Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Belajar memasak


__ADS_3

Della terpaksa pulang sendiri melihat keadaan Dika yang babak belur. Dika pulang dengan di antar salah satu waiters karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menyetir.


"Berapa Pak." Tanya Della mengambil dompet. Demi bisa menemui Dika, hari ini dia tidak masuk kerja.


"25 Non." Della membayar uang pas kemudian turun.


Alangkah terkejutnya Della ketika baru saja kakinya melangkah masuk pekarangan, seseorang yang tidak di kenal duduk tepat di teras kost-an nya. Seseorang itu adalah Tania yang ternyata tidak hanya memiliki satu orang suruhan, melainkan 3. Dia sampai rela merogoh kocek cukup besar hanya demi bisa mengawasi keseharian Dika.


"Siapa ya." Sapa Della bingung sebab Tania menggunakan masker penutup wajah.


"Lupa padaku." Ketika Tania menurunkan maskernya, sontak membuat mata Della membulat.


Gawat!!


"Ada apa Nona?"


"Kau masih berani bertanya ada apa? Teruskan saja perbuatan mu jika kau ingin aku menghancurkan hidupmu!!"


"Ini bukan sepenuhnya salah saya. Mas Dika yang.."


Plaaaaaakkkkkk!!


Dengan wajah mengerikan, Tania melayangkan tamparan beberapa kali. Wajah Della memar bahkan sedikit mengeluarkan darah.


"Jauhi Suamiku atau aku akan membunuhmu!!" Bisik Tania mengancam. Tangannya menarik kasar rambut panjang Della dan mencengkram nya erat.


"Suamimu yang menginginkan ku!"


"Terus saja berucap seperti itu! Bukan hanya kau yang akan menderita tapi anakmu!!" Manik Della seketika membulat ketika menerima kenyataan jika Tania tahu soal anaknya." Kau fikir aku orang sembarangan!" Imbuhnya mengancam.


"Tolong..." Teriak Della berusaha meminta tolong namun Tania malah terkekeh renyah.


"Semua penghuni sedang tidak ada. Aku sudah mengurusnya." Tania mengeluarkan sebilah pisau lalu menyodorkannya ke wajah Della." Meski aku membunuh mu sekarang. Tidak akan ada saksi mata. Aku tahu tempat ini tidak terdapat CCTV. Kau hanya pemain baru. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Tapi, aku memberikanmu kesempatan satu kali karena aku kasihan dengan anakmu. Jika kesempatan ini kau lewati. Siap-siap saja nyawamu akan melayang." Tania menyabet pipi mulus Della dengan pisau yang di bawa.


"Aaaaaghhhh sakit!!!" Darah segar terlihat mengalir sementara Tania malah tersenyum simpul seraya pergi dengan mobil hitam jemputan.


Aku harus pergi! Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anakku.


Cepat-cepat Della masuk ke dalam kamarnya untuk mengemasi barang. Dia lebih menyanyangi anak semata wayangnya yang tinggal di desa, daripada harus menuruti hasratnya yang akan berujung kematian.


🌹🌹🌹


"Tanganmu baik-baik saja." Tanya Samuel memastikan. Dia tidak ingin Ayu kembali cedera hanya karena orang di masa lalu.


"Dia baik-baik saja Bee. Terimakasih atas pembelaannya." Ayu semakin terkagum-kagum ketika Samuel menyebut janin miliknya sebagai anaknya.


"Kalau mungkin dia masih hidup. Aku akan menganggapnya sebagai anak ku. Dia sudah tenang Babe. Pembalasan tadi sudah lebih dari cukup." Samuel tidak ingin lagi melihat Ayu terbebani dengan keguguran yang pernah Ayu alami.


"Dia akan senang memiliki Ayah sambung sebaik kamu."


"Hm sudahlah. Aku tidak ingin kamu bersedih."

__ADS_1


"Perasaan ku sangat lega melihat tadi."


"Syukurlah. Sekarang, kamu ingin makan siang dengan apa?"


"Kita langsung pulang Bee. Aku sudah bilang pada Bibik untuk mengajariku memasak." Sejak kemarin Ayu mengutarakan niatnya pada Samuel. Ayu berkata jika dia ingin sesekali memasak sajian untuk keluarga kecilnya nanti.


"Kamu serius? Memasak itu lelah."


"Serius Bee. Selelah apa."


"Rasakan saja sendiri nanti. Kamu boleh berhenti kalau tidak kuat."


"Ish!" Ayu menepuk keras pundak Samuel.


"Hehe kenapa?"


"Seberat apa memasak itu?"


"Orang yang tidak pernah merasakannya selalu berkata demikian."


"Ya aku ingin merasakan bagaimana lelahnya memasak."


Setibanya di rumah. Setelah Ayu mengganti bajunya dengan daster kebanggaannya, dia berjalan masuk dapur untuk menghampiri Bibik.


Samuel tentu saja mengekor, sedikit khawatir dengan niat Ayu apalagi ketika dirinya melihat Ayu menyentuh pisau.


"Hati-hati itu tajam." Ucap Samuel setengah berteriak. Dia sampai ikut duduk di sebuah kursi kayu dan bertugas menjadi pengawas.


"Konsentrasi Nyah. Nanti kena pisau." Imbuh Bik Ratih.


"Ya Bik." Ayu mengiris bawang merah dengan gerakan lambat. Matanya terasa sedikit perih namun Ayu menahannya untuk mengucek karena tangannya kotor." Lambat sekali ya Bik." Ucap Ayu menyadari keterlambatan gerakannya.


