
Entah bagaimana caranya Tania bisa mendapatkan informasi tentang letak kamar Vivian. Dia rela tidak tidur semalaman untuk menunggu keluarnya Dika dari kamar.
Dini hari, tepatnya pukul lima. Pintu kamar apartemen Vivian terbuka. Dika keluar dari sana dengan sebuah kemesraan yang masih mereka perlihatkan.
Vivian masih tidak ingin Dika pergi. Dia mencegahnya dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Dika. Seraya mencumbui leher Dika tanpa rasa malu.
Sesuai harapan dan bayangannya. Sosok Dika bisa memuaskan hasratnya yang menggila.
"Serius Mas. Jangan pergi." Cegah Vivian manja. Nominal rupiah tidak lagi si fikirkan karena rasanya Dika memiliki satu tipe yang di inginkan.
"Aku harus mengganti bajuku. Setelah itu, aku datang untuk menjemput mu."
"Satu ronde lagi baru berangkat berkerja."
"Aku akan menginap lagi nanti malam." Emosi Tania meletup-letup meski dirinya masih bertahan di persembunyiannya.
"Hm ya sudah." Vivian mellumat bibir Dika dengan ganasnya sampai-sampai kedua nafas mereka tersengal-sengal.
"Aku juga ingin lebih lama." Dika menghembuskan nafas berat untuk mengendalikan naffsunya yang kembali membuncah.
"Cepat pergi sebelum aku menarik mu masuk lagi."
"Aku akan segera kembali." Dika tersenyum simpul lalu melangkah menyusuri lorong apartemen tanpa menyadari keberadaan Tania yang tengah berjongkok di sebuah pot besar.
Setelah Dika benar-benar pergi, Tania berdiri dan langsung berjalan menuju kamar Vivian. Dia berdiri terpaku di depan pintu kamar seraya menyiapkan cairan kimia.
CCTV bahkan sudah di rusak. Para pekerja di apartemen mengira jika kerusakan terjadi akibat kesalahan listrik. Padahal, Tania menyabotase kerusakan tersebut.
Baru saja Vivian menutup pintu, ketukan kembali terdengar. Senyumnya terlihat mengembang. Dia mengira jika itu Dika.
Tapi alangkah terkejutnya Vivian ketika dia membuka pintu, tiba-tiba wajahnya terasa panas sampai-sampai dia berteriak histeris.
Vivian bahkan tidak bisa melihat siapa pelakunya karena Tania melakukannya dengan cepat.
Beruntung bagi Tania, sebab kebetulan para pemilik apartemen masih tertidur pulas. Ruangan kedap udara membuat mereka tidak bisa mendengar teriakan Vivian.
Kau sentuh milikku. Ku hancurkan hidup mu!!
Dengan santainya Tania berjalan pergi sambil sesekali menoleh untuk melihat keadaan Vivian yang masih meraung-raung dengan kedua tangan menutupi wajah.
🌹🌹🌹
Ayu semakin mengagumi sosok yang tengah mendekap tubuhnya. Samuel tidak mengawali percintaan walaupun Ayu tidur dalam keadaan polos. Dia menarik kesimpulan jika Samuel memang sangat mencintainya.
Walaupun sudah sejak pukul lima Ayu membuka mata. Namun pagi ini dia sengaja tidak beranjak bangun. Ada hasrat ingin bermanja-manja sebentar. Itu niat awal yang tidak juga berhenti sampai jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi.
Saat Samuel menggeliat, Ayu sengaja menutup mata seakan dirinya masih tidur. Dia masih tidak ingin mengakui perasaannya karena terlalu canggung untuk berkata jujur.
"Kesiangan." Gumam Samuel yang biasanya selalu bangun pagi. Tidak lupa dia memberikan beberapa kecupan pada wajah Ayu sebelum beranjak duduk.
Apa setiap pagi dia melakukannya?
Mata Ayu menyipit, memperhatikan apa saja kegiatan Samuel ketika dirinya tidur.
Setelah mencuci muka, terlihat Samuel berjalan ke dapur kecil lalu mencolokkan kabel teko listrik. Sembari menunggu dia menyiapkan racikan kopi dan sandwich.
Kenapa Mantan Istrinya tega berselingkuh dengan lelaki sebaik dia. Kekurangan hanya sedikit, terkadang sikapnya terlalu arogan dan suka seenaknya sendiri.
Karena lamunannya, Ayu tidak sadar ketika Samuel berjalan menghampirinya bahkan memperhatikannya dengan posisi berdiri.
"Bagaimana keadaan mu?" Sontak mata Ayu membulat ketika menyadari Samuel sudah berdiri di hadapannya.
"Lebih baik Mas." Jawabnya terbata.
__ADS_1
"Syukurlah Babe. Em aku kesiangan bangun jadi aku belum membuatkan kopi." Ayu beranjak duduk dengan selimut tebalnya.
Seharusnya aku tadi bangun tapi.. Rasanya aku masih ingin bermalas-malasan.
"Kenapa melamun. Pakai ini." Sambil menyodorkan dress rumahan.
