
Keesokan harinya...
Ayu yang baru saja tiba, di kejutkan dengan kedatangan Bu Broto. Segera saja dia menghampiri wanita paruh baya itu lalu mencium punggung tangannya.
"Cafe baru buka jam sembilan Bu." Samuel tersenyum sebab dia sudah mengetahui tentang kecelakaan yang terjadi semalam.
"Ibu hanya mau memberikan kabar atas perintah Pak RT setempat." Kening Ayu berkerut seraya tersenyum.
"Serius sekali Bu. Memangnya ada apa ya?" Tanya Ayu penasaran.
"Itu Ay. Dika di nikahkan dengan Tania pagi ini." Senyum Ayu seketika berubah menjadi mimik wajah datar. Dia tidak menyangka jika kejadian akan secepat ini.
"Ke kenapa begitu Bu. Em saya bahkan belum bercerai." Jawabnya pelan.
"Terpaksa Nak Ayu. Wong mereka sudah melakukan itu dan di gerebek warga semalam." Ayu melebarkan matanya seraya menoleh ke arah Samuel sejenak." Ibu di suruh memberikan kabar. Warga berharap Nak Ayu bisa hadir untuk memberikan restu." Ayu tersenyum getir seraya menarik nafas panjang. Cinta pertamanya akan menikah pagi ini dengan cara tidak terhormat.
"Saya sudah tidak perduli Bu. Bilang pada warga kalau saya merestui pernikahan mereka. Kami juga akan bercerai." Bu Broto mengusap punggung Ayu lembut.
"Sabar Nak Ayu. Ibu yakin kamu itu anak yang baik. Walaupun mereka berusaha menjelekkan nama mu. Ibu tidak percaya dan sekarang Tuhan sudah membuka aib mereka sendiri."
"Terimakasih Bu. Tapi saya benar-benar tidak ingin datang. Saya sudah pasrah pada takdir."
"Kamu harus datang dan memberikan ucapan selamat juga kado spesial." Sahut Samuel menimpali.
"Tidak Mas. Em saya harus berkerja."
"Baik Nak Ayu. Nanti saya sampaikan kepada para warga." Setelah Bu Broto pergi. Samuel menghadang langkah Ayu yang akan masuk ke dalam Cafe.
"Minggir Mas. Jangan seperti anak kecil." Ayu berjalan melewati Samuel namun terhenti ketika sebuah amplop bertuliskan pengadilan di perlihatkan.
"Ini adalah kado yang sangat dia inginkan. Hanya butuh tanda tanganmu dan tanda tangannya lalu kalian resmi berpisah."
Ayu yang tidak percaya, langsung meraih amplop tersebut lalu membukanya. Dia memeriksa keaslian surat tersebut untuk memastikan.
"Bagaimana mungkin." Gumam Ayu tidak percaya." Ini asli Mas?" Samuel mengangguk.
"Asli."
"Kenapa bisa sih Mas?"
Itu masalah mudah Babe.. Asalkan kamu mau menggugat. Prosesnya akan berlangsung sepuluh menit.
"Bukti pertama sudah kamu dapatkan." Samuel merangkul pundak Ayu dan mengiringinya kembali ke kontrakan untuk mengambil motor.
"Sebaiknya kita berikan nanti sepulang kerja saja Mas."
"Tidak. Kamu harus melihat pernikahan mantan Suamimu agar perasaan cintamu berubah menjadi benci."
"Aku tidak mau Mas. Aku belum siap." Tolak Ayu berusaha berhenti tapi Samuel terus merangkulnya dan mengiringinya.
"Ada aku Babe."
"Itu tidak berpengaruh."
"Akan berpengaruh nantinya." Sebab aku juga sudah menyiapkan kejutan lain.
__ADS_1
"Serius Mas! Aku tidak mau." Ayu melepaskan diri dengan gerakan kasar sehingga membuat Samuel menghadap ke arahnya." Ini terlalu singkat. Aku tidak siap." Imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
"Oke maaf. Ku fikir kamu kuat untuk melakukan ini."
"Mana bisa kuat. Beberapa hari lalu kami masih bersama meski memang hubungan kami terasa dingin. Lalu sekarang aku harus menghadiri pernikahannya?" Ayu menghela nafas panjang." Aku tidak sekuat itu Mas. Ini menyakitkan. Aku takut tidak mampu dan berakhir mempermalukan diriku sendiri nantinya." Kepala Ayu tertunduk dengan kedua tangan sibuk membersihkan sudut matanya yang mulai berair.
"Tidak akan malu. Selingkuhan mu jauh lebih tampan darinya." Jawab Samuel asal." Aku akan menyewa mobil agar kamu tidak malu untuk membawaku datang ke sana." Ayu mencegah tangan Samuel yang akan mengambil ponselnya.
"Bukan malu karena hal itu."
"Lalu apa?"
"Aku tidak berselingkuh Mas. Aku juga tidak mau kalau nantinya Mas Samuel di cap sebagai PEMBINOR." Samuel malah terkekeh seraya mengusap lembut puncak kepala Ayu.
"Aku tidak pernah perduli pada penilaian orang lain."
"Hidup itu membutuhkan orang lain."
"Tidak. Aku hanya membutuhkan mu untuk hidup."
"Menggombal lagi!!"
"Not Baby. Ayo kita selesaikan. Ini momen yang tepat. Kalian bisa menandatangani surat perceraian dengan di saksikan para warga."
"Ya Mas tapi.."
