
Setelah memastikan Tania benar-benar tidur. Dika beranjak perlahan dari posisinya. Sebelum dia berdiri, Dika lebih dulu memeriksa Tania yang terlihat sudah tertidur pulas.
Ini saatnya...
Dengan mengendap-endap Dika duduk berjongkok lalu menarik koper uang yang di berikan Dimas tadi sore.
Sengaja dia merahasiakannya soal uang tersebut dari Tania. Dika merasa jika Tania tidak memiliki hak sedikitpun pada uang tersebut.
"Sebaiknya jatah Mama ku antarkan sekarang." Dika berdiri dengan koper di tangannya. Dia mengambil satu buah amplop coklat lalu memasukkan uang sebanyak 300 juta." Untuk berjaga-jaga kalau.." Sontak Dika menegang ketika Tania sudah duduk seraya menatapnya tajam.
"Kalau ketahuan aku?"
Semoga saja dia tidak menginginkan uang ini..
Tania beranjak lalu berjalan menghampiri Dika. Dia mengambil amplop coklat lalu menggenggamnya.
"Kenapa harus sembunyi-sembunyi sayang."
"Ini uang pribadi ku." Dika akan merebut amplop namun dengan kasar Tania memasukkannya ke dalam koper lalu menutupnya.
"Ini milik kita."
"Tidak. Ini uang yang berbeda." Jawab Dika menjelaskan.
"Ini uang ku. Aku ini Istri mu. Untuk apa kau berniat membaginya dengan Mama?" Tanya Tania kasar.
"Aku masih berkewajiban memberikannya nafkah. Ayu tidak pernah berprotes." Wajah Tania berubah geram. Dia mengangkat tangan kirinya lalu melayangkan tamparan pada pipi kiri Dika.
Plaaak!!!!
Dika tidak kalah geram. Dia membalas tamparan itu sampai tubuh Tania bergeser.
Plaaaaaakkkkkk!!
"Ayah akan marah jika dia tahu kau memperlakukan ku kasar." Dika tidak bergeming. Nafasnya terbuang kasar sebab dia masih menganggap jika jabatan perkerjaannya di atas segalanya.
"Kamu yang lebih dulu melakukannya."
"Ayah lebih percaya padaku daripada kau!!" Tania mengangkat koper tepat ke hadapan Dika." Uang apa ini?" Tanyanya kasar.
"Itu uangku. Ke sini kan. Kau akan ku berikan bagian! Aku mau membeli mobil baru." Koper kembali di letakkan. Tania mengambil amplop yang berniat di berikan Dika pada Bu Erna.
"Lalu untuk apa kamu berikan pada Mama?"
"Sisanya masih cukup."
"Daripada kau berikan pada Mama. Sebaiknya ku pakai untuk berbelanja saja."
Tania akan beranjak dengan amplop coklat di tangannya. Segera saja Dika menarik kasar lengannya sampai tubuh Tania memutar dan kembali pada posisi awal.
"Itu jatah Mama."
"Kamu sudah menikah sayang. Aku tanggung jawab mu."
__ADS_1
"Iya aku paham. Tapi Mama juga membutuhkan uang ini. Hampir satu tahun Kakakku tidak pulang. Biasanya dia yang menopang hidup Mama."
Penjelasan tersebut malah tidak membuat Tania iba. Dia malah semakin cemburu buta pada Dika yang di anggapnya lebih perhatian pada Bu Erna.
"Aku tidak perduli. Uangmu adalah uangku. Apapun yang kau lakukan harus atas persetujuan ku. Kalau kau melanggar, siap-siap saja kehilangan perkerjaan!!" Tania menampis tangan Dika lalu memasukkan amplop ke dalam tasnya.
Kenapa jadi seperti ini? Mereka sangat berbeda. Ayu selalu menyuruhku untuk memberikan uang lebih pada Mama tapi Tania? Aku merasa dia semakin terlihat tidak waras.
Baru satu hari berlalu. Tapi rentetan kejadian yang menunjukkan sikap asli Tania membuat rasa penyesalan semakin menjalar.
Seharusnya aku mengenal dia terlebih dahulu. Apa pantas? Apa sesuai harapan?
Dika baru sadar, jika Ayu hanya memiliki satu kelemahan yaitu bentuk tubuh yang menurutnya tidak sesuai. Seharusnya dia mengingat itu, sebab bertahun-tahun lamanya keduanya hidup berumah tangga.
Ayu selalu patuh meskipun sepuluh bulan terakhir, Dika kerapkali bermain hati. Dia senangtiasa berada di rumah dan hal itu menjadi memicu kebebasan Dika melakukan perselingkuhan dengan beberapa wanita.
Awalnya hanya sekedar bermain-main. Namun perangai buruk membawanya ke dalam kehidupan yang mungkin berubah 99 derajat dari ketika saat dirinya membangun biduk rumah tangga bersama Ayunda.
🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya...
Ayunda terjaga dengan wajah panik ketika dia melihat sinar matahari sudah terlihat tinggi. Cepat-cepat dia menyikap selimutnya lalu berjalan ke arah pintu teras yang sudah terbuka tirai nya.
"Kenapa aku selalu bangun kesiangan." Eluhnya tidak sadar akan guling hidup yang dua hari ini menghangatkan malamnya.
Terlihat jelas dari tempatnya berdiri, Samuel sudah berlari-lari kecil mengelilingi jalan setapak yang ada di taman. Ayu merasa sungkan juga malu karena seharusnya dia bisa bangun lebih awal.
"Semalam bukankah aku berada di sofa. Lalu.." Ayu meraba-raba dress-nya yang masih lengkap dengan baju dallamnya." Mungkin dia hanya memindahkan ku saja." Gumamnya lirih. Kakinya terayun ke arah meja untuk mengambil segelas air putih agar perasaannya tenang.
"Pagi." Tentu saja Samuel keluar dari sana dengan kaos basahnya dan wajah berkeringat.
"Em pagi juga Mas. Maaf aku..."
"Bangun kesiangan?" Ayu mengangguk pelan.
"Biasanya tidak begitu."
"Berarti kamu nyaman tinggal di sini."
"Entah nyaman atau tidak. Aku merasa aneh." Jawab Ayu lirih.
"Nanti akan terbiasa." Samuel masuk ke dalam kamar mandi lalu mengambil keranjang baju kotor dengan hanya memakai handuk melilit pinggangnya.
Ap apa dia sengaja!!!
Ayu seketika panik karena pemandangan yang menunjukkan betapa sempurnanya tubuh Samuel di tambah dengan keringat yang semakin menambah kesan seksi.
"Bibik akan cuci baju. Jadi aku harus meletakkan keranjang ini di luar. Apa tidak sebaiknya kamu mandi dulu lalu mengganti baju?"
"Mas saja yang mandi duluan.".
"Aku masih berkeringat Babe." Jawabnya seraya berjalan keluar lalu kembali masuk.
__ADS_1
"Paling tidak pakailah baju Mas."
"Nanti kotor lagi. Apa kamu tidak melihatnya."
Sudah bisa di pastikan jika Samuel sengaja melakukannya agar Ayu bisa lebih cepat menyukainya. Tidak dapat di pungkiri jika semalam ingin sekali dia melakukan sebuah percintaan panas.
Gaun yang di pakai Ayu tersingkap seluruhnya sehingga kaki lembutnya terselip di antara kaki panjang Samuel. Belum lagi ukuran besar benda kenyal miliknya, semakin mengoyak iman dan naffsu Samuel yang sudah lama tidak bersentuhan dengan wanita manapun.
"Iya juga Mas." Ayu menunduk untuk mengindari fikiran kotornya. Tangannya kembali meraih teko untuk mengisi gelas dengan air putih.
"Aku juga mau." Pinta Samuel berjalan mendekat. Kini keduanya berdiri sejajar dengan jarak berdekatan.
"Minum Mas." Ayu menggeser gelas.
"Minumlah dulu."
"Aku sudah."
"Kenapa ambil lagi?"
"Ingin minum lagi." Samuel terkekeh karena kejahilan kembali melintas di otaknya.
"Akan ku berikan sebanyak kamu ingin menambah lagi." Ayu menoleh cepat seraya melirik malas.
"Maksudku minum Mas." Tanya Ayu memastikan.
"Iya minum. Memang kita sedang membahas minum. Apa kamu memikirkan sesuatu yang lain."
"Tidak." Ayu kembali menegakkan pandangannya.
"Ahhh nikmat sekali Babe."
Ayu menelan salivanya kasar. Suara berat Samuel semakin membuat fikirannya melayang entah sejauh apa.
"Aku mau lagi. Tolong berikan dan percepat gerakkannya." Imbuh Samuel meletakkan gelas kosong.
"Ambil sendiri Mas." Tolak Ayu gugup. Meski rasa belum ada tapi tetap saja dia hanya seorang manusia yang pernah khilaf.
"Kamu Istriku bukan."
"Bukan!" Jawabnya cepat.
"Aku menganggap kamu Istriku. Ayolah Babe, cepat. Aku sudah tidak tahan." Ayu tersenyum aneh seraya menggeser tubuhnya menjauh.
"Mas bicara apa sih?" Protes Ayu lagi.
"Aku ingin minum."
"Tapi kenapa seperti itu cara bicaranya!!"
"Apa yang salah Babe?"
"Tidak ada! Aku mau mandi dulu. Aku tidak mau melayani sebelum kita resmi menikah! Ingat itu!" Tunjuk Ayu pada Samuel. Dia bergegas pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