"Biasanya aku bangun pagi Mas." Gumam Ayu seraya memakai dress. Selimutnya di lipat sambil sesekali melirik Samuel yang tengah memoles roti dengan selai.
"Santai saja. Kamu bangun nanti sore juga tidak masalah. Aku tidak akan membebankan perkerjaan atau pelayanan semacam ini. Aku biasa melakukannya sendiri dan sekarang aku memiliki teman untuk menikmatinya."
Ayu tidak banyak bicara dan langsung menghampiri untuk membantu padahal dia tidak tahu menahu soal urusan dapur.
"Biar ku bantu Mas. Sepertinya airnya sudah matang." Samuel memberikan pisau selai lalu beranjak menuju teko yang mengeluarkan bunyi.
Baru saja perkerjaan memoles selai di ambil alih. Ayu sudah membuat dress putihnya berantakan. Bercak-bercak selai terlihat mewarnai dress bahkan ada sebagian selai meloncat ke wajahnya.
"Caranya salah Babe. Astaga, dress-nya menjadi kotor." Samuel merebut pisau selai lalu meletakkannya. Dia mengambil tisu untuk membersihkan dress Ayu dan beralih pada wajahnya." Apa yang bisa kamu lakukan di dapur?" Tanya Samuel seraya mengusap lembut pipi Ayu yang tengah mendongak ke atas.
"Hanya membuat kopi dan teh Mas. Itupun dengan teko listrik."
"Menyiapkannya sandwich?"
"Bibik yang menyiapkan sarapan. Tidak pernah dengan roti isi karena dia terbiasa sarapan nasi." Jawabnya pelan.
"Ketika masih gadis?"
"Mama. Dia tidak membiarkan ku untuk berkerja di dapur."
"Pantas saja tanganmu terlihat kaku."
"Hm." Bolehkah?
Ayu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Samuel. Perlakuan manis itu berhasil membuat hati Samuel merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat.
"Aku tidak percaya ini." Gumam Samuel membuang tisu kotor lalu membalas pelukan Ayu.
Kepala Ayu sengaja bersandar, untuk menyembunyikan rona merah wajahnya. Terasa, jantung Samuel berpacu cepat seiring dengan dekapan tangan yang semakin erat.
"Sandwich nya tidak akan selesai kalau seperti ini Mas." Ayu hendak melepas lingkaran tangannya tapi Samuel mencegah.
"Ini momen berharga, jangan di lepas." Samuel melanjutkan memoles selai tanpa mengubah posisi Ayu yang tengah menikmati pelukan hangat di pagi hari.
"Aku belum mencuci muka Mas."
"Nanti saja." Jawab Samuel cepat.
"Ini menyusahkan." Protesnya lagi. Dengan gerakan cepat Samuel mengangkat tubuh Ayu dan mendudukkannya di atas meja marmer tersebut. Tangannya kembali di tuntun melingkar lalu Samuel melanjutkan aktivitasnya.
"Selesai, tinggal di panggang." Samuel meletakkan sandwich ke dalam mikrofon mini lalu kedua tangannya kembali membalas pelukan." Oh Bayiku. Pagi ini terasa spesial. Aku berharap kamu melakukan ini di pagi selanjutnya." Ayu tersenyum simpul mendengarnya. Tidak pernah dia melakukan adegan seperti sekarang sejauh dia hidup berumah tangga.
Dika hanya menunjukkan kemesraannya ketika dia menginginkan percintaan. Sehingga ketika dirinya melakukan kegiatan lainnya, hubungannya cenderung datar walaupun kala itu Ayu sudah sangat bahagia.
"Kamu akan mendapatkannya Mas." Jawab Ayu dengan mata mulai berkaca-kaca. Dia bukan sedang bersedih tapi merasa terharu dengan permintaan sederhana yang Samuel lontarkan." Hoaaaaammmmmmm... Aku jadi mengantuk lagi kalau seperti ini." Samuel mengakhiri pelukannya dengan kecupan singkat di bibir. Terpaksa, lingkaran tangan Ayu terlepas walaupun dia masih ingin melakukannya.
"Ingin bermalas-malasan seharian?"
"Apa maksudmu bercinta seharian? Ah tidak."
"Hehe bagaimana rasanya ya." Kekeh Samuel mengeluarkan piring sandwich dari mikrofon lalu meletakkannya di meja makan. Dia kembali pada Ayu untuk membantunya turun.
"Itu hal yang menyenangkan dan melelahkan."
"Hm Babe. Aku mencintaimu." Kedua tangan Samuel bertumpu di samping paha Ayu lalu mulai melummat bibir Ayu lembut.
__ADS_1
"Emmm.. Aku masih belajar mencintai mu."
"Iya Babe. Terimakasih, kita sarapan." Samuel mengangkat tubuh Ayu dengan posisi saling berhadapan. Kedua kaki Ayu terbuka lebar dengan kepala bertumpu pada pundak Samuel.
"Sama-sama Mas." Jawabnya seraya duduk di ikuti oleh Samuel." Ini sandwich yang ku buat." Ayu mengambil sandwich yang terlihat berantakan.
