Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Jawaban yang di inginkan


__ADS_3

Farel memerintahkan Nina membantu Chef Riko untuk sementara waktu. Ayu sendiri kini kembali menjadi waiters bersama Mita dan beberapa pegawai lain.


Dengan sedikit berlebihan, Farel tidak memperbolehkan Ayu membawa gelas dan piring kotor. Dia hanya di perbolehkan menerima pesanan saja. Farel berdalih jika dirinya merasa kasihan melihat pergelangan tangan Ayu yang lebam sementara Ayu sendiri malah merasa risih dengan cara Farel memperlakukannya.


"Besok aku mengambil cuti satu hari." Mita meletakan nampan lalu duduk di samping Ayu.


"Ada keperluan?"


"Hm iya. Acara keluarga."


"Oh." Ayu menddesah ketika melihat Farel melintas lalu melempar senyum kepadanya.


"Cie.. Mas Farel sepertinya tertarik padamu."


"Haha konyol." Jawab Ayu ketus." Penjilat!" Mita tertawa kecil.


"Jangan salah menilai, bisa saja Mas Farel lebih baik dari Dika. Kami terkena imbasnya. Sekarang Mas Farel lebih banyak tersenyum daripada mengomel." Ayu menarik nafas panjang lalu bersandar lemah seraya melirik ke belakang sebentar. Terlihat, Samuel baru saja keluar dari dalam lalu duduk seraya mengawasi pegawai yang sedang di latih.


"Aku tidak tertarik."


"Penilaian mu salah kan. Dulu aku masih ingat bagaimana bucin nya kamu pada Dika."


"Aku terlihat bodoh mengingat itu. Bukankah sebaiknya aku berkerja daripada harus menikah dengan orang yang salah. Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini." Sam tersenyum sebentar. Dia semakin menyukai karakter Ayu yang terlihat tegar meskipun kenyataan pahit tengah melanda hidupnya.


"Sekarang dia mencampakkan mu hanya karena bentuk tubuh yang berubah. Dasar lelaki sialan!! Aku merasa jika kau lebih cantik seperti ini. Dulu kamu itu terlalu kurus."


"Kita tidak bisa menyamakan pemikiran orang lain." Mita menoleh cepat.


"Lalu bagaimana? Apa kau akan memaafkannya lagi?"


"Aku akan menuntut cerai jika dia memang ingin bersama wanita itu. Tapi.." Ayu tersenyum getir. Dia memikirkan tentang hidup selanjutnya setelah bercerai.


"Tapi apa?"


"Aku tidak punya tempat tinggal."


"Itu masalah gampang. Kita bisa tinggal bersama lalu saat kau gajian, kau bisa mengontrak." Ayu kembali menghembuskan nafas berat.


"Aku berkerja untuk menggantikan ponselnya yang rusak."

__ADS_1


"Berapa sih harganya?"


"25 juta."


"Hah serius?" Ayu mengangguk lemah.


"Hidupku di hiasi oleh hutang piutang. Dulu aku berkerja untuk membayar biaya kuliah dan sekarang untuk menggantikan ponsel milik Suamiku sendiri."


"Itu keterlaluan."


"Terserah saja. Aku malas mendengar saat dia mengomel."


"Aku akan meminjamkan uang jika memang kau ingin berpisah dengan nya." Ayu menoleh, dia berharap jika itu adalah Samuel tapi nyatanya lelaki itu adalah Farel." 25 juta kan? Itu uang yang kecil." Aku bisa memakai uang yang ku tabung untuk pernikahan ku dengan Vivian.


Penolakan Ayu seakan menjadi cambuk bagi Farel untuk mendekat. Dia semakin merasa penasaran dan ingin segera merasakan bagaimana sensasi mandi keringat bersama Ayu.


"Ayolah Ayu. Hanya aku yang bisa membantumu. Sam tidak akan bisa melakukannya. Dia lelaki yang penuh dengan hutang." Sam beranjak lalu berdiri tepat di samping Mita.


"Kenapa mengatakan itu Mas." Jawab Ayu lirih, menatap Sam yang seakan tidak perduli.


"Dia suka sekali membeberkan keburukan seseorang. Aku juga ingin membantu Ayu. Tapi apa yang di katakan Farel adalah benar." Terimakasih Farel. Kau sudah membicarakan pembahasan yang memang ku inginkan.


"Hahaha. Itu kenapa kau tidak boleh meninggikan suara mu! Kau itu tidak ada apa-apanya denganku!"


Pasti hanya becanda. Mas Samuel ingin menghiburku..


