
Ines memasang senyuman manis ketika pintu lift terbuka dan memperlihatkan Samuel juga Ayu. Sungguh gila sebab sampai saat ini Ines belum juga berhenti mengejar Samuel karena menurutnya Samuel pantas untuk di perjuangkan.
Segala cara sudah di lakukan untuk mendapatkan info soal Samuel tapi itu semua tidak berhasil. Para pegawai apartemen tidak menahu soal biodata Samuel dan hanya sekedar mengetahui soal namanya saja.
Ayu mengganti posisi tubuhnya agar Ines tidak berdiri berdekatan dengan Samuel. Dia tidak sanggup berbuat apapun sebab Ines memiliki hak untuk memakai lift tersebut.
"Takut sekali?" Ujar Ines tersenyum simpul sesekali melirik ke arah Samuel yang memperlihatkan mimik wajah biasa saja.
Setelah ini kita pulang dan tidak harus bertemu dengannya lagi.
Ayu tidak merespon, dia hanya terdiam seakan tidak mendengar sapaan ketus dari Ines barusan.
"Kalau terlalu takut, itu berarti kamu tidak percaya diri bersanding dengannya hahahaha. Memang seharusnya Samuel mendapatkan wanita yang lebih baik daripada kamu." Imbuh Ines sudah hilang kewarasannya. Dia berusaha memicu pertengkaran dan berharap Samuel meninggalkan Ayu yang menurutnya tidak serasi.
Ines menganggap jika dirinya jauh lebih baik dari pada Ayu mengingat penampilan sederhana yang Ayu suguhkan.
"Fakta menunjukkan semuanya." Jawab Ayu pelan.
"Dia mungkin sedang salah memilih."
"Kenapa kamu mengurusi hidup seseorang?"
"Aku yang lebih dulu mengenalnya." Jawab Ines mulai tersulut kecemburuan. Apalagi sejak awal Samuel sempat menjadi targetnya karena paras tampannya.
"Seharusnya kamu berkaca. Sifat mu sekarang menunjukkan betapa murahnya harga dirimu. Itu kenapa dia tidak memilihmu."
Ines memutar tubuhnya dan hendak meraih lengan Samuel dari belakang tubuh Ayu. Tapi dengan cepat Ayu memegang erat pergelangan tangan Ines.
"Aku sudah pernah bertemu makhluk sejenis mu." Ines menyeringai, mencoba terlepas dari genggaman tangan Ayu yang meremasnya erat." Kau mau aku mematahkan tangan ini!" Ines masih saja menatap Samuel yang seakan tidak melihat kejadian di hadapannya.
"Lihatlah Sam. Berapa kasarnya Istri mu." Teriak Ines seraya menarik tangannya yang mulai terasa nyeri.
"Kalau kamu seorang lelaki, mungkin ini akan jadi urusan ku. Tapi sayangnya kau wanita. Jadi, biarkan Istriku yang mengatasinya." Sesuai tebakan. Samuel enggan menyakiti wanita apalagi sampai berbuat kasar. Itu kenapa dia selalu saja diam ketika berhadapan dengan Ines beberapa kali.
"Ach!!!" Ayu menghempaskan tubuh Ines sampai membentur dinding lift.
"Lakukan lagi jika kau ingin pergelangan mu benar-benar patah!!" Ancam Ayu menunjuk kasar.
"Kau akan menyesal Sam!!"
"Kau harus tahu jika dia adalah wanita yang terbaik dari yang terbaik."
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Mereka keluar dari lift begitupun Ines yang memang akan berangkat untuk berkerja.
Tatapannya tajam ke arah Ayu sambil sesekali menyeringai menahan nyeri pada pergelangan tangannya.
"Mana mungkin lelaki normal bisa menolak pesona ku! Aku yakin suatu saat nanti Samuel akan berpindah menyukai ku!!" Teriak Ines geram seakan harga diri tidaklah lagi penting. Ambisinya menjadi Istri seorang lelaki kaya, membuatnya selalu bersikap bodoh seperti sekarang.
Setibanya di dalam mobil, Ayu menghela nafas panjang seraya menatap ke lobby apartemen. Ines masih saja menatapnya tajam seolah ingin memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Sangat banyak wanita semacam itu di dunia ini." Ujar Samuel mulai menyetir.
"Aku sudah tahu Bee. Aku bahkan pernah melihat mereka bermesraan di dalam rumah." Ayu mengingat ketika mengenal Tania untuk pertama kalinya." Mereka cantik tapi tidak pandai mencari pasangan." Imbuhnya pelan.
"Perkerjaan mereka memang seperti itu. Aku berharap kamu bisa selalu bersikap tegas seperti tadi."
"Tidak akan ku biarkan ada celah. Kecuali kalau kamu yang membuat celah itu sendiri. Aku tidak mau mempertahankan seseorang yang tidak menginginkan kehadiran ku."
Ayu kembali di liputi kekhawatiran setelah menerima kenyataan banyaknya makhluk indah yang menginginkan berada di posisinya sekarang.
Apalagi Mas Sam tampan dan kaya. Sepertinya akan banyak wanita semacam itu.
"Itu tidak mungkin ku lakukan."
"Mereka indah Bee." Jawab Ayu cepat. Kepercayaan dirinya kembali luntur sehingga Samuel harus lebih sabar lagi untuk menanggapi keputusasaan Ayu.