"Terlihat dari tampilannya."
"Hehe iya." Sontak Ayu mengerutkan keningnya ketika merasakan roti isi buatan. Ugh.. Terlalu banyak selai.
Tangannya meraih tisu lalu memuntahkannya. Ketika Ayu akan membuang sandwich, Samuel mengambilnya.
"Biar ku makan. Ku anggap ini sajian pertama darimu."
"Rasanya tidak seimbang Mas." Ayu memperhatikan Samuel yang tengah mengunyah.
"Iya. Terlalu banyak selai tapi cukup enak untuk pertama kali percobaan." Pujinya sambil memberikan sandwich yang lainnya pada Ayu." Ingin makan apa hari ini?" Imbuhnya menawarkan.
"Mas mau keluar?"
"Tidak. kita delivery saja."
"Em.. Apa ada perubahan pada tubuhku Mas? Mungkin sedikit lebih berisi?"
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Aku sudah makan tiga kali sehari bahkan lebih." Kasih sayangnya mirip seperti Ayah yang selalu membawakan ku oleh-oleh ketika ada urusan di luar. Tapi aku benar-benar takut tubuhku terlalu lebar.
"Ada banyak perubahan." Sontak Ayu menelan makanannya pelan." Pertama, kamu semakin cantik. Kedua, aku melihat tubuhmu malah sedikit kurus dan ketiga adalah hal yang paling ku sukai." Ayu tersenyum seraya bernafas lega." Pagi ini kamu sedikit memperlihatkan sifat manja mu. Aku berharap kamu bisa lebih terbuka, lebih terlepas agar hubungan kita semakin membaik." Pinta Samuel lirih.
"Kamu mirip seperti Ayah. Aku jadi terbawa suasana."
"Bagus Babe. Seorang Suami memang harus bisa menjadi banyak sosok. Teman, sahabat, pendengar yang baik dan sosok yang mampu mengayomi seperti Ayah. Bukankah itu wajar? Sebab ketika janji suci di ambil. Semua tanggung jawab yang harusnya berada di pundak Ayah mu beralih padaku. Seorang Ayah tidak mungkin menyuruh putrinya berkerja tidak terkecuali perkerjaan rumah. Seorang Ayah akan memenuhi kebutuhan putrinya dengan ikhlas tanpa timbal balik. Itu yang sedang ku terapkan sekarang."
"Bagaimana kamu tahu masalah itu Mas?"
"Almarhum Ayahku yang mengajarkannya."
"Aku baru tahu. Bukankah seorang Istri bertugas melayani."
"Hm melayani di atas ranjang. Bukan melakukan perkerjaan rumah termasuk memasakkan makanan. Itu perkerjaan asisten rumah tangga."
"Kalau Suaminya tidak bisa menyewa asisten rumah tangga bagaimana Mas?" Celoteh Ayu kembali memperlihatkan kecerewetannya.
"Suaminya harus berkerja ekstrak."
"Rejeki sudah ada takarannya Mas. Kalau berkerja ekstrak tapi tetap tidak mampu menyewa pembantu?"
"Suami itu yang harus mengerjakan pekerjaan rumah."
"Ya kasihan Mas. Pulang kerja lalu melakukan perkerjaan rumah."
"Perkerjaan boleh di lakukan si Istri asal ikhlas. Tapi kalau si Suami yang memerintah? Percayalah Babe, itu bukan aku."
"Karena kamu kaya." Samuel terkekeh dan di balas Ayu dengan lirikan malas." Banyak orang di luar yang serba kekurangan. Jangankan menyewa pembantu, untuk makan saja sulit." Ayu melupakan kalau lelaki di hadapannya sudah banyak menelan manis pahitnya hidup.
"Walaupun aku terlahir miskin. Aku akan melakukan hal yang sama. Aku tidak akan menyulitkan hidupmu. Meskipun aku tidak bisa membahagiakan dengan hidup berkecukupan. Setidaknya aku bisa membuat hatimu nyaman ketika kita bersama."
"Termasuk melakukan perkerjaan rumah."
"Ya tentu saja. Kau harus tahu kalau Suami mu sudah terlatih untuk hidup susah."
"Aku tidak tahu. Aku baru saja mengenalmu Mas." Jawab Ayu menggoda. Samuel menggeser kursinya sehingga keduanya duduk sejajar.
__ADS_1
"Hm tapi seperti sudah saling mengenal seribu tahun lamanya." Samuel mengangkat tubuh Ayu dan mendudukkannya di paha kanannya." Kita sudahi perdebatan pagi ini. Hartaku tidak akan habis sampai 14 keturunan sekalipun walaupun kamu ingin menyewa puluhan pembantu untuk melayani. Sekarang.." Samuel membelai pipi Ayu lembut." Aku ingin membuatmu berkeringat sebelum kita mandi bersama." Ayu meletakkan cangkir kopi yang di bawa lalu mulai fokus pada cumbuan bibir Samuel yang sudah menjelajahi leher jenjangnya.
🌹🌹🌹