
Tania terpaksa mendatangi PT. SSM untuk menemui Pak Wira. Dia berniat meminta uang tambahan agar bisa melakukan perawatan wajah di salon yang lebih mahal.
"Bukankah sebaiknya uangnya kamu tabung saja Nak. Kamu butuh biaya besar untuk melahirkan."
"Tapi Dika terus berprotes Yah. Aku tidak mau kehilangan dia." Pak Wira mentransfer uang ke rekening pribadi Tania sambil memperhatikan wajahnya yang memang rusak parah akibat bawaan bayi.
"Mungkin itu bawaan janin. Akan hilang seiring berjalannya waktu. Itu hal yang sangat wajar."
"Pokoknya aku mau perawatan yang lebih mahal."
"Hm. Sudah Ayah transfer." Menunjukkan bukti transferan.
"Terimakasih Yah."
"Sama-sama sayang." Walaupun Pak Wira sudah tidak mengharapkan hubungan pernikahan Tania berjalan lancar. Tapi dia tetap akan berusaha agar pernikahan itu tidak hancur.
"Ruangan Dika ada di mana Yah."
"Sebaiknya kamu langsung pulang saja."
"Aku mau melihatnya sebentar."
Aku takut dia mencari masalah nantinya..
Dika di tempatkan sebagai pengawas gudang yang bertugas memantau para pekerja. Bukan tanpa alasan Pak Wira merasa khawatir. Sebab sebagian besar para karyawan bagian produksi adalah wanita muda. Hanya ada beberapa lelaki yang di peruntukan melakukan perkerjaan berat.
"Di sana sangat kotor. Ayah takut kamu mual nanti."
"Hanya sebentar lalu pulang." Pak Wira menghembuskan nafas berat. Tania tentu tidak bisa di hentikan.
"Ayah ada rapat penting. Tidak apa kan jika di antar yang lain."
"Hm tidak apa." Pak Wira meraih gagang telepon lalu menghubungi seseorang untuk mengantarkan Tania ke lokasi.
Setibanya di lokasi, sebuah momen tidak terduga terjadi. Dika terlihat bersenda gurau dengan salah satu karyawan berparas cantik.
Sontak hal itu menyulut kemarahan Tania yang langsung menghadiahkan sebuah tamparan pada si karyawan.
Plaaaaaakkkkkk!!!
"Jadi ini perkerjaan barumu!!" Teriak Tania tidak terkendali. Si karyawan tertunduk sementara yang lain mencoba untuk tidak perduli dan melanjutkan perkerjaannya.
"Apa yang kau lakukan Niah!!"
"Kau tidak sadar kesalahan mu apa!! Hei!!" Tania menyeret kasar si karyawan lalu mendongakkan kepalanya dengan cara menjambak rambut panjangnya.
"Aaah sakit. Ampun Nona." Rintihnya berusaha terlepas dari cengkraman kuat tangan Tania.
"Kau tahu lelaki yang kau goda sudah memiliki Suami!"
"Sa saya tidak melakukan apapun dan hanya sekedar bergurau."
"Perselingkuhan berawal dari candaan lalu serius! Kalau kau masih ingin berkerja di sini. Jaga sikapmu!!" Segera saja Dika mengiring paksa Tania keluar. Dia tidak ingin semakin di permalukan dengan perkataan Tania yang pasti akan berkata macam-macam.
"Kau gila! Ini perusahaan hei Niah. Kau jangan marah seakan-akan kau yang menguasai tempat ini." Tania mendengus seraya melipat tangannya di perut.
"Pak Wira itu Ayahku walaupun Suamiku hanyalah staf biasa!!" Jawabnya ketus." Jaga sikap kalau tidak ingin ada nyawa melayang akibat ulahmu!!" Ancam Tania melangkah pergi meninggalkan Dika yang masih terkejut dengan kedatangan Tania.
__ADS_1
"Sial sekali! Kenapa tua bangka itu menyuruh anaknya ke gudang? Apa dia sengaja ingin mempermalukan ku di mata para karyawan!! Mereka akan menyebutku macam-macam setelah ini." Eluh Dika bergumam sambil kembali masuk ke dalam gudang produksi.
๐น๐น๐น
Ayu menggeser mangkuk baksonya ke arah Samuel. Dia berniat meminta bantuan memotong bakso berukuran besar itu walaupun sebenarnya Samuel sudah berniat melakukannya.
"Bee, tolong potongkan. Ini besar sekali."
Samuel semakin terhanyut atas sikap dan nada bicara yang Ayu perlihatkan. Biasanya, Ayu masih saja merasa canggung dan enggan meminta bantuan dalam mengatasi hal kecil seperti sekarang.
Namun rupanya, garis merah yang terjadi. Merubah suasana hatinya yang awalnya berusaha kuat menjadi lebih lemah dan juga sensitif.
"Seharusnya tadi memesan yang kecil-kecil." Celoteh Ayu memperhatikan tangan Samuel yang sibuk memotong.
"Menunya memang seperti itu Babe. Ini sudah yang paling kecil." Samuel menunjuk tulisan menu yang salah satunya tertempel di dinding.
"Iya Bee. Aku baru membacanya."
"Tapi rasanya sangat enak. Cobalah." Samuel menyendokkan satu potongan kecil ke mulut Ayu yang langsung melahapnya.
"Semua bakso rasanya seperti ini Bee. Yang berbeda itu kuahnya."
"Oh benarkah."