"Namanya juga baru belajar Nyah. Tidak apa. Pelan-pelan saja. Atau sudah cukup sampai di sini, biar Bibik lanjutkan. Mungkin Nyonya lelah?" Samuel tersungging lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri Ayu. Dia berdiri di sampingnya seraya menunduk, memperhatikan raut manik Ayu yang mulai mengeluarkan air mata.


"Perih?"


"Iya Bee. Seperti ingin menangis padahal aku tidak bersedih." Eluh Ayu lirih.


"Sudah menyerah?"


"Belum."


"Tidak lapar? Ini hampir pukul dua tapi kamu belum makan siang."


Ugh. Memotong sayur dan bawang saja sudah menghabiskan waktu yang panjang. Kenapa kelihatannya sangat mudah.


"Biar Bibik lanjutkan saja Nyah."


"Sebentar Bik." Tolak Ayu bersikukuh.


Ponsel Samuel bergetar, dia berjalan keluar dapur sambil menerima panggilan yang entah dari siapa.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Samuel kembali dengan bungkusan makanan di tangannya. Bik Ratih tersenyum, merasa ikut bahagia melihat kebersamaan dan kehangatan yang selalu Samuel suguhkan untuk Ayu.


"Makan dulu baru di lanjutkan." Samuel meletakkan bungkusan lalu mengambil satu kotak berisi ayam krispi yang di siram dengan sambal.


"Ma makan? Aku memasak untuk makan siang. Kenapa kamu membeli itu?"


"Tidak baik menunda waktu makan. Mungkin masakan itu akan selesai saat makan malam." Bibir Ayu mengerucut seraya menoleh. Dia mulai membayangkan bagaimana sedapnya ayam krispi yang ada di tangan Samuel.


"Kamu meledekku Bee."


"Aku hanya tidak ingin kamu sakit. Setelah makan siang, kamu boleh melanjutkan memasak untuk makan malam nanti." Perut Ayu meronta-ronta dan hal itu sontak membuatnya langsung setuju dengan ide Samuel.


"Baik kalau kamu memaksa." Ayu meletakkan pisau lalu membersihkan tangannya.


Padahal aku tidak memaksa hehe..


"Kamu beli berapa bungkus Bee?"


"Empat."


"Satu untuk Bibik." Ayu mengambil satu kotak lalu memberikannya pada Bik Ratih.


"Tidak usah Nyah."


"Sudahlah Bik. Saya mau makan dulu ya Bik."


"Terimakasih Nyah."


"Sama-sama." Samuel membereskan kotak makanan lalu berjalan menggiring Ayu keluar dapur seraya mengisyaratkannya pada Bibik untuk membereskan dapur. Bik Ratih tersenyum dan mengangguk lalu membereskan bahan-bahan makanan yang berserakan.


🌹🌹🌹


Tania tidak merasa kasihan ketika melihat wajah Dika babak belur. Meski dia mengetahui kenyataannya seperti apa, tapi Tania malah menyalahkan sikap Dika yang tega membunuh darah dagingnya sendiri.


"Kau keterlaluan Dik. Meski aku membenci wanita itu tapi anak tetaplah anak. Dia darah daging mu." Ujar Tania duduk di sisi Dika yang sedang mengompres wajah lebamnya.


"Itu sudah terjadi satu tahun yang lalu. Kenapa masih saja di bahas."


"Kau juga ingin meracuni bayi kita. Sayangnya aku lebih cerdas darinya karena mataku berada di mana-mana!" Tania tersenyum simpul, tengah menertawakan Dika yang mencoba mengelabuhi nya dengan menyogok salah satu orang suruhannya.


"Apa kau pernah berkaca! Seburuk apa dirimu sekarang? Itu kenapa aku membenci wanita hamil!"


"Lalu kau berselingkuh dengan buruh pabrik itu." Sontak Dika menoleh dengan saliva tertelan kasar. Tentu saja fikirannya langsung tertuju pada Della, wanita yang ingin di nikahi setelah dia berpisah dengan Tania.


"Sudah kau apakan dia?!" Tania mengambil pisau yang terbungkus tisu dengan noda merah. Dia meletakkan di atas meja tepatnya di hadapan Dika." Kau gila Niah! Sudah kau apakan dia!!" Dika mengira jika Tania sudah membunuh Della.


"Sesuai ancaman ku! Siapapun wanita yang mendekati mu, akan ku jauhkan dan ku buang ke neraka! Kau fikir aku main-main!" Tania berdiri seraya mengambil tasnya." Fikirkan lagi ketika kau ingin pergi ke pelukan seseorang. Aku akan selalu ada di sana untuk menghabisi mereka. Camkan itu!" Setelah melontarkan ancaman, Tania berjalan masuk meninggalkan Dika begitu saja.


"Della." Dika meletakkan kompres nya lalu meraih ponsel untuk menghubungi kontak Della. Wajahnya terlihat semakin gelisah saat kontak Della tidak lagi aktif." Apa dia membunuhnya?" Dengan sedikit ragu, Dika mengambil sebilah pisau lalu mencium noda merah." Ini darah. Astaga, gila sekali wanita itu. Apa setelah ini aku akan terlibat masalah kriminal lagi?" Cepat-cepat Dika beranjak bangun untuk membersihkan sebilah pisau dan membuang tisu ke toilet. Tujuannya ingin menghilangkan jejak jika mungkin Tania benar-benar menghabisi nyawa Della.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2