
Di sebuah plaza. Dengan berbangga Riska memilih-milih tas branded di hadapannya. Seorang pegawai bahkan menemaninya dan berdiri di samping.
Riska sedang berandai-andai menjadi nyonya Samuel suatu saat nanti sehingga ATM yang seharusnya untuk keperluan Kean, malah di pakai membeli keperluannya sendiri.
"Apa tinggal ini saja warnanya?" Tanyanya ketus. Membolak-balikkan tas seharga puluhan juta.
"Iya Nona." Cih. Sepertinya orang kaya baru. Sombongnya selangit.
Tidak apa. Untuk sekarang aku hanya bisa membeli yang seharga puluhan juta. Nanti kalau Samuel menjadi milikku... Riska tersenyum simpul, memikirkan cara untuk menyingkirkan Ayu. Sepertinya aku harus gencar mempengaruhi Ayu agar dia tidak tahan tinggal di sana lalu pergi dan mereka bercerai. Hahahaha.. Aku tidak ingin rencana ini sia-sia..
"Saya mau yang ini dan yang ini." Riska memberikan dua buah tas ke pegawai toko.
"Tunggu sebentar Nona."
"Hm." Sambil menunggu struk pembelian. Riska berkeliling untuk melihat-lihat. Dia menatap sinis ke semua pegawai seakan dirinya manusia paling sempurna. Padahal dia tidak ayal seperti benalu yang sudah putus urat malunya.
Tepat di saat dia akan membayar, sebuah suara menyapanya ketus. Riska menoleh, menatap Mita bersama Dimas yang kebetulan berada di area plaza untuk menghadiri beberapa pertemuan. Akibat kesibukan Dimas yang padat. Mita kerapkali ikut serta daripada harus sendirian di rumah.
"Astaga. Wanita tidak tahu malu." Sapa Mita tersenyum kecut.
"Kamu bicara apa?" Jawab Riska menutupi kebusukannya dengan suara lembut padahal Mita sudah mengetahui semuanya dari Ayu.
"Apa kau sedang berbelanja dengan uang Keano." Dimas selalu bersikap terbuka dan menceritakan apapun yang terjadi dalam kesehariannya termasuk kebenaran soal ATM.
"Uang Keano uangku juga."
"Segitunya ingin hidup enak. Sampai-sampai mukamu berubah menjadi tebal."
"Jaga mulutmu. Kau itu hanya Istri dari kaki kanan Samuel." Menunjuk ke arah Dimas yang hanya tersenyum simpul. Dia merasa jika tidak ada gunanya berbicara dengan Riska, wanita siluman yang memiliki 1000 kecurangan dan kebohongan.
"Daripada kau!" Tunjuk Mita tepat di wajah Riska yang merah padam. Dia merasa malu dengan cara Mita meneriakinya.
"Lihat saja! Kau akan menyesal suatu hari nanti!!"
Riska melangkah pergi tanpa mendengarkan teriakan pegawai toko yang sudah mengemas tas pilihannya.
"Aku yakin tes DNA itu palsu." Gerutu Mita menatap ke Riska yang melenggang keluar toko.
"Entahlah. Tapi itulah hasilnya." Jawab Dimas pelan.
Keano sudah pernah melakukan tes DNA dengan rambutnya. Tapi hasil yang di dapatkan sungguh mengejutkan. Keano dinyatakan anak kandung Samuel namun entah kenapa Dimas masih merasa tidak yakin.
__ADS_1
Dimas lebih percaya perkataan Samuel yang tidak mengakui Keano sebagai anak. Dia tahu jika Tuannya tidak mungkin asal bicara dan berniat ingin lepas tanggung jawab.
"Kasihan Nona Ayu." Eluh Dimas lirih. Ikut terbebani melihat kebahagiaan Tuan dan Nona nya terganggu karena kerikil jalanan.
"Seharusnya di seret paksa saja."
"Itu permintaan Nona sendiri. Tuanku tidak bisa melawan. Kamu tahu kan jika Nona Ayu adalah pawangnya Tuan Samuel."
"Terus penyelidikannya?" Dimas menggelengkan kepalanya pelan. Tidak adanya kejelasan soal Riska menyulitkan semuanya apalagi Domisili nya berasal dari luar negeri.
"Aku bahkan tidak tahu nama kota di mana dia tinggal. Semua data Keano sudah di pindahkan sementara berkas aslinya dia simpan entah kemana."
"Benar-benar siluman."
"Semoga ini semua cepat terungkap. Aku tidak ingin mereka berpisah."
"Ya semoga saja Mas."
