
Hari ini Tania berniat kembali ke rumah Dika. Setelah dua Minggu lamanya dia memilih tinggal bersama Pak Wira. Meskipun otak Tania mengalami sedikit gangguan tapi nyatanya dia sangat mencintai janin yang ada di perutnya. Itu kenapa kini dia mengganggap Ayu spesial walau perasaannya untuk Dika tidak bergeser sedikitpun.
Dengan berat hati Pak Wira mengantarkan Tania ke rumah Dika. Tentu saja kedatangan mereka di sambut wajah tidak suka sebab Dika masih tidak menginginkan Tania.
"Seharusnya Samuel menjebloskan mu ke penjara saja! Kau gila sampai-sampai merencanakan itu!" Umpat Dika setelah kepergian Pak Wira.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak ingin berdebat Dik." Tania melewati Dika begitu saja kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa pulang? Tinggal saja di sana selamanya."
"Tidak baik Suami Istri terlalu lama berpisah."
"Aku tidak mencintaimu, itu bukan masalah besar."
"Terserah Dik. Aku mencintaimu dan kita tidak akan berpisah." Dika meletakkan koper Tania dengan kasar.
"Keputusan ku masih sama. Kita akan bercerai setelah anak itu lahir!"
"Lalu kau akan menggangu kehidupan Ayu?" Tanya Tania ketus.
"Ya. Dia cinta pertama ku."
"Coba saja lakukan. Aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan membiarkan mu merusak hubungan orang yang sudah menyelamatkan anakku!!!"
Pertolongan dari Ayu benar-benar merasuk ke hati Tania. Dia memang masih mencintai Dika namun dia juga tidak rela jika Dika berusaha mengganggu kehidupan Ayu.
"Jangan sok perduli kamu Niah!! Mana mungkin wanita tidak waras seperti mu bisa membalas budi!" Jawab Dika meremehkan.
"Kau mau aku mematahkan kakimu saat kau melangkah dan berniat menggangu Ayu!!"
"Ya lakukan saja! Kau fikir aku takut hah!! Sialan!!!" Setelah melontarkan umpatan, Dika berlalu pergi meninggalkan Tania yang tengah menatapnya tajam.
Seharusnya aku memang harus merusak fisik mu agar kamu senantiasa bersama ku. Kalau fisik mu sudah tidak sempurna. Aku yakin tidak akan ada lagi wanita yang menginginkan mu.
Tania tersenyum simpul, mulai memikirkan rencana mengerikan untuk Dika, orang yang di sebut cinta terakhir nya.
🌹🌹🌹
Hari ini Ayu merasa tidak enak badan. Suhu tubuhnya naik meski dirinya masih mampu berjalan juga melakukan aktivitas. Samuel yang merasa khawatir, menyarankan untuk membawa Ayu ke rumah sakit daripada terjadi sesuatu yang lebih buruk.
Namun Ayu menolak. Dia tidak ingin pergi ke rumah sakit lagi dan berurusan dengan obat-obatan. Ayu merasa bosan karena satu bulan ini harus di lalui dengan meminum obat-obatan.
"Aku baik-baik saja Bee." Jawab Ayu seraya duduk ke pangkuan Samuel dengan posisi kaki terbuka. Tidak biasanya Ayu melakukan ini apalagi ketika Samuel sibuk dengan laptopnya.
Walaupun Ayu sudah sangat nyaman bermanja-manja namun ketika Samuel sedang melakukan perkerjaan, dia tidak pernah menganggu dan lebih memilih menonton televisi atau tidur.
"Hei apa ini." Samuel membalas perlakuan Ayu dengan melingkarkan tangan kanannya ke pinggang, sementara tangan kirinya menggeser dengan mata fokus ke laptop.
"Bee. Aku ingin minum jus alpukat." Pintanya pelan.
Samuel menghentikan gerakan jarinya mendengar permintaan aneh dari Ayu. Dia tahu kalau Ayu membenci minuman berbahan dasar buah dan susu itu.
"Apa? Coba ulangi?"
"Jus alpukat Bee." Jawabnya meninggikan suara.
"Bukankah kamu membenci itu?"
__ADS_1
"Tapi aku ingin minum itu sekarang."
"Kamu bilang minuman itu mirip kotoran anak kecil." Samuel pernah menanyakan kenapa Ayu membenci jus buah. Dan jawaban dari Ayu cukup masuk akal untuknya.
"Kalau ingin minum, apa salahnya sih Bee. Kenapa selalu saja berprotes!"
"Bukan berprotes."
"Ah tidak tahu!" Ayu beranjak dari posisinya lalu duduk lemah di sisi Samuel. Bibirnya terlihat mengerucut dengan manik berkaca-kaca.
"Ayo beli kalau ingin jus." Samuel terpaksa menutup laptopnya karena tidak ada gunanya memeriksa laporan sambil merajuk Ayu.
"Terlambat! Aku tidak jadi ingin."
"Aku hanya merasa aneh Babe. Ayo beli." Samuel bangun dan mengulurkan tangannya.
"Tidak mau. Aku sudah tidak ingin. Kamu merusak suasana hatiku!" Samuel tersenyum aneh melihat sikap Ayu yang ganjil. Biasanya dia langsung mau ketika Samuel mengajaknya membeli makanan yang di inginkan. Tapi melihat raut wajah dan maniknya yang memerah menandakan keadaan hatinya yang bergemuruh.
Samuel kembali duduk dan menatap lekat wajah Ayu yang berusaha berpaling. Sungguh pemandangan yang tidak biasa sebab kini sudut mata Ayu mulai mengeluarkan air mata.
