
Dengan langkah malas Mita berjalan ke arah ruang tamu. Pagi ini Alan menjemput dan berniat mengantarkannya pergi berkerja. Tapi dia tahu jika niat Alan tidak sepenuhnya benar. Itu semua terbukti ketika Mita di suguhkan rentetan pertanyaan tentang keberadaan Ayu.
"Aku tidak tahu Mas." Jawab Mita pelan. Hatinya seakan tersayat saat dia sadar kegilaan Alan lebih ekstrim daripada Dika.
"Bukankah kalian sahabat!!" Tanyanya membentak.
"Sudah tidak. Aku memutuskan persahabatan kami hanya karena rasa cemburu ku yang tidak beralasan. Bukankah sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini. Jangan menjelekkan namaku di hadapan orang tuaku!"
Hampir semalaman penuh Mita tidak sanggup memejamkan mata. Dia mendengar sendiri eluhan kedua orang tuanya akibat hasutan Alan yang menyebut jika dirinya cemburu dengan adik kandung Alan.
Memang dia sangat ingin menikah di umurnya yang sudah hampir 26 tahun. Tapi Mita tidak ingin salah melangkah dan harus berakhir di sidang perceraian seperti yang pernah terjadi pada Ayu.
"Tidak. Kamu satu-satunya wanita yang tahu bagaimana selera ku. Kamu harus berusaha merubah kepribadian agar kamu seperti Ayu. Jika perlu, kamu pergi ke salon kecantikan untuk memutihkan kulit tubuh mu juga." Alan meletakkan tumpukan uang cukup tebal ke pangkuan Mita.
"Aku tidak mau menjadi orang lain." Mita mengembalikan uang dan meletakkannya sembarangan.
"Kau harus mau kalau tidak ingin mengecewakan kedua orang tuamu."
"Please Mas! Ini gila! Apa kau tidak sadar? Bagaimana mungkin kau menikah denganku hanya karena obsesi. Kita tidak akan bahagia!!"
"Bahagia atau tidak itu tergantung kamu! Apa susahnya pergi ke salon untuk mempercantik diri! Aku juga menyediakan dananya kan!"
"Aku tidak ada waktu. Aku harus berkerja."
"Berhenti berkerja! Berapa besarnya gaji sebagai waiters di Cafe!" Mita membuang muka dan mulai terisak. Sifat asli Alan semakin terlihat buruk dan berbanding terbalik dengan apa yang di lihatnya dulu.
Lelaki di sampingnya bahkan sangat kasar. Jauh dari kata dewasa sejak pertemuan dengan Ayu terjadi beberapa hari lalu.
"Ku antarkan kau ke salon."
"Tidak Mas. Aku tetap akan berkerja. Turunkan aku!"
"Kau turuti permintaan ku atau aku akan mempermalukan keluarga mu!!"
Hari pernikahan sudah di bicarakan. Tahun depan tepatnya setelah malam tahun baru, Mita sudah memiliki rencana melepaskan masa lajangnya.
Kedua orang tuanya tentu merasa bahagia dan gawatnya, mereka sudah terlanjur membicarakan hal itu pada tetangga juga saudara.
Seharusnya itu bukan masalah besar, sebab Mita juga sangat bahagia ketika Alan meminangnya dengan cara yang manis. Tapi rasa bahagia itu kini berubah menjadi keburukan akibat sifat asli Alan yang tidak ayal seperti orang kehilangan akal.
Aku sekarang berada di posisi mu padahal dulu aku menertawakan mu..
🌹🌹🌹
__ADS_1
"Bagaimana dengan bajunya Bee?" Tanya Ayu menunjuk tumpukan baju kotor dan ranjang yang berantakan.
"Nanti ada yang membereskannya."
Sampai saat ini, Ayu tidak tahu jika apartemen yang di tempati adalah milik Samuel. Pemikirannya masih terlalu polos untuk menebak.
Memang beberapa apartemen sudah terjual tapi banyak dari para penguasa memilih untuk menyewanya karena harga fantastis yang harus mereka bayar.
"Oh ya sudah." Ayu memasukkan ponselnya ke tas kecil lalu menyerbu Samuel dengan pegangan erat pada lengannya." Aku tidak sabar untuk pulang." Imbuhnya tersenyum.
"Aku senang kamu berkata begitu. Itu berarti kamu sudah menganggap rumahku sebagai rumahmu."
"Kapan-kapan kita ke sini lagi Bee." Samuel tersenyum lalu menempelkan kartu pada pintu.
"Kapanpun kamu bisa ke sini. Tinggal bilang saja padaku."
"Hm kalau sedang bosan saja. Terkadang jenuh juga kalau harus melakukan perkerjaan yang sama setiap harinya."
