
Ayu membereskan mejanya ketika waktu menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit. Dia sedikit aneh melihat kinerja perusahaan tersebut, sebab tidak ada pengecekan absen.
Hanya ada data keluar masuk barang yang entah kapan terjadi. Ayu belum pernah melihat kontainer masuk dan melakukan bongkar muat barang. Namun karena dia membutuhkan perkerjaan, Ayu tidak terlalu memikirkannya.
"Bagaimana cara Pak John mengetahui absen para pegawai Mas." Tanya Ayu mencoba mencairkan suasana. Sejak tadi dia membahas soal perusahaan agar tidak bersikap terlalu kaku pada Samuel.
"Tanda tangan saja." Jawabnya singkat.
"Saya tidak pernah menerima laporan itu." Samuel tersenyum lalu meraih ponselnya untuk memberi kabar pada John.
๐Besok siapkan kertas untuk absen. Dia menanyakan itu hehe.
Bagaimana mungkin Samuel sanggup berjauhan dengan Ayu. Dia sering mendapatkan hiburan dari sikap polos dan apa adanya yang Ayu suguhkan.
Berulang kali Samuel berusaha menyakinkan sekuat apa cintanya. Memantapkan hati Ayu untuk menghadapi Riska dan masalah lainnya bersama, namun Ayu tidak sanggup. Dia hanya mampu menerima kesulitan apapun kecuali permasalahan wanita lain.
"Biasanya tiga hari sekali." Ayu mengangguk lalu mengalungkan tasnya.
"Saya pulang dulu Mas." Pamitnya sopan.
"Kita searah."
"Tapi saya membawa motor sendiri."
"Hm nanti aku akan membungkus makanan. Apa kamu mau sekalian." Lagi lagi Samuel tidak sanggup menahan gejolak cinta sehingga perhatian selalu saja terlontar begitu saja.
"Tidak Mas terimakasih."
"Aku tidak ada maksud buruk."
"Simpan uang Mas untuk Istri dan anak sendiri. Saya sudah sangat berterimakasih dengan batuan kemarin. Permisi Mas."
Samuel mencengkram erat kepalanya seraya menatap Ayu yang tengah berjalan keluar ruangan. Ingin menahan diri tapi rasanya sulit.
"Ini satu-satunya kekejaman yang kamu hadiahkan padaku. Bagaimana mungkin kamu ikhlas meninggalkan ku dengan wanita itu? Ah tentu saja! Hanya Ayunda satu-satunya yang mampu membuatku was-was dan hilang kewarasan." Eluhnya sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat mengikuti Ayu dari belakang.
Memang sejak dulu Samuel selalu gila dalam mencintai. Tapi dia merasa lebih tergila-gila saat merasakan ketulusan perasaan Ayu. Apalagi Ayu pergi tanpa membawa hartanya, hal itu semakin membuat Samuel tidak ingin kehilangan. Padahal bisa saja Ayu menguras harta miliknya yang kini sudah berada di genggaman.
Dari jarak cukup aman, Samuel melajukan motornya sambil memikirkan bagaimana cara memaksa Ayu agar bisa duduk di boncengannya.
Matanya memicing ketika tiba-tiba sebuah mobil di kenalnya menyalip dengan kecepatan tinggi lalu memotong laju motor Ayu. Hal itu membuat Samuel seketika memacu motornya lebih cepat untuk menyusul.
__ADS_1
Ciiiiiiiiiiiitttttttttttt...
Ayu mengerem mendadak sampai motornya hampir oleng. Tangannya mengusap-usap dadanya seraya menghela nafas dalam-dalam.
Bukankah itu salah satu mobil Mas Sam....
Tebakan yang bersarang di hatinya terhenti, saat dia melihat Riska turun dari mobil mewah tersebut. Ayu menghembuskan nafas berat, mulai memikirkan pemandangan buruk yang mungkin berusaha di perlihatkan Riska.
Apa dia bersama Mas Sam? Bukankah dia tahu aku tidak mau ada wanita lain duduk di sampingnya. Apa dia melupakan itu?
Tentu saja Ayu memikirkan keburukan itu. Riska begitu sempurna bahkan tubuhnya selayaknya seorang gadis. Sementara dirinya, hanya bermodalkan cinta dengan fisik apa adanya.
Apalagi sejak Daniel hadir. Ayu selalu mengutamakan kepentingan Daniel daripada sekedar merawat tubuh. Ayu sekalipun tidak merasa terbebani, karena pengertian dari sikap Samuel.
"Astaga ternyata benar kamu." Dengan sombongnya Riska menatap Ayu dari atas sampai bawah.
"Ada apa ya Kak?" Tanya Ayu lirih. Mencoba memperlihatkan sikap tangguh seperti yang pernah di lakukan pada Dika dulu.
"Kenapa kau masih saja di kota ini?!"
"Yang terpenting saya sudah keluar dari rumah."
"Oh. Syukurlah." Ayu sempat melirik ke Radit. Ada rasa malu terbesit akan kebohongan yang mengatakan, jika Suaminya berada di luar kota.
