Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Tamu spesial untuk Ayu


__ADS_3

Keesokan harinya...


Bunyi suara musik yang menggema di ruangan kamar, cukup membuat Ayu terkejut dengan mata membulat. Samar terlihat, Samuel berjalan ke arah pintu untuk membuka.


Ayu baru mengetahui jika bunyi musik berasal dari bel pintu yang Samuel pasang. Kamar yang kedap udara membuatnya sulit mendengar suara dari luar ruangan sehingga bel pintu sangat di perlukan.


"Periasnya sudah datang Tuan."


"Suruh tunggu Bik."


"Baik Tuan." Samuel kembali masuk dan mendapati Ayu sudah duduk di sisi ranjang.


Aku kesiangan lagi..


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Samuel memastikan.


"Iya Mas."


"Sebaiknya kamu segera mandi. Periasnya sudah datang."


"Iya." Ayu berdiri lalu membalikkan tubuhnya. Tatapannya fokus pada kebaya pengantin yang sudah tergantung." Wah cantik sekali." Gumamnya berjalan mendekat seraya tersenyum menyentuh ujung baju kebaya.


"Kamu suka?"


"Terlalu bagus Mas. Hanya di pakai satu kali kan?"


"Hm. Itu milik Almarhum Mama. Dia memberikan itu di ujung usianya." Dulu mantan Istri ku menolak memakai itu. Dia bilang modelnya terlalu kuno.


"Ini masih terlihat terawat."


"Aku menyimpannya dengan sangat baik. Kamu mau memakainya."


"Kenapa tidak Mas. Ini bagus sekali." Samuel tersenyum seraya mengangguk. Perbedaaan antara mantan Istrinya dan Ayunda terlihat jauh berbeda.


Mantan Istrinya sangat menyukai kemewahan sementara Ayunda lebih menyukai sesuatu yang sederhana. Hal itu semakin membuat perasaan Samuel membesar. Dia yakin jika Ayu adalah sosok yang di cari selama ini.


"Sekarang kamu mandi. Akad akan di mulai pukul 10 pagi ini. Aku berharap setelah hubungan kita resmi, kamu bisa membuka hati untuk ku."


"Hm Mas." Ayu tersenyum sejenak lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Samuel berjalan ke arah pintu untuk mengatur ulang kunci otomatis agar nantinya para perias tidak merasa kesulitan untuk keluar masuk.


"Silahkan masuk. Dia sedang mandi sebentar." Ujar Samuel mempersilahkan.


"Permisi Tuan." Tiga orang perias bergegas membawa perlengkapannya lalu masuk ke dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat pribadinya.


"Setelah acara selesai, jangan lupa bersihkan kamar saya Bik."


"Baik Tuan."


"Hm." Samuel berjalan menuruni anak tangga untuk melakukan persiapan di kamar lain. Dia juga sedang menunggu kedatangan seseorang yang sudah di jemput Dimas pagi ini.


.


.


.


.


"Saya ingin make up yang ringan saja Kak." Ujar Ayu seraya duduk setengah berbaring untuk memudahkan para perias.


"Siap Nona. Kami akan berkerja sebaik mungkin." Jawabnya mulai menyapu wajah Ayu sementara dua lainnya merawat kuku tangan Ayu.


"Saya tidak pernah berdandan. Saya tidak nyaman dengan make up terlalu tebal."


"Kulit Nona sudah sangat cantik. Untuk keseharian mungkin cukup menambahkan lipstik, pemerah pipi dan bedak tabur saja."


"Saya hanya memakai bedak tabur dan lipstik." Jawab Ayu ramah.


Apalagi yang bisa Ayu lakukan kecuali menerima pernikahan dengan berlapang dada. Dia hanya berharap ini adalah pernikahan terakhir untuknya.

__ADS_1


"Ini memudahkan kami Nona." Senang sekali kalau customer nya seramah Nona ini. Kulitnya pun gampang untuk di poles dan bisa langsung menempel sempurna. Aku yakin hasilnya akan sangat cantik.


.


.


.


.


.


Satu jam kemudian...


Setelah selesai merias wajah dan hiasan di kepala. Ayu di tuntun berdiri untuk mengenakan kebaya yang sudah di siapkan.


