Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Perlakuan yang hangat di pagi yang dingin


__ADS_3

Pagi itu Ayu bangun lebih awal. Dia berjalan mengendap-endap mengambil baju yang akan di pakainya untuk berkerja.


Setelah melihat video panas antara Dika dan Tania, membuatnya kembali di hantam kekecewaan sehingga Ayu memutuskan untuk pergi pagi buta.


Ayu tidak ingin melihat wajah Dika. Gerakan, dessahan dan pujian yang di lontarkan Dika untuk Tania menempel di otaknya.


"Pagi sekali." Ayu membalikkan tubuhnya dan melihat Dika sudah duduk.


"Iya. Aku lupa berkata jika hari ini ada banyak pesanan ayam popcorn. Aku harus berangkat pagi untuk membantu Chef Riko menyiapkan pesanan." Jawab Ayu terpaksa berbohong. Dengan gerakan cepat dia memakai jaket tebal dan meraih tas kecilnya.


"Sepagi ini?" Dika melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam.


"Mau bagaimana lagi Mas. Aku pergi. Sarapannya sudah di siapkan Bibik." Tanpa melihat ke arah Dika, Ayu mengangguk sejenak lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Mana ada Cafe berangkat sepagi ini!!" Eluh Dika beranjak dari tempat tidur. Dia hendak mencuci muka dan berniat mengikuti Ayu tapi suara ponsel membuatnya mengurungkan niat.


Tiara?


📞📞📞


"Sayang. Aku sudah di depan.


"Di depan?


"Ya.


📞📞📞


Cepat-cepat Dika berlari kecil keluar kamar dan berusaha menghentikan langkah Ayu. Tapi terlambat, sebab Tania sudah berjalan ke arah Ayu.


Sial!! Gila sekali wanita itu.


"Hai." Sapa Tania tersenyum. Menatap penampilan Ayu dari atas sampai bawah. Seharusnya dia merasa sungkan sebab meski Ayu tidak lagi menarik, dia masih menjadi Istri syah Dika.


Aku tidak ingin berdebat. Aku akan menahan diri. Kalau aku sudah menerima gaji, aku akan melayangkan gugatan cerai di pengadilan.


"Hei kenapa tidak di jawab." Tania menyentuh lengan Ayu yang langsung di tepis kasar.


"Orang yang kau cari ada di dalam. Tidak perlu menyapaku." Tania tertawa kecil tepat di saat Dika sudah datang.


"Aku tidak menyuruh nya ke sini." Ujar Dika menjelaskan. Dia berdiri tepat di depan motor Ayu untuk mencegahnya pergi.


"Minggir Mas. Aku mau lewat."


"Turun dulu. Kita bicarakan ini."


"Aku sudah terlambat."


"Baru semalam kita berbaikan."


"Aku sudah tidak perduli. Minggir!" Teriak Ayu geram.


"Aku sudah melarang mu untuk datang ke sini Nia." Tania yang tidak waras, malah melingkarkan tangannya ke lengan Dika.


"Kita sarapan pagi bersama. Kau berjanji padaku kan."


"Tapi tidak sepagi ini." Jawab Dika berbisik.


Ayu yang merasa muak langsung melepas helmnya lalu turun dari motor dan berjalan keluar pagar seraya memesan taksi.


"Apa kau tidak bisa di larang! Ayu tunggu." Dika berusaha menyusul namun dengan kasar Tania menarik lengannya.


"Untuk apa mengejarnya jika kau sudah tidak berselera!!!" Si penjaga rumah menghela nafas panjang seraya menatap kepergian Ayu. Tentu saja dia merasa iba melihat permasalahan yang menerpa majikannya.

__ADS_1


Kenapa Tuan Dika tidak juga sadar kalau wanita itu sedikit gila. Aku sudah berusaha mencegahnya masuk tapi dia malah marah-marah. Nyonya saja tidak pernah marah seperti itu tapi wanita ini? Kasihan Nyonya Ayu..


"Dia Istri ku!!" Jawab Dika menekan kata-katanya seraya memperhatikan sekitar. Cepat-cepat dia menyeret Tania masuk karena takut jika ada seorang tetangga yang memergokinya.


