
Pukul lima sore, mobil Samuel baru saja tiba di kediamannya. Dia cepat-cepat turun dan berniat membukakan pintu mobil, tapi Ayu sudah lebih dulu keluar.
Lelah sekali.. Eluh Ayu melewati Samuel begitu saja. Kepalanya terasa berat mengingat kejadian hari ini yang datang menyerang secara bersamaan.
"Itu terlalu apa adanya." Gumam Samuel membuka jok mobil untuk mengambil makanan ringan. Dia merasa kagum dengan sikap apa adanya yang Ayu perlihatkan.
Tidak ada kepalsuan seperti yang di lakukan mantan Istrinya dulu. Berpura-pura tidak keberatan dengan belenggu yang Samuel ikatkan. Tapi mengeluh bahkan mengumpat ketika Samuel sibuk dengan perkerjaan dan tidak berada di sampingnya.
"Sore Non. Saya Bik Ijah, pembantu di sini." Sapa Ijah ramah. Sontak Ayu menghentikan langkahnya. Ijah memperhatikan Ayu dari atas sampai bawah. Sepertinya baik..
"Oh iya Bik. Saya Ayu."
"Saya hanya mau bertanya tentang selera makan Non Ayu. Terus, nanti malam minta di masakan apa." Ijah cukup senang sebab setelah sekian lama dia bisa kembali melayani.
"Saya terserah saja Bik. Tapi biasanya saya hanya minum jus." Samuel yang baru tiba langsung merangkul pundak Ayu.
"Buatkan rendang Bik." Ayu mendongak." Aku hanya tahu jika itu makanan kesukaan mu." Imbuh. Samuel membalas tatapan Ayu.
"Itu terlalu sulit Bik. Saya juga tidak sedang ingin makan."
"Tidak apa Non. Nanti Bibik siapkan." Syukur Gusti. Sepertinya Non Ayu orangnya baik. Tidak seperti mantan Istri Tuan Sam..
"Saya sedikit pusing dan tidak ingin makan daging." Jawab Ayu lirih. Beberapa kali dia menyingkirkan tangan Samuel karena merasa berat. Namun secepat kilat Samuel kembali menumpukan tangan ke pundaknya." Berat! Ish! Kepala ku rasanya penuh!" Protes Ayu ketus namun masih terdengar lembut.
"Iya iya." Bik Ijah tersenyum.
"Baik. Biar Bibik buatkan masakan yang bisa meringankan sakit kepala Non Ayu."
"Iya Bik terimakasih."
"Sama-sama Non." Ayu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
"Mau ku bantu?"
"Tidak Mas." Jawab Ayu cepat sementara gerakan kakinya lambat. Bukan hanya otak yang terkuras tapi tenaga juga perasaannya." Berapa banyak anak tangga? Kenapa tidak sampai-sampai. Seharusnya kamu membangun lift saja." Gerutu Ayu asal bicara.
"Ya akan ku renovasi." Samuel mengangkat tubuh Ayu dengan tangan kanan membawa makanan ringan.
Samuel memperkirakan jika dirinya akan mendapatkan penolakan namun ternyata Ayu malah menggalungkan kedua tangannya ke leher.
"Tumben tidak berprotes."
"Ini menguntungkan. Bagaimana Mas."
"Apa yang bagaimana? Bertanyalah dengan jelas."
"Berat tidak?" Samuel tersenyum simpul." Apa kamu akan terus menyuruhku makan?" Otak Ayu yang terhantam banyak masalah menyuruhnya untuk melontarkan pertanyaan yang tidak terlintas sebelumnya.
"Ini masih ringan. Kamu lihat ekspresi wajahku." Ayu menddesah ketika melihat ekspresi wajah Samuel yang terlihat biasa.
"Kamu sedang berpura-pura karena belum benar-benar mendapatkan ku." Sontak Samuel terkekeh lalu menurunkan Ayu tepat di depan kamar utama.
__ADS_1
"Sudah ku dapatkan."
"Belum."
"Sudah Babe."
"Aku mau mandi. Sebaiknya Mas Samuel tunggu di luar saja." Pinta Ayu sebelum masuk." Aku takut Mas Sam nanti mengintip." Telunjuknya terangkat lalu menyentuh pundak Samuel seraya menepuk-nepuk nya.
"Aku sudah melihatnya. Untuk apa mengintip. Cepat lakukan." Samuel meraih jemari Ayu lalu mengiringnya masuk.
"Bukankah seharusnya kita tidak tinggal bersama sebelum resmi." Samuel kembali di hadapkan dengan seribu alasan yang selalu Ayu lontarkan, sehingga otaknya harus berkerja cepat untuk mengimbangi setiap perkataan.
Blaaaam!!
Bugh!
Samuel menumpukan kedua tangannya pada daun pintu sementara Ayu berdiri di kungkungan lengannya.
"Aku sangat bisa jika harus memperkkosa mu sekarang." Ayu mendongak dengan wajah tegang. Dia tidak bisa menghindar karena punggungnya sudah membentur daun pintu.
"Apa yang Mas bicarakan?"
"Jarak antara pemukiman sangat jauh Babe. Aku sudah membeli semua lahan yang ada di sekeliling rumah supaya tidak ada rumah penduduk yang berada di dekat sini. Sudah bisa kau bayangkan jika tempat ini sangat sunyi. Hanya ada pembantu dan tukang kebun yang tunduk kepadaku. Mereka tidak akan berani mengganggu kesenangan ku sebab mereka tahu bagaimana sifat asli ku." Ayu menelan salivanya kasar seraya menundukkan kepalanya.
"Lihat aku." Pinta Samuel meraih dagu Ayu dan mengangkatnya.
"Ya sudah lakukan. Terserah."
