Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kesakitan yang terbayar lunas. Part 2


__ADS_3

Flash back


Sudah beberapa hari Pak Ipul terlihat gelisah. Dia kerapkali melontarkan kebingungan dengan biaya rumah sakit anaknya yang membengkak.


Teman-teman sesama Satpam sudah berusaha menolong dengan menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu. Tapi itu semua tidak cukup apalagi kini anaknya harus melakukan cuci darah setiap tiga hari sekali.


Sempat terlontar sebuah ide, untuk membicarakan ini dengan Dimas. Namun Pak Ipul merasa sungkan karena sudah terlalu sering meminta bantuan.


"Rawat di rumah saja Pak." Ujar salah satu temannya yang bersiap akan pulang.


"Tidak bisa. Aku takut terjadi apa-apa Tris."


"Kalau saja saya masih bujang Pak. Saya akan berikan bantuan lebih. Ini saya juga bingung sama susu dan popoknya anak saya yang masih kecil. Belum lagi biaya sekolahnya Pak."


"Aku tidak berharap apapun. Doakan saja ada jalan keluar untuk ini."


"Amin Pak. Pasti itu. Saya pamit pulang dulu ya."


"Ya Tris hati-hati." Pak Ipul sangat di segani karena beliau orang yang paling lama berkerja di sana.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba Andik datang dan langsung duduk di samping Pak Ipul.


"Eh Pak Andik. Tumben belum pulang?" Andik adalah Direktur keuangan pada perusahaan tersebut.


"Kok kelihatannya lesu Pak." Ujar Andik balik bertanya.


"Iya Pak. Biasa Pak masalah keuangan." Jawab Pak Ipul mencoba tersenyum.


"Saya dengar anda sedang butuh banyak uang ya?"


"Bapak dengar dari mana?"


"Dari teman-teman Bapak." Hanya dia satu-satunya mangsa empuk yang tersisa. Semuanya tidak mau ku ajak berkerja sama. Kalau tidak ada satpam yang menghandle. Mana mungkin aku bisa mengeluarkan barang-barang itu.


"Iya Pak. Saya butuh untuk biaya rumah sakit anak saya." Langsung saja Andik membisikkannya sesuatu yang sontak membuat Pak Ipul memundurkan tubuhnya." Tidak Pak. Saya takut." Imbuhnya lirih.


"Tugas anda hanya mengeluarkan barang dan mengatur CCTV. Untuk urusan lain, itu perkerjaan saya."


"Kalau ketahuan saya bisa di penjara Pak."


"Tidak akan ketahuan Pak. Pemiliknya saja jarang mengecek barang. Dia tidak akan tahu. Lagian, itu mesin juga sudah rusak." Ujar Andik mengelabuhi padahal dia tahu harga mesin yang bernilai fantastik.


"Tidak Pak maaf."


"Daripada Bapak kas bon terus. Kalau Bapak mau, saya akan berikan uang lima ratus juta. Bagaimana Pak Ipul?"


"Saya masih takut Pak."


"Ada saya Pak. Tenang saja. Saya akan memanipulasi laporan barang keluar masuk. Saya tidak sendirian. Saya sudah mengajak beberapa orang untuk berkerja sama."


Pak Ipul yang sedang berada di ujung kebingungan. Terdiam sesaat dan mulai memikirkan penawaran dari Andik.


Maafkan Ayah Nak..

__ADS_1


Dengan berat hati, Pak Ipul mengangguk. Segera saja Andik mengeluarkan sebuah kertas folio polos yang kosong.


"Tanda tangan dulu Pak."


"Untuk apa pakai tanda tangan?"


"Agar uangnya cepat cair dan bisa langsung di transfer pada rekening Bapak."


Segera saja Pak Ipul membubuhkan tanda tangan pada sebuah kertas yang nantinya berniat di jadikan ancaman. Dengan gilanya Andik mengetikkan sebuah perjanjian yang menyebutkan jika Pak Ipul akan mengakui kesalahan kalau sampai pencurian tersebut terbongkar.


Andik mengunakan kertas itu untuk mengancam ketika Pak Ipul ingin berhenti. Dia berkata akan menjebloskan Pak Ipul ke penjara dan juga membantai semua anak Istrinya kalau sampai Pak Ipul mengingkari isi perjanjian itu.


Tentu saja Pak Ipul takut. Pemikiran yang masih kuno mengampangkan ancaman yang sebenarnya hanya sebuah gertakan saja.


Flash back off


Ayu mengangguk-angguk lalu berdiri dan membisikkan sesuatu ke Samuel dengan kaki menjinjit.


