Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Welcome little angel


__ADS_3

Malam ini Ayu tidur dengan gelisah. Tiba-tiba saja perutnya merasa mulas padahal kelahiran masih di prediksi dua Minggu lagi.


Sambil mendesis maniknya menatap Samuel yang tengah tertidur pulas. Hari ini Ayu menyibukkannya dengan berbagai pemintaan yang sedikit gila sampai-sampai Samuel harus bolak-balik keluar rumah untuk memenuhinya.


Ahh sakit sekali...


Eluh Ayu mencoba bangun sambil mengusap-usap perutnya. Tidak ada gerakan seperti biasanya padahal baru saja Ayu merasakan gerakan cukup keras di pangkal perut.


Aku harus tenang. Mungkin ini hanya kram saja..


Ayu sering merasakan kontraksi pada perutnya. Beberapa kali dia datang ke rumah sakit namun ternyata itu hanya kram perut yang sering di alami wanita hamil.


Tangannya meraih gelas air putih lalu meminumnya lagi dan lagi. Tapi rasa sakit pada perutnya tidak berkurang bahkan semakin sering datang.


"Kata dokter ada tanda-tanda nya. Tapi kenapa langsung sesakit ini." Eluh Ayu berusaha meminum air putih lagi. Tangannya bergetar hebat sehingga tanpa sengaja gelas terlepas dan membentur lantai marmer.


Pyaaaaaaarrrrrrrrrrrr...


"Sakit Bee." Sontak Samuel terbangun dengan raut wajah panik. Melihat keadaan Ayu yang tengah merintih kesakitan.


"Apa yang terjadi?"


"Sepertinya sudah waktunya." Jawab Ayu menunjuk dress yang sudah basah karena air ketuban.


"Astaga sebentar."


Cepat-cepat Samuel bangun lalu mengambil dress yang lebih sopan. Dia melepaskan baju haram milik Ayu dan menggantinya.


"Cepat Bee. Sakit sekali." Eluh Ayu lagi.


"Sabar Babe." Samuel mengambil ponsel, kunci mobil dan dompet lalu mengantonginya. Tidak lupa dia mengenakan kaos sembarangan lalu mengangkat tubuh Ayu.


Cukup terasa berat, namun Samuel tidak merasakannya ketika melihat air mata mulai keluar dari sudut pipi Ayu. Dia tahu jika rasa sakit yang Ayu rasakan jauh lebih besar daripada hanya sekedar mengangkat beban tubuh.


.


.


.


Singkat waktu. Setibanya di rumah sakit, Ayu segera di tangani. Dokter merasa kagum pada pembukaan jalan lahir yang menurutnya sangat cepat.


Namun lain hal dengan Samuel. Setengah mati dia merasa kasihan pada Ayu sampai-sampai rasa sakit itu ikut dia rasakan.


"Tindakan operasi saja Dok." Ujar Samuel ingin segera mengakhiri kesakitan Ayu.


"Jangan Dok. Saya mau lahir normal." Sahut Ayu cepat.


"Aku tidak tega melihat mu Babe. Sekali saja jangan menolak."


"Tidak Bee. Aku ingin merasakannya."


"Tapi..."


"Nona Ayu sudah akan melahirkan Tuan. Tolong siapkan peralatannya." Pinta Dokter pada perawat.


Tidak ada yang bisa Samuel lakukan kecuali berdoa meski hatinya ikut tersayat ketika melihat Ayu menangis dengan peluh dan keringat.

__ADS_1


Rasanya sungguh luar biasa. Melihat kesakitan seorang wanita hanya untuk melahirkan satu kehidupan. Hal itu semakin membuat perasaan Samuel menguat sampai-sampai air mata ikut menetes.


Hanya butuh satu jam setelah kontraksi. Bayi yang di sebut hebat oleh Dokter berhasil keluar dan melihat dunia untuk pertama kali.


Ketika tangisnya terdengar menggema. Samuel mengucapkan kata syukur di dalam hati seraya mencium kening Ayu sedikit lama.


"Terimakasih Babe." Ucapnya lirih.


"Selamat Tuan. Anda memiliki bayi laki-laki yang sangat tampan." Perawat memperlihatkan bayi lalu meletakkannya di dada Ayu.


Dengan tangan bergetar, Samuel menyentuh jemari kecil yang masih berbalut lendir. Sementara Ayu sendiri menangis haru karena sudah sejak lama dia menginginkan seorang buah hati.


Wajah Ayu masih terlihat segar. Jarak kontraksi dan kelahiran begitu singkat sehingga tenaganya tidak terkuras banyak.


