Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Tanda merah


__ADS_3

Warning!!!


Bagi yang tidak suka adegan fulgar! Harap di skip😁


Happy reading ❤️💦


Ayu mencari keberadaan Samuel di semua sudut Vila. Dia tidak menemukannya dan mengayunkan kaki menuju dapur, satu-satunya tempat yang belum di periksa.


Seketika langkah Ayu terhenti, saat melihat keberadaan Samuel di dapur yang tengah membuat minuman.


Dia tidak marah?


"Kamu tidak mandi dulu." Lamunan Ayu buyar. Dia tersenyum dan berjalan mendekat.


"Aku fikir kamu marah Mas." Ayu berdiri tepat di samping. Samuel meliriknya sekilas dan tersenyum ketika melihat beberapa tanda merah terlihat di leher Ayu.


"Mana mungkin Babe."


"Maaf atas ucapan ku tadi." Ujar Ayu lirih.


"Aku hanya mengingat nada bicaramu semalam." Jawab Samuel cepat.


Deg!!!


Ayu memperlihatkan wajah aneh. Dia juga mengingat semua adegan yang terjadi semalam.


"Membuatku berdebar-debar. Huft.." Imbuhnya seraya menghembuskan nafas berat.


"Darimana Mas tahu aku suka kopi?" Ayu kembali berusaha mengalihkan pembicaraan dan ingin menghindari pembahasan yang akan membuatnya malu.


Cup!


Sontak Ayu memutar tubuhnya ketika tiba-tiba bibir hangat Samuel mengecup salah satu tanda merah pada lehernya.


"Aku akan mengurangi rasa sakitnya." Tidak akan aku biarkan kamu lari dari pembahasan yang terjadi semalam.


"Tidak sakit Mas." Tolak Ayu dengan kepala tertunduk.


"Berarti enak?" Wajah Ayu merah padam karena menahan malu. Sekalipun dia tidak pernah terbawa suasana seperti semalam.


"Nanti kopinya dingin Mas."


"Biar ku hangatkan kalau dingin." Kaki Samuel terayun maju dan mulai menghimpit tubuh Ayu. Membuat si pemilik tubuh mendongak dengan wajah tegang


"Mas, ini dapur." Ucap Ayu mencari alasan untuk menolak sentuhan meskipun dia tidak kuasa menolak. Samuel adalah Suaminya, itulah alasannya dan menjadi kelemahannya.


Sekuat apapun dia berusaha menepis rasa untuk cepat menerima. Tapi bakti pada Samuel sudah wajib di terapkan. Suka tidak suka, mau tidak mau. Kalau seorang lelaki sudah menjadi Suami mu. Wajib bagi kamu menuruti kemauannya.


Sudah bisa di lihat bagaimana kepatuhan Ayu pada perkataan orang yang di anggapnya penting. Kata-kata almarhum Ibunya mengiringi setiap langkah hidupnya. Meskipun akibat dari perkataan itu, Ayu mengalami kegagalan rumah tangga karena terlalu patuh.


"Katamu dingin. Lingkarkan tanganmu Babe."


"Maksudku kopi Mas, bukan..." Samuel menuntun kedua tangan Ayu untuk melingkar pada pinggangnya.


"Sejauh ini. Aku hanya tahu satu keahlian yang terlihat menonjol pada mu."

__ADS_1


"Apa itu?" Posisi yang sangat nyaman, membuat Ayu merasakan kedamaian hingga terpaksa kepalanya di sandarkan lemah pada dada bidang Samuel.


"Keahlian untuk menghindar."


"Menghindari apa?"


"Kamu tidak merasa?"


"Tidak."


"Hm ya sudah." Samuel melepaskan dekapannya. Ingin rasanya Ayu mencegah itu terjadi, namun dirinya masih terlalu malu." Hanya ada kopi kemasan." Samuel mengiring Ayu ke meja makan lalu mendudukkannya pada salah satu kursi.


