Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Lebih di manjakan


__ADS_3

Dengan gerakan cepat Samuel meraih pergelangan tangan Ayu lalu menggenggamnya erat. Dia menarik lembut pergelangan tangan satunya dan melihat apa yang sedang Ayu sembunyikan darinya.


"Ti tidak Bee." Teriaknya terbata. Samuel menghela nafas panjang sambil menatap lemah ke arah Ayu.


"Ku fikir apa."


"Sudah tahu kan. Biarkan aku pergi." Jawabnya gugup. Tangannya di tarik pelan dengan wajah tertunduk.


"Aku juga akan ke kamar."


"Kamu tunggu di sini sebentar Bee."


"Kenapa?"


"Kamu tidak melihat noda darah itu?"


"Lihat."


"Maka tunggu aku di sini."


"Tidak." Samuel melepaskan kaos yang di pakai lalu mengikatkannya pada pinggang Ayu karena tahu maksud dari larangan Ayu." Sudah tidak terlihat." Imbuhnya tersenyum.


"Kaosnya nanti kotor."


"Bisa di cuci."


"Nodanya akan sulit di cuci. Selimut tadi saja ku berikan pemutih. Sementara warna kaos mu gelap." Ayu kembali membuat Samuel merasa gemas dengan celotehannya yang berusaha menolak.


"Buang saja. Aku punya kaos banyak. Nah apalagi."


"Tidak ada Bee."


"Hm ayo masuk." Samuel merangkul pundak Ayu dan mengiringinya masuk ke dalam lift." Masih sakit?" Tanyanya setelah pintu lift terbuka.


"Iya. Biasanya tidak separah ini."


"Akan ku buatkan minuman hangat." Ayu menoleh cepat seraya mengerutkan keningnya." Why?"


"Lalu kenapa kamu ikut naik Bee?"


"Mengantar mu." Ayu tersenyum aneh sambil menempelkan telapak tangannya pada pintu.


"Aku bisa berjalan sendiri."


"Wajahmu pucat sekali. Aku takut kamu jatuh." Samuel belum melepaskan rangkulan tangannya dan masih mengantar Ayu sampai di depan kamar mandi.


"Ada lift."


"Ya sudah. Cepat ganti dan akan ku buatkan minuman hangat untuk pengantar tidur."


"Iya." Ayu mencium pipi Samuel sejenak kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Dia tidak pantas menjadi wanita berumur 25 tahun." Gumam Samuel tersenyum ketika wajah gugup Ayu melintas. Itu sangat menggemaskan baginya dan sanggup memberi warna lain di hidupnya sekarang.


.


.


Cukup lama Ayu duduk di atas toilet. Berharap kotoran bisa keluar banyak dan merendahkan rasa nyeri pada pangkal perutnya. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar sebab saat pembalut baru di pakai. Lagi lagi nyeri hebat mengaduk-aduk perutnya.


Apa sebaiknya aku membeli obat..


Cklek...


Ayu mencoba tersenyum ketika melihat keberadaan Samuel yang tengah menunggunya di samping pintu.


"Lama sekali?"


"Iya Bee. Perutku sakit." Samuel meraih lengan Ayu untuk membantunya berjalan.


"Apa perlu ke dokter?"


"Tidak. Aku mau tidur saja." Jawabnya pelan. Dia kembali di dudukkan pada sofa.

__ADS_1


"Minum dulu baru tidur." Samuel mengambil satu cangkir teh hangat.


"Terimakasih."


"Sama-sama." Ayu beberapa kali menyeruput teh dan berharap perutnya bisa membaik." Apa biasanya tidak seperti ini." Tanya Samuel ikut merasa khawatir.


"Memang selalu sakit."


"Apa bangun tidur akan menghilang?"


"Tidak juga. Tapi tubuhku rasanya lemas." Ayu meletakkan cangkir kosong kemudian berbaring di tempat yang sama.


"Ingin ku usap?" Tanya Samuel menawarkan.


"Katanya akan memeriksa laporan dari Dimas?"


"Bisa ku lakukan saat kamu tidur." Samuel menurunkan bokongnya di bawah sofa. Tangannya menelusup masuk ke area perut lalu mengusapkannya lembut.


Ayu tersenyum seraya memejamkan mata. Meski nyeri masih terasa, namun nyatanya, dia lebih cepat mendapatkan kantuk.


.


.


.


Satu jam kemudian...


Karena takut akan kebocoran lagi, Ayu memaksakan diri untuk bangun meski sebenarnya dia masih malas mengerakkan tubuhnya.


Samuel yang kala itu memeriksa laporan, memilih menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Ayu.


"Kenapa bangun?" Tanyanya merasa khawatir. Raut wajah Ayu sudah terlihat baik meski masih pucat.


"Berapa lama aku tidur Bee?"


"Satu jam lebih."


Samuel tersenyum lalu mengiring Ayu masuk ke dalam kamar mandi. Dia kembali ke tempatnya karena tahu Ayu akan lama berada di dalam.


Perkerjaan bagus Dimas...


Pujinya dalam hati saat laporan soal penanaman saham sudah di lakukan hari ini. Alan dengan senang hati menerima jebakan tanpa berprotes sebab dia tidak tahu jika Dimas hanyalah orang suruhan.


