Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Setitik rasa meluluhkan hati


__ADS_3

Pukul 8 malam lebih, motor Ayu terlihat baru saja terparkir. Matanya melirik ke mobil mewah Dika lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk.


"Katanya pulang jam 7?" Sapa Dika langsung berdiri dan mengekor.


"Aku membeli celana jeans sebentar untuk berkerja." Jawab Ayu berjalan menaiki tangga. Dia tidak ingin melihat ke arah Dika bahkan berniat akan pergi malam ini." Aku hanya sebentar Mas." Imbuhnya masuk ke dalam kamar dan membiarkan pintunya terbuka begitu saja.


"Kenapa sebentar?"


"Untuk membereskan sebagian baju. Besok aku akan membawa sisanya." Dika menarik lengan Ayu lembut sehingga keduanya berdiri saling berhadapan.


"Apa maksudmu?" Ayu tersenyum getir membalas tatapan manik Dika.


"Aku menyerah. Ini terlalu menyakitkan. Jika memang kamu tidak berselera padaku. Mari bercerai." Jawab Ayu tegas. Dia tidak lagi sanggup ketika melihat Dika berdekatan dengan wanita lain.


"Aku tidak mau bercerai! Bukankah kau ingin merubah penampilan untuk pernikahan kita?"


"Ya! Aku sedang berusaha melakukan itu! Apa kau ingat perbincangan kita tadi pagi? Aku ingin kau menjauhi wanita itu tapi kau malah memamerkan kemesraan kalian padaku!! Apa yang bisa ku lakukan selain menuruti permintaan mu untuk berpisah!!" Ayu membalikkan tubuhnya lalu menarik kasar tangannya. Dia mengambil sebuah koper yang langsung di rebut Dika lalu melemparnya sembarangan.


Braaaakkkkk!!!


"Aku tidak akan menceraikan mu. Sampai kapanpun tidak."


"Aku yang akan menuntut cerai darimu setelah aku menerima gaji. Untuk masalah hutang ponsel. Tenang saja, aku akan mencicilnya." Dika membuang nafas kasar seraya mencengkram erat kepalanya yang seakan meledak.


"Lupakan soal uang ponsel. Kau tidak perlu berkerja lagi dan berdiamlah di rumah." Sangat terlambat Dika mengatakannya. Sebab setelah tuntutan itu, Ayu menjadi tahu jika Dika tidak pernah ikhlas memberikannya nafkah.


"Butuh waktu lama untuk melupakan itu. Lebih baik aku berkerja saja." Ayu berjalan untuk mengambil koper tapi lagi-lagi Dika menghalau langkahnya.


"Aku mohon padamu. Aku hanya sedang jenuh melihatmu. Setelah penampilan mu bisa berubah seperti dulu, aku berjanji akan menjauhi wanita itu."


"Egois kamu Mas!" Ayu mendorong pundak Dika kasar." Kau tidak memikirkan perasaanku dan terus saja membahas penampilan ku!!" Nafas Dika terbuang kasar. Terlihat Bibik tengah memperhatikan keduanya dari luar kamar bersama si penjaga rumah. Mereka takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." Ini di luar kuasaku! Aku ingin secantik dulu tapi Tuhan memang sudah merubahnya. Lalu fikirkan! Apa kau pantas melakukan itu hanya karena alasan ini!! Kau ingat Mas! Aku tidak selemah yang kau fikir! Aku sangat bisa jika harus hidup tanpamu." Ayu melewati Dika begitu saja lalu mengambil koper yang tergeletak di depan pintu. Dia membuka koper lalu meletakkannya di atas ranjang dan mulai memasukkan sebagian bajunya.


