
Ayu tidak tahu kemana Samuel akan membawanya. Jalan yang di lalui begitu terjal dengan belokan tajam. Hal itu memicu ketakutan pada Ayu hingga membuatnya beberapa kali mengingatkan Samuel untuk berhati-hati.
Ayu bernafas lega ketika Samuel memarkirkan mobilnya di sebuah tempat lapang. Terlihat beberapa mobil juga motor terparkir di sana.
Setelah mengatur nafas beberapa menit, Ayu baru menyambut uluran tangan Samuel lalu keluar dari mobil. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar yang cukup ramai.
"Tempat apa ini Mas."
"Tempat untuk melepaskan masalah." Jawab Samuel meraih jemari Ayu lalu menggenggamnya.
"Sebutkan secara detail." Protes Ayu menolak untuk melangkah.
"Aku bisa melepaskan masa laluku di sini. Ini tempat yang bagus untuk mu agar permasalahan mu bisa selesai." Ayu mengerutkan keningnya dan terpaksa mengikuti langkah Samuel.
"Semacam ritual?" Lagi lagi Samuel di buat terkekeh dengan ucapan Ayu yang terdengar menggelikan.
"Kamu percaya dengan hal seperti itu?"
"Aku hanya bertanya Mas."
"Nanti kamu juga akan tahu. Kita harus menapaki tangga ini untuk menuju lokasi." Tangan Samuel menunjuk ke sebuah tangga yang terbuat dari bebatuan.
"Hm Mas." Ayu memegang erat lengan Samuel untuk memulai langkahnya menapaki tangga. Sudah lama aku tidak pergi kemana-mana. Semoga kaki ini kuat setelah percintaan tadi.
Eratnya pegangan tangan Ayu menandakan jika kakinya mulai terasa berat. Sayangnya Samuel tidak memikirkan hal itu karena sibuk melihat pemandangan sambil berceloteh.
"Tunggu Mas." Pinta Ayu seraya mengatur nafas. Sontak saja Samuel menoleh ke belakang dan baru menyadari jika keduanya sudah berada jauh dari lokasi awal.
Bodohnya aku. Kenapa aku tidak peka. Batinnya meruntuki sikapnya sendiri.
"Serius Mas. Istirahat dulu. Kakiku berat sekali." Samuel melepaskan genggaman lalu menyeka keringat yang ada pada sekitar wajah Ayu.
"Maaf. Aku tidak peka." Ujarnya duduk berjongkok dan menepuk-nepuk pundaknya." Seharusnya ku tawarkan sejak tadi. Ayo naik Babe." Pintanya memperlihatkan senyum.
Serius dia menawarkan itu? Ayu kembali mengingat masa lalunya bersama Dika.
Kala itu keduanya mengunjungi destinasi wisata air terjun. Jalan yang di lalui cukup terjal walaupun tidak seterjal lokasinya sekarang.
Ayu mengeluhkan kondisi kakinya yang terasa perih akibat sandal kurang nyaman. Namun dengan teganya Dika menyuruhnya untuk menahan sedikit karena akan sampai ke lokasi.
Padahal waktu itu Ayu masih terlihat cantik dengan body bak boneka Barbie. Tapi Dika tidak pernah memperlakukan sesuatu yang terlalu manis seperti apa yang Samuel tawarkan padanya. Baginya, sikap Dika kala itu sangat wajar. Ayu mengira kalau saat itu Dika memperlihatkan sifat aslinya.
Itu lebih baik daripada berpura-pura manis!
"Aku masih kuat Mas. Hanya perlu beristirahat sebentar." Tolak Ayu mengatur nafas.
"Katanya mau menuruti permintaan ku."
"Bukan permintaan yang memberatkan Mas."
"Tidak berat. Ayolah, jangan banyak alasan Babe." Rajuk Samuel melirik malas ke Ayu yang belum bergerak dari tempatnya.
"Jangan terlalu manis Mas. Nanti diabetes." Tolak Ayu ketus. Dia berfikir kalau Samuel tengah berpura-pura agar hatinya dapat di miliki.
Padahal sejatinya. Perhatian yang di perlihatkan Samuel adalah sifat asli darinya. Hanya saja kalau sedang jatuh cinta kegilaan Samuel sangat berlebihan. Sehingga membuat Istri pertamanya merasa risih dan memutuskan untuk mencari sosok lain setelah berhasil mengambil sebagian kecil hartanya.
"Ya sudah. Kita akan berada di sini terus." Samuel memutar tubuhnya sedikit lalu duduk lemah tanpa perduli pada tanah yang akan mengotori celananya.
Wajah kecewa di perlihatkan. Samuel bahkan berpaling dari Ayu yang masih saja berdiri di sampingnya.
