
Setelah berhasil merajuk Mita dengan menemaninya berkerja seharian. Alan berhasil membawanya menemui Bu Erna untuk menunjukkan keseriusannya.
Hubungan keduanya sudah terjalin hampir satu tahun. Mita mampu menerima kekurangan Alan yang sejak awal jujur akan kehidupan rumah tangganya yang berantakan meski dia berbohong pada Mita masalah keluarganya.
Alan berdalih sudah tidak memiliki keluarga dan hanya tinggal seorang diri. Sehingga Mita tidak lagi menanyakan perihal tersebut.
Sebenarnya Mita masih saja merasa bimbang. Tapi mengingat keseriusan Alan saat melakukan acara lamaran dan keakraban yang sudah terjalin pada keluarganya, membuat Mita memantapkan hati untuk terus melangkah maju, dengan harapan kalau nantinya Alan tidak akan memperlakukannya seburuk Dika memperlakukan Ayu.
"Kita sudah sampai." Ujar Alan mematikan mesin mobilnya. Menatap ke rumah yang sudah bertahun-tahun tidak di kunjungi.
"Ya sudah ayo turun." Alan membuka pintu mobil lalu turun di ikuti oleh Mita.
Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Mantan mertua Ayu akan menjadi calon mertuaku. Aku sangat takut kegagalan terjadi..
Mita menoleh ketika jemarinya di genggam erat Alan. Lelaki yang memang menurutnya sangat dewasa dalam berfikir.
"Mamaku tidak sejahat perkiraan mu. Dia hanya sedikit berbeda dari orang tua lainnya yang sebagian besar mementingkan kebahagiaan anaknya."
"Oke Mas. Mari masuk, aku hanya punya waktu sampai jam sembilan malam."
Keduanya hendak berjalan masuk ke pekarangan, namun gerakan itu tertahan ketika sebuah motor berhenti tepat di depan pagar.
Bu Erna turun dari sana, dengan wajah lelah setelah seharian berkerja. Sorot matanya menatap ke Alan yang sekarang sudah berpenampilan rapi.
"Terimakasih Bu." Ucap tukang ojek melajukan motornya pergi. Alan menghela nafas panjang, menatap wajah Bu Erna dengan mata berkaca-kaca. Rasa sesak seketika menjalar, melihat keadaan Bu Erna yang terlihat pucat.
Kamu benar Ayu. Wanita ini yang sudah melahirkan ku ke dunia. Bagaimana mungkin aku marah padanya dan memutuskan untuk pergi.
"Alan." Sapa Bu Erna terbata. Berjalan perlahan mendekat untuk memastikan.
Genggaman tangan Alan ke Mita terlepas lalu berjalan cepat menghampiri Bu Erna dan memeluknya.
"Maafkan Alan Ma." Mita hanya bisa terpaku dan menatap haru ketika menyadari wajah Bu Erna yang mulai basah akibat air mata.
"Mama fikir terjadi sesuatu. Kenapa tidak memberikan kabar hiks." Sedikit beban terlepas begitu saja. Setelah beberapa hari merasakan bagaimana beratnya hidup sendirian tanpa anak, membuat Bu Erna menyesali mulut pedasnya dan egonya.
"Kita bicara di dalam saja Ma. Akan ku ceritakan semuanya."
"Hm iya." Alan memberi isyarat Mita untuk mengikutinya masuk.
Kini ketiganya sudah duduk di ruang tamu. Bu Erna hanya terdiam ketika Alan menjelaskan perihal alasannya memutuskan pergi.
Rentetan kejadian di masa lalu, kembali teringat. Bu Erna memang sering memperlakukan Elis dengan buruk. Bukan dari perbuatan tapi lidahnya terlalu pedas hanya agar menantunya terlihat baik di mata para tetangga.
Bu Erna cenderung mengatur dengan pemaksaan. Merubah Elis sesuai keinginan dengan cara mengumpatnya setiap hari seperti yang di perbuat pada Ayu.
"Kenapa tidak berkata jujur saja."
"Apa Mama bisa mendengar? Aku tidak ingin menyakiti hati Mama juga Elis. Itu kenapa aku memilih pergi daripada harus menyakiti salah satu dari kalian." Bu Erna kembali terisak. Melihat pernikahan kedua anaknya hancur.
"Mama memang egois Al. Mama tidak bermaksud begitu. Mana mungkin Mama menginginkan pernikahan kalian hancur? Tapi sekarang itu sudah terjadi, maafkan Mama."