"Maaf. Aku ingin berhenti tapi dia menjerat ku." Ayu menoleh ketika mendengar suara lirih Dika yang seakan tengah memohon." Kamu tahu jika jabatan itu adalah mimpi terbesarku. Aku rela di pindah tugaskan ke banyak kota agar aku bisa mendapatkan posisiku sekarang." Dika berjalan menghampiri dan duduk lemah di sisi koper." Sejak semalam aku ingin meninggalkannya tapi dia mengancam akan membeberkan hubungan kami pada Direktur utama. Itu juga terjadi tadi siang. Aku berusaha menolak untuk datang ke sana. Dia memaksa dan mengancam ku. Apa yang bisa ku kulakukan selain menuruti nya." Gerakan Ayu terhenti. Hatinya yang masih terpaut pada Dika, membuat rasa ibanya langsung timbul.


"Itu sentuhan kita. Itu percintaan kita. Kalau memang kamu tidak berselera, diam itu lebih baik. Tunggu aku berubah dan jangan membagi sesuatu yang tidak seharusnya." Dika terkekeh dalam hati. Dia bisa menebak jika sebenarnya Ayu masih sangat mencintainya mengingat tahun-tahun yang sudah mereka lewati.


"Maafkan atas khilaf ku. Ini terjadi begitu saja." Aku memang tidak menginginkan Tania. Tapi setidaknya dia bisa memuaskan hasratku..


"Lalu apa rencana mu. Aku tidak mau melihatmu bersama nya Mas."


"Bantu aku memikirkan caranya. Aku sedang berusaha tapi belum menemukan. Wanita itu sangat gila." Terlalu gila hingga membuat ku ikut merasakan kegilaan itu. Bagaimana mungkin dia mengajakku bercinta di sana? Astaga, sensasi nya sangat memuaskan.


"Itu kenapa kamu tidak boleh bermain api."


"Aku hanya iseng saja." Ayu terdiam lalu duduk di sisi lain ranjang." Aku masih mencintaimu walaupun aku memang jenuh." Dengan lugunya Ayu kembali percaya pada alasan yang di lontarkan Dika." Jangan pergi." Dika beranjak dari tempatnya lalu mengambil tumpukan baju dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.

__ADS_1


"Aku percaya tapi tidak bisa sepenuhnya percaya. Jika kamu memang benar-benar hanya bermain-main. Cepat hentikan kegilaan ini!"


"Kau juga harus menuruti keinginanku." Ayu berdiri dengan gerakan kaku.


Dia mengakui kesalahannya tapi tidak juga berhenti menuntut ku berubah.


"Hm."


"Kemana?"


"Tidur di kamar tamu." Ayu berjalan perlahan untuk mengambil baju tidurnya.


"Sebaiknya kita tidur bersama."


"Setelah seleramu kembali, kita akan melakukannya. Percuma." Dessahan lembut lolos. Ayu berusaha mengendalikan perasaannya yang bergemuruh mengingat sikap dingin Dika." Kau sedang jenuh. Jenuh artinya bosan. Lalu untuk apa tidur di satu tempat namun nyatanya kita tidak bisa bersentuhan. Aku juga ingin sendiri malam ini. Kejutan yang kau berikan membuat jantungku berdetak tidak normal seperti saat pertama kita memutuskan untuk bersama. Hanya saja, ada rasa sesak yang terkadang membuat ku sulit bernafas. Selamat malam Mas." Ayu melangkah tenang seraya berjalan keluar meninggalkan Dika yang masih bersikukuh dengan keinginan untuk merubah bentuk tubuh Ayu seperti dulu.


"Sabar Nyah." Ujar Bibik lirih.


"Saya ingin selalu bisa melakukan itu." Jawab Ayu seraya tersenyum getir.


"Jus tomatnya sudah Bibik siapkan Nyah."


"Buang saja. Saya sedang tidak berselera." Ayu merogoh tasnya lalu mengambil dua butir pil pemberian Bu Erna dan menelannya tanpa bantuan air putih.


Duh Gusti. Tidak makan tapi malah minum pil sembarangan. Kenapa Tuan Dika tega sekali. Batin Bibik yang tengah berdiri terpaku, menatap Ayu yang sudah masuk ke dalam kamar tamu.


Triiiingggg!!!


Ayu meraih ponselnya untuk melihat pesan baru. Dia menyangka jika pesan itu adalah balasan dari Mita.