"Ini sudah dekat Mas."
"Aku tidak tahu. Aku lupa." Ayu menghembuskan nafas berat seraya menatap belokan yang terdapat tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Mungkin setelah belokan itu lokasinya." Tunjuknya lurus ke depan.
"Memangnya kamu pernah ke sini?"
__ADS_1
"Tidak." Ayu menggelengkan kepalanya seraya menatap Samuel yang masih berpaling." Jangan bersikap seperti itu Mas." Imbuhnya lirih. Samuel tidak menjawab sehingga terpaksa Ayu mengikuti kemauannya." Iya iya. Ayo." Tangannya menepuk-nepuk pundak Samuel.
"Begitu dong." Samuel memposisikan tubuhnya. Setelah Ayu naik ke punggung, dia berdiri dan melanjutkan perjalanan.
"Awas saja kalau nanti kamu mengeluh Mas."
"Perkerjaan yang di lakukan dengan hati, akan terasa ringan Babe."
"Entahlah." Sontak Ayu melebarkan matanya saat melihat kenyataan yang ada di hadapan. Sesuai dengan perkiraan, lokasi yang di tuju Samuel berada di balik belokan." Turunkan aku Mas." Pinta Ayu memukul-mukul pundak Samuel yang sudah terkekeh." Ish! Kamu mengerjai ku lagi?" Dengus nya kesal.
"Maaf Babe. Seharusnya aku menawarkan bantuan saat kita masih di bawah. Aku yakin kakimu sakit."
"Itu berarti kamu tahu kalau lokasinya di sini?"
Dimas, para pemandu juga kru dan para pengunjung yang tengah menunggu, tidak membuat Ayu untuk berhenti mengungkapkan rasa kesalnya.
Sudah hampir tiga jam permainan yang masuk katagori olahraga itu di tutup. Pihak pengelola mengatakan kalau ada seseorang yang sudah memboking tempat tersebut.
Para pengunjung yang berasal dari luar kota, tentu tidak ingin kembali dengan kekecewaan dan rela menunggu sampai orang yang di maksud datang.
Mereka memperhatikan seraya berbisik, ketika Dimas mulai melangkahkan kakinya menuju Samuel dan Ayu.
Apa mereka yang sedang di tunggu? Kalau mereka, itu berarti setelah ini giliran ku..
Banyak dari para pengunjung berkata demikian. Mereka tahu jika Dimas adalah orang suruhan dari Samuel, pengunjung spesial yang tengah di tunggu para pengelola.
"Aku dulu sering ke sini Babe."
"Itu sangat tidak lucu Mas."
"Iya maaf. Tapi wajahmu sangat mengemaskan." Dimas berdiri dengan kepala menunduk. Dia merasa turut bahagia dengan senyum merekah yang Samuel perlihatkan.
Tuanku sudah benar-benar move on..
"Para kru sudah menunggu Tuan." Sahut Dimas merasa kasihan pada pengunjung lain yang tengah menunggu.
"Ayo Babe." Ajak Samuel tidak di respon. Ayu berdiri terpaku menatap dengan raut wajah tegang.
"Apa yang akan kita lakukan Mas?" Tanyanya lirih.
"Melepaskan fikiran mu."
"Hahaha tidak." Tolak Ayu akan membalikkan tubuhnya namun tangan Samuel menahannya.
"Ada aku. Tidak akan terjadi sesuatu."
"Aku tidak mau. Aku takut Mas. Bagaimana jika kita mendarat di bebatuan tajam?"
"Ada pemandunya Nona." Sahut Dimas merajuk.
"Kita akan mati bersama." Samuel malah menjawabnya dengan asal.
"Kali ini saja Mas. Jangan paksa aku."
"Jadi kamu ingin selamanya terkurung dalam masa lalu?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan itu."
"Ada. Aku sedang berusaha menghilangkan dia dari fikiran mu. Kamu hanya boleh memikirkan ku." Segera saja Dimas melangkah mendekat untuk mengingatkan Samuel akan keadaan sekitar.
"Tuan sebaiknya..." Kata-kata Dimas tertahan ketika Samuel menarik pergelangan tangan Ayu dan mengiringinya untuk turun.
"Aku akan menelan bulat-bulat resiko ini dan membiarkan mu tertinggal di sana. Terserah Babe. Kita pulang kalau memang kamu menolak niat baikku."
Semoga Nona bisa memahami kalau otak Tuan Samuel sekeras batu jika sedang cemburu..
Ayu sendiri berada di lema. Dia takut ketinggian namun raut wajah marah Samuel tidak main-main. Ayu merasa terbebani dengan dan tidak ingin membuat Samuel merasakan kekecewaan sedikit pun.