Nafas Samuel terbuang kasar ketika matanya kembali menangkap betapa banyaknya tanda kepemilikan di leher Ayu. Hasratnya terkoyak dan ingin mengulang kembali percintaan semalam.


"Kalau nanti keluar Vila, sebaiknya rambutnya jangan di ikat." Ujar Samuel seraya menyeruput kopi." Kulitmu terlalu putih. Ini terlihat jelas sekali." Samuel mengulurkan tangannya dan menyentuh salah satu tanda berwarna merah tua itu." Sakit?" Tanyanya dengan suara berat. Menyentuhnya dengan ujung telunjuk dan penuh perasaan.


"Tidak Mas." Jawab Ayu lirih. Dia sendiri juga tengah menahan hasrat yang langsung menjalar akibat sentuhan tersebut.


"Caramu meminta sangat ku sukai. Aku menjadi lupa diri dan memberikan tanda sampai sebanyak ini." Samuel belum juga menyingkirkan tangannya dan malah menggeser posisi kursi agar mendekat. Tanda merah itu menggelitik hatinya." Biar ku ringankan rasa sakitnya." Imbuhnya seraya menundukkan kepala dan memberikan kecupan ringan. Bukan berharap sakit meredah, tapi Samuel memikirkan sebuah harapan lain agar Ayu bisa menyuguhkan suara lembut nan manja seperti semalam.


"Ba bagaimana kalau ada yang melihat Mas." Tolak Ayu menahan desisan dengan mengigit bibir bawahnya.


"Apa yang salah dari ini? Kamu Istriku dan ini di dalam ruangan." Jawab Samuel sesekali menempelkan hidung mancungnya dan menghirup aroma tubuh Ayu kuat.


"Tukang kebun Mas?" Nafas Ayu mulai memburu seiring dengan raut wajah menegang dan memerah.


"Pintu masih terkunci. Dia tidak akan masuk sembarangan. Dia tahu aku di sini. Jangan di tahan, lepaskan apa yang ingin kamu lakukan." Pinta Samuel menggeser lagi kursinya. Jarak keduanya semakin dekat dengan cumbuan ringan yang terasa melenakan bagi Ayu.


"Emm di situ Mas.." Pinta Ayu lembut. Dia tidak mau di sebut munafik dan menolak sentuhan dari sosok sesempurna Samuel. Mungkin itulah yang membuat dirinya merespon begitu cepat. Bukan hanya paras yang menjadi penyemangat. Tapi sentuhan demi sentuhan terasa memabukkan hingga menembus hatinya." Lagi Mas." Kedua tangan Ayu mulai menggalung seraya menekan lembut kepala Samuel untuk tidak berpindah area.


"Gigit lebih keras Mas Sam.." Tubuh Ayu menggeliat, merapat sesekali mendesis, menekan-nekan kepala Samuel dengan mendongak dan memejamkan mata.


Samuel juga mulai terbawa arus hasrat. Menyapu tanda merah dengan lidah lalu mengigit nya bahkan menghisapnya kuat-kuat.


Ah...


Satu kali dessahan lolos, di susul dengan dessahan lain yang mulai terdengar meski Ayu mencoba menahannya.


"Aku tidak tahan." Ucap Samuel bergegas mengangkat tubuh Ayu keluar dari dapur. Kakinya melangkah menaiki tangga dengan cepat, seakan tubuh Ayu seringan kapas.


Keduanya masuk ke dalam kamar untuk menuntaskan hasrat yang kembali memanas. Selayaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Mereka larut akan sentuhan yang sudah lama tidak di rasakan.


Hasrat dan naffsu terasa meledak-ledak, menghempaskan kepahitan yang sempat melanda kehidupan keduanya. Kini mereka sudah tenggelam dalam perasaan yang mulai menembus hati masing-masing.


.


.


.


.


.