Nomer siapa ini?


Ibu jari Ayu menekan tombol play pada video yang di kirim oleh sebuah kontak baru.


Sontak matanya melebar dengan air mata yang lolos begitu saja. Video tersebut memperlihatkan ketika Dika dan Tania melakukan percintaan panas di dalam mobil.


"Tidak." Eluh Ayu lirih. Dia terduduk lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu lalu menutupnya rapat.


Ayu tidak ingin Dika melihatnya menangis dan membuatnya menjadi bahan olokan.


"Ini sentuhan kita Mas. Kau tega sekali." Ayu menghapus video tersebut lalu mencoba menghubungi nomer yang tertera di sana.


📞📞📞📞


"Suamimu menikmati tubuhku.

__ADS_1


"Dia juga akan melakukan hal yang sama denganmu suatu saat nanti! Kau akan merasakan atas kesakitan yang ku rasakan sekarang.


"Tidak mungkin. Aku bukan wanita bodoh seperti mu. Aku akan menjaga tubuhku agar selalu menarik agar Mas Dika tidak bosan denganku!


"Kau hanya belum mendapatkan karma!


"Ya terserah! Lepaskan Mas Dika.


"Untuk apa kau memohon pada wanita bodoh seperti ku. Bawa pergi dia. Ambil sesukamu jika memang dia menginginkan hidup bersamamu!


📞📞📞📞


Ayu mengakhiri panggilannya lalu memblokir nomer tersebut. Dia meletakkan ponselnya dengan gerakan kasar lalu kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Dia bilang tidak mencintainya tapi dia menikmati tubuhnya hiks hiks hiks. Dia bersemangat sekali." Tangis Ayu tumpah meski sebisa mungkin dia mencoba untuk meredam suaranya. Bayangan akan kegiatan panas yang ada di video, kini berputar-putar di otaknya.


Di tempat lain, Sam menghembuskan nafas berat lalu menjauhkan matanya dari teropong yang ada di hadapannya.


Dengan kekuasaannya, dia menyuruh kaki tangannya untuk membeli sebuah rumah lantai tiga yang menghadap ke arah kediaman Dika. Meski rumah tersebut berjarak 150 meter, namun dengan alat bantu, Sam bisa melihat dengan jelas kegiatan yang ada di dalam rumah tersebut.


"Sebenarnya, siapa wanita itu Tuan." Tanya Dimas, kaki tangan Samuel.


"Istri orang." Dimas tertawa kecil tapi langsung terhenti ketika melihat wajah serius Samuel." Kau fikir aku sedang bercanda." Imbuhnya duduk lemah setelah memastikan Ayu sudah berdiam di kamarnya.


"Untuk apa mengintai Istri orang?".


"Karena Suaminya terlalu bodoh dan aku berniat merebutnya." Dimas mengerutkan keningnya seraya tersenyum aneh.


"Masih banyak wanita lain Tuan."


"Banyak? Kau serius mengatakan itu??" Samuel tersenyum kecut sebab selama bertahun-tahun dia memutuskan untuk bersembunyi seraya mencari wanita yang sesuai dengan keinginannya.


"Saya tahu kalau tipe Tuan Sam sangatlah sulit."


"Lalu kenapa kau berkata banyak?"


"Tapi merusak hubungan rumah tangga itu perbuatan yang sangat buruk Tuan."


"Aku tahu dan aku sadar. Aku akan menunggu mereka berpisah. Setelah itu terjadi, dia harus menjadi milikku." Sam beranjak dari tempat duduknya. "Aku harus kembali ke kontrakan." Dimas menyerahkan uang tunai yang di minta Samuel.


"Biar saya antar Tuan."


"Tidak. Aku sudah memesan taksi." Samuel memasukkan amplop coklat ke dalam tas lusuhnya lalu berjalan keluar ruangan.


"Sulit di mengerti. Sangat banyak wanita singel, kenapa Tuan Sam malah memilih wanita bekas orang lain." Gumam Dimas ikut melangkahkan kakinya keluar ruangan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2