__ADS_1
"Baik kita lakukan Mas." Jawab Ayu cepat." Tapi, aku tidak mau sendiri." Imbuhnya pelan.
"Kita akan melakukannya bersama." Samuel mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepala Ayu dan mengiringinya menuju lokasi.
"Aku takut.." Eluh Ayu menarik nafas panjang.
"Tidak akan terjadi sesuatu."
"Ya Mas. Apa bisa aku lari? Rasanya kamu sudah mengerti kelemahan ku." Dia tahu aku tidak kuasa menolak keinginan orang yang ku sebut Suami.
"Tentu saja. Aku ingin tahu segala sesuatu tentang mu melebihi dirinya." Kegilaan Samuel mulai terlihat. Cara cemburu yang tidak berarah sudah pasti akan hadir setiap harinya. Dia ingin menyingkirkan nama Dika sampai ke akarnya.
"Ini aku lakukan atas dasar cinta."
Ayu tidak menjawab, dia hanya menoleh dengan wajah tegang ketika seorang kru wanita memakainya baju juga pengaman pada tubuhnya.
Kalau nyawaku di ambil sekarang. Itu keberuntungan sebab aku tidak harus menjalani kehidupan ku yang berubah aneh. Tapi...
Ayu menatap ke arah Samuel yang fokus menatapnya. Entah kenapa bibirnya tersungging. Seumur hidup dia tidak pernah bertemu dengan lelaki segila Samuel.
Rasanya sangat nikmat. Aku masih ingin hidup lebih lama agar bisa selalu merasakannya. Apa ini cinta atau hanya sekedar naffsu? Aku tidak perduli, yang terpenting aku merasa sangat nyaman berada di sampingnya.
Ayu tidak lagi menumpukan hidupnya atas nama cinta. Kepercayaannya menghilang setelah pengkhianatan yang di lakukan Dika dan berakhir dengan perpisahan.
Mungkin menikah tanpa cinta itu lebih baik. Asal saling menghargai, itu satu-satunya hal yang bisa menguatkan suatu hubungan..
Lamunan Ayu buyar ketika tangan Samuel melingkar pada lehernya. Dia baru sadar jika persiapan sudah selesai di lakukan.
"A aku yang di depan? Mas serius?" Tanya Ayu terbata.
"Agar perasaan mu lega."
"Aku sangat mencintaimu Mas. Apa jawaban itu cukup untuk menghentikan ini?"
"Tidak. Itu bukan dari hatimu. Tarik nafas dalam-dalam. Fikirkan keburukannya agar ingatan itu menghilang ketika kita terjun ke bawah."
"Aku tiba-tiba ingin buang air kecil."
"No no Babe. Itu alasanmu saja. Cepat fokuskan fikiran sebab kita akan mengulang adegan ini kalau aku masih melihat ingatan buruk tentangnya."
"Du dua kali."
"Yah. Aku akan menghitung mundur dari satu sampai lima."
Karena tidak ingin berada di posisi seperti sekarang. Ayu memfokuskan fikirannya pada semua keburukan Dika yang sudah lama di suguhkan. Masih saja hatinya merasakan kesakitan sampai-sampai hitungan Samuel tidak terdengar di telinga.
Itu bukan cinta! Itu kesalahan!!
Tepat di saat ucapan itu melintas dalam hati. Tubuh keduanya terjun ke bawah. Sensasinya sangat mendebarkan sampai-sampai Ayu meneriakkan isi hatinya secara lantang seiring dengan angin kencang yang menerpa tubuhnya.
"Hoeeeeeek..." Ayu menundukkan kepalanya dengan tangan kanan bertumpu pada pundak Samuel." Anginnya masuk semua ke mulutku Mas." Rengek nya terisak. Samuel menelungkup wajahnya dan membersihkan sisa air mata.
"Kamu terlalu bersemangat Babe."
"Kata kamu harus berteriak?"
"Ya. Bagaimana perasaan mu?"
"Ada sesuatu yang terlepas." Perasaan ku menjadi lebih baik. "Apa perlu kita mengulanginya?" Para kru yang membantu Ayu melepaskan baju, menanggapinya dengan senyuman.
"Lain kali kita ke sini lagi. Sore ini kita sudah harus berada di rumah. Kamu akan melakukan perawatan tubuh sampai pesta kita di gelar."
"Wah." Senyum Ayu seketika mengembang. Tubuhnya terasa sangat lelah dan pijat refleksi akan membuat tubuhnya kembali bugar.
Sorot mata itu sudah lebih bersinar. Semoga nama itu benar-benar enyah dari fikiran mu..
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1