
Malam itu Dika berpamitan untuk pergi ke luar. Dia merasa jenuh tinggal di rumah apalagi setelah melihat perubahan wajah Tania.
Secara terang-terangan dia berpamitan. Namun tentu Tania mengutus seorang penguntit untuk memantau kegiatan yang Dika lakukan.
Sejak mengetahui soal kehamilannya. Tania kerapkali malas untuk keluar rumah terutama waktu malam hari. Dia lebih nyaman berada di rumah karena menganggap suhunya lebih hangat.
Dika melajukan mobilnya menuju sebuah Cafe langganannya. Sambil menyetir, dia terus saja memikirkan ancaman Tania sehingga membuat perasaannya terasa mengambang. Kini Dika sadar tengah terkurung akibat kebodohannya sendiri dan sulit terlepas dari sosok Tania yang tidak ayal selayaknya psikopat.
"Katanya mau merawat tubuh! Tapi baru hamil muda saja dia sudah terlihat buruk!! Sebaiknya aku menyingkirkan janin itu seperti dulu yang pernah ku lakukan pada Ayu!!" Umpatnya duduk lemah di salah satu kursi yang terdapat di luar Cafe.
Seorang waiters menghampiri meja untuk menerima pesanan. Setelah itu, Dika hanya menatap lurus ke arah jalan seraya memperhatikan kendaraan berlaku lalang.
Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah garang ketika dia melihat Alan baru saja memasuki area Cafe. Dia berniat menemui beberapa relasi sesuai permintaan Dimas setelah perbincangan yang terjadi tadi sore.
Sontak Dika beranjak dan langsung mendorong keras tubuh Alan sampai hampir terjatuh. Dika cukup di buat kesal dengan menghilangnya Alan sampai harus membuatnya di pusingkan dengan pencarian atas perintah Bu Erna.
"Kenapa kau tidak mati saja!!!" Umpat Dika berteriak. Semua pengunjung langsung beralih menatap keduanya.
"Singkirkan tanganmu sialan." Jawab Alan berusaha bersikap tenang. Dia memaklumi kemarahan Dika akibat kesalahannya.
"Mama mencari mu! Kenapa kau pergi dan tidak berpamitan!!" Alan menghela nafas panjang seraya menatap sekitar.
"Kau ingin kita menjadi tontonan? Lihat sekitarmu?" Dika menatap sekitar yang tengah berfokus pada mereka." Kita bicarakan ini baik-baik. Aku ada waktu sekitar 10 menit sebelum mereka datang." Alan berjalan melewati Dika dan duduk di salah satu kursi. Dika bergegas melangkah untuk mengikutinya lalu duduk di hadapan Alan." Aku sudah menemui Mama." Ujar Alan membuka pembicaraan.
"Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu. Kenapa kau tidak mengurusnya dengan baik sampai-sampai Mama kau biarkan berkerja?" Mata Dika seketika membulat. Dia tidak mempercayai apa yang sedang Alan bicarakan mengingat dirinya sudah memberikan sebuah ATM untuk menopang kebutuhan Bu Erna.
"Tidak mungkin. Aku sudah memberikan uang cukup untuk beberapa bulan ke depan."
"Nyatanya Mama bekerja sampai-sampai wajahnya pucat."
Apa uang yang ku berikan sudah habis? Tidak mungkin Mama seboros itu? Atau?
Tiba-tiba saja peringatan yang pernah Leo lontarkan melintas. Apalagi segala macam kegiatan yang di lakukannya selalu saja di ketahui Tania sehingga Dika menarik kesimpulan jika ini adalah perbuatannya.
"Kau bodoh sekali." Lamunan Dika buyar. Matanya kembali menatap lurus ke arah Alan.
"Apa maksudmu?"
"Menceraikan Ayu. Kenapa kau melakukan itu? Aku ingin tahu bagaimana bentuk Istrimu sekarang sampai-sampai kau rela menukar Ayu dengan wanita itu." Alan tersenyum simpul lebih tepatnya tersenyum penuh ejekan akan kebodohan Dika.
"Terserah. Itu bukan urusanmu."
"Memang bukan. Tapi seharusnya kau berikan saja dia padaku daripada lelaki lain. Kau tahu kan jika aku sudah lama mengagumi Ayu."
__ADS_1
"Kau masih saja tidak waras!"
"Dia itu sempurna. Semua lelaki akan tidak waras ketika berhadapan dengannya." Mungkin Ayu tidak semenarik itu. Tapi di mata Alan yang sudah menggilainya, tentu sosok Ayu terlihat sangat sempurna.
"Kau berharap apa hah! Dia sudah tidak lagi bisa kau gapai! Dia sudah menikah dengan pengusaha kaya dan kau bukan tandingannya!!" Rasa penyesalan membuat Dika meninggikan suaranya seperti sekarang. Tidak dapat di pungkiri jika dirinya masih saja merasa cemburu saat melihat kebahagiaan Ayu sekarang.
"Tidak ada salahnya berharap. Mungkin saja mereka bercerai lalu aku bisa mendapatkan Ayu. Uch.. Aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia sedunia." Dika membuang nafas kasar dengan tatapan tajam ke arah Alan.
"Kau hanya boleh bermimpi! Ayu tidak mungkin mau dengan mantan Kakak iparnya sendiri."
"Aku akan memaksanya. Kau tahu hei Dika. Aku sudah memiliki perusahaan dan sebentar lagi akan menjadi besar. Setelah aku berhasil menguasai dunia bisnis. Aku yakin memiliki Ayu akan menjadi kenyataan indah nantinya."