Sengaja, para perias tidak memperbolehkan Ayu melihat ke arah kaca agar nantinya menjadi kejutan setelah kebaya selesai di kenakan.


Satu lainnya merekam sambil terus berdecak kagum di dalam hati memuji-muji paras Ayu yang semakin terlihat cantik.


"Nona cantik sekali." Perlahan, tubuh Ayu di putar ke arah kaca bersamaan dengan terbukanya pintu kamar." Bagaimana Nona?" Imbuhnya ingin mendengarkan kesan.


"Luar biasa." Ayu menatap sosok lain di balik pantulan cermin." Kalian pintar sekali melakukannya." Pujinya tersenyum.


"Karena Nona sudah sangat cantik."


Senyum Ayu seketika musnah ketika tatapannya menangkap seseorang yang sangat dia kenal.


Bibik Lena?


Tubuhnya memutar, memastikan jika sosok yang berdiri di ambang pintu itu Bibik Lena, satu-satunya saudara yang di miliki almarhum Ayahnya.


"Bibik Lena." Ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menangis Nduk." Bibik Lena cepat-cepat menghampiri Ayu lalu memeluknya.


"Bibik pasti kaget. Ini terpaksa Bik. Aku juga tidak..."


"Calon Suamimu sudah menceritakan semuanya." Sahutnya melepaskan pelukan. Para perias dengan sigap mengambil selembar tisu untuk membersihkan air mata yang mulai mengalir di sudut pipi Ayu." Seharusnya kamu ikut Bibik saja. Sejak awal Bibik sudah punya firasat buruk tapi kamu tidak percaya." Bukan hanya Bibik Lena, Almarhum Mama Ayu pernah mengutarakan keraguannya pada pernikahan Ayu. Bukan melihat dari sikap Dika, tapi mereka lebih takut pada Bu Erna yang di rasa bukan seorang mertua yang baik.


"Kenapa tidak memberi kabar. Bibik tadi kaget waktu di jemput seseorang."


"Semua ini terjadi begitu cepat. Aku belum memikirkan untuk memberitahu Bibik. Tapi Aku senang Bibik ada di sini."


"Dia lelaki yang sopan. Lain kali, turuti apa kata orang tua. Perasaan orang tua itu sangat peka. Sekarang, hapus air matamu. Semuanya sudah menunggu di bawah." Ayu mengangguk seraya tersenyum. Dia menghela nafas panjang untuk merendahkan rasa sesak pada dadanya.


"Cika Bibik ajak?"


"Itu dia. Dia harus sekolah jadi tidak bisa ikut. Setelah akad, Bibik sama Paman langsung pulang, kasihan Cika." Bibik Lena meraih lengan Ayu dan menggenggamnya erat.


"Seharusnya membolos saja Bik."


"Dia tidak mau Nduk. Kamu tahu sendiri kan Cika seperti apa."


"Dia sudah SMP kan?"


"Iya."


"Ajak dia saat pesta nanti."


"Iya. Katanya hari Minggu. Jadi Bibik akan mengajaknya."


Mata Ayu membulat dengan langkah terhenti, ketika dia melihat ruang tamu sudah di hias sedemikian rupa. Tirai berwarna putih dengan rangkaian bunga asli menghiasi sudut ruangan.


Katanya hanya akad?


Ayu sendiri merasa terheran-heran. Sejak pukul berapa ruang tamu di hias sebab kemarin suasana ruangan masih seperti biasa.


"Apa ini rumahnya Nduk." Tanya Bibik Lena pelan. Ayu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.


"Iya Bik."

__ADS_1


"Memangnya kerja apa?"


"Aku tidak tahu Bik. Kami baru berkenalan satu Minggu yang lalu."


"Jodoh itu penuh misteri ya Nduk."


"Maksudnya Bik?"


"Bibik fikir kalian sudah kenal lama. Bibik lebih percaya pada lelaki ini daripada Suami mu dulu. Dia lebih dewasa tidak seperti anak Mama. Lelaki itu harus berprinsip, biar kalau menjalin rumah tangga tidak berbelok-belok."


Ayu tersenyum dan ingin mempercayai kepekaan Bibik Lena. Senyum itu kembali terhenti ketika dirinya tiba di ambang pintu yang mengarah pada taman samping rumah.