Kenapa lagi dia? Tangan Samuel terangkat dan memeriksa dahi Ayu yang masih hangat.
"Singkirkan!" Tolaknya menyingkirkan tangan Samuel dari dahinya.
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Kenapa kamu menangis?"
"Itu karena kamu Bee. Aku minta jus saja di tanya macam-macam!!" Samuel menghela nafas panjang mendengar suara Ayu semakin meninggi.
"Karena kamu tidak suka. Itu kenapa aku bertanya bukan menolak. Apa aku pernah menolak keinginan mu? Astaga.. Jangan menangis Babe. Maafkan aku."
Perkataan Samuel tidak bisa membuat Ayu merasa tenang. Tangisan Ayu bahkan semakin pecah seolah-olah Samuel sudah melakukan kesalahan fatal.
"Aku tidak mau melihat mu Bee." Teriak Ayu berjalan menuju ranjang. Dia naik lalu berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Lalu bagaimana Babe? Apa aku harus membelikan itu sendiri?" Tanyanya berjalan menghampiri.
"Aku mau tidur. Aku tidak mau melihat mu!!" Jawabnya tetap saja sama.
Samuel menghela nafas panjang. Berdiri menatap Ayu yang tengah bersembunyi di balik selimut tebal. Dia sedikit bingung merasakan situasi nya. Sebab biasanya Ayu gampang di rajuk meski harus melewati berbagai pertanyaan.
Belum sempat Samuel beranjak, tiba-tiba saja Ayu menyikap selimut dan menyingkirkan nya dengan kaki.
Kenapa lagi? Apa sewaktu jatuh ke sungai otaknya kemasukan air? Ah apa yang ku fikirkan. Tapi kenapa sikapnya seperti itu?
"Why?"
"Panas. Naikkan pendingin ruangannya." Samuel meraih remote dan menuruti apa kata Ayu.
"Sudah."
"Kurang Bee. Aku kepanasan."
"Ini sudah maksimal dan tidak bisa di tambah lagi."
"Fikirkan bagaimana caranya agar suhu ruangan bisa seperti kulkas. Aku kepanasan." Rengek lagi dan lagi. Samuel tersenyum lalu duduk di sisi ranjang.
"Apa kamu sedang mengerjai ku?"
__ADS_1
"Tidak." Ayu menurunkan kakinya lalu berjalan menuju kulkas kecil yang terletak di kamar. Dia membuka kulkas itu lalu duduk di depannya.
Samuel mengekor, menatap Ayu dari tempatnya berdiri. Raut wajah Ayu terlihat serius seakan dia memang tidak sedang berakting.
"Apa yang kamu lakukan di situ?"
"Panas Bee. Badanku gerah."
"Ini sudah dingin Babe. Bukankah biasanya kamu tidak betah dengan udara dingin?"
"Hari ini udaranya sangat panas." Samuel menoleh ke arah jendela. Terlihat kalau matahari tidak seberapa terik bahkan cenderung mendung.
"Di luar seperti nya mendung."
"Tambahkan pendingin suhu nya lagi Bee."
"Sudah terpasang 2."
"Tambahkan lagi."
"Ya besok akan ku panggil tukang AC langganan ku."
"Aku maunya sekarang. Kalau nanti malam aku tidak bisa tidur bagaimana?" Sungguh Samuel merasakan keganjilan dari sikap Ayu.
Namun dia tidak berani banyak bertanya dan menolak. Sehingga hari itu juga, dia memanggil tukang AC langganan nya untuk menambahkan beberapa pendingin suhu.
Terpaksa, Samuel mengajak Ayu tinggal di apartemen untuk sementara waktu sampai pemasangan pendingin suhu selesai.
"Tidak sekalian membeli jus?" Ayu menggelengkan kepalanya seraya menatap keluar kaca mobil." Lalu sebagai gantinya kamu mau makan apa?" Tanyanya pelan.
"Aku malas makan. Perutku rasanya aneh."
"Sebaiknya kita ke dokter agar kamu bisa di periksa."
"Aku tidak suka suasana rumah sakit. Aku juga bosan minum obat Bee."
"Em mungkin kamu masuk angin?" Sungguh untuk kali ini Samuel tidak ingin mencari masalah dengan menggoda Ayu seperti biasanya.
"Iya Bee." Samuel mengangguk dan fokus pada jalan di depannya.
Lima belas menit kemudian. keduanya sampai ke apartemen yang pernah mereka datangi. Baru saja Samuel mematikan mesin mobil, Ayu kembali melontarkan keinginannya.
"Bee, aku ingin jus alpukat." Sontak Samuel menoleh seraya tersenyum aneh.
"Jus alpukat?" Aku sudah menawarkannya tapi kenapa dia meminta itu sekarang?
"Ya Bee. Di depan gang kompleks sepertinya ada."
"Em kita cari yang dekat saja." Samuel mengurungkan niatnya untuk memarkir mobil dan kembali melaju meninggalkan area apartemen.
"Katanya yang di depan komplek itu enak Bee."
"Memangnya kamu pernah coba."
"Pokoknya aku mau beli yang di depan komplek. Aku tidak mau lapak yang lain."
"Ya oke siap Babe." Apa yang terjadi dengan Istri ku? Kenapa sikapnya sangat aneh. Ya Tuhan apa keburukan di masa lalu kembali menghantuinya dan membuatnya stress.
__ADS_1
🌹🌹🌹