
Pukul empat sore. Motor Ayu meninggalkan area gudang. Dia tidak sabar bertemu dengan Daniel, satu-satunya yang sedang di perjuangkan.
Ayu berniat memberikan hidup yang layak untuk Daniel, walaupun nantinya dia tidak bisa kembali pada Samuel. Terkadang dia berharap, Samuel mendatanginya dan merajuknya pulang. Namun hingga sekarang, Samuel tidak menampakkan batang hidungnya.
Mungkin Kak Riska berhasil menarik perhatian Mas Sam.
Hati Ayu seakan tercabik-cabik saat dugaan itu melintas. Tapi dia juga tidak sanggup berbuat apapun sebab Samuel tidak ingin meninggalkannya sementara Riska ingin memperjuangkan hak anaknya.
Aku pasrah Tuhan..
Motor Ayu terparkir di depan halaman kontrakan berukuran kecil. Daniel menunjuk ke arahnya dengan gelak tawa. Sambil mengoceh, dia datang menghampiri Ayu.
"Mama." Ujarnya bergelayutan pada kaki kanan. Ayu melepaskan helm dan bergegas menggendong Daniel.
"Maaf sayang. Hari ini Mama mulai berkerja."
"Syukurlah Tuhan." Ucap Bik Ratih ikut merasa bahagia.
"Aem Ma." Celoteh Daniel seraya memukul-mukul pundak Ayu.
"Apa Daniel sudah makan Bik?"
"Sudah Nyah." Masih saja Bik Ratih memanggil Ayu dengan sebutan tersebut.
"Wah anak Mama hebat ya."
Tepat ketika Ayu akan masuk ke dalam kontrakan. Sebuah motor datang dan terparkir di halaman samping kontrakan yang kebetulan kosong.
Ayu berhenti sejenak lalu menatapnya. Bukan tanpa alasan dia melakukannya, sebab postur tubuh lelaki itu mirip dengan Samuel.
Tidak mungkin..
Jantung Ayu berdetak tidak beraturan saat si lelaki melepaskan helm teropong. Nafasnya langsung terbuang kasar, ketika dia melihat wajah si lelaki yang memiliki warna kulit lebih gelap dengan kumis tipis.
Bukan Mas Sam. Apa yang ku fikirkan.
"Papa." Ayu melotot ketika Daniel menunjuk ke arah si lelaki.
"Bukan sayang." Ucapnya pelan. Dia bergegas masuk karena merasa sungkan. Daniel pasti asal bicara..
"Bibik sudah siapkan makan dari tadi siang Nyah. Apa perlu di panaskan?" Lamunan Ayu buyar ketika Bik Ratih bertanya.
"Tidak perlu Bik. Saya belum lapar. Mau mandi dulu." Ayu menurunkan Daniel lalu meraih botol dot kosong. Dia membilasnya dengan air panas dan berniat membuatkan susu. Tinggal sedikit. Tidak mungkin cukup sampai gajian. Apa aku kas bon dulu?
Sesuai ucapannya, Ayu hanya mengambil uang seperlunya ketika dia meninggalkannya rumah. ATM, barang-barang juga ponsel sengaja tidak di bawa karena dia tidak ingin di sebut matre. Padahal, Daniel masih membutuhkan banyak uang untuk membeli susu dan keperluan lainnya.
Terpaksa, Ayu memberikan sedikit susu lalu menambahkannya dengan banyak air. Dia memberikan sedikit gula agar susunya terasa manis.
Maafkan Mama ya. Karena keputusan ini, membuatmu harus merasakan susu encer ini.
"Mama mandi dulu ya sayang." Segera saja Daniel mengambil dot dari tangan Ayu lalu berbaring menikmati susu hangatnya." Bik, aku tinggal mandi dulu ya." Ayu tersenyum sejenak lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti.
Tok Tok Tok
"Biar saya buka Bik." Ayu berjalan ke arah depan setelah meletakkan handuk." Siapa?" Tanya Ayu lirih. Menatap si lelaki yang memiliki postur tubuh setinggi Samuel.
__ADS_1
"Saya tinggal di sebelah Nona." Ayu mengangguk seraya tersenyum." Perkenalkan, nama saya Radit." Dengan sopan Ayu menyambut uluran tangan. Seakan terhipnotis, dia membiarkan Radit menjabat tangannya berlama-lama." Nama Nona?" Segera saja Ayu menarik tangannya cepat.
"Saya Ayu Mas."
"Oh Ayu."
Tidak mungkin dia Mas Sam..
Ayu masih ingat bagaimana kenyamanan yang hanya bisa di rasakan ketika dirinya berdekatan dengan Samuel. Perasaan itu tiba-tiba muncul padahal lelaki di hadapannya terlihat asing.
"Saya membawakan ini sebagai perkenalan." Radit menyodorkan sebuah bungkusan.
"Apa ini Mas? Kenapa repot-repot."
