
Dika hanya membolak-balikkan undangan yang baru saja di terima Tidak ada nama mempelai wanita sehingga membuatnya berfikir jika undangan tersebut hanya lelucon.
"Siapa Samuel?" Tanya Dika menatap sekertaris baru yang berdiri di hadapannya.
"Saya tidak tahu Pak. Mereka bilang beliau orang penting."
"Undangan macam apa seperti ini. Apa dia tidak mengenal mempelai wanita sampai-sampai namanya tidak di tulis." Dika beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar ruangan untuk menanyakan perihal undangan.
Semua staf mendapatkan undangan yang sama. Tanpa nama mempelai wanita dan di larang keras membawa hadiah.
"Mungkin dia investor penting Pak." Jawab salah satu staf asal.
"Untuk apa mengundang kalian? Itu sangat tidak penting." Para staf mengangguk-angguk sebab mereka juga tidak mengenal Samuel, pemilik asli perusahaan tersebut.
"Dia pemilik perusahaan." Sahut Pak Wira yang baru saja datang. Dia tidak sengaja mendengar kegaduhan akibat undangan mewah yang tersebar pagi ini.
"Eh Pak Wira. Em bukankah perusahaan ini milik Bapak?"
"Bukan. Saya sebagai Direktur utama saja. Saya juga anak buahnya dan tidak seberapa tahu identitas pemilik perusahaan ini." Dika menelan ludahnya kasar. Kenyataan itu cukup membuat perasaannya buruk.
Berarti Pak Wira bukan pemilik perusahaan ini? Sia-sia aku menikah dengan anaknya yang tidak waras itu!!
Perusahaan tempat Dika berkerja bukanlah kantor pusat sehingga sangat wajar jika Samuel jarang datang. Dia hanya berkunjung jika ada sesuatu yang mendesak sebab Dimas sudah begitu lihai menghandle semuanya.
"Sebaiknya kalian kembali berkerja. Tidak ada gunanya membahas undangan itu. Kita hanya perlu datang sesuai dengan alamat yang tertera di sana."
"Hm Pak baik." Jawabnya serentak.
Pak Wira tersenyum sumbang ke arah Dika kemudian melanjutkan langkahnya. Dika setengah mati merasa kesal pada senyuman yang di perlihatkan Pak Wira. Padahal sebelumnya Pak Wira selalu menghormatinya. Dika merasa cara pandangnya berubah drastis setelah pernikahan memalukan yang terjadi kemarin.
Sialan Tania! Awas saja nanti!!
Dika berjalan masuk ke dalam ruangannya yang terletak tidak jauh dari sana.
🌹🌹🌹🌹
"Berarti kalian berpisah?" Tanya Pak Ridwan terhantam kekecewaan ketika mendapatkan undangan pernikahan Ayunda.
"Iya Pak."
"Beruntung sekali kamu Sam." Sikap bijaksana Pak Ridwan membuatnya tersenyum teduh meskipun dia masih menginginkan Ayu menjadi menantu.
"Hm Pak. Saya minta maaf karena tidak bisa berkerja lagi di sini." Jawab Samuel tidak menunjukkan kesombongan. Dia sangat menghormati Pak Ridwan.
"Sulit mencari orang kepercayaan. Sekarang kamu malah mau risen. Tapi ya sudah. Untuk sementara biar Bapak yang mengurus anak-anak. Selamat ya. Semoga acaranya lancar dan ini menjadi pernikahan terakhir mu." Ayu tersenyum seraya mengangguk.
"Amin. Terimakasih Pak doanya."
"Kami permisi Pak." Samuel berdiri di ikuti oleh Ayu.
"Ya. Hati-hati di jalan."
Keduanya tersenyum sejenak kemudian berjalan keluar ruangan.
"Beruntungnya aku." Gumam Samuel tersenyum.
"Mereka sedikit berlebihan Mas."
"Banyak keluarga yang menginginkan mu. Itu kenapa aku harus bergerak cepat."
__ADS_1
"Kalau bukan paksaan. Aku juga tidak siap untuk menikah."
"Terima takdirmu. Kamu jadi milikku sekarang."
Baru saja Ayu tiba di area Cafe. Para pegawai berkerumun untuk memberikan selamat pada Samuel. Mereka turut berbahagia sebab selama ini Samuel adalah pengawas yang baik dan adil.
"Kalian harus datang." Ujar Samuel ramah. Ayu menoleh, memperhatikan mimik wajah Samuel yang kini memperlihatkan sebuah kesederhanaan.
Dia bisa bersikap sangat ramah padahal aku yakin kalau Mas Sam bukan orang sembarangan. Sementara Mas Dika yang baru dua tahun menjabat sebagai Direktur? Sudah berpaling dari seseorang yang menemaninya dari saat dia belum menjadi siapapun.
"Kamu punya perusahaan Mas?" Tanya Ayu ingin tahu. Samuel tersenyum tipis seraya fokus menyetir.
"Kenapa tiba-tiba bertanya itu?"
"Ingin tahu saja. Rumahmu besar sekali."
"Itu peninggalan orang tuaku. Aku hanya sedikit merenovasi agar kelihatan lebih modern."
"Tapi itu besar sekali."
