Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Belajar sedikit mandiri


__ADS_3

Bu Erna menyambut kedatangan Tania dengan wajah di tekuk. Dia hanya menegakkan kepalanya sejenak lalu kembali beralih pandangan untuk menghindari tatapan Tania yang mungkin masih menaruh dendam padanya.


"Tumben sekali mentraktir makan siang?" Gumam Dika melihat sajian mewah di hadapannya.


"Perusahaan ku sedang berkembang pesat. Aku membagi kebahagiaan itu dengan kalian. Em kita belum berkenalan." Alan tersenyum simpul ke arah Tania yang kelihatan tidak fresh dengan make up tebalnya. Buruk sekali. Kenapa Dika malah memilih wanita ini daripada Ayu? Wajahnya menjijikkan.


"Tania Kak."


"Alan." Cepat-cepat Alan menarik tangannya kembali." Wajahmu kenapa?" Menunjuk ke arah wajah.


"Bawaan bayi. Sudah ku coba menghilangkannya tapi susah." Sontak Bu Erna menegakkan pandangannya karena merasa terkejut dengan berita kehamilan Tania.


"Bayi? Maksud kalian, Mama mau punya cucu?" Tanya Bu Erna tersenyum dan turut senang.


"Tapi Mama lihat wajahnya seperti apa! Aku malu pada sekitar." Tania menghembuskan nafas berat. Kini cacian dan makian selalu menjadi menunya sehari-hari.


"Bawaan bayi itu beda-beda Dik. Biasanya menghilang dengan sendirinya nanti."


"Entahlah. Aku tidak mau Istri ku memiliki wajah buruk!"


"Urus masalah itu sendiri. Di sini aku hanya ingin mengundang kalian makan bukan berdebat." Perdebatan langsung terhenti ketika Alan berkata itu. Sementara Bu Erna sendiri berniat menanyakan perihal perkerjaan dan kabar Dika.


"Kenapa kamu tidak berkerja hari ini Dik. Bukankah ini jam kantor? Tapi Mama lihat kamu memakai baju bebas." Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan utama karena Bu Erna turut merasa senang ketika Dika di angkat menjadi Direktur di perusahaan besar.


"Aku di pecat." Sontak mata Bu Erna membulat seraya meletakan sendoknya.


"Bagaimana bisa?"


"Ini semua gara-gara dia." Menunjuk ke Tania." Dia datang ke kantor dan marah-marah tidak jelas. Sampai-sampai aku di pecat." Bu Erna mendengus tanpa berani berkomentar. Dia merasakan kalau menantu yang di anggapnya idaman memang memiliki gangguan syaraf.


Padahal mati-matian Dika mendapatkan jabatan itu. Dia rela di pindah tugaskan ke banyak kota sampai akhirnya dia di angkat menjadi Direktur. Sekarang wanita ini yang sudah menghancurkan masa depan anakku..


"Tenang saja. Tidak perlu ricuh. Kau bisa berkerja di perusahaan baruku. Aku akan memberikan jabatan yang tinggi untuk mu." Senyum Dika seketika mengembang. Kini dia semakin tidak mempercayai ancaman Samuel. Padahal kenyataannya, perusahaan Alan berada di bawah naungannya.


"Serius Kak. Aku mau sekali. Memangnya di mana perusahaan mu?" Alan mengambil dompetnya lalu menyodorkan sebuah kartu nama.


"Itu alamat nya. Datanglah besok pagi dan temui aku di sana." Tutur Alan berbangga diri.


Kata siapa aku tidak bisa mendapatkan perkerjaan. Lihatlah hei Samuel!! Pemecatan bahkan baru berjalan kemarin tapi aku sudah mendapatkan perkerjaan dari Kakakku sendiri!! Kau fikir aku tidak bisa hidup tanpa perusahaan mu hah!!


🌹🌹🌹


Ayu cepat-cepat bergegas bangun sampai-sampai Samuel ikut terkejut. Dia berdiri sambil membawa laptop yang masih dalam posisi terbuka.


"Apa yang terjadi Babe?" Tanya Samuel panik.