"Hm. Aku bertemu Ayu tadi siang. Dia yang membuatku datang ke sini untuk menemui Mama. Ayu bilang Mama sedang kesulitan. Sayang sekali dia sudah menjadi milik orang lain. Padahal dia satu-satunya wanita yang mampu bertahan dengan sifat Mama."
__ADS_1
"Iya Al. Tapi Mama rasa Ayu berhak menemukan kebahagiaan lain. Dia sudah terlalu lama menahan diri untuk bisa marah. Mama yang terlambat menyadari. Sekarang, Istri Dika.." Ucapan Bu Erna tertahan karena masih takut dengan ancaman Tania.
"Kenapa Istri Dika?"
"Mama takut Al. Pokoknya Mama tidak mau lagi merepotkan Dika."
"Lantas Mama darimana malam-malam begini?"
"Mama berkerja." Alan menarik nafas panjang. Merasa ikut bersalah dengan keadaan Bu Erna sekarang.
"Dika tahu ini?" Bu Erna menggelengkan kepalanya." Jujur saja, apa yang Mama takutkan?" Tanya Alan mendesak. Tidak pernah Alan melihat ketakutan yang saat ini tampak di wajah Bu Erna.
"Istri Dika sedikit tidak waras. Dia mengancam akan membunuh kalau Mama sampai merepotkan Dika. Itu kenapa Mama memilih berkerja."
"Besok aku akan menemuinya." Sontak Bu Erna memegang pergelangan tangan Alan dengan wajah panik.
"Tidak Al. Jangan! Mama tidak ingin pernikahan Dika kembali hancur. Asalkan dia baik-baik saja, Mama tidak masalah." Bu Erna masih tidak ingin di permalukan akibat perceraian Dika nantinya.
"Itu tindakan kriminal Ma."
"Syuuuuuuuuuttttt. Pokoknya kamu tidak boleh menegurnya. Lalu, siapa dia." Menunjuk ke Mita.
"Dia tunangan ku. Aku harap Mama merestui hubungan kami."
"Saya Mita Tan." Sapa Mita sopan.
"Mama pasti memberikan restu. Mama tidak ingin mengulangi kesalahan lagi. Kalau kalian tinggal di sini, Mama berjanji tidak mengatur kehidupan rumah tangga kalian hanya demi nama baik." Alan dan Mita saling melihat sejenak.
"Aku akan sering berkunjung tapi maaf Ma. Kami sudah memiliki hunian setelah menikah nanti." Bu Erna tertunduk lesu. Hatinya terhantam kuat ketika menerima kenyataan jika anaknya tidak mau lagi tinggal satu atap dengannya.
"Mama tidak perlu berkerja." Alan merogoh saku jaketnya lalu meletakkan amplop coklat cukup tebal yang sudah di persiapkan." Pakai uang itu untuk keperluan Mama." Imbuhnya pelan.
"Apa Mita setuju?" Alan tersenyum karena mendengar sebuah kata-kata yang tidak pernah Bu Erna lontarkan sebelumnya.
"Saya tidak apa Tan. Sudah seharusnya seperti itu." Dengan gerakan pelan, Bu Erna mengambil amplop coklat tersebut.
"Terimakasih ya Al, Mit."
"Aku yang seharusnya meminta maaf Ma."
"Ini juga kesalahan Mama." Mita mencolek paha Alan sebentar seraya menunjuk ke arah jam tangan.
"Kami harus pergi Ma. Orang tua Mita pasti khawatir."
"Iya Tan maaf. Saya sudah berjanji pulang jam sembilan."
"Ya sudah cepat antarkan. Memang tidak baik anak gadis pulang terlalu malam."
"Hm." Syukurlah. Ini tidak seburuk yang ku bayangkan. Semoga Mama Mas Alan benar-benar sudah berubah.
🌹🌹🌹
Samuel dan Ayu memilih makan di sebuah resto yang letaknya dekat dengan apartemen. Mereka memilih duduk di luar sambil menikmati pemandangan orang berlalu lalang di hadapannya.
__ADS_1
Menu doubel kembali Samuel pesan, seakan ingin memanjakan lidah Ayu yang di tebaknya hobi makan. Dia ingin membebaskan Ayu walaupun belenggu cinta tetap di lilitkan erat.
Apapun yang Ayu inginkan berusaha di turuti. Kemanapun Ayu ingin pergi, dia tidak keberatan untuk mengantarkan.
Asal bersamaku.