Segera, Samuel meraih helm Ayu dan memakaikannya sehingga ingatan saat masa pacaran melintas. Dika sering kali melakukannya dan itu kebahagiaan yang kini berubah menjadi belati yang siap menikam.
"Aku bisa Mas." Ayu memundurkan tubuhnya untuk membetulkan posisi helm. Dia tidak ingin lagi tertipu dengan perlakuan manis yang berakhir pahit.
"Ya sudah pakai motorku saja Mas."
"Tidak Babe. Kakiku sepanjang ini. Lutut ku akan sakit."
"Terus bagaimana?"
"Ada pom mini di dekat sini. Bantu aku mendorong ini." Tanpa fikir panjang, Ayu bergegas pergi ke belakang motor untuk mendorong. Ini hanya ujian manis agar aku semakin yakin untuk menjadikan mu Ratuku..
Lima menit berlalu, Ayu masih membantu Samuel mendorong seraya mencari keberadaan pom mini yang di maksud.
"Di mana sih Mas letaknya."
"Sepertinya ada di sekitar sini."
"Kok sepertinya? Berarti tidak pasti?" Tanya Ayu ketus. Wajahnya menjadi berkeringat karena ulah Samuel.
"Aku sudah tua Babe. Jadi sedikit pelupa."
"Ah serius. Aku lelah." Ayu duduk sembarangan di trotoar jalan seraya menyeka keringatnya. Samuel memarkirkan motornya lalu duduk di samping Ayu.
"Apa kamu naik taksi saja?" Ayu menoleh dan melirik malas.
"Lalu bagaimana? Apa motornya di tinggal di sini?"
"Ya kamu naik taksi dan aku mencari pom bensin sendiri. Aku tidak tega melihatmu." Jawab Samuel masih ingin menguji Ayu.
__ADS_1
"Mana tega aku Mas. Kita cari sama-sama. Sudah terlanjur sejauh ini." Samuel mengangguk seraya tersenyum. Dia begitu kagum dengan kesetiaan yang di tunjukkan dari ujian kecil yang di berikan.
"Ini panas. Kulitmu akan hitam nanti. Ku pesankan taksi ya."
"Tidak Mas." Ayu kembali berdiri untuk membuktikan pada Samuel jika dirinya masih kuat." Untuk masalah kulit. Aku tidak mudah hitam. Aku sudah tidak lelah. Ayo kita cari." Samuel ikut berdiri dan malah berusaha menyeka keringat Ayu yang ada di wajah. Sontak Ayu memundurkan tubuhnya untuk menghindar.
"Padahal kita bersentuhan malam itu." Gumam Samuel seraya kembali mendorong motornya.
"Malam itu lagi!"
"Hm ya. Kamu terlihat cantik sekali, apalagi sekarang." Pujian sederhana yang mampu menyejukkan hati Ayu yang sudah lama tidak di sirami.
Bulan-bulan berlalu tanpa pujian. Hanya ada protesan juga hinaan yang di lontarkan Dika. Belum lagi sikap Bu Erna yang acuh namun tukang protes. Membuat perasaan Ayu terkadang tertekan.
Dia mencoba bertahan sejauh ini. Menelan bulat-bulat hinaan dan berharap semua indah pada waktunya. Tapi yang terjadi sungguh di luar kuasa nya.
Wajar saja, jika pujian sederhana yang di lontarkan Samuel membuat perasaannya menjadi membaik. Sebab sejatinya, sebagian besar wanita membutuhkan seseorang yang bisa membuat perasaannya nyaman, walau hanya sekedar pujian sederhana.
"Yeah akhirnya." Teriak Ayu menunjuk lurus ke depan. Terlihat sebuah pom mini berada di sana." Itu kan Mas." Imbuhnya begitu bahagia.
Beruntung sekali ada pom bensin di sana. Padahal aku hanya mengarang saja haha..
"Iya."
Ayu mendorong dengan semangat seakan merasa tidak sabar untuk sampai. Setibanya di tempat, penjual bensin mengerutkan keningnya ketika melihat panah bensin yang belum habis, bahkan masih sangat banyak.
Lalu kenapa motornya di dorong?
"Ini masih banyak Mas." Samuel mengisyaratkan penjual untuk diam.
"Berapa Pak?"
"Tiga puluh ribu." Samuel menyerahkan uang lima puluh ribu.
"Ambil kembaliannya."
"Terimakasih Mas." Samuel tersenyum kemudian menghampiri Ayu.
"Sudah Mas."
"Hm sudah." Tanpa aba-aba, Samuel meraih air mineral milik Ayu dan meneguknya.
"Itu sisa ku." Ucapnya lirih. Telunjuknya mengarah pada wajah Samuel yang tersenyum teduh." Aku sudah mengambil air untukmu." Menunjukkan air mineral yang utuh"Hm.. Agar hubungan kita cepat dekat." Samuel mengambil helm dan memakaikannya pada Ayu.
"Aku bisa." Protes Ayu untuk kesekian kali. Perhatian kecil dari Samuel sangat mendinginkan perasaannya namun mencoba di tolak mentah-mentah.
"Ya ini hal yang mudah untuk di lakukan sendiri. Tapi aku ingin melakukannya agar kamu tidak merasa sendirian. Ayo." Samuel naik ke motornya di ikuti oleh Ayu.
Dulu kami sering melakukannya walaupun alasan mereka berbeda. Kuatkan aku Tuhan. Aku harus berlapang dada untuk melihat pernikahan mantan Suamiku..
🌹🌹🌹
Jangan lupa like untuk uang parkir 😁
__ADS_1