
Ayu melepaskan pegangan tangannya ketika lift sudah tertutup. Samuel menoleh seraya menelan salivanya kasar, menyadari wajah datar yang di perlihatkan Ayu.
"Sudah ku katakan jangan cemburu pada wanita tidak berbobot itu Babe."
"Aku tidak cemburu!" Nada meninggi yang Ayu lontarkan, menandakan kekesalan hati yang memang sedang bergemuruh hebat. Mereka pernah makan malam berdua.
Ayu sekuat hati mencoba menghilangkan dugaan tidak beralasan yang terbesit di fikirannya. Namun kali ini begitu sulit karena luka yang di torehkan Dika masih tersisa.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya lalu kami makan malam bersama. Saat dia tahu aku miskin dan penuh hutang. Dia tidak mau lagi berhubungan denganku."
"Jadi seandainya dia mau. Kamu juga pasti akan mau?" Keduanya keluar dari lift lalu masuk ke dalam kamar. Samuel tersenyum aneh dengan tatapan yang sejak tadi fokus ke arah Ayu.
"Takdir tidak mungkin salah Babe. Sekarang aku bersama mu kan."
"Hm.. Sangat menyakitkan melihat sosok lain mendekat ketika kita masih berusaha untuk saling memahami." Keangkuhan Ayu terlihat dari sorot matanya sekarang. Dia masih berekspresi datar dan enggan menunjukkan tangisannya.
Kenapa wajahnya masih saja datar. Seharusnya dia marah saja atau setidaknya mengumpat..
"Jangan di tahan. Sudah ku bilang untuk melepaskannya saja." Samuel menumpukan kedua tangannya namun Ayu langsung menyingkirkannya.
"Aku tidak sedang menahan apalagi cemburu." Ingat Ayu. Menangis itu melambangkan kelemahan.
"Tidak ada larangan untuk merasakan kecemburuan. Aku malah suka Babe. Cemburu menandakan rasa tidak ingin kehilangan."
Ayu menddesah lembut. Dia mengambil baju tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Angkuh sekali. Dia mencoba menutupi itu padahal aku ingin melihatnya menangis karena cemburu." Gumam Samuel duduk menunggu Ayu keluar dari kamar mandi.
.
.
.
Sepuluh menit kemudian, Ayu terlihat keluar dari kamar mandi dan masih memperlihatkan wajah datarnya. Dia mencoba untuk tidak melihat ke arah Samuel yang sejak tadi memperhatikan.
Fokus teralihkan ketika ponsel milik Ayu berdering. Sialnya, ponsel tersebut terletak di atas meja tepatnya di depan Samuel duduk.
Pasti Mita..
Dengan segala keterpaksaan, Ayu yang tadinya berniat akan tidur, berbelok arah ke meja. Dia berniat mengambil ponsel lalu pergi namun Samuel memaksanya duduk.
📞📞📞
"Halo Mit.
"Ku fikir sudah tidur.
Ayu menyingkirkan tangan Samuel dari pundaknya tapi tangan itu malah beralih pada pinggangnya.
"Belum.
Jawabnya sambil melirik malas. Samuel sengaja menarik pinggang Ayu lagi dan lagi dan sesekali mengusapnya lembut.
"Ada apa dengan nada bicara mu?
Tentu saja Mita menanyakan nada bicara Ayu yang terdengar begitu ketus.
"Tidak ada apa-apa. Sudah berbaikan dengan Mas Alan?
__ADS_1
"Dia menunggu di dalam Cafe sampai aku pulang. Tadi aku di ajak bertemu Bu Erna.
"Dia tidak seburuk kelihatannya Mit. Kamu harus mengambil jalur bawah kalau kamu memang mencintai Mas Alan.
"Sepertinya aku harus belajar banyak darimu. Mas Alan bilang kamu itu pawangnya Bu Erna.
"Pawang apa? Aku hanya tidak pernah banyak mulut ketika dia berkata macam-macam. Berfikir seringan-ringannya, dia itu orang tua. Sudah semestinya kita mengalah asalkan Mas Alan tidak berbuat macam-macam seperti em.. Aku tidak ingin menyebutnya.
"Dia berkata menyesal tapi aku masih saja takut.
"Serius? Itu sesuatu yang langkah. Selama ini Bu Erna orangnya acuh. Dia akan berprotes ketika nama baiknya terancam.
"Iya aku akan berusaha menjadi seperti mu. Bolehkan aku mampir ke rumahmu besok sepulang kerja?
"Tidak bisa Mit. Aku masih berada di apartemen. Rumah sedang di renovasi.
"Terus kapan bisanya?
"Sesuai janji. Hari Minggu kita bertemu.
"Oh oke. Maaf sudah menganggu. Sampai jumpa hari Minggu.
"Tidak menganggu kok.
"Aku tahu hubungan kalian sedang berada di tahap cinta yang membara.
"Tidak. Sampai jumpa hari Minggu.
📞📞📞
Ayu mengakhiri panggilan. Dia meletakkan ponsel dan hendak berdiri tapi Samuel belum juga menyingkirkan tangannya dari pinggangnya.
"Aku mau tidur." Pinta Ayu pelan.
"Tidak penting tapi pernah makan malam bersama. Aku benar-benar malas mendengar hal seperti itu."
