Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Mulai kekanak-kanakan


__ADS_3

Karena isi kulkas habis. Ayu mengajak Samuel pergi berbelanja ke swalayan terdekat. Keduanya ingin menikmati momen tanpa bantuan asisten rumah tangga dan ingin tahu rasanya seperti apa.


Setelah memasukkan semua belanjaan, Samuel menutup bagasi lalu secara tiba-tiba ponselnya bergetar.


"Aku ingin membungkus itu Bee." Ucap Ayu seraya menunjuk ke arah pedagang bakso bakar di pinggir jalan. Samuel menatap keadaan sekitar sebelum melontarkan persetujuan. Apalagi ponselnya terus saja bergetar sehingga fokusnya sedikit teralihkan.


"Aku tunggu di sini ya. Ada telepon." Jawabnya menunjuk layar ponsel.


"Aku tidak bawa dompet." Samuel merogoh kantong celananya dan memberikan dompet miliknya." Sebentar Bee." Ayu berlari kecil menuju gerobak bakso bakar sementara Samuel memilih masuk mobil agar bisa mendengar suara telepon dengan jelas.


Dari dalam mobil, Samuel fokus memperhatikan Ayu yang menunggu pesanannya di buat. Tapi sebuah momen tidak di inginkan terjadi.


Ketika Samuel fokus pada pembicaraannya dan Ayu, tiba-tiba seorang wanita masuk dan langsung duduk di sampingnya.


Sontak manik Samuel membulat, menatap wanita asing yang juga tengah menatapnya.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


"Urus semuanya. Nanti kirimkan berkasnya langsung ke email ku.


"Baik Tuan.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


Samuel mengakhiri panggilan lalu menatap si wanita dengan sangat tajam.


"Kau siapa?!" Tanyanya ketus.


Astaga tampan sekali? Apa ini artinya kita berjodoh?


Si wanita malah berkhayal sesuatu yang bukan-bukan. Dia tidak merespon pertanyaan Samuel dan malah membayangkan jika kesalahan yang tidak sengaja ini adalah takdir dari Tuhan.


"Kenapa banyak sekali wanita gila!" Umpat Samuel seraya turun dari mobil dan berniat memaksa si wanita turun. Namun niat itu tertahan ketika dia menyadari Ayu tengah menatapnya dengan raut wajah kecewa. Bungkusan di tangannya di genggam erat dengan manik berkaca-kaca.


Padahal aku sudah pernah bilang. Tidak boleh ada wanita yang duduk di sampingnya!! Batin Ayu berbalik badan lalu melangkah pergi tanpa arah dan tujuan.


Samuel bergerak cepat. Dia membuka pintu mobil lalu menyeret si wanita keluar. Setelah pintu mobil terkunci, cepat-cepat dia menyusul Ayu untuk menjelaskan kenyataan yang sebenarnya.


"Kita masih pengantin baru! Tapi dia sudah berani melanggar janjinya sendiri Hiks.. Hiks.. Begitu katanya baik! Dewasa! Semua lelaki sama saja!!" Seketika langkah Ayu terhenti ketika Samuel berhasil menghadang jalannya.


"Kamu salah faham Babe. Aku tidak mengenal wanita itu. Dia masuk begitu saja lalu duduk."


"Tidak tahu!" Ayu hendak berjalan melewati Samuel tapi tentu saja Samuel tidak membiarkannya. Tubuhnya berusaha di dekap erat meskipun Ayu sekuat tenaga menolak." Lepas! Aku jijik!" Teriak Ayu tidak terkendali.


"Dengarkan dulu. Jangan marah. Ini salah faham." Tatapan sekitar kini terfokus pada mereka. Namun Samuel tidak perduli itu dan terus saja memaksa Ayu untuk mendengar penjelasannya.


"Aku mau ke Bibik saja!" Terlihat konyol ketika Ayu mulai merasa nyaman pada perlakuan Samuel. Perlahan, dia menunjukkan sisi kekanak-kanakan yang dulu melekat padanya ketika kedua orang tuanya masih ada.