"Lemak akan bertumpuk kalau aku tidur setelah makan Bee." Samuel bernafas lega lalu kembali duduk.


"Kalau mengantuk tidur saja. Lemaknya tidak akan bertumpuk karena tenaga mu sudah terkuras kemarin malam." Samuel masih memeriksa laptopnya sambil sesekali melirik ke Ayu yang tengah membereskan tempat tidur.


"Itu juga tidak baik untuk kesehatan Bee."


"Bagaimana dengan kaki mu?" Samuel memutuskan menutup laptopnya lalu berjalan menghampiri Ayu untuk membantunya membereskan tempat tidur.

__ADS_1


"Tidak apa. Nanti juga hilang sendiri sakitnya."


"Biar aku." Samuel merebut selimut tebal lalu melipatnya sementara Ayu mengikat rambutnya sembarangan dan memungut dress yang tergeletak di lantai.


"Aku mandi sebentar Bee terus bersih-bersih. Bukankah hari ini Bibik tidak ada."


"Rumah tidak seberapa kotor."


"Kalau tidak di bersihkan secara berkala, kotorannya akan menumpuk. Aku juga harus mencuci baju." Ayu menjinjit dan memberikan kecupan singkat pada pipi Samuel lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Mungkin ku periksa nanti malam saja. Sebaiknya aku yang melakukannya daripada dia nanti kelelahan."


Samuel berjalan keluar untuk memulai aktivitas daripada harus membiarkan Ayu membersihkan semuanya sendirian. Dia memulai dengan mengambil vakum cleaner untuk membersihkan debu. Hanya sebentar karena memang rumah tidak terlalu kotor. Debu di luar juga jarang masuk, apalagi Samuel dan Ayu belum di karuniai anak.


Baru saja Samuel selesai membuang debu di luar. Pintu lift terbuka dan memperlihatkan Ayu dengan keranjang kotor di tangannya. Cepat-cepat Samuel berjalan menghampirinya lalu merebut keranjang tersebut.


"Sudah ku katakan. Di larang melakukan perkerjaan berat. Kenapa tidak menunggu ku saja." Protes Samuel lirih.


"Sekalian ke bawah Bee. Em sapunya ada di mana?"


"Tidak ada sapu. Sudah ku bersihkan debunya." Ayu menyentuh meja di samping dengan ujung jarinya." Sudah bersih kan?" Ayu mengangguk seraya tersenyum.


"Cepat sekali."


"Seharusnya tidak perlu di bersihkan setiap hari. Pintu selalu tertutup, debu juga tidak bisa masuk." Ayu mengekor Samuel yang mulai berjalan ke belakang menuju mesin cuci.


"Tapi tetap harus di periksa. Mungkin saja ada yang kotor Bee."


"Hm kita lakukan sebulan penuh." Samuel memasukkan baju kotor yang tidak seberapa banyak lalu segera mengoperasikan mesin cuci.


"Melihat apa?" Protes Ayu mulai tidak nyaman. Dia mengira jika Samuel akan melontarkan protesan pada penampilannya." Aku tadi berniat bersih-bersih jadi tidak memakai bedak dan rambutku belum ku sisir." Imbuhnya pelan.


"Sebentar." Samuel beranjak dari tempatnya. Bola mata Ayu mengikutinya sampai sosoknya tidak terlihat.


"Seharusnya aku memakai bedak dan lipstik sedikit. Mungkin wajahku pucat sekali sekarang." Gumamnya pelan.


Dua menit kemudian, Samuel kembali dengan sisir dan handuk kecil di tangannya. Dia kembali duduk lalu membuka ikatan rambut Ayu yang setengah basah.


"Nanti akan kering sendiri Bee." Protes Ayu ketika Samuel mulai mengeringkan rambut panjangnya.


"Hairdryer nya kamu letakkan di mana?"


"Aku jarang menggunakannya. Merusak rambut jadi ku gunakan kalau terdesak saja."


"Kenapa terburu-buru keluar. Seharusnya kamu keringkan rambutnya lalu di sisir dan baru keluar untuk menyusul."


