Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Mahar kesetiaan


__ADS_3

Ayu menunduk, mencengkram erat tangan Samuel dan berusaha untuk tidak mendengarkan ketika doa mulai di panjatkan sebelum janji suci di ambil.


Aku menikah lagi.. Hiks...


Bibik Lena tidak tinggal diam, dia mengusap lembut punggung Ayu berharap perasaannya membaik.


Suasana seperti ini membuatku ingin menangis...


"Hiks.. Hiks... Hiks..." Sontak Paman Ano melepaskan jabatan tangan Samuel lalu menatap ke arah Ayu.


"Apa yang memberatkan mu Nak." Tanyanya lirih. Sejak dulu dia sudah menganggap Ayu sebagai anaknya.


Ayolah Babe. Tinggal sedikit lagi. Kenapa kamu berulah..


"Entahlah Paman."


"Pernikahannya sebaiknya di tunda saja Nak Sam."


Sontak Sam menghembuskan nafas berat. Tentu saja dia tidak setuju dan menginginkan Ayu segera menjadi miliknya.


Otaknya berfikir cepat untuk mendapatkan ide agar pernikahan bisa di langsungkan. Tubuhnya di miringkan lalu mulai membisikkan sebuah ancaman.


"Aku akan mengatakan jika kamu sudah mengandung anakku." Ayu melebarkan matanya seraya menghembuskan nafas kasar.


"Mereka tidak akan percaya." Jawab Ayu berbisik.


"Kita pergi ke dokter untuk memeriksa. Aku yakin benih itu sudah tumbuh." Samuel berdiri dan berusaha mengajak Ayu pergi.


Bagaimana jika itu benar?


"Ayo. Tidak masalah jika pernikahan ini di tunda daripada kamu merasa bimbang." Tantang Samuel tidak sepenuhnya. Dia hanya berusaha menggertak dan caranya berhasil.


"Aku.. Aku tidak bimbang Mas." Ayu meraih tisu dan membersihkan sudut matanya. Untung sekali makeup yang di kenakan tahan terhadap air sehingga riasannya tidak berubah.


"Lalu bagaimana Babe?"


"Aku hanya ingat pada kedua orang tuaku." Ayu menarik jemari Samuel agar kembali duduk. Paman Ano tersenyum begitupun Bibik Lena.


"Kan ada kami Ayu." Ayu hanya membalas dengan senyuman tipis." Lalu bagaimana? Di lanjutkan atau tidak?" Imbuhnya menunggu persetujuan.


"Lanjutkan Paman."


"Hm baik."


Tangan Samuel kembali di jabat dan pengambilan janji suci pun di laksanakan. Awalnya semua berjalan tenang dan hening. Namun ketika Samuel menyebut jumlah mahar, sontak semua tamu yang ada di sana melongok tidak terkecuali Ayu.


Meski demikian, para saksi pernikahan sudah mengucapkan kata syah sehingga mulai detik ini keduanya sudah menjadi sepasang pasutri.


"Maaf Mas." Ucap Ayu pelan.


"Hm ada apa?" Jawab Samuel seraya membubuhkan tanda tangan.

__ADS_1


"Maharnya terlalu banyak."


"Bukankah kamu meminta itu?" Ayu tersenyum aneh saat terlintas ucapannya kemarin.


"Bukan seperti itu maksudku Mas."


"Seorang lelaki tidak akan menjadi incaran para wanita jika tanpa harta dan kekuasaan. Bukan begitu Bapak-bapak." Para tamu yang mendengar itu manggut-manggut dan membenarkan ucapan Samuel." Mahar untukmu adalah seluruh harta yang ku miliki. Termasuk aset perusahaan dan rumah yang kita tempati." Rasanya Ayu tidak percaya jika ucapannya kemarin di artikan seperti itu.


"Mana bisa aku menguasai itu Mas."


"Kita bicarakan itu nanti Babe. Cepat tanda tangan agar kita bisa pergi honeymoon." Sontak suasana berubah riuh. Samuel tanpa rasa malu mengucapkan ketidaksabaran. Padahal perkataan itu hanya sebagai pelampiasan perasaan bahagianya.


Daripada banyak bicara, Ayu menandatangani surat-surat bahkan mengabadikan momen dengan beberapa gambar. Walau setengah hati, namun dia mencoba memperlihatkan senyum di hadapan para tamu yang hadir di sana.


.


.


.


"Titip Ayu ya Nak Sam." Ucap Bibik Lena.


"Iya Bik. Saya akan menjaganya. Em saya juga akan berkunjung ke sana kalau waktunya memungkinkan." Paman Ano tersenyum. Dia juga merasa jika Samuel lelaki yang bertanggung jawab apalagi mengingat mahar yang di sebutkan.