Bukan hanya sebagai sahabat dan seorang Suami. Tapi Samuel berhasil memberikan kenyamanan selayaknya seorang Ayah pada anaknya.


"Kita kembali lalu kamu tanyakan sendiri pada wanita itu. Aku tidak mengenalnya Babe." Suara lembut nan hangat tetap saja meluncur dari Bibir Samuel walaupun sikap Ayu sangat memalukan.


"Sudah ku bilang! Aku tidak mau naik mobil yang sudah di duduki wanita lain! Aku tidak mau! Aku mau pergi ke Bibik Lena saja." Samuel menghembuskan nafas berat. Sambil mendekap tubuh Ayu erat agar tidak kabur, dia menghubungi kontak milik Dimas untuk meminta bantuan.

__ADS_1


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


"Apa kamu sibuk?


Dimas mendengar lirih suara Ayu yang mulai terisak di tengah keramaian orang berlalu lalang.


"Ada apa Tuan? Apa yang terjadi?


"Bisa kau ambil mobil lain dan antarkan ke jalan kenari. Ada sedikit masalah.


"Baik Tuan. Tunggu 10 menit lagi.


"Ya cepat.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


"Oke Babe. Kita kembali ke mobil untuk mengambil belanjaan lalu pulang dengan mobil lain." Ucap Samuel merajuk. Tangannya mengambil dompet dari tangan Ayu yang tengah di genggamnya erat dan mengantonginya.


"Tidak mau!"


"Mobil itu akan ku jual kalau kamu tidak ingin melihatnya."


"Aku malas melihatmu!!" Tanpa pikir panjang Samuel berdiri lalu mengangkat tubuh Ayu dan meletakkannya di pundak. Dengan cara itu Ayu tidak bisa berkutik meski teriakan dan isakan masih saja terdengar.


Beruntung karena si wanita masih menunggu di samping mobil. Dia ingin menjelaskan kesalahpahaman yang tidak sengaja terjadi.


"Katakan padanya kau siapa!!" Ucap Samuel ketus. Dia menurunkan tubuh Ayu tanpa melepaskan dekapannya.


"Dia bukan pacarku!!" Jawab Ayu ketus. Cukup malu namun enggan mengakuinya.


"Dia Istriku." Sahut Samuel dengan wajah datar. Dia cukup merasa kesal pada si wanita meskipun dia tidak sengaja.


"Saya menyesal. Saya benar-benar minta maaf. Permisi." Si wanita pergi. Samuel menatap Ayu yang masih membersihkan sisa air matanya.


"Sudah dengar kan?" Ayu tidak bergeming. Wajahnya berpaling sambil sesekali menatap sekitar." Lain kali jangan asal pergi." Imbuhnya membuka pintu mobil.


"Aku tidak mau duduk di sana." Tetap saja Ayu kukuh pada pendiriannya sehingga senyum simpul terlihat membingkai di bibir Samuel. Dia senang, sangat senang ketika Ayu sanggup mengekspresikan isi hatinya sesuai dengan apa yang di rasakan.


"Oh baik." Samuel kembali menutup pintu mobil." Kita tunggu Dimas datang." Tangan kanannya terangkat lalu mulai mengusap lembut puncak kepala Ayu." Cup cup cup bayiku.. Hari ini aku begitu bahagia melihat perubahan mu." Ayu menyingkirkan tangan Samuel yang tidak berhenti mengusap.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil datang dan terparkir tepat di depan mobil mereka. Dimas keluar dari dalam lalu berjalan menghampiri keduanya.


"Apa yang terjadi Tuan? Apa mobilnya mogok?" Mustahil mobil semewah itu mogok. Samuel bahkan memiliki langganan montir yang setiap bulan memeriksa keadaan mobil.