Setelah selesai melakukan persalinan. Ayu di pindahkan ke ruang perawatan sementara bayi harus di periksa lebih lanjut sebelum di bawa pulang.


"Kamu sudah menghubungi Dimas Bee?" Tanya Ayu seraya mengunyah.


"Sudah. Mita akan ke sini untuk menjagamu sementara aku mengubur ari-ari bayi."


"Bik Lena?"


"Sudah Babe. Besok dia baru bisa ke sini." Jawabnya tersenyum." Bagaimana keadaan yang di bawah sana." Imbuhnya balik bertanya.


"Hanya sakit sedikit."


"Aku hampir mati rasa melihat mu tadi."


"Rasa sakitnya hilang ketika aku mendengar tangisan anak kita." Jawab Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Terimakasih sudah melahirkan anak ku." Ujar Samuel untuk kesekian kali.


"Meski begitu terimakasih. Kamu rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk dia."


"Tentu saja. Dia anak kita." Nada bicara Ayu terdengar normal seperti sebab si kecil yang biasanya mengendalikan perasaannya sudah tidak lagi tinggal di rahimnya.


"Kamu lihat tadi, dia tampan sekali."


"Hm mirip dengan mu Bee."


"Sesuai keinginan mu kan."


"Setelah ini aku akan punya dua penjaga hehe."


"Dia akan jadi anak laki-laki yang kuat." Tiba-tiba saja pintu terbuka dan memperlihatkan Dimas juga Mita.


"Selamat ya. Kamu sudah menjadi seorang Mama." Mita menyerbu Ayu dengan pelukan hangat. Matanya ikut berkaca-kaca karena merasa terharu. Mita tahu jika Ayu menginginkan seorang buah hati sejak lama.


"Terimakasih Mit.


"Sama-sama. Aku membelikan bebek goreng agar stamina mu cepat membaik." Mita melepaskan pelukan lalu memperlihatkan bungkusan di tangannya.


"Aku baru saja makan." Menunjuk ke nampan yang di bawa Samuel.


Aku rasa Istriku sudah kembali normal. Biasanya dia tidak pernah menolak makanan hehe..


"Simpan untuk nanti." Samuel beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Selamat Tuan."


"Terimakasih Dim."


"Sama-sama."


"Em aku harus mengurus ari-ari bayi sebentar. Aku minta tolong untuk menjaganya selama aku pergi." Masih saja Samuel merasa khawatir apalagi setelah melihat pengorbanan Ayu untuk melahirkan anaknya.


"Siap Mas Sam." Jawab Mita cepat.


"Aku pergi dulu Babe. Tidak sampai satu jam." Samuel mengusap puncak kepala Ayu lalu mengecup keningnya sejenak.


"Hati-hati Bee."


"Hm." Samuel tersenyum lalu melangkah keluar ruangan.


"Di mana bayinya?"


"Dia masih di periksa."


"Laki-laki?"


"Iya Mit."


"Pasti tampan?"


"Tentu saja." Keduanya mengobrol akrab sementara Dimas memilih duduk di sofa sambil menerima panggilan yang belum sempat di jawab.


🌹🌹🌹


Amsterdam...


Seorang anak kecil laki-laki berusia 4 tahun tengah menunggu jemputan di depan sekolahnya. Penjaga sekolah terdengar berteriak dan menyuruhnya untuk menunggu di dalam. Namun anak laki-laki yang di ketahui bernama Keano tidak mendengar dan memilih menunggu sang Ibu di depan sekolah.


Sebuah taksi terlihat berhenti, seorang wanita turun dari sana seraya tersenyum simpul.


Kean memundurkan tubuhnya, padahal wanita di hadapannya terlihat seperti Ibunya.


"Waarom mama's auto niet gebruiken?" Kenapa tidak memakai mobil Mom?"


"Papa is op zakenreis." Papa sedang ada urusan."


"Oh."


"Laten we naar huis gaan schat." Mari pulang sayang."


Si wanita menggenggam erat jemari Kean dan mengiringinya masuk mobil taksi.


🌹🌹🌹


Cuplikan di atas adalah sekuel untuk season kedua😁🤭


Semoga aku tetap di berikan semangat untuk bisa melanjutkan..


Semua tergantung pada pembaca.


Kalau sekiranya novel ini tidak banyak di minati, mungkin konfliknya sampai di sini saja🥰

__ADS_1


Bantu dukung dengan cara like, vote dan share sebanyak-banyaknya..


Terimakasih 🥰🥰


__ADS_2