan kamu Bee."


"Kalau perempuan secantik kamu."


"Hm iya. Tolong." Ayu memberikan toples cemilan pada Samuel." Tolong letakkan di meja. Tanganmu kan panjang." Imbuhnya tersenyum.


"Bilang saja ingin manja kan."


"Sudah ku lakukan setiap hari."


"Iya tidak apa. Apa kamu mengantuk lagi?" Setelah meletakkan toples, kini tangan Samuel beralih pada dahi Ayu sehingga Ayu menumpukan kepalanya pada paha kiri Samuel.


"Sebenarnya tidak boleh Bee. Ini masih terlalu pagi. Tapi aku mengantuk sekali."


"Siapa yang tidak boleh?"

__ADS_1


Bu Erna. Ayu mengingat ketika Bu Erna selalu berpesan untuk tidak tidur pagi hari ketika sedang hamil.


"Tetangga lama ku dulu." Jawab Ayu berbohong tapi dia tetap memejamkan matanya.


"Alasannya apa tidak boleh?"


"Aku tidak tahu Bee." Ayu malah semakin mengantuk merasakan usapan tangan Samuel.


"Namanya mengantuk ya tidur saja. Kenapa di tahan."


"Iya juga Bee. Bangun tidur aku mau makan es serut dengan potongan buah."


"Hm siap." Hanya sebentar saja Ayu sudah mendapatkan kantuknya. Samuel meraih remote untuk mencari acara bagus di televisi. Dia tidak ingin beranjak karena takut membangunkan Ayu yang selalu saja tahu ketika dia meninggalkannya sebentar saja.


Aku juga merasa khawatir, itu kenapa aku ingin fokus pada kalian. Semoga tidak terjadi sesuatu sampai nanti kita bertemu dengannya..


🌹🌹🌹


Mita terlihat keluar dari gang rumahnya menuju ke jalan raya. Wajahnya terlihat gelisah sebab sejak tadi tidak ada yang merespon pesanan ojek onlinenya sementara dirinya harus pergi berkerja.


Tiba-tiba saja sebuah mobil cukup di kenal berhenti tepat di sampingnya. Ketika kaca pintu mobil di turunkan, sontak Mita tersenyum menatap ke arah Dimas.


"Mau ke mana?" Tanya Dimas Ramah.


"Kerja Mas."


"Di mana lokasinya?"


"Jalan kenanga."


"Masuk biar saya antarkan." Pinta Dimas tersenyum simpul. Tampan. Begitulah pendapat Mita.


"Tidak merepotkan Mas. Aku menunggu taksi saja."


"Kita sejalan. Cepat masuk, jangan membuang waktu untuk merajuk." Mita yang memang membutuhkan tumpangan bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Dimas.


"Terimakasih Mas."


"Ya." Dimas mulai melajukan mobilnya. Dari samping terlihat jika wajahnya cenderung datar tidak berekspresi. Hal itu membuat Mita canggung karena mobil terasa hening.


"Memangnya Mas Dimas mau ke mana?" Untuk menghormati, Mita sengaja menambahkan kata Mas pada panggilan Dimas padahal umur keduanya sama.


"Ada pertemuan di dekat jalan kenanga."


"Oh, emm.. Kenapa Mas Dimas datang dari arah sana? Apa rumah Mas Dimas berada di sana?" Mobil Dimas muncul dari arah yang berlawanan dari letak kota.


"Tidak. Aku hanya ada keperluan di kota X."


"Jadi Mas Dimas dari luar kota?"


"Hm." Obrolan kembali terhenti karena pertanyaan dari Mita hanya di jawab dengan sangat singkat.


Mungkin dia tidak seberapa suka mengobrol. Sebaiknya aku diam saja.


Meski canggung, Mita memilih diam karena berfikir Dimas tidak nyaman dengan pertanyaannya. Padahal Dimas cukup senang dan malah menunggu lanjutan dari obrolan. Kediamannya terjadi akibat rasa lelah yang mulai menjalar setelah beberapa hari harus bolak-balik ke luar kota.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2