
Samuel melajukan mobilnya meninggalkan area restoran masakan Padang. Dia berniat pergi ke restoran lain yang makanannya sudah jelas rasanya. Samuel merasa senang ketika melihat Ayu makan dengan lahap sehingga rasa makanan menjadi prioritas utama.
"Maaf untuk kejadian tadi Mas."
"Tidak apa. Lebih baik jujur daripada kamu tidak merasa nyaman."
"Padahal kelihatannya enak."
"Memang enak Babe. Aku punya rekomendasi satu tempat lagi. Tapi hanya depot bukan restoran."
"Makan di pinggir jalan juga tidak apa Mas. Kenapa berkata seperti itu?"
"No no Babe. Aku berkata itu karena ingin menuruti selera mu. Tidak mungkin aku mengajakmu makan di pinggir jalan."
"Asalkan makan Mas."
"Akan ku berikan yang terbaik. Hanya saja, aku tidak yakin dengan masakan restoran yang mungkin rasanya tidak sesedap makanan di resto atau depot kecil."
"Aku tidak tahu Mas." Samuel tersenyum mendengar nada bicara Ayu yang mulai meninggi.
"Aku hanya menjelaskannya saja."
"Kalau aku asal makan saja."
"Iya oke. Maaf."
"Kenapa minta maaf."
"Sudah membuatmu kesal."
"Aku tidak kesal. Aku hanya lapar." karena terbiasa makan tepat waktu. Sekarang aku harus merasakan kelaparan yang terasa merongrong.
"Hm kita sudah sampai." Samuel memarkirkan mobilnya kemudian keduanya turun.
Sementara Samuel memesan, Ayu mengedarkan pandangannya menatap sekitar. Senyumnya seketika mengembang ketika dia melihat Mita duduk di salah satu kursi.
"Mita Mas." Tunjuknya ke arah Mita.
"Ya sudah kita duduk di sana. Tapi sepertinya Mita tidak sendiri."
"Mungkin dengan temannya. Ayo Mas." Ayu mempercepat langkahnya menuju Mita yang langsung berdiri menyambut.
"Astaga kebetulan sekali."
"Boleh bergabung?" Tanya Ayu meminta izin.
"Ish! Sok sekali! Duduk saja. Silahkan Mas Sam."
"Hm." Samuel duduk tepat di samping kanan Ayu sementara Mita di sebelah kiri.
"Kamu bersama siapa Mit?"
"Tunangan ku hehehe. Sekalian ku kenalkan ya. Dia sedang di toilet." Ayu mengangguk seraya tersenyum." Kalian dari mana? Kenapa baju kalian warnanya sama?" Tanya Mita terlihat bersemangat.
"Berjalan-jalan saja." Sahut Ayu cepat.
"Oh itu Mas Alan." Ayu menoleh ke belakang dan membulatkan matanya ketika menyadari sosok tunangan Mita merupakan Kakak kandung Dika.
"Ada tamu." Sapa Alan tertahan. Matanya ikut membulat saat melihat kehadiran Ayu di hadapannya.
"Dia?" Menunjuk ke Alan.
"Kamu sudah mengenalnya?" Tanya Mita bingung.
"Sangat!" Tentu saja Ayu merasa kesal. Dia tahu jika Alan sudah beristri.
"Siapa dia?" Menunjuk ke Samuel. Alan juga di buat binggung dengan sosok Samuel yang terlihat tengah merangkul pundak Ayu erat.
__ADS_1
"Jauhi Mita Mas! Kau sudah beristri lalu berusaha menipu sahabatku." Alan malah tersenyum. Paras dan tinggi badannya lebih baik daripada Dika.
"Beristri?" Tanya Mita terbata. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia tahu kalau Ayu tidak mungkin asal bicara.
"Dengarkan dulu penjelasan ku. Ini tidak seperti yang kamu fikirkan Ayu." Sejak dulu sampai sekarang, Istri Dika memang sangat cantik. Tapi siapa lelaki itu?
"Bu Erna menunggu kepulangan mu. Kenapa kau tidak memberikan kabar?" Alan menghela nafas kemudian duduk.
"Hancurnya pernikahan menjadi alasan aku melakukan semua ini." Jawab Alan menjelaskan.
"Maksud mu?"