"Bagaimana Babe? Cukup enak kan?" Ayu hanya mengunyah sambil manggut-manggut." Di sini buka sampai tengah malam." Imbuhnya memberikan penjelasan.
"Enak Bee. Em.. Berapa hari lagi kita tinggal di sini?"
"Sekitar empat hari lagi sampai lift sudah bisa di gunakan."
"Padahal tinggal memasang saja."
"Keamanannya juga harus di uji. Aku tidak ingin membahayakan mu nantinya."
"Aku sih terserah."
Ayu menelan makanannya kasar ketika menyadari kedatangan Ines yang sontak membuat mimik wajahnya berubah. Samuel menoleh sejenak ke arah yang sama sambil menghela nafas panjang.
"Dia bukan siapa-siapa. Ingat untuk tidak cemburu pada wanita tidak berbobot itu." Pinta Samuel lirih.
Selama tiga bulan tinggal berdekatan. Samuel cukup mengenal keburukan Ines yang menggilai sesuatu berhubungan dengan materi.
Mana mungkin ku biarkan kerikil tumpul ini mendekat..
Ayu menyingkirkan kursi kosong di sampingnya mengunakan kaki sehingga membuat kursi tersebut terjungkal. Samuel terkejut tapi memilih diam sebab tahu itu perbuatan Ayu.
"Hai Sam. Kita bertemu lagi. Aku juga akan makan malam di sini." Ayu terus mengunyah begitupun Samuel yang seakan tidak merespon keberadaan Ines." Aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku sadar kalau aku tidak sopan. Em jadi, bolehkah aku bergabung? Aku akan mentraktir kalian dan ingin berkenalan dengan Istrimu." Niat Ines untuk mendekat semakin menggebu tatkala para pegawai apartemen menutup ketat informasi soal Samuel dan menggelitik rasa penasarannya.
"Kau lihat, tidak ada kursi di sini. Jangan bersusah payah mentraktir, Suami ku masih kuat untuk membayar makanan. Yang terakhir, aku tidak membutuhkan teman yang mungkin bisa berubah menjadi kerikil tajam nantinya." Jawab Ayu tanpa melihat ke arah Ines yang belum juga beranjak pergi.
Samuel hanya mengangguk-angguk dengan sebuah senyuman simpul. Dia ingin menikmati permainan Ayu yang di ketahui sangat tegas dalam menindak seseorang yang di rasa tidak penting.
"Aku dan Sam dulu berteman."
"Jangan membual dan mengarang cerita. Dia bahkan menyebut mu sebagai wanita yang tidak berbobot." Ines mulai mendengus karena merasa kesal. Sifat dan watak aslinya langsung terpancing karena ucapan pahit nan ketus yang Ayu lontarkan.
"Kami memang berteman bahkan pernah makan malam bersama." Sontak Ayu meletakkan sendok dengan gerakan kasar. Samuel menoleh karena merasa takut Ayu kembali salah faham padanya.
"Hanya satu kali Babe." Jawab Samuel menimpali. Dia ingin jujur tapi tidak melihat situasi. Terang saja hati Ayu terbakar api cemburu padahal dia sadar kalau itu adalah sebagian dari masa lalu. Namun, kecemburuan itu sanggup di sembunyikan dengan sangat rapi.
Ayu berdiri setelah meneguk air putih di hadapannya dalam satu kali nafas. Dia menatap lekat Ines yang memiliki postur lebih tinggi dan berpenampilan sangat menarik.
"Itu sudah lain cerita. Sekarang kau lihat dia sudah beristri."
"Jangan terlalu kaku dan mengekang. Nanti dia bosan padamu hahaha konyol! Apa kamu tidak malu memiliki Istri yang pemikirannya dangkal seperti dia Sam?"
"Tidak akan ada pemenang jika sudah berbicara melawan pelakor bermuka tebal seperti mu." Ayu meraih lengan Samuel dan berniat mengajaknya pergi. Namun ketika dia menyadari jari lentik Ines akan menyentuh pundak Samuel. Tangan kanannya menampis dengan gerakan cepat di sertai dorongan kasar pada pundaknya.
Braaaakkkkk..
Ines terjatuh menimpa beberapa kursi. Ayu tersenyum tipis sambil mengacungkan jari tengah lalu berjalan pergi meninggalkan Ines yang kembali mengumpat.
__ADS_1
Aku akan menutup rapat hubungan ini tanpa celah sedikitpun..
🌹🌹🌹