Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Pergi ke pasar malam


__ADS_3

Lahan parkir yang kurang memadai, membuat Samuel menitipkan mobilnya ke sebuah rumah di sekitar pasar malam.


Hanya demi menuruti keinginan Ayu. Keduanya mendatangi sebuah acara pasar malam yang tengah berlangsung di sebuah tempat.


Informasi tersebut di dapatkan dari pegawai swalayan yang berkata jika si penjual bakso bakar malam ini berjualan di sana.


"Apa kamu menunggu di mobil saja Babe. Biar aku yang mencari penjual itu." Ucap Samuel seraya melepaskan sabuk pengaman.


"Aku sudah lama tidak pergi ke acara seperti ini Bee. Aku ikut, ini pasti seru." Mimik wajah Ayu terlihat antusias, menatap keluar kaca mobil seraya memperhatikan orang berlalu lalang.


"Jaraknya cukup jauh."


"Tidak apa Bee."


"Hm. Tunggu di situ." Samuel turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Ayu. Bibirnya tersungging ketika maniknya menatap tulisan pasar malam terpampang di atas sebuah gapura buatan.


Ayu menyeret lembut lengan Samuel seakan merasa tidak sabar untuk masuk. Setelah melewati gapura buatan, keduanya di suguhkan dengan keberadaan para penjual rambut nenek dan pedagang mainan.


"Bee, beli itu satu." Menunjuk ke salah satu pedagang rambut nenek. Samuel tersenyum, merasa gemas dengan permintaan Ayu yang begitu tertarik dengan jajanan anak kecil.


"Katanya bakso bakar?"


"Tapi aku sudah lama tidak memakan itu."


"Ya kita beli satu." Mereka berjalan menghampiri si pedagang untuk membeli satu buah rambut nenek dengan bungkus bergambar kartun.


"20 ribu kak." Samuel membayar dengan uang pas lalu memberikan rambut nenek pada Ayu.


"Maaf Bee. Mungkin sikapku sedikit memalukan." Ucap Ayu membuka bungkusan dan langsung memakannya seraya berjalan.


"Aku sedang berperan sebagai Kakak yang sedang mengajak Adiknya berjalan-jalan." Jawab Samuel menatap sekitar untuk mencari keberadaan si penjual bakso bakar.


"Kamu memang lebih tua dariku Bee."


"Meski aku lebih muda, tetap akan mengalah."


"Coba cicipi." Ayu mengambil secuil rambut nenek lalu memberikannya pada Samuel." Enak kan? Rasanya langsung meleleh." Samuel malah terkekeh karena melihat ekspresi yang di tunjukkan Ayu. Sementara keduanya kembali menjadi sorotan beberapa pasang mata yang ada di sana.


"Meleleh melihat wajahmu." Samuel mencubit pipi Ayu lembut lalu merangkul kedua pundaknya erat.


"Selalu saja tidak serius dalam menanggapi."


"Iya enak. Manis dan meleleh. Sudah serius kan." Ayu menghela nafas panjang sambil terus memakan rambut nenek di tangannya.


"Kamu tidak pernah ke tempat seperti ini Bee?"


"Tidak. Untuk apa?"


"Bukankah sangat menyenangkan. Banyak pedagang di kanan kiri kita. Tinggal memilih saja."


"Hm seperti pasar tradisional."


"Ini memang pasar."


"Iya. Di mana penjual bakso bakarnya?"


"Biasanya berada di tengah pasar."


"Tahu sekali?" Rangkulan tangan Samuel semakin erat karena semakin berjalan ke dalam, suasana pasar semakin ramai.


"Ayah sering mengajakku dulu."


"Membeli makanan ini." Menunjuk ke rambut nenek yang hampir habis.


"Iya dan makanan yang lain. Aku haus Bee. Kita beli es kelapa muda di sana ya." Menunjuk ke salah satu sudut.

