
Cerita dari Samuel membuat Riska dan Stefan tercengang. Keduanya mendengarkan cerita tersebut walaupun mereka tidak sabar ingin bertemu Keano.
"Aku tidak punya saudara kembar. Bagaimana mungkin wanita itu menyamar jadi aku."
"Dia sangat mirip dengan mu hanya saja lebih muda. Apa kalian tidak bisa menebak siapa wanita itu sebenarnya?" Riska menggeleng pelan." Oh baik. Untuk sementara sebaiknya kalian tinggal di sini. Orang suruhan ku sedang menyelidiki wanita itu." Imbuhnya lirih.
"Lantas, di mana anak kami?"
"Mari ikut saya Kak." Ayu berdiri di ikuti oleh Stefan dan Riska.
Mereka di giring menuju kamar bermain. Ayu menyuruh Riska dan Stefan menunggu di depan kamar, sementara dirinya masuk untuk memberitahu Keano yang terlihat asyik bermain dengan Daniel.
"Papa." Ucap Kean terbata.
"Iya Papa dan Mama."
"Papa sudah meninggal." Jawab Kean pelan.
"Kean tidak percaya pada Ibu?" Kean terdiam sambil menatap Ayu dengan mata bulatnya.
"Mama bilang Papa sudah meninggal."
"Baik. Ayo ikut Ibu Ayu dulu." Ayu berdiri seraya mengendong Daniel. Tangannya terulur ke arah Kean yang langsung di sambut hangat.
"Kean tidak mau bertemu Mama. Kean takut."
"Mama Kean sudah tidak pemarah seperti dulu. Mama Riska sudah menjadi baik."
"Kean takut Ibu. Bukankah Ibu bilang Kean tinggal di sini." Akibat perbuatan Riska palsu membuat Kean mengalami trauma. Dia kehilangan rasa nyaman pada sosok yang di panggil Mama.
Ketika pintu di buka. Mimik wajah Kean berubah terkejut. Dia melihat sosok kedua orang tua yang dulunya sangat menyayanginya.
"Kean." Segera saja Riska berjalan menghampiri namun Kean malah bersembunyi di balik tubuh Ayu dengan kedua tangan berpegang erat pada pinggiran bajunya." This is Mama." Imbuh Riska merasa tidak sabar.
"No Mom." Perasaan Riska seakan terhantam ketika penolakan di lontarkan Kean. Namun dia berusaha memaklumi itu semua setelah mendengar penjelasan soal sosok yang membawa Kean tadi.
"Kean doesn't miss Dad." Tanya Stefan berjalan mendekat. Kean mengintip dari balik tubuh Ayu untuk memastikan jika lelaki itu benar-benar sang Ayah, Stefan Hansson.
"Dad is dead."
"No Ken. It's Dad." Stefan duduk berjongkok seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah Kean.
__ADS_1
Kean mendongak ke arah Ayu seakan sedang bertanya soal kebenaran yang terlihat di hadapannya.
"Dia Papa mu Kean." Ucap Ayu menimpali seraya mengusap rambut Kean lembut.
Perlahan cengkraman tangan Kean merenggang. Dia mempercayai perkataan Ayu yang selama ini tidak pernah menyakitinya.
"Papa." Ujar Kean lirih. Berjalan menghampiri Stefan lalu memeluknya.
Riska yang tidak perduli akan ketakutan Kean, ikut duduk berjongkok dan memeluknya.
Tangis keduanya pecah dengan ribuan ucapan syukur di dalam hati masing-masing. Keano berhasil di temukan dalam keadaan baik di ujung keputusasaan.
Sementara Riska palsu memacu mobilnya cepat ketika dia menerima laporan dari orang suruhannya. Dia yang kala itu tengah asyik berbelanja, bergegas pergi dan berniat melarikan diri.
Hasil belum di dapatkan namun dirinya terancam masuk ke jeruji penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tentu saja dia tidak ingin itu terjadi sehingga Riska palsu merencanakan terbang ke luar negeri.
"Sial sekali! Bagaimana mungkin Samuel menemukan mereka!!" Umpatnya sambil mengemasi barang-barangnya." Untung saja aku sudah mempersiapkan pelarian ini. Sambil menunggu tiket pesawat, aku akan tinggal di sana." Imbuhnya mempercepat gerakan.
Tapi tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat dia menyadari kehadiran seseorang. Riska menoleh tapi tidak menemukan siapapun.
"Bik." Ujarnya menyangka jika itu ulah si pembantu.