"Senang sekali Bee." Laptop kembali di tutup bahkan di matikan.


"Dimas memenangkan tender besar." Jawab Samuel asal. Tangan kanannya menepuk-nepuk sofa sebelah kiri. Tanpa berprotes, Ayu duduk di tempat itu dan otomatis tangan Samuel melingkar erat di pinggangnya.


"Aku malas mandi Bee."


"Tidak perlu melakukannya kalau malas."


"Seharusnya kamu tidak boleh mendekat. Aroma tubuhku pasti tidak enak."


"Aku tidak mencium apa-apa. Tubuhmu masih sangat wangi." Samuel mengecup sebentar punggung tangan Ayu.


"Jangan berbohong untuk menyenangkan hatiku." Celoteh Ayu selalu saja berprotes ketika Samuel mampu mengimbangi ucapannya.


"Aku ingin memasuki mu sekarang." Sontak Ayu menoleh cepat.


"Bukankah kamu tahu kalau aku.."


"Apalagi yang bisa ku lakukan saat kamu menyebutku berbohong? Kau masih ingat jika aroma tubuh ini bisa memicu hasrat ku?"


"Iya percaya." Jawab Ayu cepat dengan wajah menegang.


"Pura-pura percaya." Samuel menurunkan kerah baju Ayu yang longgar dan mulai memberikan cumbuan serta gigitan lembut.


"Jangan Bee."


Samuel tidak juga berhenti. Dia ingin menunjukkan pembuktian pada ucapannya.


Walaupun Ayu menolak bahkan menyingkirkan kepalanya dari pundak. Samuel seakan tidak mau tahu dan tetap saja tidak berhenti.

__ADS_1


"Yang di bawah semakin tidak nyaman." Seketika Samuel tersenyum lalu menegakkan posisi kepalanya.


"Maka jangan memicu pembuktian yang ekstrim."


"Aku tidak melakukannya." Jawab Ayu seraya mengerucutkan bibirnya.


"Kamu melawan lagi."


"Tidak. Jangan lakukan, please." Pinta Ayu pelan.


"Kamu membuatku gila Babe. Nada bicaramu yang mendayu-dayu itu seakan berusaha memintaku untuk memanjakan mu."


"Aku bukan tipe wanita yang manja." Samuel terkekeh lagi. Sejauh ini dia malah melihat sosok Ayu sebagai wanita yang manja dalam momen-momen tertentu seperti sekarang. Dan senangnya, Ayu bisa berubah menjadi raja hutan jika di hadapkan dengan hal genting seperti mengatasi kedatangan Alan tadi.


"Aku malah merasa kamu sangat manja. Bukankah kamu anak tunggal?"


"Iya tapi aku terbiasa hidup mandiri seperti kamu." Ayu masih tidak menerima tuduhan manis yang di lontarkan Samuel.


"Sudah wajar kalau anak satu-satunya memiliki sifat manja."


"Kamu juga berarti."


"Not Babe. Lelaki tidak di pantas melakukannya."


"Kamu juga anak satu-satunya."


"Tapi aku lelaki. Tidak boleh manja karena akan menjadi pemimpin keluarga." Jawabnya mencubit lembut hidung Ayu.


"Tapi aku tidak merasa manja."


"Ah ya kamu sangat mandiri sekali."


"Itu fakta."


"Iya fakta." Jawab Samuel mengalah daripada harus mendengar puluhan alasan.


"Kamu lupa janjimu Bee." Lagi lagi Ayu mengeluarkan suara mendayu-dayu dengan di bumbui sedikit nada merengek.


"Tidak. Aku masih ingat." Samuel sengaja pura-pura acuh bahkan tidak melihat ke arah Ayu.


"Ya sudah ayo."


"Bagaimana dengan sakit perut mu." Jawabnya masih tanpa melihat.


"Hanya makan bakso lalu pulang."


"Besok saja kalau hari ini kamu ingin beristirahat."


"Hm." Ayu langsung berdiri dengan raut wajah kecewa." Bilang saja malas." Gumamnya menggerutu. Samuel mendongak, menatap wajah kesal Ayu.


"Aku mendengar itu." Sahut Samuel tersenyum lalu berdiri.


"Ya. Aku tidak sedang merahasiakannya. Kalau kamu mendengarnya. Itu hal yang wajar. Aku mau lanjut tidur saja." Samuel menahan langkah Ayu dengan genggaman pada lengannya.


"Kamu ingin ku turuti?"


"Tidak."


"Tapi aku ingin." Samuel menyambar sweater lalu mengenakannya pada Ayu.


"Katanya tidak jadi?"


"Aku tidak bilang begitu." Jawabnya seraya fokus mengancing.


"Tadi bilang."


"Coba tunjukkan buktinya."


"Mana bisa."


"Berarti aku tidak mengatakannya." Tangannya mengusap-usap rambut panjang Ayu seakan sedang merapikan nya." Aku suka ketika kamu merengek dan minta ku turuti. Kita pergi." Setelah mengecup kening sejenak. Tangannya mengambil dompet, ponsel serta kunci mobil.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2