
Waktu berlalu. Kini umur kandungan Ayu menginjak usia 6 bulan. Dia merasa kalau tubuhnya semakin berat. Apalagi setelah mengkonsumsi susu, naffsu makannya sulit di kendalikan.
Ayu sering lapar sampai-sampai harus menyetok banyak cemilan di kulkas. Dari jenis roti, snack, es krim dan semua makanan yang di inginkan.
Beberapa baju mulai di ganti dengan ukuran yang lebih besar. Ayu sering merasa gerah dan selalu ingin memakai baju longgar dan tipis.
Pagi ini Samuel membantunya menyisir rambut. Berkat pengertiannya, Ayu tidak harus memotong rambut panjangnya. Samuel dengan senang hati merawatnya dan sekalipun tidak pernah mengeluh.
"Mau di ikat?" Tanya Samuel menawarkan.
"Ya Bee. Gerah sekali." Tanpa Samuel sadari, Ayu menatap lekat pantulan cermin yang memperlihatkan ketidakseimbangan antara sosok dirinya dan Samuel.
Dia terlihat konyol dengan bentuk tubuhnya dan wajah kasarnya, sementara Samuel terlihat tampan meski hanya memakai kaos santai.
"Memikirkan apa?" Lamunan Ayu buyar. Dia tersenyum simpul dengan manik berkaca-kaca.
Aku takut tidak bisa mengembalikan tubuhku lagi..
"Aku banyak makan Bee. Lihatlah, tubuhku jadi membengkak seperti ini." Ayu menunduk, menatap kakinya yang terlihat lebih besar.
"Hanya perut mu yang membengkak. Itu karena dia tumbuh dengan sehat." Sungguh Samuel tidak mempermasalahkan penampilan Ayu sekarang. Dia tidak memiliki waktu memikirkannya. Menurut pandangannya, Ayu masih saja terlihat cantik apalagi kini dia mengandung anaknya.
"Tidak Bee. Kaki ku seperti gajah."
"Entahlah Babe. Kenapa kamu selalu membahas itu. Aku menerima mu apa adanya."
"Tapi kamu kelihatan sangat tampan."
Hal itu yang sulit Samuel turuti. Padahal dia sudah berusaha tampil acak-acakan untuk mengimbangi Ayu, namun tetap saja gagal. Ayu mengganggap nya sempurna sementara dirinya lebih mirip seorang pembantu.
"Apa aku harus merusak wajahku ini." Jawab Samuel menawarkan.
"Sudah ku bilang. Jangan bicara macam-macam."
"Kamu yang membuatku berbicara itu."
"Aku hanya melihat kenyataan."
"Kenyataannya, aku sangat mencintaimu."
"Aku takut tidak bisa kembali seperti dulu." Jawab Ayu pelan. Yang di fikirkan bukan saat ini tapi setelah dirinya melahirkan." Kalau selamanya aku seperti ini bagaimana?" Imbuhnya bertanya.
"Asal kamu setia, seperti ucapan ku sejak awal."
"Memalukan Bee."
"Kamu akan kembali cantik Babe."
"Tubuhku Bee. Berat badanku sudah 70 sekarang."
"Meski 100 kg aku tetap mencintaimu." Jawab Samuel tegas.
"Aku takut kamu hanya membual Bee."
"Coba katakan, kapan aku melakukannya?" Ayu menggeleng pelan. Selama ini Samuel tidak pernah mengingkari janjinya. Sikap yang di tunjukkan saat awal bertemu, tidak berubah bahkan semakin terasa hangat." Jangan fikirkan macam-macam dan mempengaruhi si kecil." Samuel mengulurkan tangannya untuk membantu Ayu berdiri.
"Aku takut kamu berpura-pura." Samuel tidak menjawab sebab pertanyaan yang Ayu lontarkan menjurus pada kejadian masa lalu.
"Bibik sudah membuatkan bebek goreng pesanan mu."
"Jawab dulu." Pinta Ayu merengek.
"Apa yang perlu di jawab?"
"Kamu pura-pura."
"Tidak. 24 jam kita bersama."
"Bisa saja kamu keluar saat aku tidur." Samuel menghembuskan nafas berat. Ayu terus saja berprasangka buruk padanya sejak hamil.
