Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Permintaan maaf Bu Erna


__ADS_3

Sepulangnya Samuel dari perusahaan, dia sengaja mengajak Ayu jalan-jalan ke Plaza. Samuel berharap Ayu berubah fikiran dan mau menurutinya untuk mengkonsumsi susu Ibu hamil.


Alasannya agar Ayu sehat juga janin yang ada di dalam perut. Selama hamil, Ayu sulit memakan nasi. Dia bahkan melarang para pembantu memasak karena muak dengan bau bumbunya.


Hal itu tentu saja membuat Samuel merasa khawatir, apalagi Dokter mengatakan kalau berat janin Ayu tidak sesuai umur kandungan.


"Bee, donat nya kelihatan nya enak." Menunjuk ke toko kue dengan berbagai donat berjajar di dalam etalase.


"Kamu mau?"


"Iya Bee."


"Hm kita bungkus untuk di bawa pulang ya."


"Iya, aku juga ingin segera pulang."


"Hm ayo." Keduanya masuk ke dalam toko, memesan rasa sesuai keinginan Ayu lalu melanjutkan perjalanan menuju parkiran.


"Bee bolehkah aku memakannya satu saja. Yang rasa kacang sepertinya enak." Samuel mengiring Ayu duduk di salah satu tempat yang memang di khususkan untuk tempat beristirahat. Dia mengambil satu donat sesuai pesanan lalu memberikannya pada Ayu." Hmmm.. Donatnya lembut sekali Bee." Ujar Ayu bergumam.


"Syukurlah kalau kamu suka." Tidak lupa, Samuel menyiapkan air mineral yang sudah terbuka segelnya.


"Kamu tidak minta Bee?"


"Tidak, nanti kamu kurang. Aku juga jarang lapar." Semenjak Ayu tidak berselera makan, membuat Samuel malas menyentuh makanan.


"Iya. Seharusnya tadi membeli banyak. Donatnya enak."


"Kita bisa kembali untuk membelinya."


"Aku lelah Bee."


"Hm habiskan lalu kita pulang."


Ketika Ayu menikmati donat, sebuah suara menyapanya di iringi dengan tepukan pundak.


"Ayu."


"Tania."


Manik Tania melirik cincin berlian pemberiannya yang masih terpakai di jari tengah tangan Ayu. Pemandangan itu membuatnya merasa di hargai dan berarti.


"Astaga perutmu sudah besar sekali." Ayu menyuapkan sisa donatnya pada Samuel yang langsung melahapnya. Dia berdiri lalu mengusap lembut perut Tania. Senyumnya mengembang ketika sebuah gerakan terasa menyentuh telapak tangannya." Dia bergerak." Imbuh Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Oh, dia menyambut mu Ay."


"Manis sekali Niah. Kapan milikku bergerak seperti itu." Tangan Ayu beralih mengusap perutnya sendiri.


"Berapa umur kehamilan mu."


"Empat bulan lebih."


"Sebenarnya dia sudah bergerak tapi karena terlalu kecil jadi tidak terasa." Jawab Tania menjelaskan.


"Dokter juga berkata seperti itu."


"Sedang berjalan-jalan?" Tanya Tania ramah. Dia sempat tersenyum ke arah Samuel tapi di abaikan.


"Iya. Tadi aku membeli donat. Kamu mau?"


"Terimakasih Ay."

__ADS_1


"Kamu sendiri ingin membeli apa?"


"Aku menyewa satu tempat di sini. Em aku berjualan macam-macam perlengkapan bayi dan Ibu hamil. Kamu mau mampir? Tempatnya di sana." Menunjuk ke salah satu toko yang terlihat cukup ramai. Ini kesempatanku untuk mempertemukan mereka. Ayu harus tahu bagaimana wajah Dika sekarang..


"Sebaiknya kita langsung pulang Babe. Bukankah kamu tadi mengeluh lelah." Sahut Samuel ikut beranjak.


"Kita mampir sebentar Bee. Untuk melihat-lihat saja."


"Em kalau memang kamu lelah, sebaiknya pulang saja. Jangan di paksakan." Sungguh Tania tidak ingin membuat Ayu kesulitan. Dia yang sudah menemukan tambatan hati, sudah jarang menunjukkan kegilaannya sebab Dika tidak lagi berulah.