Kedua tangan Ayu saling mencengkram erat, seraya menatap keluar kaca mobil dengan perasaan geram. Apalagi dengan jelas terdengar ketika Tania berteriak dan mencegah Dika untuk mengejarnya.


Ya. Untuk apa di pertahankan jika terlalu menyakitkan. Itu bukan rumahku lagi. Aku akan tinggal untuk malam ini saja. Kalau aku menghubungi Mita sekarang, aku takut menganggu acara keluarganya.


"Berapa Pak."


"25 Non." Ayu menyerahkan uang pas lalu turun.


Terlihat jelas jika Cafe masih sangat sepi bahkan Bimo si juru parkir juga belum tampak datang. Ayu membelokkan langkahnya menuju pos penjagaan sebab pintu pagar Cafe masih tertutup.


"Aku menunggu di sini saja." Gumamnya membersihkan kursi kayu lalu duduk.


"Pagi Non." Sapa seorang wanita paruh baya yang dulu pernah Ayu tolong.


"Oh. Pagi Bu." Ayu berdiri dan berjalan menghampiri." Jangan berjualan di sini Bu. Nanti terkena masalah lagi." Ujar Ayu mengingatkan.


"Ibu ingat kok Non." Jawabnya seraya menyodorkan satu bungkus makanan yang di jual." Untuk sarapan Non." Ayu tersenyum ramah dan terpaksa menerima makanan tersebut.


"Saya tidak biasa makan pagi Bu."


"Di makan nanti siang saja Non."


"Berapa Bu."


"Tidak perlu Non." Gerakan tangan Ayu terhenti. Bukannya dia ingin makanan gratis, namun keuangan memang tengah berada di titik sulit. Hanya tersisa uang 100 ribu di dalam dompetnya.


"Terimakasih Bu. Semoga dagangannya lancar."


"Ibu juga terimakasih karena sudah di tolong."


"Niat baik harus di balas dengan perbuatan baik. Ibu permisi dulu ya, takut kesiangan."


"Ya Bu.. Hati-hati." Setelah menatap kepergian Ibu penjual makanan. Ayu kembali duduk seraya memeriksa kantung kresek yang berisi satu bungkus nasi.


Aroma masakan menyeruak masuk melalui rongga hidung, membuat saliva Ayu tertelan kasar. Apalagi sejak semalam dia hanya meminum air putih saja sehingga perutnya terasa meronta-ronta.


"Ah... Seperti masakan Mama." Gumamnya tersenyum. Mengingat masa kecilnya yang indah meski kedua orangtuanya hanya bisa menyuguhkan kehidupan sederhana.


Mereka tidak pernah melarang Ayu. Bahkan Ayahnya selalu menyuruhnya untuk makan banyak agar tubuhnya tidak terlalu kurus. Anehnya, kala itu tubuh Ayu tetep saja kurus dan tidak berisi seperti sekarang.


"Tidak! Dia akan semakin merendahkan ku! Aku harus sanggup membuktikan jika tubuhku bisa kembali seperti dulu."


"Untuk apa kembali seperti dulu, kalau sekarang saja sudah terlihat cantik." Ayu menegakkan pandangannya dan melihat Samuel sudah berdiri di hadapannya entah sejak kapan.


"Eh Mas Sam." Samuel duduk di sisi Ayu tanpa menunggu persetujuan.


"Makan saja. Satu bungkus nasi tidak mungkin membuatmu bertambah gemuk." Ayu tersenyum aneh kemudian menggeser tubuhnya menjauh sedikit.


"Nanti siang saja Mas. Em apa Cafenya akan di buka sekarang?"


"Tidak. Aku tinggal di dekat sini dan tidak sengaja melihat mu." Sam memiringkan tubuhnya lalu mengangkat satu kakinya agar bisa menatap Ayu dari samping." Kenapa berangkat sepagi ini?" Tanya Samuel kembali menatap Ayu dalam.


"Saya tidak ingin menyebutkan alasannya."