"Direktur keuangan maju!!" Pinta Samuel keras. Ayu melihat sosok lelaki yang sama. Lelaki yang tengah menatap Pak Ipul dengan tajam.


Dasar tua bangka sialan!!


Bukan hanya wajah Andik yang terlihat pucat. Beberapa orang yang bersekongkol juga mulai di liputi kekhawatiran.


"Sa saya Pak." Jawab Andik terbata.


"Siapa saja yang ikut?" Tanya Samuel penuh penekanan.


"Sa saya tidak mengerti."


Samuel melayangkan tamparan untuk persekutuan busuk yang mungkin sudah lama terjadi.


"Jangan berpura-pura sebelum aku memecat kalian semua!!" Ayu hanya bisa menghela nafas panjang. Setidaknya dia bisa membebaskan tuduhan pada Pak Ipul yang tua renta.


"Ini tidak adil Pak. Saya tidak tahu apa-apa soal ini." Tentu saja mereka berprotes ketika Samuel melontarkan ucapan tersebut.


"Maka suruh dia berkata jujur atau silahkan tinggalkan perusahaan. Saya tidak membutuhkan para pengkhianatan seperti kalian." Pak Wira melangkah maju dan ikut merasa bertanggung jawab atas kerugian perusahaan.


"Mari kita bicarakan ini baik-baik Pak. Saya sendiri baru mengetahui ini tadi pagi."


"Bodoh! Apa perkerjaan mu setiap harinya. Aku menggajimu mahal tapi kau lalai melakukan tugas." Tidak ada yang bisa di lakukan Pak Wira kecuali hanya tertunduk. Dia benar-benar tidak tahu menahu soal tersebut.


"Saya sudah mengantongi beberapa bukti transaksi. Kalau kalian jujur, mungkin hanya akan di keluarkan dari perusahaan. Tapi kalau tidak. Kasus ini akan di tangani pihak berwajib dan mungkin akan berakhir di meja hijau." Ucap Dimas tidak kalah tegas. Perkerjaan yang menumpuk membuatnya tidak sanggup mengecek satu persatu keuangan perusahaan yang otomatis mengalir pada rekening khusus.


Padahal sesungguhnya, Dimas baru mengetahui fakta persengkongkolan sekarang. Sehingga apa yang di lontarkan memang hanya sekedar gertakan.


Satu persatu orang maju untuk mengakui kesalahannya. Sementara Andik di tuntut untuk meneliti, siapa saja orang yang belum maju ke depan.


"Prapto, Hamza, Feno dan Dika." Sontak Ayu beralih menatap Dika yang kini melangkah maju dengan tergesa-gesa. Dia langsung menarik kasar kerah baju Andik.


"Kau berkata apa!! Aku tidak ikut-ikut masalah ini!!"


"Uang yang ku berikan dua bulan lalu adalah uang hasil dari menjual barang curian itu!!"

__ADS_1


"Kau bilang itu bonus!"


"Bonus dariku! Aku sudah akan menjelaskannya, tapi kau malah pergi bersama Tania!!" Ayu memalingkan wajahnya dengan kedua tangan memegang erat lengan Samuel. Rasa sakit akan pengkhianatan masih saja menimbulkan nyeri di hatinya.


"Aku tidak tahu jika itu uang hasil mencuri! Memalukan sekali! Kau menyeret ku dalam kasus sialan ini!!" Umpat Dika lagi dan lagi. Pak Wira bergegas menghentikan pertikaian agar Samuel tidak semakin marah.


Tanpa basa-basi Samuel memerintahkan Dimas untuk melayangkan surat pemecatan secara tidak terhormat yang akan berdampak buruk pada kehidupan mereka. Sementara Pak Ipul di keluarkan dari perkerjaan. Namun sesuai janji, Samuel bersedia menanggung biaya rumah sakit juga mencari pendonor ginjal untuk anaknya.


Namun anehnya, Dika di biarkan saja. Sengaja Samuel tidak menyuruh Dimas menyeretnya keruangan meeting, karena ingin memberikan kesempatan Ayu untuk sedikit memberikan pelajaran.


"Kenapa tidak kau pecat aku juga." Umpat Dika terbakar api cemburu. Melihat bentuk fisik Ayu yang terlihat semakin cantik dengan kulit putih terawat.


"Jaga bicaramu Dika." Sahut Pak Wira sejak tadi melontarkan pembelaan untuk Dika." Saya mohon untuk di pertimbangkan pemecatan untuk Pak Dika karena Istrinya sedang mengandung." Ayu membuang nafas kasar dengan senyuman tipis. Dia tahu kalau Dika membenci wanita hamil.