Padahal aku berniat mendekatinya terlebih dahulu agar dia bisa terbiasa denganku di pesta pernikahan kami nanti, tapi...

__ADS_1


Samuel tersenyum simpul menatap wajah lelah Ayu yang tengah tertidur di dekapannya. Dirinya tidak menyangka melakukan sentuhan sejauh ini.


Jadwal akad sengaja di percepat agar nantinya Ayu tidak lagi canggung padanya. Hal itu di lakukan untuk mematahkan persepsi para tamu undangan yang pasti sedang membicarakan tentang sosok mempelai wanita.


Selayaknya apa yang ada di fikirkan Dika. Banyak dari mereka bertanya-tanya alasan Samuel tidak menulis nama Ayu di sana. Dia ingin mengejutkan Dika seperti bom waktu yang akan meledak dengan cara sesuai keinginan nya.


Samuel ingin menunjukkan pada Dika, jika sesuatu yang di sebutnya tidak indah mampu di rubah menjadi permata berharga.


Samuel bukan orang sembarang, bukan pula bos yang suka bermain hati. Keputusan memilih Ayu sebagai pendamping tentu tidak di anggap main-main karena sebagian rekan kerjanya mengenal sifatnya dengan baik.


Sangat sulit untuk mendekat, sebab publik tidak mengetahui bagaimana wanita idaman Samuel sesungguhnya setelah paska perceraian. Hal itu di lakukan karena Samuel banyak melihat kemunafikan yang terjadi di sekitarnya termasuk kecurangan yang di lakukan mantan Istrinya.


Drrrrtt... Drrrrtt... Drrrrtt...


Segera saja Samuel meraih ponselnya lalu berdiri untuk menerima panggilan. Dia tidak ingin Ayu terjaga karena obrolannya.


📞📞📞


"Semuanya sudah siap Tuan.


"Dia sedang tidur.


"Tidak masalah Tuan. Saya sudah memboking tempat ini setelah pemeriksaan keamanan di lakukan.


"Hm kerja bagus. Aku akan ke sana setelah dia bangun.


"Baik Tuan.


📞📞📞


Samuel menghela nafas panjang ketika dia berbalik badan, Ayu terlihat sudah duduk dengan keadaan berantakan.


"Memangnya mau kemana Mas." Tanya Ayu lirih.


"Ada suatu tempat yang ingin ku kunjungi di sini." Samuel berjalan menghampiri dan duduk di sisi Ayu.


"Tempat apa?"


"Tempat yang akan membuat perasaan sakit mu terlepas." Ayu menoleh lalu tersenyum sedikit." Tidak bertanya lagi?" Imbuh Samuel kembali merasa gemas akan tingkah laku Ayu.


"Tidak Mas. Asal jangan di bunuh saja." Samuel terkekeh lalu menarik lembut kedua kaki Ayu sampai tubuhnya kembali berbaring.


"Kamu terlihat lelah. Maafkan aku." Ucap Samuel seraya memijat lembut kedua kaki Ayu untuk meringankan rasa nyeri akibat keganasannya ketika di ranjang.


"Itu hal yang wajar Mas. Tidak perlu seperti ini, harusnya aku yang melakukannya." Ayu menurunkan kakinya tapi Samuel kembali menariknya lalu memangku nya.


"Kamu Istriku, Ratuku.. Sudah kewajiban ku melayani tapi aku membutuhkan timbal balik untuk pelayanan spesial ini." Ayu memilih pasrah. Dia duduk dan membiarkan tangan Samuel memijat kakinya.


"Apa Mas?"


"Setia dan menuruti apapun permintaan ku."


"Iya aku tahu."


"Sekarang aku minta kamu diam, jangan banyak berprotes. Ini wujud rasa terimakasih untuk pelayanmu tadi." Bibir Ayu terlihat tersungging. Permintaan Samuel di rasa hanya sebagai bentuk ancaman manis untuknya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2