
Satu Minggu kemudian...
Kehidupan Ayu berjalan normal. Sebisa mungkin Samuel menemaninya sepanjang hari. meski terkadang ada pertemuan mendadak, Ayu selalu ikut serta untuk menemaninya.
Belajar memasak di lakukan setiap hari walaupun hasil masakan Ayu masih sangat berantakan. Namun Samuel tidak pernah melarang secara langsung. Dia selalu bisa membujuk Ayu dengan cara yang manis tanpa menyinggung perasaan.
Pagi ini tidak seperti biasanya. Ayu enggan bangun padahal waktu menunjukkan pukul sembilan. Dia masih betah bermalas-malasan di atas ranjang seraya memperhatikan Samuel yang bersiap akan pergi ke perusahaan.
"Katanya mau ikut?" Tanya Samuel membetulkan dasi. Gaun untuk Ayu sudah tergantung di gagang pintu lemari.
"Masih mengantuk Bee. Aku ingin tidur tapi jangan lupa peraturannya." Jawab Ayu pelan. Tubuhnya rasanya tidak bertenaga meski saat itu suhu tubuhnya masih normal.
"Siapa yang berani duduk di samping ku? Staf wanita juga sudah berganti seragamnya dengan celana." Samuel berjalan menghampiri Ayu lalu duduk di sisi ranjang. Dia menempelkan telapak tangannya untuk memeriksa Ayu yang mungkin saja demam." Apa aku terlalu bersemangat semalam? Kamu tidak demam Babe." Samuel bernafas lega karena Ayu baik-baik saja.
"Aku hanya ingin tidur. Rasanya lemas sekali."
"Apa kamu sedang ingin manja padaku?" Ayu tersenyum seraya memejamkan mata. Sikap mengayomi yang Samuel tunjukkan membuat dirinya merasa nyaman dan memang ingin selalu di manja juga di perhatikan.
"Serius Bee. Aku ingin tidur. Kamu cepat berangkat agar bisa cepat pulang."
"Belum berangkat tapi sudah di perintah untuk pulang."
"Maka dari itu berangkat lalu selesaikan dengan cepat."
"Hm." Samuel menelungkup wajah Ayu lalu mengecupi sekitar wajahnya dan sedikit lumattan bibir." Sandwich nya ku letakkan di nakas." Ada sedikit rasa tidak tega seakan Samuel merasakan keganjilan dari keadaan Ayu.
"Jangan lupa oleh-oleh nya Bee."
"Minta ku belikan apa?"
"Belikan bakso yang pedas."
"Sepagi ini Babe? Beli di mana? Paling tidak pukul 11 baru buka sementara pertemuan berakhir pukul 10."
"Aku tidak tahu Bee. Aku ingin makan itu."
"Oke siap. Baik-baik di rumah. Love you Babe." Samuel kembali melummat bibir Ayu sejenak.
"Love you to Bee." Setelah membetulkan selimut, Samuel beranjak pergi keluar kamar.
Rasanya tidak rela membiarkan Samuel pergi sendiri. Tapi kedua mata Ayu terasa berat sampai-sampai dirinya kembali memejamkan mata.
Di dalam mobil, Samuel memantau Ayu dari ponselnya. Dia cukup tenang tapi merasa khawatir sebab ternyata Ayu memilih kembali tidur daripada menyentuh sandwich buatannya.
"Suhu tubuhnya normal. Tapi kenapa dia tidur lagi?" Gumam Samuel cukup peka pada keadaan Ayu yang sekarang suhu tubuhnya mulai naik.
Setibanya di perusahaan. Kedatangannya di sambut Dimas yang langsung mengiringinya menuju ruang rapat. Dimas melirik sesekali ke Samuel yang fokus melihat CCTV yang terpasang di kamarnya dari ponsel.
__ADS_1
"Kenapa Nona Ayu tidak ikut Tuan. Padahal saya sudah menyediakan cemilan di ruangan anda."
"Dia masih mengantuk. Apa menurutmu dia sakit?" Ucap Samuel balik bertanya.
"Tuan sudah memeriksa suhu tubuhnya?"
"Sudah. Tidak demam."
"Mungkin Nona Ayu hanya kelelahan."
"Hm mungkin." Samuel mencoba percaya walaupun maniknya masih tidak terlepas dari layar ponselnya.
Setengah jam sudah rapat berjalan. Samuel semakin di liputi kekhawatiran pada kondisi Ayu yang terlihat masih tidur. Ingin rasanya dia pulang dan mengakhiri rapat kali ini. Tapi karena pembahasannya begitu penting, membuat Samuel menahan diri dan mencoba fokus pada perkerjaannya.
Sementara di dalam kamar, Ayu menggigil. Suhu tubuhnya dengan cepat naik sampai-sampai kedua matanya sulit di buka.
Kedua tangannya memeluk erat guling seraya membetulkan posisi selimut berharap tubuhnya bisa terhindar dari dinginnya suhu ruangan.
"Kepalaku rasanya berat. Aku haus.. Bik.." Gumam Ayu tentu tidak terdengar oleh Bik Ratih yang tengah membersihkan ruang tamu.
Ayu memutuskan untuk kembali tidur daripada permintaannya tidak di dengar. Dia menyadari posisi kamar yang kedap udara. Debu mungkin tidak bisa masuk jika jendela kamar tertutup. Apalagi suara lirihnya yang tentu tidak bisa di dengar dari luar.