Kini Dika menjadi penurut dan mulai bisa menerima kenyataan. Dia mengunakan keahliannya mengelola usaha kecil-kecilan milik Tania. Dika memasarkan toko lewat online bahkan terkadang mengadakan siaran langsung agar toko miliknya di kenal publik.


"Tidak Niah. Aku ingin tahu bagaimana toko mu. Ya Bee, hanya sebentar." Ucap Ayu merajuk.


"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan."


"Hanya sebentar lalu pulang." Ayu kembali melontarkannya sebelum Samuel membalasnya dengan kata iya.


"Hm oke. Hanya sebentar." Jawab Samuel lemah.


Tania mempersilahkan Ayu akrab, memegangi lengannya dengan kedua tangan untuk membantu Ayu berjalan.


Setibanya di toko, Ayu tersenyum saat melihat keadaan toko cukup ramai. Tania bahkan sudah memiliki beberapa karyawan untuk membantu.


Namun matanya berhenti pada salah satu sosok yang tengah sibuk di meja kasir. Di sampingnya ada Bu Erna yang membantu memasukkan belanjaan para pengunjung.


Mas Dika? Tidak mungkin? Kenapa wajahnya seperti itu..


Samuel tersungging, ketika melihat keadaan Dika dengan luka bakar pada separuh wajahnya. Walaupun belum bertanya, Samuel merasa yakin jika itu Dika, mantan Suami Ayu.


"Bukankah itu Mamanya Mas Dika?" Menunjuk ke arah Bu Erna. Bersamaan dengan itu Dika menyadari keberadaan Ayu yang tengah menatapnya.


Ayu...


"Wajah Mas Dika kenapa?" Tanya Ayu pelan.


Dika terdiam sementara Bu Erna terlihat meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri Ayu. Wajahnya terlihat senang, bercampur aduk dengan penyesalan juga rasa terimakasih karena telah membiayai Alan masuk ke rumah sakit jiwa.


"Ayu. Astaga kamu."


"Iya Bu. Apa kabar." Ucap Ayu membalas sapaan.


"Terimakasih untuk bantuannya."


"Bantuan?" Ayu sudah tidak mengingat nama Alan dan melupakannya.


"Memasukkan Alan ke rumah sakit jiwa. Kata Nak Dimas, dia orang suruhan Suami mu."


"Oh ya aku ingat Bu. Mita yang memberitahu."


"Sebaiknya kita mengobrol di ruangan ku." Sahut Tania mempersilahkan Ayu dan Samuel berjalan ke lantai dua toko tersebut.


"Ibu minta maaf atas sikap Ibu dulu." Segera saja Bu Erna mengutarakan penyesalannya.


"Itu masa lalu Bu. Saya sudah melupakannya."


"Kamu masih mengingat itu." Sahut Samuel tegas. Menatap Dika yang baru masuk ke dalam ruangan." Akibat perbuatan anakmu." Menunjuk ke arah Dika." Dia tidak mau mengkonsumsi susu yang seharusnya bagus untuk pertumbuhan janin di perutnya. Istri ku juga selalu di datangi mimpi buruk sebab takut terjadi sesuatu pada calon anaknya. Lalu? Apa kata maaf saya cukup!" Seharusnya emosi Samuel sudah meluap sejak dulu. Tapi dia enggan menunjukkannya pada Ayu. Dia tidak ingin hal itu semakin membebani Ayu nantinya.


"Apa maksud Nak Samuel." Tanya Bu Erna yang tidak tahu menahu soal perbuatan Dika.


"Tanya pada anakmu sendiri!!" Menunjuk kasar ke Dika yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Dik? Coba jelaskan pada Mama."


"Em itu Ma. Maaf, sebenarnya.. Dika yang sudah mencampurkan obat penggugur kandungan saat Ayu hamil dulu." Sontak saja mata Bu Erna membulat. Dia sama sekali tidak mengerti itu. Bu Erna menganggap jika gugurnya janin akibat Ayu yang tidak becus menjaganya.


"Astaga Dika!! Bagaimana mungkin kamu melakukannya!!! Itu anakmu! Dan kau membunuh anakmu sendiri!!!"


Ayu menghembuskan nafas berat. Hatinya masih terasa sakit ketika kejadian itu terlintas di ingatannya. Bangun tidur, dia harus melihat sprei miliknya bersimbah darah. Itu kenapa dia selalu memeriksa bagian bawah tubuhnya setiap kali bangun tidur. Ayu takut kejadian itu terulang.


