Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Satu milyar dan surat perjanjian


__ADS_3

Warning!!! 21+


Kalau tidak suka adegan menjijikan. Harap di skip!!


Tania menatap geram ke arah Dika ketika menyadari makanan pesanannya sudah dingin. Dia menggeser kasar kotak makan seraya menatap Dika tajam.


"Apa yang salah?"


"Katakan? Kamu mampir ke mana saja?" Dika membuang nafas kasar. Kekesalan pertemuannya dengan Samuel masih tidak bisa di hilangkan.


"Sudah ku katakan kalau tempatnya antri."


"Itu dingin Dika! Lihatlah!" Membuka makanan dengan gerakan kasar lalu menggesernya ke hadapan Dika." Kau jangan berbohong padaku." Imbuh Tania menuduh.


"Tadi benar-benar mengantri. Makan saja."


"Aku tidak mau. Itu menjijikkan!!"


Belum satu hari tapi dia sudah membuatku sangat kesal..


"Terserah kalau tidak mau. Aku harus memeriksa beberapa berkas." Tangan Tania menahan Dika yang akan beranjak pergi.


"Kamu tidak ada niatan untuk membuat makanan itu kembali hangat?" Tanya Tania berubah lembut. Sikap tersebut semakin membuat Dika bergidik ngeri.


"Perkerjaan kantorku menumpuk. Aku sudah dua hari tidak masuk kerja."


Tania mendekatkan bibirnya. Dia membisikkan sesuatu yang langsung membuat senyum Dika berubah aneh.


Kenapa aku jadi takut ya. Nia seperti nya punya kepribadian ganda. Sebentar-sebentar marah. Sebentar-sebentar tersenyum..


"Em Niah.. Apa yang kamu lakukan." Tiba-tiba saja Tania sudah duduk di pangkuan Dika dengan kaki terbuka.


Dika baru menyadari jika Tania sengaja tidak memakai baju dalam. Benda basah itu kini menekan-nekan lawan mainnya yang dengan cepat berdiri tegak.


"Aku ingin kita melakukan itu di sini. Sambil makan." Pintanya dengan suara menggoda. Tangannya sibuk membuka celana panjang Dika dan berusaha memasukkan sesuatu yang sudah mengeras.


"Tidak Niah. Ini gila, ada Bibik juga.. Ahh.." Lenguh Dika setelah Tania berhasil memasukkan miliknya.


"Biarkan mereka melihat. Nikmat sekali sayang.. Milik mu menyentuh ku.." Tangan Tania bertumpu pada pundak Dika seraya menggerakkan pinggulnya naik turun.


Dika menddesah hebat dengan tubuh yang tidak lagi terkontrol. Rasa kesal akibat pertemuan tadi seketika musnah dan tergantikan dengan naffsu yang tidak tertahankan.


Dia menikmati permainan Tania bahkan sesekali menyuapinya meski dengan nafas terengah-engah. Bibik yang melihat kegiatan panas Tuannya. Langsung menghindar dan lebih memilih keluar rumah untuk menemui penjaga rumah.


"Punya majikan kok kelakuannya seperti hewan saja." Umpat Bibik duduk lemah di sisi penjaga rumah.


"Ada apa Bik?"


"Mereka melakukan itu di ruang makan."


"Melakukan apa?" .


"Hubungan Suami Istri." Si penjaga rumah melongok.

__ADS_1


"Hah serius Bik."


"Duh Pak. Saya jadi tidak betah padahal baru satu hari. Istri baru Tuan Dika kalau marah seperti orang tidak waras. Apalagi sekarang." Si penjaga rumah mengangguk seraya tersenyum." Iya tahu pengantin baru. Tapi harusnya punya tata krama." Eluh Bibik lagi dan lagi.


"Memang beda ya Bik. Wanita terhormat sama perebut. Dari awal saja juga bisa tahu kalau wanita itu gila."


Obrolan keduanya berhenti ketika sebuah mobil mewah terparkir di depan pintu pagar. Si penjaga rumah bergegas berdiri lalu membuka pintu pagar.


"Saya ingin bertemu Pak Dika." Ucap Dimas tersenyum. Tangannya membawa sebuah koper hitam cukup besar.


Waduh.. Kata Bibik mereka sedang..


"Ada Tuan. Sebentar ya."


"Hm." Penjaga rumah berjalan menghampiri Bibik." Ada tamu untuk Tuan Dika." Wajah Bibik langsung berubah aneh.


"Saya malu Pak kalau masuk."


"Tapi kalau tidak di sampaikan nanti malah jadi masalah."


"Bapak saja yang masuk. Saya jijik lihat yang begituan."


"Ya sudah Bik." Terpaksa, penjaga rumah melangkah masuk untuk menyampaikan pesan.


Ketika sampai di ruang tengah, sudah terdengar dessahan saling bersahutan di iringi bunyi penyatuan kulit yang saling berbenturan.


"Ah sayang.. Nikmat sekali.." Penjaga rumah melongok saat dirinya mengintip dan mendapati Dika tengah menghisap dua benda kenyal milik Tania sambil memasukkan miliknya dengan posisi duduk.


Duhh Gusti.. Sudah mirip hewan saja..