"Iya." Ayu menggeser mangkuk yang selesai di potong. Dia tidak sabar ingin menyeruput kuah beningnya." Kuahnya segar sekali. Apalagi jika pedas." Tatapan Ayu beralih pada Samuel. Dia tersenyum seraya menunjuk mangkuk berisi sambal dengan isyarat mata.
Astaga mengemaskan sekali. Apa dia ingin aku menuang sambal untuknya?
Samuel mengurungkan niatnya untuk memotong bakso miliknya dan menunjuk ke mangkuk sambal yang sebenarnya berada di dekat Ayu.
"Iya Bee. Berikan 3 sendok." Pinta Ayu menunjukkan ekspresi yang semakin membuat Samuel suka.
Bukankah kebanyakan wanita suka marah-marah ketika tanggal merah nya datang. Tapi kenapa Istriku malah menunjukkan sikap sensitif yang sangat menyejukkan hati.
"Dua saja. Aku takut perutmu bertambah sakit kalau terlalu pedas." Jawab Samuel menambahkan dua sendok sambal pada mangkuk Ayu.
"Aku suka pedas Bee." Protesnya mulai mengaduk lalu mencicipinya." Tapi, ini sudah pedas." Imbuhnya menggeser mangkuk lebih dekat lalu melahapnya.
Samuel menutup kembali sambal lalu mengambil pisau kecil dan berniat memotong bakso miliknya. Tapi lagi lagi, Ayu meminta sesuatu yang sebenarnya bisa di raihnya sendiri.
"Sudah." Tanya Samuel menuang kecap sementara Ayu mengaduk-aduk lalu mencicipinya.
"Sudah Bee."
"Hm." Samuel menggeser botol kecap lalu menumpukan kedua tangannya ke meja dan malah menatap Ayu dari sana.
"Kenapa kamu tidak makan? Kamu tidak suka bakso?" Ujar Ayu setelah sadar kalau sejak tadi Samuel tidak menyentuh makanan. Dia fikir mungkin Samuel tidak sedang berselera makan. Padahal kenyataannya, dia sedang menunggu Ayu selesai makan agar dirinya bisa menggambil sesuatu yang Ayu butuhkan.
"Kamu mau?" Samuel malah melontarkan pertanyaan tersebut. Dia sama sekali tidak keberatan kalau memang Ayu ingin memakan jatahnya.
"Memangnya kamu tidak mau Bee?"
"Kalau kamu mau ambil saja."
"Terus kamu makan apa nanti?"
"Pesan lagi." Tanpa fikir panjang Samuel memotong sebagian bakso lalu menambahkannya pada mangkuk milik Ayu.
__ADS_1
"Tidak Bee. Maksudku kalau kamu tidak mau. Tapi kalau kamu mau, makan sendiri saja."
"Kamu kelihatannya kurang."
"Ini sudah cukup."
"Habiskan. Kalau kurang ambil ini." Samuel menunjuk baksonya yang tinggal separuh.
"Ini terlalu banyak." Protes Ayu pelan.
"Kamu hanya malu. Aku senang ketika kamu makan banyak. Tidak perlu di tutupi." Ucapan Samuel sangat sesuai. Sebab sejatinya Ayu memang lupa diri ketika di hadapkan dengan sebuah makanan seleranya.
"Setiap kali kamu ajak makan di luar. Rasa makanan itu sesuai dengan lidahku."
"Aku sengaja."
"Jadi aku habis banyak."
"Sebanyak apa?"
"Berlipat-lipat Bee."
"Apa lebih mahal dari harga tas branded?"
"Kenapa membahas tas?" Tanya Ayu polos.
"Biasanya wanita suka bergonta-ganti tas. Tapi ku lihat kamu tidak. Kamu hanya meminta makan dan makan hehe." Samuel hanya membelikan satu tas dan itu sudah Ayu pakai beberapa kali tanpa berprotes untuk meminta ganti.
"Belum rusak, kenapa harus di ganti." Samuel tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Dia sungguh beruntung bisa memiliki wanita berhati lugu. Bukankah seharusnya Ayu menghambur-hamburkan uang atau paling tidak meminta Samuel memberikan barang-barang mahal?
"Kita akan membelinya setelah ini. Untuk bergonta-ganti."
"Memangnya kamu mau membelikannya Bee?"
"Astaga hehehe. Itu kenapa aku memberikan mu ATM pribadi. Maksudku agar kamu bisa membeli semua kebutuhan mu seperti tas dan baju."
"Bukankah semua sudah kamu sediakan."
"Aku asal memilih. Mungkin kamu ingin membeli sesuai dengan selera mu?"
"Kalau di belikan aku mau."
"Hm baik oke. Kita mampir sebentar ke toko tas."
"Iya."
"Bagaimana dengan perutmu?"
"Sudah lebih baik walaupun masih sedikit nyeri."
"Syukurlah." Samuel masih berniat menunggu Ayu selesai makan. Sembari menunggu dia berkirim pesan dengan Dimas untuk menanyakan perkembangan soal Alan.
๐Beres Tuan. Perjanjian sudah di tanda tangani tanpa di baca terlebih dahulu. Sekarang perusahaan itu berada di genggaman anda.
๐Hm bagus.
Tiba-tiba saja seseorang duduk dan langsung ikut bergabung. Sontak Ayu menegakkan kepalanya untuk melihat sosok yang kini tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf lancang." Ujar Mita tersenyum manis. Dia duduk di antara Ayu dan Samuel seakan mulai melancarkan aksinya untuk menjadi pemisah antara keduanya.
๐น๐น๐น