Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Eksekusi berujung pilu


__ADS_3

Setelah memastikan mobil Samuel pergi, cepat-cepat orang suruhan Tania melancarkan aksinya.


Sudah beberapa hari, mereka tidak pulang hanya demi perintah Tania. Mereka sampai rela bertengger di atas pohon besar dengan sebuah teropong untuk mempermudah pengintaian.


"Mas lagi." Sapa si penjaga rumah.


"Saya ada perkerjaan dekat sini Pak. Jadi mampir sebentar, mau numpang buang air kecil."


Tanpa rasa curiga, si penjaga rumah mempersilahkannya masuk. Setelah beberapa menit kemudian, orang suruhan Tania keluar dari toilet dengan bungkusan di tangannya.


"Terimakasih ya Pak. Ini untuk Bapak."


"Apa ini?" Tanyanya membuka bungkusan berisi dua roti.


"Untuk mengganjal perut Pak. Di bagi ya sama temannya. Saya permisi." Untuk menutup kecurigaan. Orang suruhan Tania berlalu pergi. Setelah berada di jarak aman, mobil mereka berhenti untuk menghubungi Tania yang ternyata sudah berada di perjalanan." Kau intip, kalau mereka sudah pingsan. Kita segera masuk." Pintanya pada salah satu temannya.


Dengan berjalan kaki, mereka kembali mendekat dan tersenyum ketika melihat dua penjaga rumah tengah memakan roti pemberian mereka.


Tidak butuh waktu lama, kedua penjaga tergeletak tidak berdaya karena obat bius sudah bereaksi.


"Ambil mobil, cepat!!"


Mobil menerobos masuk ke dalam, melaju ke arah rumah yang berjarak 50 meter. Mereka tidak ingin membuang waktu, langsung memencet bel pintu dan keluarlah Bik Ratih dengan wajah kebingungan.


"Siapa ya. Tuan tidak ada di rumah." Bik Ratih membaca gelagat tidak baik dari tamunya. Dia berusaha menutup pintu namun semuanya terlambat. Mulutnya di bungkam dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius sehingga membuatnya langsung tidak sadarkan diri.


Ayu yang mendengar kericuhan, berjalan ke depan untuk memeriksa. Matanya membulat ketika melihat tubuh Bik Ratih terkapar di lantai.


"Bibik!" Teriak Ayu menebak jika Bik Ratih mungkin pingsan karena sakit. Tapi ketika dia sibuk memeriksa tubuhnya, Ayu di sergap dan di masukkan ke dalam mobil." Si siapa kalian!!" Ucap Ayu dengan wajah panik.


"Kami tidak ingin melukai anda Nona. Kami hanya ingin menuruti apa perintah Bos kami. Jangan melawan jika tidak ingin kami berbuat nekat." Ancamnya dengan senjata api di tangan.


Apa mereka saingan bisnis Mas Sam?


Ayu mencoba menuruti perintah mereka karena senjata api sudah di todong kan ke arahnya. Ingin rasanya Ayu berteriak meminta tolong pada orang sekitar tapi kejadian ini membuatnya setengah mati ketakutan. Tubuhnya bahkan bergetar hebat, tertunduk, sesekali melirik ke lelaki asing yang tengah menatapnya tajam.


Seharusnya aku tadi tidak belajar memasak dan ikut Mas Sam saja..


Terbesit sesal ketika dirinya mengingat Samuel beberapa kali menawarinya untuk ikut ke pertemuan yang ada di perusahaan. Tapi Ayu bersikukuh tidak ikut karena ingin memasakkan sesuatu untuk makan siang.


Setelah beberapa menit berjalan, mobil berhenti tepat di sebuah jembatan gantung. Ada beberapa mobil melintas di samping jembatan, tapi tentu mereka tidak akan menghiraukan dengan jembatan yang hanya bisa di lalui pejalan kaki.

__ADS_1


Ayu di giring keluar dengan senjata api yang terselip di daster longgarnya. Matanya memicing saat mengenal jelas mobil yang terparkir tidak jauh dari jembatan.


Mobil Mas Dika. Apa dia yang melakukan ini?


Tebakan itu runtuh ketika Tania menampakkan diri dengan senyum simpul. Dia sudah menunggu Ayu di balik pohon besar.


Apa yang dia inginkan dariku?


"Tugas kami selesai Nona."


"Hm pergilah. Ini akan jadi urusanku." Dengan gerakan cepat, Tania meraih pergelangan tangan Ayu lalu mencengkram nya erat. Dia mengiring Ayu berjalan ke arah tengah jembatan.


"Apa mau mu?" Tanya Ayu pelan. Dia tidak melihat senjata apapun berada di tangan Tania sehingga Ayu sedikit merasa lega.


"Hidup tenang dengan Dika." Tania menoleh lalu menatap Ayu tajam.


"Kau sudah mendapatkan nya. Untuk apa membawaku ke sini?"


"Aku baru tahu kalau kau itu poros hati Dika! Apa kau tahu dia masih mencintaimu!" Ayu tersenyum seakan tengah menertawakan Tania.


"Aku sudah bukan lagi Istrinya. Sebaiknya kita tidak perlu saling menganggu. Kau mendapatkan Mas Dika, itu sesuai keinginan mu kan."


"Apa tujuan mu menemui ku dengan cara ini?"