"Hm baik. Buka bibirmu, biarkan aku masuk. Kamu sudah pasrah kan." Samuel menunduk dan mulai mengecupi sekitar bibir Ayu yang masih tertutup rapat.
"Ap apa kamu tidak bisa menunggu sampai kita resmi." Tanya Ayu menawarkan. Seharusnya dia melenguh setidaknya merespon sentuhan Bibir Samuel. Tapi sakit hati yang di rasakan membuat perasaannya mati rasa.
"Tidak."
Dia sangat tampan. Ini akan lebih mudah. Aku baru tahu jika pernikahan dengan di landasi cinta, tidak selamanya bisa berjalan baik. Mungkin tidak masalah kalau akhirnya aku harus menikah tanpa cinta. Asalkan, pernikahanku tidak lagi hancur..
Ayu memejamkan mata dengan bibir setengah terbuka. Dia berniat menuruti apapun permintaan Samuel walaupun hatinya tengah terluka.
Aku anggap ini training..
Mungkin Ayu terlalu tertekan hingga dia tidak lagi memikirkan kehormatan. Apalagi sebelumnya Samuel sudah pernah melakukan percintaan panas dengannya.
Ku fikir dia akan merespon. Tapi ternyata dessahan malam itu akibat reaksi obat perangsang..
Sontak Ayu membuka matanya, saat dia sadar kalau bukan lummatan yang di dapat melainkan pelukan hangat.
"Kenapa tidak jadi?" Tanya Ayu dengan wajah datar." Apa kamu kehilangan selera Mas." Imbuhnya bersandar lemah pada pundak Samuel.
"Kenapa kamu pasrah? Padahal aku hanya menggoda." Selama belum ada rasa. Aku tidak akan melakukannya..
"Kamu akan jadi Suami ku kan."
__ADS_1
"Hm.. Simpan itu untuk malam pertama kita." Ayu tersenyum simpul.
"Malam kedua."
"Kejadian itu tidak perlu di hitung. Bukankah kamu yang menyuruh ku tidak mengungkitnya."
"Ya Mas."
"Lantas? Kenapa kamu bicarakan."
"Mungkin kepala ku terlalu penuh." Samuel melepaskan dekapannya.
"Mandilah. Mungkin saja otakmu bisa dingin setelah ini."
"Sebentar Mas. Aku butuh sandaran." Ayu malah kembali memeluk Samuel lalu menyandarkan kepalanya.
"Kamu masih mengingat itu?" Tanya Samuel lirih. Tangan kanannya membelai rambut Ayu naik turun.
"Bukankah kamu berjanji untuk membantuku melupakannya? Aku masih tidak menerima kejadian ini. Aku sakit melihat sikapnya tadi. Dia seakan tidak mengenalku dengan baik padahal... Hiks.. Hiks.. Hiks... Ini puncaknya Mas. Aku menahan ini berbulan-bulan. Aku masih berharap dia kembali seperti dulu tapi..."
Tangis Ayu tumpah begitu saja. Kepalanya tidak kuat menahan hawa panas dari amarahnya yang berkecamuk. Selayaknya bom waktu, perasaan kecewa yang tertahan berbulan-bulan kini meledak karena penghianatan yang di lakukan Dika.
Mungkin Ayu terlalu berharap, atau terlalu percaya diri jika Dika tidak mungkin melakukan seperti apa yang di hadiahkan sekarang.
Samuel menahan tubuh Ayu yang tiba-tiba hilang kesadaran. Cepat-cepat dia mengangkat tubuhnya lalu membaringkannya di atas ranjang. Tangan Samuel memeriksa denyut nadi Ayu yang terasa masih normal.
"Syukurlah hanya pingsan." Gumamnya seraya melepaskan sandal yang Ayu kenakan. Samuel meletakkannya di lantai lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Ayu agar kehangatannya terjaga." Apa kamu menginginkan pembalasan untuk kesakitan mu?" Nafas Samuel terbuang kasar. Dia ikut tersakiti melihat wajah pucat Ayu. Aku akan melakukan semuanya sesuai dengan permintaan mu. Apapun! Asal rasa sakit mu terbalaskan..
.
.
.
.
.
Ayu tersadar dari pingsannya tepat pukul enam malam. Tangan kanannya memijat kepalanya yang terasa nyeri seraya berusaha duduk.
Ini di mana? Foto Samuel yang terpajang membuat kesadarannya kembali. Oh iya. Ini rumah Mas Sam.
Ayu menyikap selimut lalu menurunkan kakinya. Tubuhnya terasa lengket sebab sudah seharian dia tidak mandi.
Dengan sedikit rasa was-was, Ayu melangkah ke salah satu lemari lalu membukanya. Terlihat baju Samuel tertata rapi di dalamnya. Tangannya memilah-milah untuk mengambil satu baju yang setidaknya bisa di pakai.
Apa dia lupa, kalau aku harus ganti baju? Eluh Ayu seraya menutup kembali lemari. Baju yang di miliki Samuel terlalu besar untuk di pakai dan terlalu sempit untuk menutupi kedua benda kenyal miliknya.
Walaupun Samuel memiliki tinggi badan 180, tapi bentuk tubuhnya terlihat sixpack tanpa benjolan. Sementara tinggi badan Ayu sekitar 160. Tidak kurus, tidak juga terlalu gemuk. Namun yang jadi masalah adalah dua benjolan yang ada di dadanya.
"Seharusnya bajuku yang ada di kontrakan di ambil saja." Gumamnya membuka lemari lainnya. Seketika bibirnya tersungging ketika melihat beberapa gaun rumahan tergantung." Mungkin milik mantan Istrinya. Ah terserah, yang penting aku ganti baju." Ayu mengambil salah satu baju lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
🌹🌹🌹