
Flashback
Sejak pertemuannya dengan Dika beberapa hari lalu, Ayu kerapkali mendengar pujian terlontar dari teman-teman sekelasnya. Apalagi Dika selalu menyempatkan waktu untuk menjemputnya di sela-sela kesibukan. Sehingga hampir seluruh teman sekelas Ayu mengetahui sosok Dika yang kala itu terlihat sangat dewasa.
"Langsung nikah saja Ay." Ucap salah satu teman sekelas Ayu.
"Iya. Sepertinya pacarmu sangat dewasa."
"Bukan pacar. Kita masih berteman." Rona merah pada wajah Ayu menandakan jika dirinya sangat senang ketika mendengar Dika di puji banyak temannya." Aku juga ingin berkuliah dulu lalu bekerja baru memikirkan menikah." Sejauh ini, Dika tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Padahal Ayu menunggu saat itu terjadi.
"Benar itu Ay. Kalau langsung menikah nanti tidak seru." Sahut Mita menimpali.
"Kapan lagi di sukai lelaki dewasa."
"Punya pasangan yang dewasa itu enak. Kata ibuku lebih baik daripada seumuran."
Ayu kerapkali mendengarkan ucapan tersebut. Dia mulai memikirkannya terus-menerus sampai-sampai saat itu dunianya hanya terfokus pada Dika.
Sikapnya semakin acuh pada sosok lain. Ayu lebih memilih tidak bergaul daripada harus menghabiskan waktu bersama teman lelaki yang ingin mendekat. Seharusnya dia membuka hati saja, sebab momen berharga di masa mudanya tidak akan kembali.
Apalagi setelah dirinya memutuskan berhenti kuliah. Hidupnya berjalan datar. Waktunya habis untuk berkerja lalu malamnya dia berkirim kabar dengan Dika yang saat itu berada di luar kota karena tugas kantor.
Hanya Mita satu-satunya teman. Itupun sangat jarang bertemu seakan sugesti lingkungan sekitar mulai memenuhi otak.
Tidak ada orang baru. Dika satu-satunya kandidat yang Ayu mau. Meski hari berat di lalui sekalipun Ayu tidak pernah mengenal sosok lain selain Dika.
Hal itu membuat sugestinya semakin menguat, mengakar seakan Dika satu-satunya lelaki yang ada di muka bumi. Obyek lain terlihat tidak menarik baginya. Sebab Ayu menyangka kalau apa yang tengah bergejolak di hati adalah cinta.
Flashback off
"Kalau bukan cinta lalu apa Bee?" Tanya Ayu lirih. Dia sadar jika selama ini dunianya memang terfokus pada Dika.
"Aku ingin tahu secantik apa dirimu dulu. Sampai-sampai lelaki itu berani menikahimu tanpa cinta."
"Dia bilang cinta."
"Cinta itu tidak bersyarat. Dia menikahi mu karena kau sangat cantik. Hingga ketika kecantikan itu pudar, perasaannya padamu juga pudar." Ayu terdiam sambil menghembuskan nafas berat. Semua permasalahan memang berawal dari perubahan bentuk tubuhnya." Itu artinya kamu sedang di manfaatkan. Dia membutuhkan kesempurnaan mu lalu membalut itu semua dengan sebuah cinta semu yang akan mudah mengelupas. Kamu tahu Babe. Cinta adalah satu-satunya kekejaman dunia yang paling kejam. Karena cinta semua orang bisa hilang kewarasannya. Rela kehilangan harga diri. Rela di injak-injak. Rela saling membunuh dan menjatuhkan." Ayu mulai mempertanyakan perasaannya pada Dika yang sebenarnya.
"Aku tidak tahu Bee." Jawabnya lirih.
"Itu kenapa kamu harus berada di bawah pengawasan orang yang tepat. Yang tidak hanya memanfaatkan mu dan benar-benar mencintai mu seperti aku."
"Kamu sedang membaik-baikkan dirimu sendiri?"
"Tidak. Aku sedang mengatakan kalau aku satu-satunya jodohmu dan yang mencintai mu." Ayu mengambil keranjang lalu duduk berjongkok untuk mengeluarkan cucian dari dalam mesin.
"Entahlah Bee, aku bingung."
"Kita harus selalu berdekatan."
__ADS_1
"Tapi aku akan setia walaupun kita berjauhan." Samuel merebut keranjang dari tangan Ayu.
"Aku takut akan hadir seseorang yang mungkin menawarkan cinta yang lebih manis dariku."
"Aku tidak akan mau." Ayu kembali mengekor Samuel." Kenapa kamu membahas itu sih Bee?" Protes Ayu duduk lemah di kursi kayu seraya memperhatikan Samuel yang tengah menjemur.
"Agar kamu tidak mudah tergoda dengan tipuan cinta di luar sana. Ingat Babe, hanya aku satu-satunya lelaki yang jujur dan baik hati." Ayu mengerutkan keningnya lalu beranjak. Dia langsung naik ke punggung Samuel yang sontak terkekeh karena perlakuan Ayu.
"Bukankah sebaiknya kamu diam." Samuel membiarkan Ayu bergelayut di punggungnya. Tangan kanannya bahkan menopang bagian bawah tubuh Ayu." Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu sebenarnya sangat cerewet." Ayu bersandar lemah pada pundak Samuel tanpa memikirkan bagaimana beban yang harus Samuel rasakan.
"Aku ingin berbagi ilmu."
