
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alan berjalan masuk ke ruangan Dika yang terlihat tengah asyik menelfon seseorang. Segera saja Dika mengakhiri panggilannya ketika menyadari keberadaan Alan di sana.
"Kau kenapa Kak?" Tanya Dika saat tahu keadaan Alan yang berantakan.
"Gila! Ini sangat gila!! Aku tidak tahu kalau Dimas adalah orang suruhan Samuel!" Teriak Alan geram. Dia meletakkan copy an surat perjanjian kontrak. Dika mengambil map lalu membaca isi perjanjian dengan teliti.
"Konyol. Perjanjian macam apa ini?"
"Dia menjebak ku!"
"Maksudmu perusahaan ini berdiri karena saham yang di tanam Samuel?" Alan mengangguk seraya mencengkram erat kepalanya yang terasa mendidih." Ah mengesalkan! Lelaki kaya itu selalu memanfaaatkan kekuasaannya untuk menjatuhkan kita!!" Kegilaan yang sama membuat Dika tidak menyalahkan perbuatan Alan.
"Kalau tahu begini. Aku tidak akan mau berkerja sama dengannya. Ku fikir perusahaan itu milik Dimas."
"Dimas itu kaki tangannya. Perusahaan tempatku berkerja juga milik Samuel bahkan sudah berpindah tangan ke Ayu." Alan menegakkan pandangannya ke arah Dika.
"Berpindah?"
"Perusahaan itu milik Ayu. Lelaki itu sudah membalikkan surat kuasa atas namanya." Alan membuang nafas kasar. Rasa cemburu membakar akal sehatnya. Dia bukan sepenuhnya marah karena perusahaan. Namun Alan lebih merasa kesal ketika menyadari Ayu akan semakin sulit di dapatkan.
"Aku akan semakin sulit mendekatinya."
"Siapa?"
"Ayu."
"Dia itu mantan Istri ku!"
"Lalu kenapa? Kalau aku bisa mendapatkannya. Aku akan menikahinya."
"Kalaupun mereka berpisah, Ayu akan memilih aku daripada kau! Dia itu cinta pertamaku!" Dika merasa jika perasaannya pada Ayu belum bergeser. Walaupun dia beberapa kali tertarik dengan sosok lain. Tapi rasa cemburu tetap saja terasa ketika mendengar seorang lelaki lain menginginkan Ayu.
"Mana mungkin! Kau tidak becus menjaganya! Kau lebih memilih wanita buruk rupa itu daripada Ayu! Otakmu benar-benar tidak waras!" Menunjuk samping kepalanya sendiri.
"Dulu dia itu cantik."
"Kau tahu apa soal kecantikan. Ayu itu satu-satunya wanita yang cantik sempurna. Semua yang ada di tubuhnya sangat sempurna."
"Berhenti memujinya. Dia milikku!"
"Agh Sial!!" Umpat Alan mengemasi map lalu keluar dari ruangan Dika. Dia menginginkan Dika bisa menjadi tempat keluh kesahnya tapi ternyata Dika malah mengajaknya berdebat.
"Enak saja mau memiliki Ayu." Gumam Dika bersandar lemah pada kursinya. Ingatan soal Ayu kembali melintas dan tanpa terasa bibirnya tersungging dengan sendirinya.
__ADS_1
Dika masih saja mengangumi sosok tersebut. Penghuni pertama yang tinggal di hati. Wanita yang sampai sekarang di sebutnya paling cantik. Terbesit sedikit harapan, kalau seandainya dia di berikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Aku pasti mau. Kau tidak perlu hidup bersama lelaki itu." Ucap Dika lirih seakan tengah berbicara pada dirinya sendiri.
🌹🌹🌹
Dimas menghembuskan nafas berat mendengar keinginan Samuel kali ini. Untuk kedua kalinya dia tidak melakukan permintaan tersebut tanpa berprotes sebab perintah kali ini bersangkutan dengan nyawa manusia.
"Aku akan menanggung semua biaya hidup Ibunya tapi habisi kedua anaknya! Aku muak melihat mereka terus saja menjadi bayang-bayang kehidupan kami!" Imbuh Samuel menimpali. Berharap Dimas bergegas berdiri untuk memenuhi titahnya.
"Saya mohon fikirkan lagi Tuan. Saya tidak ingin Tuan menjadi lupa diri sampai melupakan pemilik nyawa manusia yang sebenarnya." Sudah dua kali Dimas melontarkan penolakan ketika insting pembunuh Samuel bergejolak.
Perintah pertama di berikan beberapa tahun silam ketika dia menginginkan nyawa dari selingkuhan mantan Istrinya. Dimas merajuknya berhari-hari tanpa lelah. Memotivasi Samuel dengan hal-hal positif daripada harus melakukan perbuatan menyimpang yang nantinya akan menjadi candu.
"Kau lihat! Dia mau menyentuh Istriku! Menyentuh hei Dimas! Menurutmu aku bisa ikhlas melihat itu!!" Dimas melirik ketika pintu lift terbuka. Ayu keluar dari sana seraya memberi isyarat pada Dimas untuk tetap diam.
Semoga Nona Ayu bisa mencegahnya. Aku tidak ingin Tuanku menjadi pembunuh..
"Saya yakin Tuan bisa menjaga Nona Ayu."
