
Kedatangan Samuel di sambut dengan raut wajah tegang yang di balut dengan senyuman. Para staf hanya terdiam ketika Samuel melintas bersama Ayu dan gaya berpakaiannya yang sederhana.
Banyak dari staf wanita yang menyebut Ayu tidak pantas menjadi Istri si pemilik. Namun, Ayu ingin menunjukkan pada Dika jika menjadi Istri Samuel tidak perlu terlihat sempurna. Dia ingin mematahkan persepsi Dika yang selalu saja melihat sesuatu dari covernya.
Ayu dengan jujur mengutarakan keinginannya dan tentu saja Samuel tidak keberatan asalkan kedua tangan mereka tetap saling menggenggam. Persetujuan itu di lontarkan hanya agar Ayu bisa cepat-cepat melupakan kesakitan masa lalu akibat tekanan Dika yang menuntut kesempurnaan.
Ayu hanya mengenakan baju sederhana berwarna merah di padu dengan celana jeans.
Samuel sendiri mengenakan kemeja santai karena tidak ingin mengungguli penampilan Ayu.
Dimas langsung mengarahkan Samuel menuju gudang belakang tepatnya di bagian produksi. Pak Wira turut hadir menyambut kedatangan Samuel begitupun Dika yang terpaksa harus ikut bersama dengan lainnya.
Sial mereka datang! Umpat Dika tertunduk. Mencoba menghindari pemandangan yang menyayat hati. Dasar! Tidak bisa menghargai jabatannya! Apa pantas memakai kemeja murah seperti itu?
Dimas membisikkan sesuatu yang langsung membuat mata Samuel membulat. Bagaimana tidak, sebab Dimas mengatakan jumlah kerugian yang mencapai milyaran.
"Bagaimana bisa?" Tanya Samuel lirih.
"Saya juga baru saja tahu Tuan. Itu terhitung enam bulan. Saya tidak tahu apa masih ada yang di tutupi." Samuel menoleh ke arah Ayu yang hanya terdiam. Dia ingin meredakan emosinya agar tidak terlalu meluap-luap.
"Di mana dia?!" Tanya Samuel terdengar di tekan.
"Sebentar Tuan." Dimas pergi untuk memanggil Pak Ipul yang ternyata tubuhnya melemas karena kecurangannya di ketahui.
Dengan di bantu kedua rekannya, Pak Ipul di dudukkan pada kursi plastik sementara Samuel tetap berdiri. Dimas tertunduk, dia tidak tega melihat keadaan Pak Ipul yang memang sudah tua. Dia tetap memperkerjakan beliau karena rasa belas kasihan pada Pak Ipul yang sudah berkerja dari saat perusahaan itu baru di bangun.
"Kau pakai apa uangnya!!" Ayu menghela nafas panjang. Tuduhannya benar-benar terjadi. Samuel tidak bisa mengendalikan emosinya ketika menyangkut sebuah pengkhianatan.
"Sa saya pakai untuk membiayai pengobatan anak saya Pak." Samuel tersenyum tipis sambil mengatur nafasnya yang mulai memburu.
"Aku bosan mendengar alasan tersebut!"
"Anak saya memang sakit Pak. Saya tidak berbohong." Jawabnya mulai terisak.
"Bapak bisa tunjukkan buktinya?" Sahut Ayu menimpali. Samuel menoleh seraya membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Bisa Non. Bapak masih simpan semua bukti pembayaran biaya rumah sakit. Sedang di ambil Pak Dimas."
"Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengambilnya." Jawab Dimas tegas.
"Sabar dulu Bee. Kita tunggu buktinya." Ayu mengusap-usap lengan Samuel untuk merendahkan emosi. Sementara Dika yang melihat itu, tentu saja terbakar api cemburu apalagi mendengar panggilan baru untuk Samuel.
Kenapa kau baru mau memanggil semesrah itu ketika sudah hidup bersama lelaki kaya!!
Dika masih tidak menyadari jika apa yang di hadirkan Ayu adalah bentuk timbal balik atas kenyamanan yang di berikan Samuel padanya.
"Sepuluh milyar bukan jumlah yang sedikit Babe. Bagaimana cara tua bangka ini menghabiskan itu!!"
"Jaga bicaramu Bee. Dia orang tua. Setidaknya hormati lah, walaupun nantinya dia terbukti bersalah." Aku merasa ada sesuatu yang ganjil.
"Bagaimana mungkin aku tersenyum untuk pencuri itu!"
"Uangnya tidak akan kembali meskipun kamu mengumpat. Telusuri dulu kebenarannya. Aku tidak yakin biaya obat sampai mencapai milyaran." Kata-kata Ayu membuat wajah beberapa orang seketika berubah seakan membenarkan hal tersebut.
"Maaf Pak sedikit lama. Rumahnya berada di kampung jadi saya harus melalui jalan kecil." Ucap orang suruhan Dimas seraya menyodorkan sebuah Map yang langsung di ambil Samuel.
"Rumahnya bagus?" Tanya Samuel pada orang suruhan Dimas.
"Punya mobil?"
"Saya harus mengojek untuk masuk ke dalam karena mobil tidak bisa masuk." Dengan kecerdasannya, Samuel menghitung jumlah uang yang di keluarkan untuk biaya cuci darah dan operasi.
"Hanya 300 juta. Bukti pembayaran lain mana?" Tanya Samuel ingin mengikuti saran dari Ayu.
"Saya sendiri yang melihat Istrinya sudah mengeluarkan semua bukti pembayaran di dalam lemari." Sahutnya cepat.
