
Setelah para tamu pulang. Ayu terlihat tergesa-gesa pergi ke lantai 2. Hal itu membuat Samuel panik dan mengikuti langkahnya.
Setibanya di kamar utama, Ayu melucuti pakaiannya sehingga Samuel menutup pintu cepat.
Pemandangan di hadapannya sangat mengiurkan namun dia harus menahan sebentar hasratnya untuk beberapa bulan demi menjaga janin yang masih berada di tahap simetris awal.
"Kenapa?" Tanyanya menatap lurus ke Ayu.
"Gerah Bee. Aku tidak betah memakai ini." Baju setelan yang biasanya Ayu sukai, di lepas dan di ganti dengan dress selutut.
"Aku fikir kenapa."
"Aku ingin melepas ini sejak tadi."
"Tidak ada aturan kamu di wajibkan berada di sana. Jangan berlarian seperti tadi. Aku takut terjadi sesuatu dengan calon anak kita." Samuel berjalan mendekat lalu memberikan usapan lembut pada perut Ayu.
"Iya maaf Bee." Ayu berjalan ke arah sofa sehingga otomatis tangan Samuel terlepas dari perutnya.
Terlihat dia mengambil ponsel dan membuka aplikasi toko online. Samuel berjalan menghampiri dan duduk di sisinya. Memperhatikan apa yang sedang Ayu lihat.
"Ingin membeli baju?"
"Hm iya. Akhir-akhir ini hawanya sangat panas. Aku ingin membeli beberapa baju tidak berlengan."
Samuel menghembuskan nafas berat sebab ini masuk musim penghujan. Suasana kamarnya bahkan sedingin kulkas, sebab Samuel menambahkan tiga pendingin ruangan sesuai perintah Ayu.
"Beli saja kalau kamu mau. Tapi tidak boleh di pakai keluar kamar apalagi keluar rumah."
"Hm iya. Tolong suruh Bibik membuatkan es serut Bee."
"Es serut?" Tanyanya mengulang.
"Iya es serut dengan potongan buah dan sirup."
"Udaranya sangat dingin. Nanti kamu sakit." Jawab Samuel mengingatkan." Ini juga sudah malam Babe. Besok saja ya." Imbuhnya merajuk.
Ayu menoleh dengan tatapan tajam. Karena terlalu khawatir sampai-sampai Samuel melupakan perasaan Ayu yang berubah sangat sensitif.
"Aku membenci mu! Aku akan memintanya sendiri." Ayu berdiri cepat begitupun Samuel yang langsung memegang kedua pundaknya untuk mencegah.
"Maaf. Aku lupa." Kata Samuel panik." Kamu duduk lagi, biarkan aku yang menyuruh Bibik membuatnya." Ayu menyingkirkan tangan Samuel lalu kembali duduk. Dia memperlihatkan wajah kesal seakan menyimpan kebencian pada Samuel ketika penolakan terlontar.
"Cepat Bee. Dua porsi ya. Sirupnya yang banyak."
"Hm ya. Tunggu Babe." Samuel berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga. Dia menghampiri Bik Ijah yang masih membersihkan halaman setelah syukuran di gelar." Bik. Tolong buatkan es serut." Pinta Samuel pelan.
"Buat Non Ayu?"
"Iya Bik. Beri sirup dan potongan buah ya." Bik Ijah langsung mengurungkan niatnya melangkah masuk.
"Buahnya tidak ada Tuan."
"Dimas sudah pulang."
__ADS_1
"Sudah tadi barusan." Samuel kembali ke dalam untuk memberitahu Ayu. Dia berharap Ayu bisa mengerti keadaan dan tidak mempermasalahkan potongan buah.
Ayu bangun dengan bersemangat karena mengira pesanannya sudah datang. Raut wajahnya berubah kecewa ketika dia tidak melihat apapun di tangan Samuel.
"Mana pesanan ku Bee?" Tanyanya pelan.
"Buahnya tidak ada Babe. Em es serut sirup saja ya. Besok kita beli buah."
"Ada buahnya lebih enak."
"Ini sudah hampir jam sepuluh. Tidak ada lapak buah yang buka." Sambil melontarkan jawaban, Samuel berdoa di dalam hati agar Ayu tidak marah.
"Kan enak ada buahnya Bee." Lagi lagi Samuel di hadapkan dengan jawaban yang terdengar berputar-putar." Aku lapar. Kalau ada buahnya nanti bisa kenyang." Imbuhnya seraya berbaring. Samuel menatapnya dari tempatnya berdiri.
"Bibik tadi sudah memasak. Mau ku ambilkan."
"Aku mau makan buah dengan es serut. Tidak mau makan masakan apapun. Bau bumbunya memuakkan." Samuel tersenyum aneh. Perubahan semakin terlihat jelas setelah dua hari lalu Ayu di nyatakan positif hamil.
Apa seperti ini melayani orang hamil? Seharusnya dia meminta itu sejak tadi sore.
"Bee."
"Ya."
"Kamu keberatan dengan keinginan ku?"