"Terserah kalau kamu menebaknya begitu."
__ADS_1
"Berarti benar?"
"Tidak Babe. Aku memeriksa laporan saat kamu tidur. Aku bahkan mengajakmu ke pertemuan kalaupun ada."
"Entahlah Bee. Aku sebenarnya malas melihat wajahmu." Samuel tersenyum simpul. Ucapan itu juga sering di lontarkan.
Samuel pernah menanyakan perihal ucapan tersebut. Dengan jujur Ayu mengatakan kalau selama hamil dia kerapkali merasa malas melihat wajah Samuel.
"Meski malas, kamu harus terbiasa melihat wajahku."
"Iya aku terpaksa Bee."
Tadi cemburu sekarang begini. Hehehehe konyol sekali. Tapi aku ingin menikmati setiap momennya..
Samuel mendudukkan Ayu pada salah satu kursi makan. Seperti biasa, Ayu ingin Samuel melayani, bukan kedua pembantunya.
"Bagaimana? Enak? Tidak kalah kan rasanya." Tanya Samuel memastikan. Tadinya Ayu ingin beli tapi dia menyarankan untuk menyuruh Bik Ijah yang membuat.
"Iya Bee. Dagingnya lembut dan tidak amis. Em apa kamu sudah merencanakan untuk acara tujuh bulanan?" Tanyanya seraya menerima suapan dari tangan Samuel.
"Aku sudah memesan satu paket untuk bulan depan. Jangan ikut memikirkan, itu urusanku."
"Hm, Bik Lena bertanya padaku."
"Tanggal 1 Babe. Bilang padanya."
"Iya Bee."
Di tengah acara sarapan, tiba-tiba saja Dimas datang dengan raut wajah tidak biasa. Hal itu membuat Samuel bertanya-tanya dan menebak macam-macam.
Seusai makan, Samuel baru menemui nya bersama Ayu yang terlihat duduk di sisinya sambil menikmati manisan mangga.
"Ada apa? Kenapa raut wajahmu seperti itu?" Tanya Samuel tidak sabar.
"Itu Tuan, saya.." Ah kenapa rasanya lebih berdebar-debar?
"Katakan Dimas! Aku tidak suka bertele-tele!"
"Melamar kekasih mu Dim?" Tanya Ayu ikut antusias.
Wajah Dimas memerah ketika mengatakan hal tersebut. Dia sebenarnya malu tapi Samuel sudah di anggap Kakak baginya.
"Iya Nona." Jawabnya tertunduk.
"Siapa?" Samuel juga ikut merasa senang. Dia sempat menyangka Dimas tidak normal padahal kesibukannya yang membuat dirinya tidak punya waktu mencari pasangan.
"Mita Tuan." Ayu dan Samuel semakin di buat terkejut.
"Mita? Sasmita?"
"Iya Nona. Selama beberapa bulan kami menjalin hubungan dan em Mita bisa menerima kesibukan saya."
"Kau yakin?" Tanya Samuel memastikan keputusan Dimas.
"Saya yakin Tuan. Sebelum memutuskan ini, saya sudah memikirkannya masak-masak." Samuel mengangguk, dia tahu Dimas bukanlah seseorang yang gampang di bodohi.
Selayaknya dirinya, Dimas sangat sulit tertarik walaupun setiap harinya harus berhubungan dengan staf wanita cantik juga para sekertaris dari para relasi. Sekalipun Dimas tidak pernah tertarik dan selalu menatap fokus ke perkerjaannya.
"Kapan?"
"Besok Tuan."
"Kenapa baru memberi kabar?"
"Saya sudah menyiapkan semua keperluannya. Saya berpamitan karena ingin Tuan hadir sebagai pengganti keluarga saya."
"Aku tergantung Nyonya." Jawab Samuel tidak ingin menyinggung perasaan Ayu sehingga keputusan apapun selalu melewatinya.
"Ini sangat mengejutkan Dim. Sejak kapan kalian memiliki hubungan."
"Saat Nona menyuruh saya mencarikan tempat tinggal untuk Mita. Entahlah Nona, saya juga merasa bingung kenapa tiba-tiba memutuskan ini."
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Ayu melihat Dimas tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Biasanya wajah itu terlihat datar. Kalaupun tersenyum, Dimas hanya memperlihatkan senyuman simpul.
