
Setelah sandiwaranya di bongkar, Samuel menghubungi Dimas untuk membawakannya mobil. Ayu berkemas, sedikit kesal namun sandiwara Samuel terjadi karena kesalahannya. Apalagi dia tahu jika Bik Ratih juga ikut mengambil peran. Itu membuatnya merasa bodoh.
Di dalam mobil, Samuel mengemudikannya sendiri karena Dimas sedang mengurus motor mereka. Ayu duduk di sisinya bersama Daniel yang tengah terlelap sementara Bik Ratih di jok belakang.
Hanya ada pembicaraan antara Ayu dan Bik Ratih. Mereka membahas tentang scenario yang memang di rancang untuk memberi pelajaran Ayu.
"Nyonya lupa kalau anak Bibik yang paling besar itu masih SMP?" Ujar Bik Ijah tersenyum. Keberuntungan baginya karena Ayu sama sekali tidak curiga dengan kebohongannya.
"Ya Bik saya lupa. Padahal saya sudah memikirkan soal gaji."
"Gaji saya tetap sama Nyah. Malah di naikkan oleh Tuan." Ayu melirik ke Samuel yang tengah tersenyum simpul. Warna hitam pada kulitnya sudah di hapus dan kembali normal.
"Hm ya." Ayu menghela nafas panjang. Dia tengah menyiapkan mental untuk menghadapi Riska yang selalu bersikap munafik.
Berkali-kali dia memantapkan hatinya jika dia satu-satunya ratu di Istana milik Samuel, bukan Riska yang hanya berperan sebagai sepenggal masa lalu.
Singkat waktu, setibanya di rumah. Samuel turun dengan tangan kiri membawa tas dan tangan kanan merangkul kedua pundak Ayu erat. Dia ingin menambahkan sedikit kekuatan agar Ayu bisa bersikap tegas terhadap Riska.
Kedatangan mereka, tentu di sambut wajah tidak suka. Riska beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ayu.
Kenapa dia malah kembali..
"Kamu sudah menemukannya Sam." Sapa Riska tersenyum tipis. Nada bicaranya terdengar memuakkan dan memicu perasaan cemburu.
"Setelah ini Kak Riska harus keluar dari rumah." Langsung saja Ayu melontarkan kalimat tersebut. Jujur saja jika dia iri melihat kesempurnaan fisik Riska yang menurutnya lebih pantas bersanding dengan Samuel.
"Hm tanya pada Keano ketika dia pulang sekolah. Apa dia setuju keluar dari rumah ini." Lagi lagi Riska mengunakan Keano sebagai senjata ampuh untuk bisa bertahan lebih lama di sana.
"Jangan jadikan Keano alasan Kak."
"Dia memiliki hak yang sama. Kau tidak boleh egois dan memisahkan antara Ayah dan anaknya."
"Dia bukan anakku!" Sahut Samuel cepat. Menatap tajam Riska dengan wajah garang. Dia begitu jijik pada sosok Riska.
"Kamu mengatakan itu karena rasa kesal mu atas perbuatan ku di masa lalu. Aku sudah meminta maaf dan menyesal melakukan itu." Rajuk Riska berulangkali.
__ADS_1
"Jika menyesal, maka pergilah." Riska menatap lekat Samuel. Tentu saja lelaki itu terlihat tampan di matanya apalagi setelah tahu kesuksesan yang di raihnya.
"Aku ingin kita kembali seperti dulu. Tidak masalah jika aku harus berbagi Suami dengannya." Menunjuk ke arah Ayu yang langsung membuang nafasnya kasar. Ucapan Riska seakan mencabik perasaannya. Namun sesuai janji, dia harus lebih kuat lagi untuk mempertahankan posisi ratu di Istana Samuel.
"Tidak mungkin itu terjadi." Jawab Ayu lirih.
"Jangan egois Ayu."
"Aku tidak egois Kak. Seharusnya kamu sadar kalau posisi kita sudah berbeda. Aku ratu dan kau hanya benalu." Riska menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka jika wanita yang di anggapnya lugu ternyata sulit di singkirkan.
"Keano punya hak yang sama."
"Hanya Keano bukan Mamanya!" Jawab Ayu tegas.
"Keano juga tidak mau berpisah dariku."
"Aku tidak mau tahu Kak. Sepulang Keano dari sekolah, sebaiknya kalian berkemas." Raut wajah Riska berubah, dia merasa terdesak namun masih memikirkan cara untuk bertahan.
"Kamu memang tidak punya perasaan Ayu."
"Bukan aku Kak. Tapi kamu yang tidak punya perasaan. Kamu hanya bagian dari masa lalu. Aku tidak mau berbagi apapun apalagi Suami. Mas Sam juga berjanji akan memberikan hidup yang layak untuk Keano tapi... Bukan di sini." Ayu memberikan isyarat pada Samuel untuk pergi. Keduanya masuk ke dalam lift menuju ke lantai dua, meninggalkan Riska langsung berjalan menuju bagasi untuk menjemput Keano.