"Ya sudah kita pamit, kasihan Cika di rumah sendirian." Samuel berdiri di ikuti oleh Ayu. Keduanya mencium punggung tangan Bibik Lena dan Paman Ano secara bergantian.


"Jangan lupa mengajak Cika Minggu depan ya Bik."


"Sebenarnya kita bisa datang sendiri Nak Sam."


"Saya siap melayani Pak, Bu." Sahut Dimas tersenyum.


"Ya sudah. Jaga diri baik-baik. Yang nurut sama Suami. Jangan memikirkan yang dahulu. Semua manusia juga pernah salah memilih. Bibik pulang yah. Kalau ada apa-apa kabari." Ucapnya seraya memeluk dan memberikan ciuman pada pipi Ayu.


"Aku akan menghubungi nomer Bibik. Hati-hati di jalan ya."


"Iya Nduk." Ayu menatap kepergian mobil Dimas hingga tidak terlihat.


Ada helaan nafas panjang sebab mulai hari ini, dia bukan lagi menjadi Nyonya Dika, melainkan Nyonya Samuel.


Dia Suami ku.


"Kenapa tadi kamu bimbang?" Tanya Samuel ingin tahu.


"Entahlah Mas." Jawaban lembut yang di dengar membuat senyum Samuel kian menggembang.


"Kita masuk sebentar. Ada beberapa hal yang harus kamu tanda tangani."


"Perjanjian kontrak nikah?" Jawab Ayu menebak.


"Bukan Babe." Ayu melihat seorang lelaki paruh baya sudah duduk di ruang tamu." Dia Pak Toni, notaris kepercayaan ku." Walaupun bingung, Ayu tetap duduk seraya melihat sebuah map di atas meja.

__ADS_1


"Silakan Nona." Ucapnya menyodorkan selembar kertas. Ayu tidak langsung menandatanganinya dan membacanya terlebih dahulu.


Surat pengalihan hak kuasa?


"Tidak Mas. Maaf. Aku tidak mau." Tolak Ayu meletakkan kertasnya kembali.


"Itu mahar mu dan wajib aku bayar."


"Aku tidak mengerti hal seperti itu. Bagaimana Mas Sam membalikkan kuasa atas perusahaan."


"Hanya pengalihan hak kuasa Babe. Kamu tidak perlu mengelola perusahaan."


"Tidak. Nanti bangkrut." Samuel terkekeh begitupun Pak Toni.


"Ada aku yang siap membantu. Yang penting, terima mahar ini agar semuanya selesai."


"Kalau aku membawanya kabur bagaimana?"


"Terserah. Asal kamu setia."


"Kalau kabur berarti aku tidak setia Mas."


"Hm bawa semuanya. Aku akan bunuh diri karena kecewa. Cepat tanda tangan." Samuel memberikan sebuah bulpen.


"Kok bunuh diri Mas?"


"Kalau kamu pergi perasaan ku juga akan pergi. Aku tidak mau hidup tanpa rasa, itu memuakkan!" Ayu terdiam sesaat, dia membaca rasa lelah yang di tunjukkan pada sorot mata Samuel." Sudah ku katakan jika semua harta ini tidak penting! Itu kenapa aku memberikan semuanya padamu." Dengan gerakan cepat Ayu membubuhkan tanda tangan. Bukan karena berniat membawanya kabur. Tapi dia takut berdosa karena menolak keinginan pertama Suaminya.


"Sudah Mas. Tapi aku tidak mau di repot kan dengan masalah perusahaan."


"Itu tidak akan terjadi. Semua perusahaannya sudah mempunyai orang kepercayaan masing-masing."


"Semua? Berapa jumlahnya?"


"Empat di Indonesia dan Tujuh lainnya tersebar di beberapa negara Nona." Sahut Pak Toni seraya memasukkan map nya kembali.


"Itu menakjubkan." Gumam Ayu pelan. Dia melirik ke arah Samuel dengan mimik wajah tidak percaya.


"Hm Nona. Anda beruntung menikah dengan lelaki hebat. Saya permisi Tuan, Nona, permisi." Setelah bersalaman, Pak Toni melangkah keluar rumah.


"Apa itu benar Mas?" Tanya Ayu ingin tahu.


"Entahlah Babe. Aku tidak ingat. Ayo pergi." Samuel berdiri seraya mengulurkan tangannya.


"Kemana lagi?" Ayu menyambut uluran tangan dan menggenggamnya erat.


"Menghabiskan siang pertama di tempat yang sudah ku siapkan." Tanpa berprotes Ayu mengikuti perintah Samuel walaupun hatinya masih belum sepenuhnya percaya akan kehidupan pernikahan manis yang Samuel janjikan padanya.


Tidak perlu terlalu Manis Mas. Asal kamu menerima ku apa adanya dan setia. Itu sudah lebih dari cukup..


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2