Riska palsu kembali berkemas. Setelah semua barang-barangnya masuk ke dalam koper, dia menurunkan koper dan membalikkan badan.
"Aku tidak ada urusan dengan mu!!"
"Memang tidak. Tapi pengganggu kehidupan sahabatku tidak boleh kabur tanpa pertanggungjawaban." Riska palsu menelan salivanya kasar sambil memikirkan cara untuk bisa kabur." Kamu mau di paksa atau suka rela. Mari kita pergi ke rumah Ayu untuk mengakui perbuatan mu." Riska palsu tersenyum simpul sambil bersiap mengambil senjata api yang tersimpan di lacinya.
"Aku tidak mengambil apapun. Biarkan aku pergi dari sini."
"Kau masih saja tidak merasa bersalah padahal kau sudah mengganggu ketentraman hidup Ayu."
"Tapi aku tidak merugikan mereka. Kean sudah ada di sana dan mereka masih bersama."
"Kalau sampai mereka berpisah karena ulahmu. Tubuhmu akan meninggalkan nama saja!" Ancam Tania mulai memperlihatkan senyum jahat. Hatinya ikut tercabik melihat perbuatan Riska palsu.
"Sudahlah. Jangan campuri urusan ku!!"
"Jika kau ku biarkan pergi. Ada kemungkinan kau akan kembali lagi."
Persetan!! Akan ku bunuh satu nyawa lagi!!!
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Riska palsu mengambil senjata api di dalam laci lalu menodongkannya ke arah Tania.
"Minggir atau kau ku bunuh!!" Ancam Riska palsu tidak membuat Tania ketakutan. Dia malah terkekeh nyaring sebab adegan di depannya sudah biasa dia hadapi.
"Tanganmu bahkan bergetar memegang benda itu."
"Peluru ini akan melubangi kepalamu jika kau tidak membiarkan aku pergi!!"
"Tidak semudah itu membunuh ku wanita sialan. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Tanpa fikir panjang Riska palsu menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya pada Tania. Bersamaan dengan itu, Tania mengambil sebilah pisau yang terselip di dalam dress-nya dan melemparnya ke arah tangan Riska.
Doooorrrrr!!!
Tembakan mengarah ke atas sebab gerakan Tania lebih cepat daripada Riska. Senjata api terlihat tergeletak di lantai dengan tetesan darah akibat pergelangan tangan Riska yang terluka.
Pisau milik Tania berhasil menancap di pergelangan tangan si Riska palsu. Membuat wanita itu duduk bersimpuh sambil mengerang kesakitan.
"Sakit hah!! Seharusnya kau memilih jalan mudah!!" Tania mengambil pistol dengan sembarang baju yang di dapatkan lalu membungkusnya. Tidak segan-segan dia mencabut pisau kebanggaannya sambil memperlihatkan senyum mengerikan.
"Tolong panggil ambulance. Aku bisa mati."
"Tidak akan ku biarkan kau mati." Seakan sudah menyiapkan semuanya. Tania mengambil alkohol dari tasnya lalu mengguyurkan nya pada tangan Riska palsu.
"Ahhhhhhhhh sakit!!!!" Teriak Riska.
"Jika kau masih sakit karena luka ringan ini!!! Jangan pernah berbuat hal buruk!!!" Segera saja Tania memberikan perban untuk menghentikan perdarahan.
"Ampun. Tolong lepaskan aku!!"
"Tidak! Bangun!!! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu!!!" Dengan kasar Tania menarik tubuh Riska dan memaksanya berdiri.
Kalau saja Dika membiarkan ku bertindak sejak dulu. Masalah ini akan cepat terselesaikan. Wanita ini tidak boleh berkeliaran bebas. Dia harus di hukum berat agar tidak lagi bisa menyusahkan..
Si pembantu yang melihat kejadian tersebut langsung menghubungi kontak milik Dimas untuk melapor. Sementara Riska sudah di masukkan ke dalam mobil dan melaju menuju rumah Samuel.
🌹🌹🌹
Hai reader....
Mungkin cerita Ayu dengan Samuel sampai di sini saja😁
Nanti akan ku tambahkan beberapa part untuk mengungkap siapa Riska palsu sesungguhnya..
__ADS_1
Tapi tenang saja. Aku sudah menyiapkan cerita baru berjudul BENIH TITIPAN TUAN MAFIA
Jika berkenan mampir silahkan klik akun ku atau bisa follow agar tidak ketinggalan cerita-cerita barunya. Terimakasih 🥰