"Dia akan segera pergi kan Bee." Tanyanya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Segera saja Samuel berjalan mendekat dan menyerbunya dengan pelukan hangat nan erat. Tangannya naik turun membelai rambut panjang Ayu seraya sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Asal kamu kuat, dia akan pergi Babe." Samuel memahami rasa tidak rela yang tengah bergejolak di hati Ayu, melihat wanita sempurna seperti Riska berkeliaran di Istana mereka." Biar ku paksa mereka pergi." Imbuhnya lirih. Merasakan hembusan nafas berat Ayu. Menandakan jika hatinya begitu terluka.
"Aku akan merajuk Keano nanti."
Ayu menegakkan kepalanya sehingga Samuel bisa membersihkan sudut mata Ayu yang basah. Keduanya tersenyum seraya saling menatap, membuat gejolak hasrat yang sudah lama terpendam tiba-tiba menghampiri.
"Sudah satu Minggu Babe." Ujar Samuel dengan suara berat. Kepalanya menunduk, menyingkirkan rambut panjang Ayu dari leher dan mulai mencumbunya.
"Emmm Bee.." Lenguh Ayu mengusap lembut rambut tebal Samuel. Memberikannya isyarat untuk memperdalam hisapan pada lehernya." Kamu tidak melakukan ini dengannya kan." Ucapan yang di lontarkan Ayu semakin membuat Samuel bersemangat untuk memberikan tanda kepemilikannya.
Cepat-cepat dia mengangkat tubuh Ayu dan menghimpitnya di atas sofa. Terasa aneh, sebab ketika mereka melakukan percintaan panas, Daniel selalu tidur dengan pulas seakan memberi kesempatan pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega mengatakan itu?" Tanya Samuel di sela cumbuan. Bibir hangatnya terus saja menyerbu membuat Ayu menggelinjang tidak beraturan.
"Aku takut Bee. Dia lebih.."
"Kamu satu-satunya Istriku. Kamu paling cantik di mataku." Sahutnya cepat.
Samuel membungkam bibir Ayu, sementara kedua tangan Ayu melingkar erat pada pinggangnya. Dia sangat merindukan sentuhan Samuel. Tidak ingin menghentikan pemanasan penyatuan yang pasti akan berakhir dengan adegan ranjang.
Apalagi ketika dirinya sadar, jika benda panjang milik Samuel sudah mengeras sehingga Ayu terbawa arus hasrat dan melupakan permasalahan Riska sejenak.
Percintaan kali ini terasa lain. Samuel sengaja memberikan banyak tanda kepemilikan. Kenikmatan lebih terasa berlipat-lipat, ketika rasa sakit akibat gigitan dan gerakan brutal mengoyak tubuhnya. Bukan menginginkan Samuel berhenti. Ayu malah menggerang nikmat dan meminta Samuel terus melakukannya.
Peluh keringat dan erangan panjang mengakhiri percintaan. Naffsu yang membakar membuat Samuel lebih mudah mendapatkan pelepasan.
"Ingin lagi?" Ucap Samuel menawarkan. Tubuh keduanya berkeringat dengan nafas yang masih memburu.
"Tidak Bee. Nanti Daniel bangun." Ayu tersenyum, memejamkan mata dalam kungkungan Samuel. Tubuhnya di rapatkan lagi dan lagi seolah tidak ingin kembali berjauhan.
"Aku hanya mencintaimu. Jangan menanyakan masalah itu lagi." Belum juga Samuel berhenti mencumbui. Menghirup kuat aroma tubuh yang lama di rindukan.
"Kenyataannya.."
"Aku hanya mencintai Ibu dari anak-anakku."
"Keano.."
"Dia bukan anakku." Jawab Samuel cepat." Apa kamu rela aku bersama nya." Imbuh Samuel bertanya.
"Tidak."
"Maka lakukan sesuai peran mu."
"Kalau aku tidak di temukan. Apa.."
"Aku lebih memilih pergi mencari mu. Biar dia menguasai semua harta ini." Samuel menjawabnya dengan sangat tegas. Sejak janji suci di ambil, dia sudah memantapkan hati untuk mencintai Ayu saja." Aku hanya mencintaimu Babe. Kamu harus yakin dengan itu agar peranmu bisa kamu terapkan di sini. Ayu satu-satunya ratu, Samuel raja yang siap menuruti semua perintah mu termasuk membiarkan benalu itu berkeliaran. Semua atas keputusan mu, atas titah darimu. Sudah paham?" Imbuhnya menjelaskan.
Aku harus cepat mengambil langkah. Aku tidak ingin kehilangan Mas Sam..
__ADS_1
🌹🌹🌹