"Aku harus pulang." Bisik Samuel para Dimas." Aku khawatir dengan keadaannya." Samuel menutup berkas lalu menumpuknya." Sisanya akan di pimpin Dimas. Saya ada keperluan. Maaf atas ketidaknyamanannya." Tanpa menunggu jawaban dari para investor. Samuel berjalan keluar ruangan dengan langkah terburu-buru.
"Kemana perginya Pak Samuel?"
"Tidak masalah Pak Dimas. Silahkan."
Dengan kecepatan cukup tinggi, Samuel membelah hiruk pikuk kota demi bisa segera sampai ke rumah. Tidak lupa, dia membungkus kan satu porsi bakso pesanan Ayu meski dengan harga 100 ribu satu bungkus. Samuel terlalu terburu-buru sampai-sampai dia tidak sabar menunggu si penjual menyiapkan kembalian.
Setibanya di rumah, Samuel berjalan cepat menuju kamar dan mendapati Ayu masih pada posisi yang sama. Dia meletakkan bakso lalu duduk di sisi ranjang. Telapak tangannya kembali di tempelkan pada dahi Ayu yang ternyata sedang demam tinggi.
"Sudah ku duga." Samuel meraih ponselnya seraya mengendurkan dasi. Dia menelfon sebuah kontak dokter panggilan yang entah masih aktif atau tidak.
Dulu Samuel kerapkali menggunakan jasa dokter itu untuk melakukan pemeriksaan rutin pada Almarhum Ibunya. Dan sejak Ibunya meninggal, Samuel tidak lagi menggunakan jasa dokter kepercayaan keluarganya itu.
📞📞📞
"Halo Pak.
"Ya halo.
"Saya Samuel. Masih ingat?
"Tuan Samuel? Tumben mengubungi saya lagi.
"Istri saya sedang sakit. Bisakah anda datang sekarang? Dia demam tinggi.
__ADS_1
"Baik. Saya akan memeriksa nya.
"Saya tunggu kedatangannya segera.
📞📞📞
"Bee aku haus." Pinta Ayu pelan.
"Kenapa tidak menelfon." Samuel mengambil segelas air lalu duduk di tepian ranjang.
"Mataku sulit terbuka, pusing sekali."
"Minumlah." Samuel membantu Ayu duduk dengan posisi mata tertutup." Jangan menakuti ku. Buka matamu dan lihatlah aku." Ayu hanya menghembuskan nafas berat lalu kembali tertidur padahal dalam posisi setengah duduk." Babe." Ucapnya menepuk-nepuk lembut pipi Ayu.
"Aku ingin tidur Bee. Pusing sekali hiks.." Samuel membantunya berbaring lalu membetulkan posisi selimut.
"Sebentar lagi dokter akan datang. Maafkan aku." Ayu kembali tidak merespon. Samuel memegangi dahi Ayu dengan memasang wajah khawatir.
🌹🌹🌹
Tanpa sengaja, Tania menemukan sebuah foto Ayu yang terselip di bawah ranjang milik Dika. Dia memungutnya lalu mengangkat kasur. Alangkah terkejutnya Tania, ketika melihat kenyataan banyaknya foto Ayu berada di sana.
Dika kembali mengangumi sosok itu meski pertemuan mereka selalu berakhir buruk. Apalagi sekarang Ayu semakin terawat, membuat Dika semakin menggilai sosok cinta pertamanya itu.
"Wanita ini!!" Umpat Tania seraya menatap satu persatu foto ketika Ayu masih memiliki tubuh bak boneka Barbie.
Tania mengambil beberapa lembar foto, setelah mendengar mobil Dika terparkir di pekarangan. Segera saja dia berjalan keluar karena merasa tidak sabar dengan jawaban yang akan Dika lontarkan.
"Apa maksudmu!!" Tanya Tania seraya melemparkan foto ke wajah Dika.
"Kenapa kau masuk ke dalam kamarku!!"
"Apa ini tujuanmu tidur sendiri! Agar kau bisa memandangi foto itu berlama-lama!!" Rasa cemburu langsung menjalar sehingga membuat raut wajah Tania berubah mengerikan.
"Menurut mu apa? Aku merindukan nya. Aku baru sadar kalau selama ini aku memang hanya mencintai nya!!" Dika menunjuk wajah Tania kasar lalu memunguti foto Ayu dan berjalan masuk.
"Kau tahu akibatnya seperti apa Dika!" Teriak Tania mengekor langkah Dika." Bukankah kau tahu jika wanita itu sudah menjadi milik Samuel." Dika membalikkan tubuhnya dan menatap geram ke arah Tania.
"Cinta tetap saja cinta. Aku yakin suatu saat nanti dia akan kembali padaku." Menunjuk dadanya.
"Kita sudah akan memiliki anak Dika. Kau jangan seperti itu!!"
"Itu anakmu, aku bukan Ayah biologis nya. Kita melakukan sebelum pernikahan jadi.. Ku ceraikan kamu setelah anak itu lahir!!" Dika melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya keras.
Braaaakkkkk!!!
"Aku akan membunuh wanita itu kalau kau tetap memikirkannya!! Ingat itu Dik!!!" Dika tidak boleh menceraikan ku. Anakku harus memiliki kejelasan. Aku ingin kehadiran anak ini bisa mengeratkan hubungan kami seperti dulu. Lihat saja! Poros fikiran mu akan ku singkirkan!!
__ADS_1
🌹🌹🌹