"Menyingkirkan sesuatu yang seharusnya di singkirkan! Aku tidak ingin anakku lahir tanpa Ayah!" Seharusnya Ayu langsung kabur saja. Tapi dia merasa jika Tania masih bisa di bujuk padahal wanita di hadapannya tidak mungkin bisa berfikir jernih ketika sudah cemburu.


"Kamu harus yakin kalau Mas Dika bisa menerima anak itu."


"Anakmu bahkan di bunuh kan hahaha." Jawab Tania terkekeh nyaring.


"Itu karena aku tidak tahu niatnya."


"Lalu kau fikir dia akan menerima anak ini?" Ayu kembali menghela nafas panjang. Dia cukup ketakutan melihat mimik wajah Tania.


"Setelah lahir, mungkin Mas Dika berubah fikiran."


"Tidak! Kau harus pergi agar Dika tidak lagi mengharapkan mu!" Mata Ayu membulat ketika Tania mengeluarkan sebuah pisau dari balik gaunnya.


"Jangan Niah. Aku mohon. Fikirkan ini dengan cara dingin." Rajuk Ayu berjalan mundur sambil menatap sekitar yang sepi. Ya Tuhan bagaimana ini.. Terakhir kali mobil melintas tiga menit yang lalu.


"Kau harus mati." Tentu saja Tania tidak mendengar rajukan Ayu. Sudah berhari-hari dia menahan diri untuk segera menghabisi Ayu.

__ADS_1


"Aku mencintai Suamiku. Aku tidak mau menggangu kehidupan kalian." Sungguh sial, sebab punggung Ayu sudah membentur tali batas jembatan sementara Tania terus saja berjalan maju.


"Dia tetap akan memikirkan mu sebelum kau enyah dari kehidupan ini!!"


Tania berpura-pura akan menusuk Ayu, padahal ini adalah bagian dari rencana. Dia ingin Ayu panik lalu melompat ke sungai yang terletak di bawah jembatan. Tania tidak ingin meninggalkannya jejak. Dia akan membuat scenario seolah-olah Ayu mati tenggelam.


Sesuai rencana, Ayu terpekik kaget sampai-sampai kakinya tergelincir. Kini tubuhnya bergantung di sisi jembatan. Kedua tangannya berpegangan erat pada sisi jembatan sambil mendongak ke Tania yang tertawa renyah.


"Tolong aku Tania. Aku tidak bisa berenang." Rajuk Ayu meringis kesakitan ketika kukunya tersayat kayu karena terlalu keras berpegangan.


"Ini yang ku inginkan! Kau akan mati tenggelam lalu aku akan hidup dengan tenang."


Tania kembali tertawa lalu mulai mengangkat salah satu kakinya untuk menginjak tangan Ayu yang masih berpegangan. Tapi rupanya Tuhan tidak terima. Karena kurang perhitungan dan terlalu bersemangat. Kaki Tania terperosok ke sisi jembatan sehingga kini tubuhnya juga bergantung tepat di samping Ayu.


"Agh!! Perutku!!" Teriak Tania sambil berusaha naik, menahan perutnya yang tiba-tiba kram.


"Ke kenapa?" Tanya Ayu terbata. Masih saja dia memikirkan keselamatan wanita yang berniat membunuhnya.


"Agh perutku." Tiba-tiba saja rasa iba terbesit. Ayu tahu bagaimana sedihnya kehilangan sebuah janin. Itu membuatnya lebih memikirkan keselamatan Tania daripada dirinya.


"Tenang Niah. Kamu harus tenang. Aku akan membantu mu naik." Ucap Ayu berusaha menahan tubuhnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya membantu Tania agar bisa naik." Ayo Niah cepat! Tanganku tidak bisa bertahan lebih lama." Tania menoleh sesaat. Melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata Ayu.


Bukankah seharusnya dia menjatuhkan ku saja..


"Kau tunggu apa!!" Teriak Ayu meringis kesakitan. Beban tubuhnya yang menggelantung membuat kuku jari tangannya tersayat sampai mengeluarkan darah.


Dia baik..


"Kenapa kau menolong ku?"


"Karena kau mengandung! Anak itu berhak hidup! Cepat! Panjat tanganku! Aku tidak ingin semua ini sia-sia!"


"Aku akan menolong mu setelah sampai di atas." Sambil menahan kram perut, Tania memanjat tangan Ayu dan berusaha merangkak naik. Itu semua tidak bisa berjalan mulus sebab beberapa kali kaki Tania tergelincir. Hal itu membuat Ayu berteriak nyaring. Sungguh dia tidak sanggup lagi bertahan kalau kali ini Tania tidak berhasil.


Dengan sisa tenaga, Ayu memegang pinggang Tania dan menopang tubuhnya. Tania meraih tali jembatan lalu merangkak naik dengan nafas tersengal.


Setelah sampai ke atas, dia berniat menolong Ayu. Namun alangkah terkejutnya Tania ketika menyadari tangan Ayu tidak lagi mampu bertahan. Hanya ada sisa ceceran darah akibat kukunya yang tersayat.


"Tidak!!! Ayuuuuu!!!" Teriak Tania dengan berderai air mata. Niat membunuh seketika musnah tergantikan penyesalan. Wanita yang di benci, rela mengorbankan nyawa hanya untuk menolongnya dan janin yang ada di perutnya." Maaf. Aku menyesal. Agh sakit!!!" Sambil menangis terisak, Tania berbaring, mengusap perutnya yang masih terasa nyeri. Dengan tangan bergetar, dia menghubungi 911 untuk meminta pertolongan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2