"Ilmu apa? Aku sudah menjadi Istrimu." Jawabnya ketus.
"Berjanji untuk tidak menikah lagi ketika salah satu dari kita di ambil Tuhan."
Sudah bisa di baca tujuan Samuel membahas hal yang awalnya di anggap tidak penting. Rasa takut kehilangan tiba-tiba saja terlintas ketika dirinya sadar karakter lugu yang dominan pada Ayu.
"Aku hanya takut kamu meninggalkan ku ketika aku tidak lagi di sini." Seketika dada Ayu terasa sesak. Dia tidak menyangka kalau Samuel sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang pasti akan terjadi di masa depan.
"Kamu bicara apa sih Bee? Kita baru menikah. Punya anak saja belum. Kenapa memikirkan hal sejauh itu?" Jawab Ayu dengan manik berkaca-kaca.
"Jauh tapi pasti akan terjadi. Aku berjanji akan menjaga ini semua walaupun kamu tidak lagi ada. Sekarang giliran mu mengatakannya."
"Aku jadi sedih sekarang hiks.." Ucapnya seraya mengucek matanya yang terasa perih.
"Ayo katakan lah."
"Melakukan apa?"
"Tidak menikah lagi."
"Terimakasih. Sekarang aku tenang." Ayu memukul-mukul pundak Samuel seraya menggigitnya.
"Tenang apa!! Kamu jangan menakuti ku Bee. Katakan? Apa kamu punya firasat buruk tentang kematian?"
"Tidak hehe. Janji kita sudah di catat oleh Tuhan. Kalau kamu menikah lagi, aku mendoakan Suamimu selanjutnya akan mati dalam kecelakaan naas." Jawab Samuel asal. Dia membawa keranjang kosong untuk di letakkan kembali ke kamar.
"Ucapan apa itu?" Gerutu Ayu mengeratkan kalungan tangannya agar tidak jatuh.
"Kita harus punya anak laki-laki yang nantinya bisa menjagamu."
"Berhenti membahas hal yang tidak-tidak!" Teriak Ayu tepat di telinga Samuel.
"Ayo kita buat anak laki-laki sekarang hehe."
"Kaki ku saja masih sakit Bee."
"Tidak baik menolak keinginan Suami."
__ADS_1
"Ya ayo lakukan lagi. Kalau perlu satu hari ini kita tidak perlu keluar rumah. Kita lakukan seharian penuh, agar aku lemas lalu mati dan kau tidak memikirkan sesuatu yang macam-macam!!" Jawab Ayu ketus sementara Samuel terkekeh mendengar jawaban asal-asalan yang Ayu lontarkan.
Semoga kita senantiasa bersama. Hidup bersama bahkan mati pun harus bersama...
๐น๐น๐น
Setelah memastikan Tania tidur, Dika mengendap-endap masuk kamar. Sampai saat ini keduanya tidur terpisah karena Dika tidak ingin tidur satu ranjang bersama Tania. Tidak lupa, dia mengunci kamar tersebut agar nantinya Tania tidak langsung menyerbu masuk.
Sebuah ponsel baru di keluarkan dari atas lemari. Dika tidak menceritakan masalah cek dan hanya memberikan surat pemecatan secara tidak terhormat.
Itu berarti Tania tidak mengetahui tentang uang pesangon berjumlah fantastis. Dika berniat menggunakan uang tersebut sebagai simpanan dan untuk bersenang-senang bersama Della.
"Sudah jam tiga. Sebentar lagi dia pulang." Gumam Dika seraya mengetik pesan singkat untuk Della.
๐Ini nomerku. Dika.
Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan.
๐Aku fikir lupa Mas Dika.
๐Ini aku baru membeli ponsel baru.
๐Aku menunggu dari kemarin Mas. Em aku kirimkan alamat kost-an ya.
๐Untuk apa?
๐Sok lugu. Mas Dika tidak mau Della manjain.
๐Mau dong Dell.
๐Kalau Mas Dika mau datang, chat aku dulu.
๐Iya. Save nomerku.
๐Pasti Mas.
Dika terpekik ketika terdengar pintu kamarnya di gedor. Cepat-cepat dia menyembunyikan ponsel lalu mengacak-acak rambutnya sendiri seakan baru saja bangun tidur.
"Apa sih?" Tanya Dika ketus.
"Aku ingin makan brownies. Tolong belikan Dik."
"Kenapa tidak tadi saja? Kita bahkan baru pulang makan siang. Jaga pola makan mu."
"Selama hamil. Tidak boleh menjaga pola makan. Cepat belikan atau aku akan membeberkan pada semua tetangga tentang kelakuan buruk mu."
"Pintar sekali! Dulu perkerjaan sekarang kau ingin mengancam dengan bentuk gosip!!" Teriak Dika geram.
"Kalau kamu tidak menuruti kemauan ku! Siap-siap saja kau ku permalukan!!" Tunjuk Tania kasar lalu pergi begitu saja masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Lihat saja!! Setelah bayi itu lahir! Aku akan menceraikan mu!!" Teriak Dika menyambar kunci mobil dan keluar dengan wajah penuh amarah. Si pembantu mengelus dadanya karena hampir setiap hari dia di suguhkan dengan pertengkaran antara Dika dan Ayu. Ingin rasanya dia keluar dari perkerjaan, namun keluarga di kampung sudah lebih dulu menumpu kan harapan padanya.
๐น๐น๐น