
Bu Erna memasang wajah masam dengan wajah tertunduk. Memang benar jika Tania adalah menantu idamannya, tapi Bu Erna tidak menginginkan pernikahan memalukan seperti yang terjadi pagi ini.
Namun wajah masam itu terganti ketika sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah. Pak Wira keluar dari sana untuk menjadi wali pernikahan anak angkatnya yaitu Tania.
Wahhh mobilnya bagus sekali..
Pak Wira sudah lelah dengan kelakuan Tania yang sering membuat ulah. Terakhir kali dia sampai di panggil pihak kepolisian sebab Tania di tuduh menyelinap masuk ke dalam kamar Leo tanpa izin.
Tentu ada rasa malu terbesit. Namun Pak Wira tidak mempermasalahkan pernikahan ini dengan syarat, Dika dapat menunjukkan bukti perceraiannya.
"Mana Istri pertama Anda Pak." Tanya Pak Wira menatap Dika pasrah.
"Dia tidak bisa hadir."
"Saya tidak mau memulai jika tanpa restu Istri pertama Bapak. Saya tidak ingin nantinya Tania menari-nari di atas penderitaan seseorang."
Entah kenapa, Pak Wira tidak sepenuhnya percaya pada alasan Dika yang menyebut Ayu sudah lebih dulu berselingkuh. Meskipun Tiara hanya anak angkat, dia tidak mau asal menerima pernikahan apalagi mengingat Dika yang berstatus Suami orang.
"Dia memilih lelaki lain Pak. Saya bisa apa. Dia sudah di panggil tapi tidak mau hadir." Jawab Dika pelan.
"Iya Pak. Saya tadi yang memanggilnya. Dia berkata sudah ikhlas dan merestui pernikahan ini." Sahut Bu Broto menimpali.
"Saya tetap tidak mau. Lebih baik pernikahan ini batal saja dan menunggu sampai Istri pertama nya bisa hadir."
"Wah tidak bisa begitu Pak. Para warga sudah sepakat untuk menikahkan mereka hari ini. Kami takut mereka berbuat zina lagi jika tidak di nikahkan."
"Kalau seperti itu. Hadirkan Istri pertamanya." Jawab Pak Wira bersikukuh atas niatnya.
Tepat setelah ucapan itu terlontar, motor Samuel sudah terparkir di depan rumah. Beberapa warga menghampiri kedatangan Ayu yang sudah mereka kenal sementara Samuel memakai masker sebelum ikut melangkah masuk.
Samuel sudah mengantongi biodata tentang Tania yang ternyata anak angkat dari Pak Wira. Walaupun Samuel tidak yakin bisa di kenali. Dirinya tetap berjaga-jaga untuk kejutan besar yang sudah di siapkan nanti.
"Saya Istri pertamanya Pak." Ujar Ayu berdiri seraya menatap lekat Dika dan Tania.
Ayu harus kembali berpura-pura kuat untuk menerima kenyataan pahit di hadapannya. Dia memotivasi hatinya kalau hari ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Dika. Setelah ini, dia tidak akan lagi berurusan dengan lelaki yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.
"Saya merestui hubungan mereka Pak." Imbuhnya tersenyum.
Gawat ini! Kalau Ayu membeberkan semuanya bagaimana? Apa jabatanku tidak akan turun? Ah tidak. Aku akan menjadi Suami Tania. Aku yakin itu tidak akan terjadi..
"Saya ingin bertanya beberapa hal padamu." Ayu mengangguk kemudian duduk tepat di samping Pak Wira sementara Samuel sendiri baru saja masuk." Maaf. Apa benar kalian akan bercerai? Bapak tidak ingin kalau anak Bapak menjadi Istri kedua yang pasti berdampak buruk pada salah satunya." Tanya Pak Wira memasang wajah serius.
"Iya Pak. Kami akan bercerai." Ayu meletakkan surat gugatan di atas meja." Silahkan tanda tangan. Setelah itu, kita resmi berpisah." Nyeri hebat pada hati Ayu langsung menjalar. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Segera saja Tania mengambil surat tersebut lalu mengambil selembar kertas yang ada di dalam.
__ADS_1
"Cepat sayang." Pinta Tania menyodorkan sebuah bulpen.
Keraguan yang terbesit, membuat Dika memelankan gerakan tangannya saat akan membubuhkan tanda tangan.
Jangan Mas aku mohon. Ini bisa di perbaiki jika memang kamu masih mencintai ku.. Batin Ayu dengan manik fokus pada gerakan tangan Dika.
Aku tidak percaya akan secepat ini. Bagaimana caranya Ayu mendapatkan surat gugatan ini? Ya Tuhan. Kenapa sekarang aku menyesal melakukan ini.
Sesal yang tidak lagi berguna sebab Dika sudah jauh berbelok arah dari niat awalnya. Apalagi sekarang kehilangan perkerjaan menjadi ancaman terbesar, sehingga tanda tangan terpaksa di bubuhkan.
Ya Tuhan... Sakit sekali.. Tapi aku yakin ini pilihan terbaik..
Samuel menyadari tangan Ayu yang terlihat bergetar ketika akan mengambil lagi amplop surat.
"Biar ku bawa." Segera, Samuel mengambil surat tersebut lalu mengantonginya.