Tanpa sadar Ayu kembali terbawa arus masa lalu. Dia yang dulu selalu kesepian berada di rumah, sering merasa jenuh meskipun sekalipun dia tidak pernah mengeluh.
Perkerjaan yang sama selalu di lakukan setiap pagi. Dari bangun tidur, menemani Dika sarapan sementara dia hanya meminum jus menjijikan lalu mencuci baju milik Dika.
Terkadang ada rasa ingin berjalan-jalan sendirian, tapi dia terlalu takut untuk mengawali hanya karena ingin menjaga nama baik Bu Erna.
"Tidak apa. Terkadang aku juga sering membandingkan semuanya." Ayu mendongak ke atas.
"Aku tidak pernah tahu kamu melakukan itu?"
"Sengaja tidak ku tunjukkan karena aku ingin menjaga perasaan mu." Ayu mengangguk lalu kembali menatap lurus ke depan." Tapi yang jadi perbedaan. Hidupku jauh lebih indah sekarang daripada saat aku bersama nya." Samuel masih berusaha untuk tidak menyakiti hati Ayu.
"Terkadang aku tidak sadar membicarakan itu."
"Ini masih terlalu singkat sementara aku sudah melalui ini bertahun-tahun. Jangan merasa tidak enak Babe. Masa lalu juga bagian dari hidup kita. Aku berniat menghapus itu sebersih mungkin tapi sepertinya memori di otak masih meninggalkan sisanya."
"Iya Bee, mungkin seperti itu."
"Asal memikirkan untuk pembelajaran ke depan, bukan mengenang masa indah yang akhirnya menimbulkan niat untuk kembali melihat ke belakang." Ayu mengeratkan genggaman tangannya seraya sesekali menempelkan bibirnya di lengan Samuel.
"Hidup bersama mu juga jauh lebih baik." Jawab Ayu lirih." Untuk apa aku melihat ke belakang kalau di hadapan ku ada lelaki yang jauh lebih tampan." Samuel terkekeh seraya berjalan masuk ke dalam lift.
"Apa itu semacam gombalan?"
"Tidak Bee."
__ADS_1
"Tapi aku memang tampan." Seketika Ayu mengerucutkan bibirnya seraya menghela nafas panjang." Dan kamu juga sangat cantik." Imbuhnya menunjuk pantulan dinding berkilap yang mengelilingi sisi lift.
Ayu lebih terlihat serasi dengan postur tubuh yang di miliki Samuel daripada ketika dia bersama Dika dulu. Dia merasa terlihat lebih kecil seakan perubahan bentuk tubuhnya terhempas dan tidak lagi terlihat.
Tuhan mengabulkannya..
Ayu mengingat keinginan yang terkadang melintas begitu saja. Awalnya dia hanya sekedar ingin dan tidak pernah mengutarakannya pada siapapun.
Andai tubuh Mas Dika bisa lebih tinggi. Mungkin aku bisa meminta gendong setiap hari.
Kini postur tubuh idaman sudah berhasil dia dapatkan meskipun dengan sosok berbeda. Memicu hasrat ingin selalu bersandar juga bermanja-manja pada pundak tegap nan berotot.
"Sedang memikirkan apa? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Sontak Ayu tersadar dari lamunannya.
"Hehe tidak ada Bee. Aku hanya baru sadar ternyata tubuhku pendek sekali."
"Pakai sandal hak tinggi kalau ingin terlihat tinggi."
"Tidak nyaman." Jawab Ayu tersenyum.
"Ya sudah jangan mengeluh."
"Aku tidak mengeluh. Aku hanya menertawakan diriku sendiri."
"Tingkah laku mu yang perlu di tertawakan. Untuk bentuk tubuh, aku sangat menyukainya."
"Karena aku Istri mu." Samuel menddesah lembut.
"Sejak awal Babe. Sejak aku melihatmu menolong Ibu tua itu. Aku sudah tertarik tapi merasa tidak tahu diri untuk memikirkan mu."
"Kamu terlihat acuh Bee."
"Kamu menganggu fikiran ku sejak hari itu. Mati-matian aku ingin mengusir mu karena status pernikahan tapi... Inilah yang terjadi." Ayu tersenyum begitupun Samuel. Keduanya memiliki kesamaan rasa walaupun baru saat ini terungkap.
"Jadi? Itu bukan perasaan ku saja Bee. Aku melihatmu memperhatikan ku diam-diam." Samuel terkekeh ketika mengingat hal tersebut. Sungguh dia tidak ingin melakukan perbuatan tidak tahu diri itu namun semuanya sulit di kendalikan.
"Ya aku melakukan nya."
"Ku fikir aku melakukan kesalahan karena aku anak baru."
"Kamu berkerja dengan sangat baik. Mataku saja yang nakal."
Keduanya tenggelam dalam pembicaraan konyol sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan memperlihatkan sosok yang langsung membuat mereka merubah mimik wajahnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