"Oh." Sam mengangguk seraya tersenyum.


"Berarti rumah Mas Sam dekat sini?"


"Ya. Aku mengontrak satu kamar dekat sini."

__ADS_1


"Oh mengontrak. Em berapa biayanya Mas." Ayu ikut memiringkan tubuhnya sehingga keduanya duduk saling berhadapan.


"Kamu ingin mengontrak?"


"Masih rencana saja."


"Untuk apa?"


"Saya tidak memiliki rumah." Jawab Ayu pelan.


"Jadi, kamu benar-benar ingin berpisah."


"Entahlah Mas. Saya masih bingung tapi saya juga tidak lagi nyaman tinggal di sana."


"Lebih baik pergi dan mencari tempat tinggal baru yang bisa membuatmu nyaman tanpa adanya peraturan."


"Saya tidak memiliki cukup uang. Mungkin saya bisa melakukannya setelah menerima gajian kedua."


"Aku tidak membahas tempat tinggal yang terlihat. Tapi tempat tinggal yang ada di sini." Menunjuk dadanya. Sontak Ayu tersenyum aneh dengan raut wajah gugup.


"Oh saya fikir rumah kontrakan."


"Tempat ku sudah lama kosong dan tidak berpenghuni. Bagaimana jika setelah kalian berpisah, kamu menempatinya." Ayu menelan salivanya kasar. Kepalanya tertunduk ketika menyadari tatapan manik Samuel yang mencoba menusuk hatinya.


"Haha Mas Sam bercanda. Saya benar-benar ingin mencari rumah kontrakan." Ayu menurunkan kakinya dan duduk dengan gerakan kaku.


"Aku juga tidak sedang bercanda. Umurku sudah hampir 31 tahun, mana mungkin aku bercanda."


"Mas Sam masih terlihat muda. Ku fikir kita seumuran."


"Berapa umur mu?"


"25 Mas. Tiga bulan lagi 26 tahun." Lidah Ayu terasa gatal. Dia tidak pernah membayangkan akan kembali merasakan perkenalan dengan lelaki lain setelah pernikahannya.


"Aku berjanji akan menerima mu apa adanya. Kamu tidak perlu berdiet dan bisa makan sepuasnya."


"Maaf Mas. Saya tidak bisa."


"Why? Apa karena gosip tentang hutang kedua orang tuaku." Ayu menoleh cepat. Dia tidak ingin membuat Samuel tersinggung sebab dirinya pernah berada di posisinya sekarang.


"Tidak. Sama sekali tidak Mas. Status saja masih bersuami. Saya tidak pantas membicarakan itu." Oh my God!! Aku baru sadar jika Mas Samuel tampan sekali. Menyegarkan mata di pagi hari hehehe..



NB. Visual Samuel 👆


Ayu malah tersenyum dengan wajah memerah, menatap paras tampan yang di terpa cahaya matahari di hadapannya. Pemandangan itu sanggup menghilangkan perasaan kesal akibat kelakuan Dika tadi pagi.


"Bilang saja iya. Sisanya biar ku urus."


"Tidak Mas." Ayu kembali menatap lurus ke depan seraya tertunduk.


"Seandainya aku tidak memiliki hutang, apa kamu akan menjawab iya."


"Tetap tidak. Saya belum berfikir sejauh itu."


"Jika ada yang dekat, kenapa memikirkan yang jauh." Ayu terkekeh begitupun Samuel yang ikut tersenyum.


Sejak awal aku memang merasa jika Mas Samuel orangnya ramah..


Aku tidak perduli dengan penolakan mu. Kalau kalian sudah berpisah. Kamu harus menjadi milikku meski aku harus memaksamu.


Banyaknya wanita munafik yang hadir di hidupnya, membuat Samuel bisa membaca setiap ekspresi wajah lawan bicaranya. Dia sudah bisa menebak, ketulusan dan ekspresi lugu yang menghiasi mimik wajah Ayu sekarang. Tebakan itu membuat perasaan ingin memiliki semakin menggebu meski dia masih mencoba sedikit menahan diri sampai Ayu benar-benar berpisah.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2