"Alasan kalian bercerai?" Tanya Pak Wira masih tergelitik hatinya. Nalurinya sebagai orang tua sanggup merasakan jika tidak ada yang salah dari Ayu. Dia bahkan menilai jika Ayu adalah wanita yang hangat dan sangat cocok untuk di jadikan sosok Istri.
"Dia memilih lelaki itu." Sahut Dika cepat, tangan kanannya menunjuk Samuel.
"Saya bertanya padanya." Melihat ke arah Ayu.
"Saya sudah tidak nyaman bersama Mas Dika. Dia tidak bisa menerima kekurangan saya sehingga saya mencari perhatian lain di luar sana." Ayu sudah lelah sehingga dengan gamblang dia menyalahkan dirinya sendiri atas semuanya.
"Kalian dengar sendiri kan."
Terdengar lirih para warga bergumam membicarakan kebenaran yang di lontarkan Ayu. Mereka juga tidak percaya karena selama ini Ayu hampir tidak pernah meninggalkan rumah. Bagaimana caranya dia berselingkuh kalau keluar rumah saja selalu berdua?
Itu tanda tanya besar tapi para warga memilih tidak berprotes agar pernikahan bisa segera di laksanakan.
"Ya Mas. Semoga saja Istri mu kali ini bisa lebih membahagiakan. Aku hanya meminta untuk berhenti saling menjelekkan. Kita sudah memilih hidup kita masing-masing."
"Kau yang memulai ini." Ayu menghela nafas panjang kemudian kembali menatap Pak Wira.
"Saya undur diri Pak. Setelah ini saya berjanji tidak akan menampakkan diri apalagi sampai menganggu hubungan mereka. Bapak tidak perlu khawatir dan ragu. Saya wanita yang berprinsip. Saya juga tidak mungkin mengambil sesuatu yang sudah saya buang."
"Bapak percaya." Jawab Pak Wira cepat. Dia sempat menatap ke arah Samuel yang masih berdiri sejak tadi.
"Silahkan di lakukan. Em saya permisi."
"Tunggulah sebentar saja." Pinta Pak Wira tersenyum teduh. Dia berharap Ayu bisa tetap tinggal sampai pernikahan selesai.
"Saya harus berkerja."
"Oh begitu."
__ADS_1
"Ya Pak. Saya permisi." Ayu mengangguk seraya tersenyum kemudian berdiri di ikuti oleh Bu Broto. Dia langsung merangkul kedua pundak Ayu untuk mengantarkannya ke depan.
"Sabar Nak Ayu."
"Ya Bu terimakasih. Saya permisi." Ayu bergegas pergi. Dia takut tidak sanggup menahan air matanya dan kembali menimbulkan kebimbangan pada hati Pak Wira. Sudah selesai. Semuanya benar-benar hancur sekarang. Aku bukan lagi Istri Mas Dika..
Ayu menghembuskan nafas berat, beberapa kali seperti itu. Dia berusaha menahan rasa sakit yang mencabik habis perasaan. Ayu sampai melupakan Samuel yang sejak tadi melihatnya dari spion.
"Menangis saja." Pinta Samuel seraya meraih jemari kanan Ayu lalu menariknya lembut. Gerakan lembut yang terjadi tiba-tiba, sontak membuat kepala Ayu membentur pundak belakangnya.
"Apa sih Mas! Lepas!" Teriak Ayu tidak dapat menolak secara bebas sebab keduanya berada di atas motor yang melaju.
"Aku menyediakan tempat untuk menangis. Keluarkan, agar perasaan mu lega."
"Aku sedang tidak ingin di sentuh!"
"Lalu, kamu ingin apa?"
Samuel tidak peduli, tangannya tetap menahan agar lengan Ayu berada di perutnya.
"Tidak ingin apa-apa!!" Terpaksa, Ayu bersandar pada pundak tegap di hadapannya. Tidak dapat di pungkiri jika dia membutuhkan itu sekarang.
"Hatimu sakit sekali."
"Jangan sok tahu. Aku sudah ikhlas."
"Tarikan nafas mu terasa berat Babe." Ayu mengatur nafasnya yang memang terasa sesak. Namun rasa sesak itu tidak juga meredah bahkan semakin mendorong kuat." Aku akan mengobati rasa sakit mu setelah ini." Ayu mengangkat tangan kirinya lalu memukul-mukul punggung Samuel.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Sialan! Lelaki sialan!"
"Agh! Sakit Babe. Kenapa kamu malah memukulku?"
"Bisakah kau berhenti membicarakan ucapan memuakkan itu! Aku tidak akan berpengaruh! Huaaaaaaaaaaaa... Hiks.. Dia tidak menghargai bakti ku dan melupakan tahun-tahun yang sudah kita lalui."
Samuel tersenyum sebab dia mendapatkan apa yang di inginkan. Samuel berharap, ini terakhir kali air mata Ayu keluar. Dia menginginkan kesakitan bisa terhapus seiring air mata yang menetes.
"Semua lelaki memang tidak tahu diri, kecuali aku." Jawab Samuel menggoda. Ayu yang merasa kesal langsung mengigit pundaknya keras." Aaaaaaggghhh Babe teruskan, ini nikmat sekali." Imbuhnya semakin membuat Ayu geram.
Bugh! Bugh! Bugh!
🌹🌹🌹
Jadikan like sebagai uang parkir 😁 Terimakasih 🥰
__ADS_1