"Hm itu Istana kita."
"Jangan berlebihan. Itu Istana mu." Jawab Ayu seraya memalingkan wajah.
"Berhenti menyamakan Babe."
"Aku hanya sedang berjaga-jaga agar tidak terlalu kecewa nantinya." Teriakan yang di lontarkan Dika masih melekat pada ingatan Ayu.
"Hm begitu. Kita sudah sampai." Samuel membuka sabuk pengaman miliknya juga milik Ayu. Dia cepat-cepat turun namun lagi-lagi Ayu sudah keluar lebih dulu." Bisakah kamu menunggu?" Protes Samuel merangkul pundak Ayu.
"Menunggu apa?"
"Aku punya tangan yang masih berfungsi."
Keduanya masuk ke dalam toko aksesoris untuk membeli sisir dan pengering rambut.
Pengunjung yang rata-rata seorang wanita, tentu berdecak kagum pada Samuel dengan sikap hangat yang di perlihatkan pada Ayu. Di tambah paras tampan yang di miliki semakin membuat para wanita mencoba mencuri perhatian Samuel.
Ayu sendiri malah fokus memilah-milah banyaknya sisir di hadapannya. Seharusnya dia bisa mengambil itu di kontrakan namun Samuel tidak menginginkan.
"Memilih yang seperti apa?" Tanya Samuel bingung.
"Coba rasakan Mas." Ayu mengangkat tangan kanannya lalu menyisir rambut Samuel dengan produk berbeda.
"Yang ini sakit." Tunjuknya setelah memahami.
"Aku mencari yang mirip tapi tidak ada."
"Kita cari di tempat lain."
"Malas Mas. Di sini saja." Tolak Ayu memutuskan untuk memilih sebuah sisir." Ini cukup baik." Imbuhnya memasukkan ke dalam keranjang belanja yang di bawa Samuel.
Oh Babe. Kamu acuh sekali.
Samuel menyadari akan perhatian yang terfokus padanya sementara satu-satunya wanita yang di perhatikan olehnya malah acuh.
"Mereka memperhatikan ku. Kamu tidak cemburu?" Sejak tadi Samuel ingin mendengar pengakuan dari Ayu tentang suasana sekitar.
"Kamu tampan. Itu sangat wajar Mas."
__ADS_1
"Kamu tidak cemburu?" Tanyanya mengulang.
"Tidak. Kalau Mas ingin pindah haluan silahkan." Samuel tersenyum aneh seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu kenapa kita harus menempel setiap waktu. Aku menginginkan mu sementara kamu tidak." Ayu sontak menoleh lalu tersenyum.
"Itu wajar kan."
"Hm sangat wajar."
"Ya sudah kenapa berprotes?" Ayu mengolok-olok Samuel dengan wajah jelek kemudian kembali fokus pada hairdryer yang di bawa.
"Aku terlalu bernaffsu." Ayu kembali menoleh." Aku ingin perasaan ku cepat berbalas." Imbuhnya lirih.
"Sabar Mas."
"Pasti Babe."
"Jangan mengeluh dan membuat telingaku panas."
"Hm akan ku lakukan meskipun kamu bosan."
"Aku tidak pernah bosan jika sudah menyukai sesuatu. Perkerjaan rumahmu hanya bagaimana caranya bisa menghilangkan perasaan yang mengganjal ini." Ayu meletakkan hairdryer pilihannya." Sudah Mas. Kita bayar." Imbuhnya membalas tatapan Samuel.
"Akan ku hilangkan segera." Samuel mengusap pipi Ayu sejenak lalu mengecup puncak kepalanya. Sentuhan itu cukup menggetarkan hati Ayu yang lama haus akan perhatian. Jalan fikirannya begitu luas..
"Berapa lama lagi Mas akan menatapku seperti itu?" Samuel tersenyum simpul.
"Ini saja?" Tanyanya mengangkat keranjang belanja.
"Iya."
"Hm kita bayar."
Sejak tadi tatapannya tidak berpaling padahal sangat banyak wanita cantik di sini..
Rasa percaya diri Ayu benar-benar musnah. Dia tidak menyadari betapa cantik dirinya sekarang.
Sangat wajar jika Ayu membuat Samuel begitu tergila-gila apalagi setelah mengetahui kecantikan dari dalam hatinya.
"Totalnya 567 ribu Kak." Samuel mengeluarkan kartunya untuk membayar sehingga membuat si pegawai kasir dan pegawai lainnya berdecak kagum.
Bukan hanya tampan tapi juga kaya. Beruntung sekali wanita ini..
Setelah selesai membayar, keduanya berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang. Mereka berniat mendatangi toko baju yang terletak di sisi kanan jalan.
"Pegang yang erat jangan sampai tertinggal." Ujar Samuel seraya menuntun tangan Ayu agar berpegangan pada lengannya.
"Kalau tertinggal, aku tinggal menyebrang sendiri."
"Aku tidak akan meninggalkan mu sendiri. Kamu ingat itu."
"Terdengar menyejukkan hati."
"Nanti kamu juga akan merasakannya. Love you Babe." Samuel mencium punggung tangan Ayu lalu keduanya masuk ke dalam toko baju yang terlihat ramai.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1