__ADS_1


"Makanan manis memang membuat haus. Jadi tidak perlu mencari pedagang bakso bakar?" Tanya Samuel menggoda.


"Mau mengingkari janji?"


"Tidak Babe. Aku hanya bertanya."


"Pak esnya satu tanpa gula ya." Ucap Ayu memesan.


"Kenapa tanpa gula?" Ayu menjinjit lalu membisikkan alasannya." Kalau tahu begitu kenapa di beli." Ayu memberi isyarat Samuel untuk diam.


"Berapa Pak?"


"10 ribu Non." Samuel memberikan pecahan uang 50 ribu dan memasukkan lagi uang kembaliannya.


"Eh Bee. Letakkan di saku depan saja." Cegah Ayu ketika Samuel akan mengantongi dompet di saku belakang." Banyak pencopet." Imbuhnya berbisik. Samuel melakukan perintah tersebut lalu kembali berjalan.


Kesabaran Samuel kembali di uji. Sebab sepanjang perjalanan Ayu selalu memintanya membeli beberapa barang sementara suasana pasar semakin padat.


Eluhan ingin sekali terlontar, tapi melihat wajah bahagia Ayu membuat Samuel memilih untuk menuruti apapun permintaannya.


Sebenarnya, pedagang itu berjualan di mana. Batin Samuel dengan banyak bungkusan di tangannya. Bibirnya tersungging ketika dia melihat sosok pedagang yang sama membuka lapak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Beruntungnya, di samping pedangan bakso bakar terdapat penjual sosis bakar juga. Terimakasih Tuhan.


Samuel sampai melontarkan kalimat tersebut karena tidak dapat di pungkiri jika suasananya sangat tidak nyaman.


"Jauh sekali lapaknya Pak." Ucap Samuel menggeser kursi plastik dan menyuruh Ayu duduk terlebih dahulu.


"Memang dapatnya di tempat ini Tuan." Bukankah ini orang kaya kemarin? Si pedagang tersenyum melihat banyaknya barang bawaan yang ada di tangan Samuel." Habis memborong Tuan." Samuel tersenyum seraya menunjuk Ayu dengan isyarat mata.


"Saya pesan dua porsi ya Pak. Em sosis bakarnya juga." Pinta Ayu bersemangat. Di tangannya masih terdapat es kelapa muda tanpa gula.


"Siap Non. Sebentar ya."


Syukurlah. Walaupun lelah, sepertinya dia sudah melupakan kekesalannya tadi.


"Kamu tidak ingin membeli itu." Tawar Samuel menunjuk pedagang mainan.


"Untuk di mainkan." Samuel melirik ke barang tidak berguna yang tadi di beli. Tapi dia enggan berprotes daripada perasaan Ayu kembali kesal karena penolakannya.


"Itu permainan anak kecil Bee."


Lantas yang di tanganku apa? Bukankah akan lebih baik dia meminta tas atau keperluan wanita lainnya tapi ini..


"Hm ya. Kamu tidak lelah?" Tatapan Samuel beralih pada kaki Ayu.


"Tidak."


"Belum terasa saja. Kita sudah berjalan sangat jauh belum lagi kalau kembali."


"Tidak sakit Bee." Jawab Ayu kukuh pada jawabannya.


"Em ya sudah."


Setelah pesanannya siap, Samuel segera membayar lalu keduanya mengambil jalan berlawanan arah untuk kembali.


"Kamu bahagia?" Tanya Samuel tiba-tiba.


"Iya Bee."


"Apalagi yang ingin kamu beli?"


"Sudah terlalu banyak."


"Tidak apa."


"Sudah cukup Bee."

__ADS_1


"Jangan sungkan. Tanganku masih cukup untuk mengandeng mu dan membawa beberapa barang." Samuel merasa jika membahagiakan Ayu sangatlah mudah. Sehingga dia kembali membodoh-bodohkan Dika yang sudah menyia-nyiakan wanita sederhana seperti Ayu.