"Kamu mengenal Mama sangat baik bukan? Bagaimana buruknya dia yang hanya bisa mementingkan urusannya sendiri. Hampir setiap hari aku bertengkar dengan Elis. Setiap hari juga aku mendengar soal eluhannya atas sikap Mama. Aku memutuskan untuk pergi dan membawa semua keluarga kecilku jauh dari Mama. Tapi itu semua terlambat, sebab Elis tidak mau lagi memulai dari awal. Dia kabur bersama lelaki lain dengan membawa buah cinta kami." Ayu terdiam sesaat. Dia mengenal sosok Alan yang di rasa lebih bisa bersikap dewasa daripada Dika." Aku sudah resmi bercerai. Dia hanya mengirimkan surat gugatan tanpa menunjukkan sosoknya." Mita menghela nafas panjang. Dia merasa lega sebab Alan tidak membohongi nya.
"Kasihan Mila Mas." Eluh Ayu lirih.
"Aku merindukan nya tapi tidak tahu di mana mereka tinggal. Aku sengaja tidak pulang karena aku tidak ingin Mama menghancurkan hubungan ku lagi."
"Itu bukan cara yang tepat Mas. Kasihan beliau."
"Mau bagaimana lagi Ay. Dia tidak layak di sebut orang tua yang seharusnya bisa mengayomi."
"Dia yang melahirkan mu. Apa pantas kamu berkata itu?" Seburuk-buruk sifat Bu Erna. Ayu tidak membenarkan keputusan Alan untuk tidak pulang ke rumah.
"Tidak akan ada yang betah hidup bersamanya Ay. Banyak wanita yang memilih pergi daripada harus bertahan ketika Mama berceloteh dengan mulut busuknya."
"Itu tetap tidak benar Mas. Kamu harus pulang. Dia sedang kesulitan sekarang." Alan menghela nafas panjang. Menatap raut wajah serius yang Ayu perlihatkan.
Satu-satunya wanita yang mampu bertahan dengan Mama. Pujinya dalam hati.
"Lalu di mana Dika? Siapa dia." Menunjuk ke Samuel.
"Dika berselingkuh dan mereka bercerai." Sahut Mita cepat." Jadi? Kamu itu Kakaknya Dika?" Imbuhnya baru mengetahui fakta soal Alan.
"Ya sayang. Aku sengaja menutupi semuanya agar kamu tidak mengenal keluargaku." Memang seharusnya Ayu menjadi Istri ku bukan bocah ingusan itu!
"Dia Suami mu?" Tanya Alan pelan.
"Hm. Mas Dika sudah tidak menginginkan ku karena tubuhku sudah tidak seperti dulu."
Dasar bocah? Kenapa dia bodoh sekali! Memangnya dia menginginkan Istri seperti apa? Ayu bahkan lebih dari kata sempurna!!
"Sejak dulu sampai sekarang dia memang bodoh! Apa sekarang dia sudah menikah lagi?" Ayu mengangguk pelan." Hah konyol. Tidak akan ada wanita yang betah bersama Mama kecuali kamu. Lalu Dika menginginkan wanita semacam apa? Benar-benar bodoh bocah itu!" Umpat Alan melontarkan kekesalannya.
"Bukan hanya aku saja yang menyebutnya bodoh." Sahut Samuel menimpali.
"Kenalkan. Aku Alan." Alan mengulurkan tangannya ke arah Samuel yang langsung di sambut.
"Samuel."
"Beruntung sekali kamu memiliki nya." Pujinya tersenyum sebab nyatanya, Alan sempat menyukai Ayu dulu.
"Hm sangat. Untung saja Adikmu bodoh." Ayu mengerutkan keningnya seakan tidak suka dengan pembicaraan Samuel.
"Sejak dulu dia memang bodoh." Ayu masih menahan diri untuk ikut berbicara.
"Kalau tidak bodoh mungkin ceritanya akan lain."
"Aku sudah bisa menebak kebodohannya."
"Apa ada pembahasan lain selain kata bodoh?" Sahut Ayu ketus.
"Ouch kamu membelanya Babe. Kakaknya bahkan menyadari betapa bodohnya dia."
"Kamu tidak akan bahagia hidup bersama bocah bodoh itu." Ayu menghela nafas panjang seraya menatap Mita yang sejak tadi diam.
"Kenapa Mit?" Tanya Ayu ingin tahu.