"Sisa uang kau belikan apa?" Pandangannya beralih pada Pak Ipul.
"Saya juga membawa surat rumah dan surat kendaraan yang Pak Ipul kendarai setiap harinya." Samuel melihat sertifikat rumah dan surat kendaraan yang menurutnya tidak ada hubungannya dengan uang tersebut.
"Tidak ada yang lain."
"Tidak Pak. Istrinya dengan senang hati menyuruh saya mengeledah isi lemari."
"Apa lemarinya hanya satu?!!"
__ADS_1
"Ada dua Pak. Saya sudah mengeledah seluruh isi rumah dan hanya menemukan surat berharga itu. Maaf. Rumah Pak Ipul tidak memiliki banyak perabotan." Jawabnya menjelaskan.
"Sisa uangnya Bapak taruh mana?" Tanya Ayu pelan.
"Itu saja Non."
"Bagaimana bisa kau bilang itu saja!! Jumlah yang kau habiskan hampir sepuluh milyar lebih!!" Isakan Pak Ipul semakin menjadi. Selain dia bingung dengan kasusnya sekarang. Dia juga merasa bingung jika nantinya dia di penjara. Siapa yang akan mengurus semua biaya rumah sakit. Uang yang di hasilkan dari mencuri tidak dapat membuat kondisi anaknya membaik. Sakitnya bahkan tidak berubah dan semakin parah.
Ayu terpaksa melepaskan genggaman tangannya lalu duduk berjongkok tepat di hadapan Pak Ipul yang tertunduk. Nalurinya berkata jika ini semua bukan sepenuhnya kesalahannya.
"Dengan bukti ini mungkin saya bisa membela Bapak untuk tidak di penjara." Menunjukkan bukti pembayaran rumah sakit." Tapi kalau Bapak tetap tidak mau memberitahu di mana uang sisanya. Mungkin saya akan lepas tangan." Pak Ipul menghela nafas panjang agar tangisnya meredah.
"Saya siap di penjara Non." Samuel memegang pundak Ayu dan menariknya lembut agar bangun.
"Dia orang yang tidak patut di tolong. Jangan merendahkan diri seperti itu." Pinta Samuel masih mencoba menahan amarah agar tidak mengunakan kekerasan untuk memaksa Pak Ipul mengaku.
"Aku tidak sedang merendahkan diri. Aku mengerti bagaimana bingungnya hati orang tua ketika melihat anaknya sakit. Jika iman mereka kuat, mereka akan pergi mencari pinjaman dan tidak lagi memikirkan dengan apa mereka membayar. Mungkin beliau khilaf sampai mencari jalan mudah."
"Tapi tidak untuk mencuri. Ini sudah perbuatan kriminal."
"Beliau sudah menunjukkan buktinya." Mengangkat tangan kanannya.
"Kamu tidak tahu apa-apa Babe. Sangat banyak orang munafik di sekitar kita."
"Aku merasa beliau tidak seperti itu." Ayu tidak perduli dengan banyaknya orang yang ada di sana. Memang dia tidak pernah tahu menahu masalah bisnis. Tapi untuk kasih sayang kedua orang tua. Ayu sangat mengerti bagaimana perjuangan kedua orang tuanya ketika menyekolahkannya. Mereka harus hutang sana sini apalagi ketika dirinya sakit. Mereka akan memberikan perawatan terbaik untuk kesembuhannya.
Dimas tersenyum seraya mengangguk. Dia merasakan kebimbangan yang sama namun tidak menemukan bukti apapun. Pak Ipung seakan bungkam dan enggan mengatakan di mana sisa uang penjualan dari barang yang di curi.
"Suruh dia mengaku. Aku tidak akan membawa masalah di ke meja hijau." Walaupun amarah terasa menggebu-gebu. Nyatanya Samuel masih menimbang dugaan Ayu pada Pak Ipul. Dia kembali duduk berjongkok seraya mulai memikirkan pertanyaan yang bisa menekan agar Pak Ipul berkata jujur.
"Sakit apa Pak?"
"Gagal ginjal Non. Bapak masih mencari pendonor ginjal tapi belum menemukannya."
"Bagaimana nasib anak itu kalau Bapak di penjara?" Pak Ipul melirik ke satu arah dengan wajah ketakutan. Terlihat kebimbangan terpatri pada mimik wajahnya." Saya berjanji akan membantu biaya pengobatan bahkan mencarikan pendonor kalau Bapak mau berkata jujur." Ayu menoleh sejenak untuk melihat siapa sosok yang sedang di lirik Pak Ipul. Aku tidak tahu siapa lelaki itu?
Ayu melihat seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam tengah menatap tajam Pak Ipul.
"Hidup itu pilihan Pak. Saya yakin penyakit itu tidak akan sembuh dengan uang hasil mencuri. Di sini saya hanya mampu bertanya sejauh ini sebab yang memiliki kuasa adalah Suami saya. Kalau Bapak tidak jujur berarti tidak secara langsung Bapak sudah membunuh darah daging Bapak sendiri. Tapi kalau Bapak jujur, saya akan menanggung biaya pengobatan sampai anak Bapak bisa sembuh. Itu pilihan yang mudah. Katakan atau tidak sama sekali." Ketika Ayu akan beranjak untuk berdiri. Tangan keriput Pak Ipul menahannya. Dia mendekatkan bibir keriputnya ke arah telinga Ayu untuk mengatakan sebuah kejujuran yang sebenarnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