"Apa kamu kasihan padanya Dim?"
"Awalnya memang seperti itu Nona. Dia bilang di usir dari rumah karena gagal menikah. Saya mohon Nona berkenan hadir, saya tidak memiliki keluarga lagi." Imbuhnya memohon.
"Em ya sudah Dim. Pukul berapa acaranya?" Senyum mengembang langsung Dimas perlihatkan.
"Pukul sepuluh pagi Nona. Saya sudah menentukan tanggal pernikahan yang tepat."
"Nah cepat sekali." Jawab Ayu melihat ke arah Samuel.
"Untuk menutupi kegagalan pernikahan nya Nona."
"Hm bagus. Memang seharusnya mempercepat pernikahan untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan." Sahut Samuel menegaskan.
"Tapi Dimas sudah berkenalan dengan Mita berbulan-bulan. Sementara kita?" Entah kenapa raut wajah Ayu berubah kesal.
"Yang terpenting itu endingnya Babe bukan pemaksaan itu."
"Kalau begitu. Kamu harus memegang komitmen Bee. Jangan mengeluh kalau aku meminta sesuatu dengan cepat! Kamu suka sesuatu yang instan kan, begitupun aku."
"Itu tidak ada hubungannya Babe. Permintaan mu selalu saja melenceng waktunya. Kamu minta sate di pagi hari dan bubur ayam di malam hari. Bagaimana mungkin aku bisa memenuhi semuanya dengan cepat."
Dimas tersenyum seraya menunduk, mendengarkan perdebatan kecil yang kerapkali terjadi. Dia ingin menjadi lelaki seperti Samuel, yang selalu menjaga perasaan pasangannya dengan sangat baik.
"Aku tidak mau tahu Bee. Itu juga yang kamu katakan dulu saat aku meminta waktu. Ingat kan? Kamu berkata kau harus jadi milikku! " Samuel terkekeh kecil. Dia mengingat saat itu dengan sangat baik.
"Ya oke. Kamu selalu menang." Jawab Samuel menyerah." Jadi kapan tanggalnya Dim?" Tanya Samuel melanjutkan pembicaraan. Setelah mengatakan tanggal pernikahan, Dimas langsung undur diri untuk mempersiapkan lamaran untuk besok.
"Bee."
Panggilan dari Ayu kini menjadi momok menakutkan bagi Samuel. Makanan yang di minta selalu sulit di dapatkan seakan Ayu sengaja.
"Kamu mau beristirahat?"
"Em kamu pernah makan durian?"
"Iya pernah. Tapi sepertinya sekarang belum musim durian. Biasanya kalau waktu musim durian, banyak orang membuka lapak dadakan di jalan." Ya Tuhan semoga tebakanku salah.
"Aku ingin tahu rasanya seperti apa." Samuel tersenyum aneh. Lagi lagi Ayu memberikannya tugas yang sulit di dapatkan.
"Akan ku belikan kalau datang musim durian."
"Kamu masih saja tidak peka." Nafas Samuel berhembus lembut. Selama ini tugas dari Ayu terselesaikan meskipun sulit.
"Mau makan durian?" Terpaksa Samuel melontarkan kata-kata tersebut daripada membuat Ayu marah.
"Iya mau."
"Hm baik. Tapi tidak boleh marah kalau seandainya aku tidak mendapatkannya."
"Itu berarti cintamu luntur Bee."
"Bukan begitu.."
"Mungkin kamu kehilangan semangat karena melihatku tidak lagi cantik."
"Astaga. Kamu wanita paling cantik di muka bumi ini." Jawab Samuel berusaha melunakkan hati Ayu." Akan ku cari sampai dapat." Samuel berdiri lalu mengulurkan tangannya yang di sambut langsung oleh Ayu.
"Aku mau ikut."
"Hm aku mengambil kunci mobil dulu." Samuel mengusap puncak kepala Ayu lalu berjalan masuk lift sambil sesekali menghembuskan nafas berat. Harus mencari di mana?
🌹🌹🌹
Jangan lupa mampir ke cerita baruku ya😁
Tinggal kunjungi akunku saja..
Judulnya.. MY IDOL MY HUSBAND
__ADS_1
Terimakasih...