"Kenapa kamu tidak bilang pada Mama."


"Saat itu eluhan saya tidak pernah di dengar."


"Mama tidak tahu Ayu." Bu Erna semakin di liputi rasa penyesalan.


"Lain kali. Kalau ingin melakukan sesuatu, kau fikirkan dulu bagaimana dampaknya! Mentalnya terkoyak karena perbuatan mu! Hewan saja masih sangat menyanyangi anaknya tapi kau menunjukkan kekejian melebihi hewan.."


"Aku minta maaf Ayu." Sahut Dika cepat. Wajahnya tertunduk karena dia merasa malu memperlihatkan wajah buruknya.


"Sudah ku maafkan tapi mungkin aku sulit melupakan rasanya."


"Aku yang mencampurkan obat penggugur ke dalam susu milik mu jadi kalau saat ini kamu ingin mengkonsumsinya, itu sangat aman." Dika berharap Ayu bisa mematahkan ketakutan ketika dirinya melontarkan pengakuan.


"Mana bisa?" Ayu beranjak dari tempatnya." Aku muak melihat cairan putih itu. Anakku akan baik-baik saja tanpa meminumnya. Em saya permisi pulang Bu." Rasanya memuakkan ketika mendengar pembahasan soal susu terus saja di dengar


"Mama minta maaf."


"Saya sudah memaafkannya. Mungkin saya hanya membutuhkan sedikit doa agar bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman ini." Mata Ayu masih saja berkaca-kaca dan itu menandakan jika hatinya masih di liputi kekecewaan.


"Mama doakan persalinannya lancar."


"Terimakasih Bu. Aku pulang dulu Niah. Seharian ini aku banyak kegiatan."


"Hm sebentar." Tania berjalan ke kulkas kecil yang ada di sana, lalu mengambil satu dus susu." Anggap ini hadiah dariku." Ayu hanya menatap kotak susu pemberian Tania.


"Tidak. Terimakasih."


"Aku biasa mengkonsumsi yang rasa ini. Em cobalah Ayu, rasanya sangat enak. Bisa menghilangkan mual berlebihan. Kalau memang kamu trauma akan kejadian dulu. Sebaiknya kamu membuat susu ini sendiri. Kamu lihat, ini masih bersegel dan belum ku buka." Tania menunjukkan kardus yang masih rapi." Katanya kita berteman?" Rajuk Tania seraya memasang wajah kecewa.


"Aku tidak yakin bisa melakukannya."


"Setidaknya bawa ini pulang bersama mu. Aku tidak memaksamu untuk meminum nya. Kita sama-sama hamil, aku tahu rasanya ketika rasa mual mengaduk-aduk perut kita. Fikirkan yang ada di dalam, dia butuh nutrisi banyak agar nantinya bisa bertemu dengan kamu." Tania juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak yang di kandung Ayu. Dia tidak ingin Ayu kembali merasakan kesedihan karena kehilangan anak.


"Terimalah kalau kamu memang menganggap Tania teman." Sahut Samuel menimpali.


Dengan ragu-ragu Ayu mengulurkan tangannya lalu mengambil kotak susu dari tangan Tania.


"Astaga, terimakasih sudah percaya. Sekarang aku punya pelanggan baru." Tania memeluk Ayu hangat.


"Pelanggan baru?"


"Kamu akan ketagihan setelah merasakan susu nya. Aku menghabiskan 8 kotak dalam satu bulan. Lihatlah.." Tania mengusap perutnya yang besar." Dia sehat. Berat badannya sesuai usia kandungan karena aku banyak makan. Bukankah kamu ingin merasakan gerakkannya." Samuel tidak menyangka melihat keramahan yang di suguhkan Tania. Terasa begitu hangat dan tulus seakan dia menganggap Ayu seorang sahabat yang sudah lama menjalin hubungan.


🌹🌹🌹🌹


Hoiiiiii reader...


Ini mau lanjut atau ku tamat kan🤣


Aku sudah punya ide konflik untuk season kedua kalau mungkin kalian mau🤭


Em tergantung para pembaca saja..

__ADS_1


Terimakasih dukungannya..


__ADS_2