"Dia tidak layak dan harus di jual." Samuel menyerahkan STNK juga kunci mobil begitupun sebaliknya. Dimas tersenyum seraya mengangguk saat Samuel menunjuk Ayu dengan isyarat mata.


"Biar saya atasi Tuan."


"Tolong pindahkan belanjaannya. Aku takut Istri ku kabur nanti."


"Baik Tuan." Ayu mendengus sebab merasa kesal. Hatinya masih bergemuruh padahal kenyataan sesungguhnya sudah terungkap. Posisi tubuhnya masih saja memunggungi dan enggan melihat ke arah Samuel.


"Kita beli bakso bakarnya dulu."

__ADS_1


"Tidak mau!"


"Katanya tadi ingin?".


"Sudah tidak!"


"Pak siapkan satu porsi seperti yang tadi di pesan ya." Pinta Samuel sedikit berteriak.


"Iya." Jawab si pedagang.


"Sudah saya pindahkan Tuan."


"Hm kau boleh pergi."


"Permisi." Setelah tersenyum sejenak, Dimas pergi dengan mobil Samuel yang sudah pasti akan di jual.


"Kita tunggu di dalam mobil." Setelah memasukkan Ayu, Samuel menghampiri si pedagang bakso untuk mengambil pesanannya." Makanlah mumpung hangat." Samuel menyodorkan bakso bakar tapi Ayu tetap tidak merespon dan malah memunggunginya." Terserah saja kalau kamu ingin bersikap seperti anak kecil. Aku sungguh tidak masalah." Samuel meletakkan bakso bakar lalu mulai melajukan mobilnya.


"Tidak ada anak kecil yang sudah menikah!" Jawab Ayu ketus. Samuel terkekeh sambil fokus melihat ke depan.


"Ya Babe. Kamu ingin ku manja kan. Ku rajuk sepanjang hari sampai kamu luluh. Akan ku lakukan." Samuel sengaja mengambil satu tusuk bakso lalu memakannya sambil manggut-manggut." Em jajanan anak kecil ini ternyata enak." Imbuhnya bergumam.


Ayu melirik dengan saliva yang tertelan kasar. Entah apa yang merasuki hatinya sampai-sampai dia bersikap selayaknya anak sekolah dasar yang sedang marah karena tidak di belikan mainan.


"Serius kamu tidak mau Babe?" Samuel hendak mengambil satu tusuk lagi tapi dengan gerakan cepat Ayu mengambil bakso bakar tersebut lalu melahapnya.


"Kenapa tidak membeli sendiri dan memakan jatahku." Celetuknya seraya mengunyah.


"Jatahmu sudah jatuh tadi. Itu ku pesan sendiri." Ayu tidak mau tahu dan terus memakan bakso tersebut bahkan mempercepat kunyahannya.


Lagi lagi Samuel di hadapkan dengan perbedaan yang begitu jauh. Mantan Istrinya selalu saja bersikap elegan dan perfect namun Ayu cenderung lebih nyaman bersikap kekanak-kanakan seperti sekarang.


"Itu karena salahmu Bee. Sudah seharusnya kamu mengganti nya." Kini nada bicara Ayu terdengar membaik.


"Aku sedang menelfon dan wanita tadi langsung saja masuk. Di mana letak kesalahannya?"


"Tidak tahu. Pokoknya aku tidak mau ada seorang wanita yang duduk di samping mu!"


"Baik di sengaja atau tidak."


"Ya!"


"Hm aku bersalah. Aku minta maaf."


"Iya ku maafkan. Lain kali jangan di ulangi." Samuel tersenyum seraya menghela nafas panjang. Dia merasa kehidupannya terasa semakin seru ketika Ayu mulai memperlihatkan sifat aslinya satu persatu.


🌹🌹🌹


🌹🌹Carilah pasangan yang mudah mengatakan kata maaf sebab mengakui sebuah kesalahan adalah hal yang sulit di lakukan🌹🌹


Terimakasih untuk dukungannya..


πŸ₯°πŸ€—πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2