Entah bagaimana caranya Riska palsu merancang ini semua. Semua berkas yang di palsukan terlihat nyata sehingga Dimas tidak bisa melacak dan berbuat banyak.
🌹🌹🌹
Ayu terkejut ketika dia membuka pintu, Kean berdiri menyerbunya dengan pelukan. Tentu saja Ayu tidak sampai hati untuk menolak, dia duduk berjongkok lalu membalas pelukan Kean.
Samuel menghela nafas panjang, melihat pemandangan di hadapannya. Dia yakin jika Keano akan kembali melemahkan fikiran Ayu.
"Ibu bilang hanya sebentar." Jawab Ayu lirih. Hatinya bergemuruh merasa tidak tega mengusir Keano yang sudah sangat akrab dengannya.
"Ya Ibu. Kean janji tidak akan nakal dan membantu menjaga Adik Daniel." Keano melepaskan pelukannya, menatap sendu ke arah Ayu.
"Kean tidak pernah nakal."
"Itu tidak benar. Mama bilang, Ibu ingin mengusir Kean dari rumah." Seketika Ayu menghembuskan nafas berat. Dia sudah sangat menyanyangi Keano tapi tidak mampu menerima kehadiran Riska.
"Bukan mengusir Kean. Em.. Mama dan Kean akan tinggal terpisah saja. Kean bisa berkunjung ke sini kapanpun." Tangan kanannya terangkat mengusap puncak kepala Kean lembut.
"Kean tidak mau Ibu. Kean berjanji tidak akan nakal."
Alasan Kean mengatakan hal tersebut adalah sikap kasar Riska. Dia merasa kehilangan sosok orang tua karena memang wanita yang bersamanya bukanlah Ibu kandungnya.
"Jangan terpengaruh." Sahut Samuel cepat. Daniel yang tengah di gendong, menunjuk ke arah Kean seraya berceloteh.
__ADS_1
Ayu mendongak ke arah Samuel lalu beralih ke Kean yang sudah memasang wajah sendu dengan kepala tertunduk.
"Dia sengaja di peralat wanita itu agar kamu bimbang."
"Tidak baik bicara seperti itu di depan anak kecil Bee." Jawab Ayu merangkul kedua pundak Kean lalu berdiri.
"Kamu selalu seperti itu. Tersakiti tapi mempertahankan mereka."
"Itu masalah orang dewasa. Jangan berbicara seperti itu dan menganggu psikologi nya." Sikap seperti ini yang membuat Keano begitu nyaman bersama Ayu. Dia selalu mendapatkan pembelaan." Kean sudah makan siang?" Tanya Ayu ramah.
"Kean ingin makan bersama Adik Daniel."
Samuel membuang muka lalu melangkah ke arah lift meninggalkan Ayu bersama Keano. Entah kenapa dia merasa muak pada sosok kecil yang seharusnya tidak di jadikan bahan pelampiasan amarah.
"Papi marah." Ujar Kean lirih. Dia sangat takut dengan sosok Samuel.
"Papi memang seperti itu orangnya."
"Dia selalu baik pada Ibu dan Adik Daniel. Tapi Papi marah ketika ada Kean di dekatnya."
Bagaimana mungkin Ayu sampai hati melibatkan Kean. Kepolosannya membuatnya lemah. Dia tidak membenarkan jika Kean harus rela menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya.
"Itu hanya perasaan Kean saja. Buktinya Ibu tidak kan."
"Bilang pada Papi. Jangan usir Kean dari rumah. Kean ingin bersama Ibu dan Adik Daniel."
"Ada Mama Riska Kean."
"Kean tidak mau bersama Mama. Dia selalu marah padahal Kean tidak bersalah."
"Memangnya dulu tidak seperti itu."
"Tidak. Dulu Mama sangat menyanyangi Kean."
"Mungkin Mama Riska sedang banyak masalah."
Ayu benar-benar tidak ingin menganggu psikologi Kean. Sebisa mungkin dia mengobrol hangat walaupun hatinya terluka dengan kehadiran Riska.
"Kean mohon Ibu." Ayu terdiam, enggan menjawab karena kebimbangan hatinya.
"Sekarang makan dulu ya. Nanti kita bicarakan lagi." Rajuknya setelah beberapa saat diam. Dia mengiring Kean masuk ke dalam lift menuju lantai satu. Ya Tuhan. Aku tidak tega dengan Kean. Apa aku harus menutup mata dan hati? Dia begitu polos. Tidak pantas menanggung semua permasalahan ini.
__ADS_1
🌹🌹🌹