"Dia dulu tinggal di samping kontrakan ku."
"Singkirkan tanganmu. Aku mau tidur." Tetap saja Ayu memelankan suaranya walaupun hatinya di liputi rasa kekesalan.
"Mana mungkin ku singkirkan kalau kamu masih marah." Samuel malah menumpukan kepalanya ku pundak Ayu. Tangan satunya meraih remote lalu menyalakan televisi." Hari ini kamu lebih banyak marah." Imbuhnya pelan. Memperhatikan acara televisi yang tidak menarik sama sekali.
"Ya maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi besok."
"No Babe. Aku lebih suka sesuatu yang terbuka. Kalau ingin marah silahkan. Aku akan merajuk nya, bagaimana pun caranya." Ayu menghela nafas panjang lalu menghembuskan.
"Aku tidak suka."
"Apa yang tidak kamu sukai?" Samuel mengangkat kepalanya dari pundak Ayu karena takut memberatkan.
"Kejadian seperti tadi."
"Itu di luar kuasa ku." Kembali Ayu menghembuskan nafas berat. Dia sering mendengar alasan tersebut dari mulut Dika.
"Awalnya memang di luar kuasa, tapi lama-lama kamu akan terbawa arus. Lalu kamu mulai membandingkan ku dengan mereka yang memiliki tubuh lebih bagus dariku." Samuel ikut menghembuskan nafas berat. Trauma kegagalan tidak semudah hilang sesuai perkiraannya. Dia harus kembali di hadapkan dengan ingatan Ayu yang masih tertinggal di masa lalu.
"Aku sudah menjelaskan dengan sangat detail. Aku mantan play boy dulu dan sekarang rasanya sudah bosan dengan hal seperti itu apalagi setelah pengkhianatan."
"Pokoknya aku tidak mau ada celah."
__ADS_1
"Ini sudah tanpa celah Babe. Aku sungguh hanya memikirkan mu."
"Bolehkan ku katakan kalau itu peraturannya?" Ayu menatap Samuel dengan tajam, mata yang terlihat berkaca-kaca menandakan jika hatinya benar-benar sakit.
"Jelaskan."
"Aku tidak mau ada wanita lain. Baik teman atau sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan." Samuel tersenyum simpul seraya menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Memang tidak pernah ada. Kamu boleh tanya pada Mita."
"Buktinya tadi."
"Makan malam itu jauh sebelum aku bertemu denganmu. Kamu harus sadar kalau itu bagian dari masa lalu." Ayu membuang muka. Mengendalikan perasaannya yang bergemuruh dan rasa malu yang bercampur aduk.
Dia juga punya masa lalu, begitupun aku. Apa yang sedang ku bicarakan? Kenapa aku jadi mirip anak SMA saja!!
Ayu mengumpat sejadi-jadinya. Dia menyadari pembicaraan yang terdengar bodoh bahkan berlebihan.
"Ya. Maafkan aku Mas, eh Bee." Jawab Ayu tertunduk.
"Hm. Aku akan mencoba terbiasa dengan dugaan mu."
"Aku belum.."
"Ya Babe. Tidak perlu di sebutkan."
"Jangan di selah." Jawab Ayu ketus. Samuel menoleh cepat lalu tersenyum." Aku belum kenyang." Imbuhnya pelan.
"Kita delivery."
"Hm."
"Kamu mau makan apa?"
"Terserah Bee."
"Oke baik." Setelah memesannya, Samuel meletakkan kembali ponselnya." Duduk sini dulu, aku mau bicara sesuatu." Menepuk-nepuk pahanya sendiri.
"Bicara apa Bee?" Tanpa berprotes, Ayu menempelkan bokongnya di pada kanan Samuel.
"Rindu, apalagi?" Kening Ayu berkerut mendengar jawaban konyol itu.
"Rindu? Aku ada di sini sekarang."
"Ini bukan rindu biasa."
"Terus bagaimana Bee?"
"Aku ingin mendengar kamu menddesah dengan panggilan baru itu." Ayu tersenyum seraya menatap wajah tampan Samuel. Hatinya berusaha di setting untuk memenuhi kebutuhan biologis Samuel yang terkadang terasa menggelikan.
"Setelah makan akan ku berikan."
"Sedikit saja Babe." Ayu mendekatkan bibirnya dan mulai menddesah lirih sesuai keinginan Samuel.
Tentu saja Samuel terhanyut di tandai dengan nafasnya yang memburu. Miliknya bahkan sudah meronta-ronta dan membayangkan bagaimana milik Ayu menjepitnya.
Tangan Samuel mulai menekan tengkuk Ayu lalu melummat bibirnya kasar. Gigitan di berikan sesekali sehingga membuat Ayu ikut terhanyut.
Bunyi bel pintu tidak lagi mereka perdulikan. Percintaan panas di atas sofa tengah terjadi.
__ADS_1
Terkadang Ayu di buat bingung dengan kegilaan hasratnya sendiri. Dia berubah menjadi wanita binal ketika Samuel sedang memasukinya dengan gerakan kasar namun tutur kata lembut. Padahal ketika bersama Dika dulu, dia cenderung menerima walaupun hasrat memang sangat gampang tersulut.
🌹🌹🌹