"Tidak ada yang bisa mengungguli keindahan ketika kamu berkeringat. Aku ingin menikmati itu sepanjang waktu."
"Kamu berusaha menghibur ku Bee?"
"Aku berusaha memperlihatkan kenyataan Babe. Kamu lebih cantik daripada wanita-wanita munafik itu. Secuil kebaikan mu pun belum tentu bisa mereka miliki." Puji Samuel seraya meraih jemari Ayu lalu menggenggamnya.
"Kamu terlalu melebih-lebihkan Bee."
"Lebih atau tidak. Itu yang ku nilai darimu."
Ayu hanya mengangguk seraya menatap ke luar kaca jendela. Dia sama sekali tidak menginginkan takdir yang terlalu indah seperti apa yang di suguhkan Samuel.
Aku hanya takut ini cepat berakhir.
Tentu saja terbesit ketakutan. Apalagi Ayu pernah mengalami kegagalan rumah tangganya. Hal itu semakin menambah ketakutannya akan kebahagiaan yang mungkin akan datang dan pergi dalam waktu sekejap.
.
.
.
Beberapa saat kemudian. Mobil Samuel sudah terparkir di bagasi rumah. Ayu turun dan tatapan langsung terfokus pada motor matik butut miliknya. Terlihat mengkilap dan lebih baik dari saat dia memakainya dulu.
Langkahnya terayun mendekat. Mengusap body motor yang tidak terdapat debu sedikitpun walaupun sudah sejak lama Ayu tidak memakainya.
"Motor itu akan di rawat dengan baik di sini." Ujar Samuel sudah berdiri di samping Ayu.
"Satu-satunya harta dari hasil kerja kerasku. Aku membelinya dengan cara kredit. Itu kenapa aku tidak ingin menjualnya apalagi membuangnya." Setidaknya aku masih memiliki kendaraan ketika Mas Samuel.. Ah apa yang ku fikirkan? Gara-gara wanita itu, fikiranku menjadi tidak berarah. Tapi aku benar-benar serius. Walaupun harta Mas Sam sudah berpindah tangan, namun jika dia berkhianat, aku tidak mau menyentuh harta itu sedikit pun!!
Tepukan tangan Samuel membuyarkan lamunan Ayu. Dia tersenyum aneh lalu mengikuti langkah Samuel yang menggiringnya masuk ke dalam rumah.
Ayu kembali di buat takjub dengan keberadaan lift di sana. Beberapa sudut rumah juga di renovasi untuk menyesuaikan lift yang terpasang.
__ADS_1
Aku asal bicara tapi dia mengabulkannya.
"Bagaimana Babe?" Tanya Samuel menuntut pendapat.
"Menakjubkan. Mereka menyelesaikan ini dalam beberapa hari?" Jawab Ayu berdecak.
"Selamat datang. Silahkan di minum Non." Sahut Bik Ijah menimpali. Di tangannya membawa nampan berisi sirup dingin.
"Terimakasih Bik." Walaupun Ayu tidak seberapa haus. Dia tetap meminum sirup tersebut.
"Sama-sama Non. Mau di masakan apa untuk makan siang?"
"Terserah saja Bik." Ayu meletakkan gelas kosong di atas nampan.
"Ya sudah. Em Tuan tidak minum?" Ujar Bik Ijah menawarkan.
"Tidak Bik. Ayo kita coba Babe." Setelah melemparkan senyum. Ayu di giring masuk ke dalam lift.
Karena jarak yang hanya satu lantai, membuat keduanya sudah tiba di lantai dua dalam beberapa detik. Ayu terkekeh sebab menganggap itu perkerjaan konyol.
"Ini terlalu singkat Bee." Ujar Ayu menghentikan gelak tawanya.
"Kenapa tertawa? Bukankah ini keinginan mu."
"Aku asal bicara."
"Tapi ini baik di pakai ketika kamu hamil nanti."
"Aku berharap itu terjadi dalam waktu dekat."
"Itu akan terjadi Babe. Kamu harus yakin."
Ayu tersenyum ketika keduanya sudah tiba di dalam kamar yang terlihat masih terawat. Segera saja Samuel mengatur kunci sensor pada pintu untuk melindungi privasinya.
"Tempelkan telapak tanganmu juga." Ayu menempelkan telapak tangannya. Setelah itu Samuel mengaktifkan sensor agar hanya Ayu dan Samuel yang bisa masuk ke dalam kamar.
"Sudah percaya padaku Bee?" Ayu duduk lemah di sofa setelah meletakkan tas kecilnya.
"Aku sudah memberikan semuanya. Sekarang tergantung kamu. Ingin tetap tinggal atau masih berniat kabur?" Samuel duduk di sisi Ayu lalu menyandarkan punggungnya seraya merangkul kedua pundak Ayu erat.
"Aku tidak akan kemana-mana selama hanya aku yang menjadi ratu di sini."
"Kamu memang satu-satunya." Jemari Samuel mulai bermain lembut di lengan Ayu.
🌹🌹🌹
Maaf mungkin untuk part ini tidak seberapa terlihat menarik🤣Aku berusaha update meskipun kondisi tubuhku tidak memungkinkan.
Harap maklum ya teman-teman 🥰
__ADS_1
Tetap ikuti kelanjutan ceritanya..
Terimakasih atas dukungannya 😁🙏