Ini berlebihan. Aku bukan lagi gadis..


Bukan hanya ruang tamu, taman juga di hias sedemikian rupa dengan hiasan bunga di setiap sisi jalan setapak yang di lalui.


Hanya ada sekitar 30 orang yang duduk berjajar. Mereka adalah warga sekitar rumah Samuel yang sengaja di hadirkan untuk menjadi saksi.


Ayu terus saja di tuntun menuju sebuah meja yang di persiapkan untuk pengucapan janji suci. Rasanya sungguh lebih gugup dari pernikahan pertamanya.


Kenapa aku ini?


Perasaan gugupnya semakin bertambah tatkala maniknya menangkap sosok Samuel yang juga terlihat istimewa. Jas putih yang di kenakan semakin membuat aura ketampanannya terpancar.



Bukannya melangkah maju, Ayu malah berhenti tanpa perduli pada tatapan sekitar. Dia berniat meredakan rasa gugup yang mulai menguasai otak.


"Kenapa Nduk." Tanya Bibik Lena pelan.


"Aku gugup Bik." Jawab Ayu seraya mengatur nafas.


"Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan. Tinggal sedikit lagi." Ucapnya menyemangati.


"Tidak bisa. Kaki ku terasa berat. Apa yang terjadi?" Jawab Ayu panik dengan tarikan nafas panjang yang semakin sering berhembus.


"Kamu harus ikhlas. Perceraian bukan akhir dari segalanya." Bibik Lena menebak jika Ayu tengah mengalami trauma akibat kegagalan hubungan pernikahannya.


Memang seharusnya dia membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan hatinya. Tapi Samuel merasa sanggup untuk mengatasi semua dan menerima apapun resikonya.


"Aku tidak mau... Hiks.." Para tamu bukan mencibir dan malah merasa aneh dengan isakan tangis Ayu. Mereka mengenal baik Samuel walaupun rumah Samuel terpisah dari kompleks.


Samuel bukan lelaki yang semena-mena meskipun kehidupannya sejak kecil tidak pernah kekurangan. Dia bahkan sangat rendah hati dan enggan menunjukkan kekuasaannya.


Apa yang kurang dari Samuel? Kenapa calon Istrinya malah menangis hehe.. Dia terlihat seperti tertekan..


Ucapan itu bersarang di hati para tamu. Mereka menganggap jika sikap Ayu sedikit aneh.


"Yang ikhlas Nduk." Ucap Bibik Lena lagi dan lagi seraya mengusap punggung Ayu lembut.


"Aku takut Bik."


"Takut apa Nak. Mari Ibu bantu." Sahut salah satu tamu seraya memegang lengan kanan Ayu." Calon Suaminya tampan kok takut hehe." Candanya menghibur.


"Tidak Bik. Ayu tidak bisa." Kaki Ayu enggan terayun meskipun tubuhnya di apit dua wanita yang siap membantunya berjalan.


"Kenapa tidak bisa." Sahut Samuel sudah berdiri di hadapan Ayu." Biar saya yang mengatasi." Samuel mengangkat tubuh Ayu lalu berjalan perlahan menuju tempat akad yang sudah di persiapkan.


Dimas yang tidak ingin melewatkan momen tersebut. Mengabadikannya dalam bentuk video meskipun fotografer sudah mengambil beberapa gambar.


"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Samuel lirih.


"Aku benar-benar takut Mas." Bisik Ayu dengan tangan mencengkram erat kerah jas Samuel.


"Setelah ikrar janji suci terucap. Aku tidak akan meninggalkan mu sampai maut memisahkan."


"Itu hanya omong kosong. Tidak ada bukti." Samuel tersenyum lalu mendudukkan Ayu di salah satu kursi.


"Kamu tidak akan percaya jika belum ku buktikan. Dan pernikahan ini akan menjadi awal pembuktian. Silahkan di mulai Pak." Tangan kiri Samuel menggenggam erat jemari Ayu sementara tangan kanannya menjabat Paman Ano yang di tunjuk sebagai wali nikah untuk Ayu.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Tunggu lanjutannya besok ya...


Terimakasih like dan dukungannya...


__ADS_2