"Mana ada wanita yang mau dengan lelaki penuh hutang seperti dirimu."


"Itu sangat tidak sopan Mas Farel." Sahut Ayu ikut merasa tersinggung sebab dirinya pernah berada di posisi Samuel.


"Hidupnya memang untuk membayar hutang kedua orangtuanya. Semua wanita pergi karena merasa jika Samuel seorang lelaki tampan tidak berguna!!"


"Walaupun begitu. Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Semua orang punya masalah dengan takaran masing-masing. Saya pernah berada di posisi Mas Samuel. Sudah selayaknya kita sebagai anak melunasi hutang kedua orang tua kita. Itu tidak ada salahnya." Seakan tersiram air dingin di tengah gurun. Samuel semakin kagum dengan jawaban yang di lontarkan Ayu.


"Jangan munafik Ayu. Kamu berkata itu karena kamu tidak berniat menjadikan Sam pasanganmu. Bayangkan, jika kamu memiliki seorang kekasih yang hanya memikirkan hutang kedua orang tuanya. Mau makan apa kamu." Farel terkekeh seraya menatap rendah Samuel. Dia menyangka jika Samuel tengah terpojok akan ledakannya.


"Asal setia, itu tidak masalah Mas." Samuel menghela nafas panjang lalu menghembuskannya agar rasa gugupnya bisa di kendalikan.


"Itu namanya munafik. Memangnya kau akan memakan cinta dan gombalan saja."

__ADS_1


"Hidup memang harus dengan cinta. Tanpa perasaan itu, hubungan tidak akan bisa berjalan seperti apa yang terjadi pada rumah tangga saya. Mas Farel berkata itu kerena belum pernah merasakannya. Sekarang, saya bahkan tidak bisa makan enak, tidak bisa menikmati hidup sebab cinta Suami saya sudah terbagi. Apa uang bisa menyelesaikannya?" Ayu tersenyum getir. Tanpa sengaja dia tengah mengutarakan kekecewaannya." Tidak Mas. Uang tidak lagi berharga. Karena perasaan tidak bisa di beli." Mita mengusap-usap punggung Ayu lembut. Dia sengaja diam agar perasaan Ayu bisa sedikit lega.


"Jadi kamu memilih Samuel?" Menunjuk ke arah Sam.


"Saya tidak memilih siapapun. Saya hanya ingin menjelaskan saja pada Mas Farel."


"Aku tulus akan membantumu."


"Mas Farel menginginkan timbal balik. Saya tahu itu." Ayu berdiri ketika melihat pengunjung baru.


"Bagaimana tipe temanmu." Tanyanya pada Mita.


"Aku tidak tahu Mas. Entah apa yang di sukai dari Suaminya. Dia selalu tertutup dan tidak ingin bercerita akan perasaannya."


"Katanya sahabat? Kenapa tidak tahu!" Protes Farel menatap lekat Ayu yang tengah menerima pesanan.


"Kenapa kau terlihat memaksa? Ku fikir Nina adalah pacar barumu."


Aku hanya menginginkan uang gajian Nina saja!! Mana mungkin aku berselera dengan wanita berbentuk sapu lidi seperti Nina!!


"Tapi terimakasih loh Mas. Karena perkataan Mas Farel, Ayu sedikit mengeluarkan uneg-uneg nya."


Terimakasih juga sebab pertanyaan mu sudah membuatku mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Semoga kamu cepat bercerai. Jadilah milikku. Aku akan menghentikan pencarian dan melabuhkan hatiku padamu Ayunda.


Farel memasang wajah masam lalu berjalan keluar dan duduk tepat di samping Bimo. Dia merentangkan telapak tangannya pada Bimo untuk mengambil pesanannya.


"Tidak ada Mas. Barangnya kosong." Jawab Bimo seraya tertunduk.


"Bodoh! Senjataku sudah ingin bermain!!" Celetuk Farel kesal.


"Memangnya sudah berhasil di rayu?"


"Kalau gampang di rayu, aku tidak akan membeli obat perangsang itu!"


"Besok sudah ada Mas. Persiapkan dulu dengan matang agar Mas Samuel tidak menganggu nantinya." Farel tersenyum seraya mengangguk-angguk.


"Bagaimana dengan ban motornya? Apa sudah kau lubangi?"


"Belum Mas."

__ADS_1


"Oke. Lakukan itu besok." Farel berdiri dengan penuh semangat lalu pergi seraya memikirkan cara agar Samuel bisa pulang cepat besok malam.


🌹🌹🌹


__ADS_2