Ah...


Ah...


"Maaf Tuan. Ada tamu." Ujarnya membuat Dika menoleh dan hendak mencabut miliknya namun Tania melarang.


"Aku akan sampai.. Jangan lepas..."


"Siapa?" Tanya Dika tidak fokus. Kedua tangannya menekan-nekan pinggang Tania dengan nafas memburu.


"Saya tidak tahu. Tapi beliau berbaju rapi."


"Emm.. Suruh tunggu.." Tanpa rasa sungkan, Dika kembali menusukkan miliknya dari bawah hingga membuat Tania menggerang nikmat.


"Lebih cepat sayang ..." Ucap Tania tersenyum tipis menatap kepergian penjaga rumah. Dia seakan merasa berbangga diri bisa memperlihatkan hal menjijikan di depan orang lain.


"Sebentar Tuan. Em Tuan Dika masih mandi."


"Saya tunggu." Dimas duduk sopan di sisi Bibik. Ketiganya berbincang hangat selama lima belas menit hingga terlihat Dika keluar dari rumah dengan tubuh berkeringat.


Dimas tersenyum simpul lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dika.


"Siapa ya?" Bagaimana mungkin Dika tidak mengenali Dimas yang beberapa kali datang ke perusahaan. Walaupun Dika tidak pernah berinteraksi langsung, tapi dia cukup sering melihat Dimas berada di ruangan Pak Wira.

__ADS_1


"Saya Dimas." Uluran tangan Dimas langsung di sambut.


"Saya tidak mengenal anda."


"Saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting." Dimas langsung mengarah pada inti pembicaraan.


"Silahkan masuk." Dika berjalan masuk di ikuti oleh Dimas. Keduanya duduk saling berhadapan di ruang tamu." Ada keperluan apa?" Tanya Dika seraya memperhatikan dengan seksama lelaki di hadapannya. Wajahnya tidak asing..


"Saya ke sini atas permintaan Nona Ayunda. Kedatangan saya ke sini untuk memberikan ini." Seketika, Dika melongok ketika koper hitam di buka. Tumpukan uang pecahan 100 ribu berada di dalamnya.


"Ayu? Istr.. Oh maksud saya, mantan Istri ku?" Tanya Dika terbata.


"Iya Tuan."


"Ini uang darinya."


"Hm.. Untuk mengganti uang ponsel dan segala kebutuhan yang sempat anda keluarkan." Sontak wajah Dika berubah. Dia menjadi penasaran tentang siapa Dimas. Kenapa dia datang ke rumah untuk mengantarkan uang.


Bukankah seharusnya lelaki miskin itu yang melakukan ini? Lantas? Dimas ini siapa?


"Kenapa anda memanggil Ayu dengan sebutan Nona."


"Saya tidak berhak berbicara banyak. Saya hanya ingin menyampaikan pesan ini saja."


Ah masa bodoh! Aku tidak menyuruh nya mengganti uang yang sudah ku keluarkan. Lumayan, untuk beli mobil baru hahahaha..


"Oke saya terima."


Buruk sekali. Batin Dimas menddesah lembut. Dia tidak menyangka jika lelaki seburuk Dika berkerja di perusahaan milik Samuel. Jika aku menjadi Tuan Sam. Aku akan membuat lelaki ini bersimpuh di hadapannya.


"Tunggu Tuan." Dimas menggeser koper dan menutupnya kembali ketika Dika akan mengambilnya.


"Tunggu apa? Katanya uang itu untuk saya."


"Sebelum saya serahkan. Saya minta anda menandatangani surat perjanjian ini." Dimas mengeluarkan surat perjanjian bermaterai lalu menyodorkannya ke arah Dika.


Segera saja surat perjanjian di ambil. Dika membaca isi perjanjian yang tertulis jika setelah uang di terima, dirinya tidak boleh lagi mengungkit atau membicarakan semua biaya hidup yang sudah di keluarkan.


Tanpa basa-basi, Dika membubuhkan tanda tangan agar satu koper uang yang berjumlah satu milyar bisa di miliki.


"Sudah." Dika kembali menggeser surat perjanjian.


"Terimakasih kerja samanya Tuan." Dimas memasukkan surat pada Map lalu berdiri seraya menumpahkan isi uang hingga berhamburan di atas lantai.


"Kenapa tidak hati-hati!!" Teriak Dika seakan kesetanan. Dia berjongkok untuk memungut uang yang berserakan.


Dimas meraih ponselnya untuk merekam sikap Dika sebentar, lalu tersenyum simpul.


"Saya sengaja." Jawab Dimas seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Sengaja apa maksudmu?"


"Ini sebagai tanda bukti jika Tuan lebih memilih uang tidak berarti ini daripada sebuah kesetiaan. Semoga Nona Ayu cepat sadar, kalau anda tidak patut di cintai. Saya permisi." Dimas mengangguk sejenak lalu melangkah pergi tanpa memperdulikan uang yang di injak olehnya.

__ADS_1


"Apa Ayu memiliki dua pacar?" Gumam Dika belum juga memahami jika pesan yang di bawa Dimas atas perintah Samuel.


🌹🌹🌹


__ADS_2