Dika tidak bergeming dan menjawab. Dia tidak menyangka jika Alan lebih bisa menciptakan peluang perkerjaan daripada dirinya.
Andai saja Dika masih menjabat sebagai direktur, mungkin dia bisa berbangga diri dan bisa menegakkan kepalanya pada Alan. Namun jabatan itu sudah tidak lagi dia sandang padahal dia rela melepas wanita sebaik Ayu hanya demi jabatan yang ternyata juga ikut menghilang seiring berjalannya waktu.
🌹🌹🌹
Samuel tidak mampu berprotes tatkala Ayu mencuci piring kotor padahal Bik Ijah berusaha berprotes. Ayu hanya tersenyum seraya mencuci dua piring kotor bekas mereka makan.
"Biar Bibik Non." Protes Bik Ijah merasa tidak enak dengan Samuel.
"Cuma dua piring saja Bik."
"Tuan tahu kalau saya sendiri yang ingin melakukan perkerjaan ini."
"Biarkan saja Bik." Sahut Samuel menimpali.
"Baik Tuan." Bik Ijah mengangguk sejenak kemudian pergi meninggalkan area dapur daripada merasa tidak enak pada Samuel.
Setelah meletakkan piring bersih, Ayu mengusap kedua tangannya yang basah dengan lap yang tersedia. Alangkah terkejutnya dirinya ketika tubuhnya berbalik, Samuel sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan hangat.
"Kelihatannya puas sekali Babe?" Ujar Samuel menyadari senyum mengembang Ayu.
"Hanya dua piring Bee. Itu bukan sesuatu yang berat." Sudah bisa di pastikan jika apa yang di lakukan tadi harus melalui perdebatan kecil.
Awalnya Samuel melarang Ayu mencuci piring tersebut. Tapi kemenangan berhasil Ayu raih saat jurus ampuhnya di keluarkan untuk merajuk.
"Untuk apa memperkerjakan para pembantu?"
"Apa salahnya meringankan perkerjaan mereka? Bik Ijah juga sudah tua dan mungkin ingin beristirahat lebih awal." Protes Ayu lagi.
"Ya aku kalah Babe." Samuel merangkul kedua pundak Ayu dan mengiringinya keluar dari dapur. Keduanya masuk ke dalam lift dan dalam waktu sekejap sudah berada di lantai dua bangunan tersebut.
Perutku rasanya tidak nyaman. Sepertinya tamu bulanan akan segera datang. Sebaiknya besok aku membeli pembalut untuk persiapan.
__ADS_1
"Kenapa perut mu?" Tanya Samuel membaca gelagat tidak biasa Ayu yang tengah mengusap-usap perutnya.
"Ini hal yang wajar terjadi pada wanita." Jawab Ayu lirih. Dia cukup merasa malu menjelaskan soal tamu bulanan.
"Aku tidak mengerti."
"Mungkin saja aku terlalu kekenyangan." Ayu berjalan mendahului Samuel menuju lemari untuk mengambil baju tidur.
Samuel yang merasa penasaran dan berharap mendapatkan jatah, mengekor di belakang lalu menumpukan kepalanya pada pundak Ayu dengan kedua tangan melingkar di pinggang.
"Aku sedikit lelah Bee." Tolak Ayu lembut. Dia membiarkan ketika bibir Samuel menjelajahi tengkuk dan belakang pundaknya.
"Kamu sedang menggoda ku kan?"
"Tidak." Dengan wajah datar, Ayu menjauhkan tubuhnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju.
Apa aku melakukan kesalahan lagi? Kenapa dia kelihatan tidak berselera?
Sepuluh menit kemudian, Ayu keluar dengan baju tidur lengan panjangnya. Dia berjalan menuju ranjang dan berniat akan langsung tidur.
Sikap yang di tunjukkan Ayu membuat Samuel kebakaran jenggot. Dirinya menyangka jika Ayu marah karena pertemuannya dengan Ines tadi pagi.
"Kamu marah?" Tanya Samuel memastikan.
"Tidak Bee. Perutku hanya sedikit tidak bersahabat. Bolehkan aku tidur lebih awal?"
"Kita harus saling terbuka. Jangan memendam rasa marah seperti ini."
"Aku tidak marah." Ayu memperlihatkan sebuah senyuman sejenak lalu mulai berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut." Mari kita tidur Bee. Besok kita bicara lagi." Imbuhnya menggeser tubuhnya mendekat ke Samuel.
"Tapi kamu benar-benar tidak marah?" Tanya Samuel seraya membalas perlakuan Ayu.
"Hm ya. Antar aku ke mini market pagi-pagi sekali ya." Pinta Ayu bergumam.
"Ada sesuatu yang ingin kamu beli?"
"Barang yang ku beli adalah jawaban dari pertanyaan mu."
"Kenapa tidak sekarang saja?" Protes Samuel tidak sabar.
"Sudah berada di kamar. Aku malas keluar dan sangat mengantuk. Selamat malam Bee." Sejenak, Ayu mengecup pipi Samuel lalu memejamkan matanya.
"Hm selamat malam juga." Jawab Samuel lirih. Tangan kanannya membelai rambut panjang Ayu dengan fikiran melayang entah kemana. Dia sangat penasaran dengan barang yang akan Ayu beli besok pagi.
🌹🌹🌹
__ADS_1