"Oh? Apa itu benar Pak." Tanya Ayu seakan ikut bahagia.


"Iya Nona."


"Aku hanya berharap kau tidak melakukan sesuatu seperti yang sudah kau lakukan padaku. Sekuat apapun kau menolak kehamilan terjadi. Tapi kau melupakan jika kodrat wanita tidak bisa di rubah. Mereka akan hamil dan memiliki anak. Sangat wajar jika tubuhnya akan berubah. Seharusnya kau bisa menghargai itu Mas. Sekarang? Apa kau sudah berdoa pada Tuhan agar janin itu menghilang?" Pak Wira menelan salivanya kasar. Dia tahu kalau Dika tidak menginginkan anak tersebut.


"Saya sudah memberikan pengertian untuknya Nona." Sahut Pak Wira masih menginginkan sebuah perkerjaan untuk Dika agar kehidupan putrinya tidak kesulitan.


"Saya bersyukur kalau Bapak berhasil melakukannya. Kala itu saya sudah berusaha memberikan pengertian tapi dia tetap tidak mengerti. Dia menyebut saya rakus bahkan memanggil saya dengan sebutan binatang ketika saya mengandung darah dagingnya." Dika terdiam karena membenarkan hal tersebut.


"Kenapa Nona tidak mengatakan itu saat akad nikah kemarin."


"Itu saya lakukan untuk kebahagiaan nya. Saya sudah sangat lelah mendengar eluhannya soal penampilan saya. Maka dari itu saya ingin membebaskannya agar dia hidup bersama wanita pilihannya!!" Dika tertunduk. Ucapan Ayu mengaduk-aduk hatinya yang sejak lama di liputan penyesalan.


"Aku akan keluar dari perusahaan ini." Ujar Dika akan beranjak namun Dimas menekan pundaknya untuk tetap duduk.


"Aku tidak setega itu." Jawab Ayu cepat.


"Untuk apa aku mendengarkan kekonyolan ini. Pecat atau tidak! Hanya itulah pilihannya!!"


"Agar kau tidak mengulang kesalahan yang sama."


"Kau masih perduli dengan hidupku?"


"Tidak. Aku perduli dengan bayi yang ada di kandungan Istrimu." Ayu menghela nafas panjang sebelum mengambil keputusan."Jabatan mu akan di turunkan. Aku ingin kau bisa kembali seperti dulu agar nantinya kau bisa memberikan perhatian mu pada anak dan Istri mu." Pinta Ayu tegas.


"Apa tidak bisa di pertimbangkan lagi Nona." Sahut Pak Wira tidak menginginkan Dika turun jabatan.


"Saya yakin jika uang adalah satu-satunya sebab kenapa dia berubah. Saya pastikan dia akan lebih perduli pada keluarganya. Dia akan pulang tepat waktu karena gajinya tidak sebesar sekarang." Samuel tersungging begitupun Dimas yang ikut mengangguk-angguk dengan kedua tangan masih menekan pundak Dika.


"Tidak ada tambahan lagi Nona." Tanya Dimas memastikan.


"Tidak. Aku mulai pusing berada di sini." Jawab Ayu membalikkan tubuhnya ke arah Samuel.


"Hm kita pulang." Samuel berdiri lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Ayu.


"Apa kau tidak takut dia melakukan sesuatu yang lebih buruk dariku Ayu!! Dia kaya dan bisa melakukan apapun sesuai kemauan dengan uangnya!!" Umpat Dika berteriak nyaring.


Ayu memutar tubuhnya mencoba memperlihatkan senyuman simpul meski hatinya tidak menginginkan itu.

__ADS_1


"Sebelum menikah, aku sudah meminta sebuah mahar kesetiaan. Awalnya aku hanya asal berbicara tapi.. Dia mengalihkan semua hartanya untukku termasuk aset perusahaan dan rumah yang kami tempati." Mimik wajah Dika berubah pucat pasi. Dia baru sadar tengah berkerja di perusahaan milik Ayu, mantan Istrinya." Tidak perlu repot-repot memikirkan hidupku. Fikirkan soal hidupmu setelah ini." Ayu melanjutkan langkahnya di ikuti dengan sebuah senyuman mengembang yang membingkai pada bibir Samuel. Dia merasa ikut senang melihat bagaimana cara Ayu merendahkan Dika dengan cara elegan tanpa ada kemarahan.


🌹🌹🌹


__ADS_2