"Iya maaf Bee. Aku tidak seberapa mengurus penampilan apalagi niatku memang akan bersih-bersih."


"Bukan dari segi penampilan. Rambutnya akan rusak kalau di ikat dalam keadaan basah."


"Aku sering melakukannya."


"Ya tidak apa. Biar aku yang mengurus." Samuel mulai menyisir dengan raut wajah penuh perasaan. Rasanya sangat beruntung memiliki seorang Istri dengan kecantikan alami." Nah begini kan cantik. Jangan di ikat dulu, tunggu dia kering." Samuel meletakkan sisir lalu kembali melipat satu kakinya dan menatap Ayu dari samping.

__ADS_1


"Aku akan ke kamar untuk memakai lipstik."


"Tidak." Cegah Samuel cepat.


"Wajahku pasti pucat sampai-sampai kamu menatapku seperti itu."


"Kamu cantik. Itulah alasannya."


"Hehe ini terlalu polos Bee."


"Ya. Kamu memang sangat polos. Itu kenapa kamu harus terus berada dalam pengawasan ku. Aku tidak mau kamu terlalu bebas dan mengenal dunia luar. Jadikan aku dunia mu oke." Samuel tersenyum lalu mengangkat tangan kanannya. Dia mengusap puncak kepala Ayu sejenak sebelum akhirnya beranjak untuk memeriksa cucian.


"Aku tahu dunia luar itu kejam." Ayu mengikuti langkah Samuel dan berdiri tepat di samping Samuel yang tengah berjongkok.


"Hanya sebagian yang kamu ketahui. Dunia bisa lebih kejam dari perkiraan mu."


"Aku bukan anak kecil Bee. Orang tuaku sudah meninggalkan ku beberapa tahun lalu."


"Ya lalu?"


"Itu berarti aku sudah pernah banting tulang untuk diriku sendiri."


"Sudah ku katakan itu hanya secuil pengetahuan tentang kekejaman dunia." Ayu mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mengerti."


"Kau pernah keluar malam? Berpacaran dengan bebas. Akrab dengan banyak lelaki selain dia." Rupanya, Samuel tengah membahas sesuatu yang mungkin bisa kembali bergejolak di dalam hati Ayu.


Samuel merasa jika Ayu hanya mengenal satu dunia yaitu Dika. Sementara satu-satunya dunia yang di kenal begitu buruk sampai-sampai menyisakan masa lalu kelam. Lalu bagaimana jika Ayu sampai berkeliaran bebas dan mengenal banyak lelaki.


"Tidak."


"Itu berarti, kekejaman dunia belum kamu kenal seluruhnya. Beruntung sekali aku menemukan mu. Kalau sampai orang lain, dia akan memanfaatkan keluguan mu." Ayu mengerucutkan bibirnya dengan nafas terbuang kasar.


"Aku tidak murahan!" Jawabnya ketus.


"Sudah ku katakan dunia itu sangat kejam Babe."


"Tapi aku tidak murahan apalagi gampang tergoda." Samuel tersenyum lalu berdiri dan memutar tubuhnya ke arah Ayu. Dia mengurungkan niatnya untuk mengambil baju dari dalam mesin cuci.


"Aku tidak menyebut mu begitu."


"Tidak secara langsung kamu menyebutku begitu." Tunjuknya ke arah Samuel.


"Kamu akan di manfaatkan jika tidak berada di tangan yang tepat. Seperti yang dulu kamu rasakan saat bersamanya."


"Bukankah kamu juga pernah salah memilih!!" Nada bicara Ayu mulai meninggi. Dia merasa kesal dengan pembahasan yang Samuel katakan.


"Kenapa kamu memutuskan menikah dengannya?"


"Ya cinta."


"Kamu mencintai nya? Apa kamu yakin?" Mungkin benar jika Ayu seorang wanita yang tegas dalam bertindak. Tapi melihat pengalamannya dalam bercinta. Samuel merasa jika Ayu tidak banyak tahu akan arti cinta sesungguhnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2