"Tidak repot, itu hanya makanan. Em.. Semoga kita bisa jadi tetangga yang baik ya." Tiba-tiba saja Daniel muncul dan tanpa rasa takut bergelayut pada kaki Radit.
"Papa." Celotehnya lagi.
"Astaga Daniel, tidak sopan begitu." Ketika Ayu akan mengendong Daniel, cepat-cepat Daniel mengangkat tubuhnya.
"Tidak apa-apa Nona. Oh namamu Daniel." Ayu tersenyum aneh karena merasa sungkan.
"Papa."
"Maaf Mas..."
"Berapa umurnya?" Sahut Radit cepat.
"Satu setengah tahun."
"Oh. Mas Radit sudah menikah?" Seakan merasa lega, Ayu bertanya perihal itu dengan senyum mengembang.
"Sudah Nona. Saya tinggal di sini karena terpaksa."
"Untuk perkerjaan." Jawab Ayu menebak.
"Iya."
"Papa."
Kenapa Daniel mengatakan itu terus..
"Em apa Suami Nona ada di rumah? Sekalian saja berkenalan."
"Tidak ada. Em dia sedang berkerja di luar kota." Radit mengangguk seraya mengendong Daniel dengan dekapan hangat." Daniel, ayo ikut Mama." Ayu merentangkan kedua tangannya.
"Maaf ya Nona kalau menganggu." Dengan sopan, Radit memberikan Daniel.
"Tidak Mas. Saya malah takut Daniel merepotkan."
"Tentu saja tidak. Saya senang dengan anak-anak."
"Em begitu."
"Ya sudah. Silahkan lanjutkan kegiatan. Saya akan beres-beres dulu."
__ADS_1
"Silahkan Mas. Terimakasih makanannya."
"Sama-sama. Bye Daniel." Setelah melambaikan tangan. Radit berjalan masuk ke kontrakannya namun tidak benar-benar masuk. Dia berdiri di depan jendela seraya menatap ke pintu kontrakan Ayu yang sudah tertutup. Radit sempat menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya benar-benar masuk.
Sementara di dalam, Ayu membuka bungkusan pemberian Radit yang ternyata berisi ayam bakar. Tentu saja hal itu semakin mengingatkannya pada sosok Samuel yang kerapkali memanjakannya dengan sajian penuh bumbu.
"Dari siapa Nyah?"
"Oh. Dari tetangga baru Bik." Ayu memberikan kotak makanan.
"Besar sekali ayamnya Nyah."
"Hm Bik. Besok tidak perlu memasak."
"Iya. Biar Bibik simpan ya."
"Tunggu Bik." Bik Ratih mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Ada apa Non."
"Sebenarnya saya merasa sungkan mengatakan ini. Bibik sudah sangat baik seperti orang tua saya sendiri. Tapi..." Ayu menghela nafas panjang." Bibik punya uang? Em susu Daniel habis juga popoknya." Imbuhnya lirih.
"Ada 200 ribu Nyah. Biar Bibik ambilkan ya."
"Maaf ya Bik. Seharusnya Bibik jangan ikut pergi."
"Astaga Nyah. Bibik tidak apa-apa. Sebentar ya."
Dada Ayu seketika terasa sesak. Dia mulai mempertanyakan keputusannya untuk pergi. Baru saja seminggu berjalan, tapi dirinya sudah kesulitan memenuhi kebutuhan Daniel.
Tidak. Ini keputusan terbaik. Anakku juga tidak akan mau Mamanya bersedih. Sebelum wanita itu pergi, aku tidak mau kembali ke sana. Aku pasti bisa melakukannya..
Ayu mengangkat tubuh Daniel lalu memangku nya. Rasanya beban terasa ringan ketika gelak tawa keluar dari bibir mungil Daniel meski Ayu merasa ragu dengan kehidupannya nanti seperti apa.
Mama berjanji akan memberikan hidup yang lebih layak. Tapi apa aku mampu..
Ada keraguan bersarang jauh di dasar hatinya. Ayu ingin mengubur itu dalam-dalam tapi ketakutan itu mulai memperlihatkan bentuk nyata.
Daniel terbiasa mengkonsumsi susu formula terbaik dengan harga ratusan ribu. Sementara sekarang Ayu hanya memiliki sedikit uang untuk bertahan hidup.
Lamunannya buyar ketika tangan Bik Ratih terulur dengan dua lembar uang seratus ribu.
"Jangan banyak fikiran Nyah. Pakai uang ini dulu."
"Saya pakai dulu ya Bik. Kalau saya menerima gaji, saya ganti uangnya."
"Itu gampang Nyah."
Bagaimana bisa gampang kalau aku sendiri tidak tahu bisa memberi gaji ke Bik Ratih atau tidak.
"Saya mandi dulu Bik."
"Ya Nyah. Sini ikut Bibik."
Bik Ratih mengangkat tubuh Daniel lalu mengendongnya sementara Ayu berjalan ke belakang untuk membersihkan diri.
__ADS_1
🌹🌹🌹