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau mereka bersaudara." Terlihat kekhawatiran terpatri pada mimik wajah Mita." Mungkin aku harus memikirkan lagi pernikahan kita Mas." Sontak Alan menoleh dengan wajah terkejut.
"Tanya pada Ayu kalau aku tidak seperti dia."
"Buktinya Istri pertama mu pergi."
"Itu karena Mama. Aku tidak akan mengenalkannya padamu. Kita tinggal di tempat yang jauh dari mereka."
"Hidup kita tidak akan bahagia tanpa restu orang tua." Jawab Mita tegas.
"Ya benar." Sahut Ayu cepat." Aku tidak sedang membela Mas. Tapi tanpa Bu Erna, kamu tidak akan pernah terlahir di dunia ini." Alan semakin di buat kagum dengan cara pandang Ayu menyikapi keburukan Bu Erna.
"Kalian bersahabat?" Menunjuk Ayu dan Mita secara bergantian.
"Hm iya."
"Aku akan mengenalkan mu dengan Mama tapi tidak untuk hidup bersama." Ayu tersenyum seraya mengangguk ke Mita. Dia tahu jika sifat Alan jauh berbeda dengan Dika.
"Daripada aku ragu, lebih baik kita berhenti saja."
"Tidak Sayang. Rencana tahun depan harus tetap di lakukan. Kita tinggal terpisah. Aku tidak akan memberitahu Mama tentang letak rumah kita nanti."
"Tetap saja takut Mas. Kalau pernikahan ku berantakan bagaimana."
"Aku tidak seperti bocah bodoh itu!"
"Ya Mit. Sifat mereka berbanding terbalik walaupun aku tidak membenarkan atas keputusan Mas Alan untuk tidak pulang."
"Aku ingin menikah satu kali dalam seumur hidup."
"Elis yang pergi bukan aku."
"Tidak tahu Mas. Aku harus kembali berkerja, kalau kau mau mengobrol. Aku pulang naik taksi saja." Mita berdiri di ikuti oleh Ayu." Sampai jumpa lain waktu." Setelah mengecup pipi Ayu, Mita berjalan keluar.
"Dia pernah melihat Dika membawa wanita itu Mas. Wajar saja Mita takut." Ayu kembali duduk sementara Alan berdiri.
"Padahal rencana pernikahan sudah di depan mata. Sepertinya aku harus menyakinkan hatinya bahwa aku tidak seperti bocah bodoh itu."
"Akan ku bantu Mas."
"Hm." Alan tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke arah Samuel." Senang bisa mengenal mu." Samuel membalas jabatan tangan Alan erat.
"Aku juga." Jabatan tangan Alan beralih pada Ayu.
"Aku pergi Ay."
"Ya Mas hati-hati." Setelah menatap kepergian Alan, Ayu duduk dengan tarikan nafas panjang." Dia seumuran mu Mas." Imbuh Ayu mulai makan sajian di hadapannya.
"Bisakah kamu mengganti panggilan untuk ku Babe?"
"Apa perlu Mas."
"Perlu sekali. Panggil aku sayang atau sebutan yang berbeda dari mereka." Ayu tersenyum seraya mengunyah. Samuel kembali menunjukkan sifat pemaksa nan manis yang dominan dengan dirinya.
"Sudah berbeda. Kamu Mas Sam, dia Mas Alan dan Mas Mas yang lain."
"Jangan bercanda. Aku benar-benar cemburu. Panggilanku harus terdengar spesial."
"Aku lapar Mas. Nanti saya ku fikirkan."
"Tidak nanti." Samuel menggeser makanan milik Ayu." Mulai hari ini, panggil aku sayang, cinta atau apapun yang terdengar manis." Ayu tersenyum aneh. Lidahnya terasa keluh dengan perintah yang Samuel minta meskipun dia mulai memikirkannya.
"Itu aneh Mas." Protesnya pelan.
"Tidak akan ku berikan makanannya kalau kamu tidak mengubah nama panggilan untukku." Ancam Samuel dengan wajah serius.
"Hm ambil makanannya." Ayu malah berdiri lalu pergi. Samuel mendengus karena ancamannya tidak cukup kuat untuk memaksa Ayu memanggilnya dengan sebutan sayang.
__ADS_1
🌹🌹🌹