"Sama sekali tidak. Akan ku carikan. Kamu mau buah apa?"
"Terserah Bee asalkan macamnya banyak."
"Tunggu di sini ya. Jangan keluar kamar sampai aku kembali."
"Hm iya. Cepat Bee. Aku lapar."
Samuel menunduk, mengecup dahi Ayu lalu mengambil kunci mobil, ponsel dan dompet. Dia berjalan keluar dengan ketidakyakinan karena hari memang sudah larut.
"Mau kemana Tuan." Sapa Bik Ijah.
"Beli buah Bik."
"Mana ada jam segini."
"Entahlah Bik. Paling tidak usaha dulu."
"Sabar Tuan. Ibu hamil memang mintanya aneh-aneh."
"Selama saya bisa. Itu bukan masalah besar Bik. Saya jalan dulu."
"Ya Tuan. Semoga dapat pesanan nya."
"Amin." Samuel tersenyum sejenak lalu berjalan menuju bagasi. Dia memacu mobilnya melewati perkampungan dengan harapan ada penjual buah yang mungkin tersasar.
Tentu saja itu hal yang mustahil. Perkampungan sudah terlihat sepi, hanya pos penjagaan dan warung kopi yang terlihat masih ramai.
__ADS_1
Samuel terus saja melajukan mobilnya sampai ke jalan raya. Sebelum menentukan mengambil arah, dia berhenti sejenak di gang lalu memutuskan untuk ke kiri.
Sepanjang perjalanan hanya ada penjual nasi goreng, mie ayam dan makanan yang sering di jumpai pada malam hari.
Bagaimana jika tidak ada. Apa aku harus meminta bantuan Dimas. Ah tidak kasihan dia..
Samuel berhenti di bahu jalan. Dia mengambil ponselnya dan melihat internet untuk mencari swalayan yang buka 24 jam. Hanya ada mini market, itupun tidak menyediakan buah-buahan.
Terpaksa, perjalanan kembali di lanjutkan meski harapannya sangatlah kecil.
Samuel melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan hampir pukul setengah sebelas malam. Terdengar dessahan lembut lolos. Dia merasa tidak yakin bisa menyelesaikan keinginan Ayu.
Namun tiba-tiba matanya memicing ketika dia melihat seorang Bapak-bapak mendorong gerobak jualannya. Mirip seperti penjual rujak buah.
Cepat-cepat Samuel meminggirkan mobilnya ke bahu jalan. Berjalan setengah berlari untuk mengikuti Bapak-bapak yang sudah masuk ke gang kecil.
"Pak tunggu." Teriak Samuel tanpa memperdulikan hari yang sudah larut.
"Ada apa Mas." Tanyanya menoleh.
"Jual rujak buah ya."
"Iya tapi.." Hari ini hujan jadi rujaknya tidak laku dan ku buang. "Sudah habis Mas." Imbuhnya menjelaskan.
"Tidak ada sisa nya sedikit Pak?"
"Mas lihat sendiri. Ini sudah kosong." Menunjuk etalase kaca. Hati si penjual berada di puncak kekesalan sebab dia tidak bisa membawa uang untuk keluarganya. Namun setelah memperhatikan wajah cemas Samuel, membuatnya merasa kasihan." Untuk apa sih Mas cari rujak buah malam-malam?" Tanyanya pelan.
"Bukan rujaknya Pak. Saya butuh buahnya. Istri saya sedang hamil, dia ingin makan es serut dengan potongan buah."
"Kalau buah utuh mau?" Tanya si pedagang menawarkan.
"Bapak punya."
"Banyak Mas." Dia membuka bagian bawah gerobak dan melihat berbagai macam buah berada di sana." Seharian ini sepi jadi masih sebanyak ini." Ujarnya memelas.
"Syukurlah. Tolong bawa ke mobil Pak. Saya akan membeli semuanya." Samuel malah menebak jika mungkin Ayu memiliki perasaan yang sangat peka sampai-sampai dia bisa tahu ada seorang pedagang yang tengah kesulitan.
"Semuanya Mas. Ini banyak loh Mas."
"Tidak apa Pak. Itu mobil saya." Menunjuk ke arah mobilnya.
"Baik Mas." Dengan wajah sumringah si pedagang membelokkan gerobaknya lagi dan mendorongnya ke arah mobil Samuel yang terparkir. Dia memasukkan semua buah sisa dagangannya ke dalam bagasi belakang.
"Berapa Pak." Si pedagang komat kamit untuk menghitung jumlah yang harus di bayar.
"275 Mas."
"Oh sebentar." Samuel memberikan sepuluh lembar uang seratus sehingga membuat si pedagang tersenyum canggung.
"Loh banyak sekali. 275 saja Mas."
"Anggap sebagai ucapan terima kasih Pak. Saya permisi, Istri saya menunggu." Samuel bergegas masuk ke mobil karena tidak ingin mendengar penolakan si pedagang yang kini wajahnya berubah sumringah.
__ADS_1
🌹🌹🌹