"Bibirnya hampir tersentuh wajahnya kalau aku tidak bertindak cepat! Pokoknya aku ingin mereka mati! Aku tidak mau melihat mereka!!" Sontak Samuel menoleh ketika Ayu tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Nyawa hanya milik Tuhan. Aku tidak ingin kamu bermain-main dengan nyawa manusia."
"Aku tidak mengantuk Bee. Kamu memaksaku tidur agar kamu bisa berbicara soal rencana ini?"
"Bukan begitu."
"Aku tidak mau memiliki Suami pembunuh." Ucap Ayu tegas." Tidak seharusnya kamu memanfaatkan kekuasaan untuk melakukan sesuatu di luar batas." Samuel bersandar lemah seraya menatap langit-langit ruang tamu.
"Kamu ketakutan tadi. Bagaimana menurutmu perasaan ku sekarang." Perasaan Samuel seakan terhantam benda tumpul ketika kejadian tadi melintas lagi dan lagi.
"Aku hanya terkejut Bee."
"Aku saja kesal ketika ada seseorang memandangi mu apalagi dia mencoba menyentuh mu."
"Aku yakin kamu menjaga ku dengan sangat baik."
"Membunuh adalah cara ampuh agar mereka tidak bisa berinteraksi denganmu."
"Akan lebih menyakitkan jika kamu membunuh melalui batin mereka." Jawab Ayu seraya memegang lembut punggung tangan Samuel.
"Apa maksudmu?" Samuel menjadi bersemangat lalu duduk tegak menatap Ayu.
__ADS_1
"Mereka akan sakit hati ketika melihat kita berbahagia. Biarkan mereka berada di sekitar kita. Agar mereka bisa merasakan kesakitan yang sesungguhnya." Tangan Ayu terangkat lalu mengusap pipi Samuel lembut." Tugasmu hanya menjagaku. Jangan biarkan mereka mendekat tapi kamu harus pastikan mereka melihat kebahagiaan kita dari jauh." Seketika sebuah senyuman membingkai. Samuel memahami arti dari kata-kata Ayu." Kamu sangat baik Bee. Jangan mengotori tanganmu. Biarkan itu menjadi tugas Tuhan. Karma darinya akan lebih menyakitkan. Tidak perlu susah-susah kamu membunuh. Mereka akan terbunuh dengan sendirinya, tenggelam dalam dosa yang mereka ciptakan sendiri." Dimas mengangguk-angguk. Merasa kagum dengan luasnya hati Istri kedua dari Tuannya.
"Tuhan tidak akan memisahkan kita." Samuel menyerbu Ayu dengan pelukan.
"Syukurlah." Gumam Dimas bisa bernafas lega. Ayu lebih bisa meluluhkan hati Samuel daripada dirinya." Apa perlu saya mencabut sahamnya sekarang Tuan." Tanya Dimas sebelum dirinya undur diri.
"Biarkan dia yang menyerahkannya padaku."
"Itu hal yang mustahil. Pak Alan tidak akan mau melakukannya."
"Ikuti permainannya. Biarkan dia menjadi lelaki tidak tahu malu jika masih ada niat untuk mendekati Istriku."
"Cabut saja Dimas." Pinta Ayu cepat. Tatapan keduanya langsung mengarah pada Ayu." Tidak ada gunanya memberi kesempatan pada orang yang tidak tahu terimakasih." Imbuhnya lirih. Sesungguhnya Ayu merasa muak setelah dengan jelas Alan mencoba menyentuhnya." Kembalikan perusahaannya dalam posisi semula. Jangan terlibat dengan mereka lagi." Dimas mengangguk seraya tersenyum.
"Bagaimana Tuan."
"Lakukan sesuai titahnya. Cabut saham tanpa menyentuh perusahaannya sedikitpun."
"Gudangnya Tuan."
"Terapkan sewa seperti harga awal."
"Baik Tuan siap. Saya permisi. Mari Nona Ayu." Samuel mengantarkan kepergian Dimas untuk membukakan pintu karena sensor sidik jari masih terpasang.
Setelah menutup pintu, Samuel duduk di posisi awal tepatnya di samping Ayu.
"Maaf aku lengah." Ucap Samuel lirih.
"Aku hanya butuh sedikit tidur untuk melupakan semuanya." Bukan tanpa alasan Samuel merasa begitu bersalah. Lengan Ayu terlihat memar setelah kejadian tadi. Itu karena lengannya sempat membentur kursi ketika Alan menariknya dengan tiba-tiba.
Rasanya nyeri. Tapi kalau aku mengeluh. Mas Sam akan kembali menyimpan dendam.
"Biar ku kompres pakai air hangat lagi."
"Tadi sudah." Ayu duduk di pangkuan Samuel dengan kedua kaki terbuka. Dia bersandar lemah di pundak tegapnya seraya melingkarkan kedua tangannya lembut." Aku semakin merasa lemah padahal tinggal berjalan ke arah lift. Itu karena kamu selalu mengangkat tubuhku tanpa ku minta. Sekarang aku memintanya Bee." Samuel berdiri seraya tersenyum.
"Kamu tidak lemah, kamu kuat."
"Kamu yang kuat karena bisa mengangkat tubuh berlemak ku." Jawab Ayu ingin mencairkan suasana meskipun kejadian tadi sedikit meninggalkan trauma.
Apa spesialnya hidupku sampai-sampai Tuhan menghadirkan mereka yang terlalu gila dalam mencintai. Ya Tuhan nyeri sekali. Apa lenganku patah?
🌹🌹🌹
__ADS_1
🌹🌹🌹