"Aku berharap kau segera menyerahkan harta Samuel lagi." Tanpa rasa malu, Riska mengucapkan kata-kata tersebut.
"Harta apa?"
"Dia menyesal sudah memberikan semua hartanya padamu!" Ayu tersenyum kecut seraya mengendalikan dadanya yang bergemuruh.
"Aku tidak membawa apapun. Hanya uang tujuh juta untuk menyewa kontrakan."
"Sebentar." Riska kembali ke mobil untuk membawa kertas kosong dan bulpen." Tanda tangan di sini." Riska menebak jika Ayu wanita bodoh yang gampang di bodohi.
"Untuk apa Kak?"
"Surat pernyataan agar harta kembali pada Samuel." Tepat di saat Samuel akan melontarkan kata-kata pencegahan, ucapan Ayu membuatnya mengurungkan niat.
"Suruh Mas Sam menemui ku." Ayu mengambil kertas dari tangan Riska dan menulis alamat kontrakan nya.
Bagus Babe. Aku tahu kamu tidak sebodoh itu..
__ADS_1
"Kau tinggal tanda tangan apa susahnya sih?" Jawab Riska seakan memaksa.
"Saya akan melakukannya kalau itu permintaan Mas Sam." Jika memang Mas Sam ada di dalam. Mungkin sekarang dia akan keluar. Itu berarti Kak Riska sendirian..
Ada perasaan lega ketika Ayu melihat tangan Riska tengah membawa kunci mobil.
"Bilang saja kalau kau ingin menguasai hartanya."
"Saya tidak seburuk itu. Jangan samakan saya dengan anda. Jika saya sudah melihat bukti Mas Sam memilih anda. Harta akan saya kembalikan, karena saya tidak akan mau menikmati harta milik seseorang yang sudah tidak menginginkan saya. Bukankah itu sama halnya dengan mencuri." Wajah Riska berubah geram. Tebakannya salah sebab Ayu tidak mudah di bodohi.
"Kau bahkan tidak pantas menjadi pembantunya." Riska mendorong kasar pundak Ayu sehingga refleks Samuel menyingkirkan tangan Riska kasar.
"Jangan main tangan Nona." Ujar Samuel tentu tidak sanggup menerima miliknya di sakiti.
"Kau siapa hah!!" Tunjuknya kasar ke arah Samuel. Penyamarannya benar-benar berhasil karena Riska tidak bisa mengenalinya.
"Saya teman kerjanya. Berdebat boleh, tapi jangan main tangan."
"Sialan!!! Lihat saja! Aku akan membawa Samuel ke hadapan mu dan meminta hartanya kembali!!" Teriaknya lantang.
"Saya tunggu Kak." Ayu menatap kepergian Riska dengan perasaan was-was. Dia kembali memikirkan hal buruk yang mungkin akan terjadi pada pernikahan keduanya." Dosa apa yang sudah ku lakukan." Eluh Ayu lirih. Merasakan kerisauan sampai-sampai dia melupakan keberadaan Samuel.
Aku di sini Babe. Aku tidak kemana-mana. Biarkan saja wanita itu berkhayal sebentar. Setelah kebenaran terungkap, kesetiaan ku juga akan terungkap.
"Yang berdosa wanita itu." Sontak Ayu menoleh cepat." Kamu sedang ada problem rumah tangga?" Seakan mengalami Dejavu. Pertanyaan itu kembali terulang pada pernikahan keduanya.
Jangan lagi Tuhan. Aku tidak ingin pernikahan ku hancur lalu kau menghadirkan orang baru lagi. Aku muak! Aku bosan.
"Ini urusan pribadi saya Mas. Jangan sok mau ikut campur." Jawabnya ketus.
"Apa salahnya sesama tetangga harus berbagi cerita.."
"Tentu saja salah!!" Samuel tersenyum simpul. Menikmati suara ketus Ayu dan kembali bisa mengingat pertemuan pertama mereka dan bagaimana perjuangan mendapatkannya." Kalau kamu seorang wanita mungkin tidak salah. Apa Mas sadar?" Imbuhnya kesal atau bisa di sebut dengan meluapkan kekesalannya pada Samuel alias Radit.
"Entahlah. Aku hanya berusaha berbuat baik agar kita bisa akrab."
"Mustahil Mas. Saya tidak mau berdekatan dengan lelaki beristri jadi jaga batasannya."
"Istri ku sedang berada jauh. Aku juga merasa kamu lebih cantik darinya." Ucapan Samuel semakin membuat Ayu geram. Dia bergegas naik ke motor lalu melanjutkan perjalanan. Ada untungnya juga dia kabur hehe. Akan ku buat permainan yang kamu mulai menjadi lebih seru Babe. Kau akan ku desak untuk senantiasa menerima bantuan ku. Sesuai janji, kamu tidak boleh kesulitan sedikitpun. Bee mu akan berusaha memberikan madu termanis dengan cara yang lain.
๐น๐น๐น
__ADS_1