"Hehe apa kamu sedang bergurau Bee? Atau sedang meledekku?"


"Tidak. Serius. Bagaimana dengan boneka yang ada di sana. Itu mirip seperti mu." Sontak Ayu melihat ke mana arah telunjuk Samuel.


"Aku memang gemuk." Gumam Ayu lirih.


"Tidak Babe. Kamu salah faham."


"Aku tahu boneka yang kamu maksud." Ayu berfikir Samuel menunjuk sebuah boneka dengan bentuk anak-anak yang begitu gendut padahal..


"Ini berapa." Tanya Samuel mengambil sebuah boneka berbentuk anak kecil dengan rambut di kepang. Kedua pipinya berwarna merah dan bibir tebal yang menggemaskan.


Aku salah faham lagi..


"150 Mas."


"Hm." Samuel langsung membayarnya tanpa menawar lalu memberikan bonekanya pada Ayu.


"Dia cantik sekali." Ayu mengusap lembut bibir boneka dengan telunjuknya.


"Seperti mu."


"Terimakasih Bee."


"Sama-sama."


"Ini hadiah terbaik."


"Benarkah?"


"Iya benar." Saat Ayu akan mengeratkan pegangan tangannya kehadiran Mita membuat padangan Ayu langsung teralihkan.


"Och tidak lagi." Eluh Samuel sudah menyadari keberadaan Mita yang tengah menawarkan produk jualannya. Terlihat di tangannya terdapat tumpukan brosur." Kamu ingin menyapa nya?" Menunjuk ke arah Mita.


"Dia bukan temanku." Jawab Ayu lirih.


"Syukurlah. Kita lewati dia tanpa menyapa, oke." Setelah Ayu mengangguk keduanya melanjutkan perjalanan. Sesuai permintaan, Ayu berpura-pura tidak menyadari keberadaan Mita yang malah berjalan menghampiri nya.


"Hai Ayu." Sapa Mita seraya memperlihatkan senyuman simpul.


"Oh kamu." Nada bicara Ayu terdengar kaku sebab dirinya sudah tidak lagi menganggap Mita sebagai teman." Em kami permisi." Namun tetap saja Ayu tidak tega harus memulai perkataan kasar walaupun pertemuan terakhir mereka sangatlah menyakitkan.


"Beli beberapa produk ku. Bantu aku." Sontak hal tersebut membuat Ayu menghentikan langkahnya.


"Kau tidak malu berkata itu?" Ucap Samuel ketus.


"Aku akan di pecat kalau produk ku tidak terjual." Jawab Mita beralasan.


"Perduli apa hah!"


"Apa yang kamu jual?" Sahut Ayu cepat." Kita hanya membantu sebagai pelanggan, tidak lebih." Imbuhnya menjelaskan.


"Hm tidak apa." Mita menyodorkan sebuah brosur pada Ayu.


"Terlalu lama." Samuel merogoh sakunya lalu mengambil dompet. Dia menyodorkan beberapa lembar uang pada Mita." Ambil! Kami tidak butuh produk mu." Karena Mita tidak menerimanya. Samuel melepaskan beberapa lembar uang sehingga membuat Mita duduk berjongkok untuk memunguti nya.


"Bee."


"Not Babe. Kita pulang. Kau mau dia menusuk mu dari belakang. Ingat pada pertemuan terakhir kita." Terpaksa, Samuel menyeret tubuh Ayu untuk melanjutkan perjalanan. Mati-matian dia membuat suasana hati Ayu membaik tapi lagi lagi ada obyek yang mungkin akan merusak suasana hatinya.


Sementara Mita, terpaksa memungut uang dari Samuel walaupun dia tidak menginginkannya. Kehidupannya berubah drastis setelah Alan tidak lagi menghubunginya. Mita harus mencari perkerjaan baru untuk memenuhi kebutuhan.


Sebaiknya besok aku pergi ke rumah Mas Alan dan menanyakan kejelasan hubungan kita..

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2