
Satu Minggu kemudian....
Karena perubahan sikap Ayu, membuat Samuel tidak merasakan beban ketika Ayu mendapatkan tamu bulanan. Dia mulai terbiasa dengan pembicaraan yang hangat nan manja. Meminta bantuan dengan cara manis menimbulkan ketenangan tersendiri di hatinya.
Samuel benar-benar di buat terbuai, tenggelam sedalam-dalamnya ke dasar hati Ayu. Dia terkunci di sana, enggan merangkak naik sebab keindahan yang ada di sekitarnya membuat lupa akan kehidupan bebas di luar.
"Hari ini aku sudah bersih Bee." Sontak Samuel memelankan kunyahannya.
"Maksudnya?"
"Garis merahnya sudah pergi. Kamu mau melakukannya setelah makan." Ucap Ayu menawarkan sesuatu yang sudah seminggu tidak di berikan.
"Apa kamu akan kembali seperti dulu?" Samuel menggeser tempat duduknya agar pembicaraannya lebih hangat.
"Iya. Bisa melayani seperti dulu."
"Bukan masalah itu Babe."
"Terus apa?"
"Sikapmu. Jujur saja, aku suka ketika kamu merengek dan meminta bantuan dalam hal kecil. Bisakah kamu tidak merubah itu untukku?"
Ayu tersenyum sebab dia memang sudah lebih bisa terbuka dengan Samuel. Perubahan emosi yang terjadi saat kedatangan tamu bulanan, mendorong dirinya untuk senantiasa menarik perhatian Samuel sepenuhnya.
"Aku sudah jujur. Kenapa kamu hanya tersenyum. Garis merah itu sungguh membuatku semakin jatuh cinta padamu."
"Em. Sebenarnya aku sudah selesai dari kemarin. Hanya saja aku belum yakin dan baru membersihkan diri tadi pagi." Samuel memperlihatkan senyum mengembang karena kemarin Ayu masih memperlihatkan sikap menggemaskannya.
"Berarti kamu benar-benar sudah mencintai ku?" Tanya Samuel sedikit berteriak.
"Aku membalas ucapan itu setiap pagi kan."
"Aku mohon jangan pernah berubah."
"Aku tidak akan berubah kalau kamu juga menyuguhkan kenyamanan yang sama."
"Akan ku buat kamu sangat nyaman." Jawab Samuel bersemangat. Begitu bersemangat sampai-sampai Ayu terkekeh melihat ekspresi wajahnya.
"Dari sini sisi kekanak-kanakan mu muncul."
"Semua orang memiliki itu Babe."
"Hm ya." Tangan kanan Ayu terangkat lalu mengusap rambut tebal Samuel dan memberikan kecupan singkat pada pipinya." Katanya ada pertemuan penting pagi ini." Imbuhnya kembali makan.
"Kamu ikut."
"Itu harus. Aku tidak akan membiarkan kursi di samping mu kosong." Samuel mengangguk-angguk seraya mengunyah.
"Hanya kamu yang boleh duduk di sana."
"Iya Bee. Kalau ada wanita lain, aku tidak akan mau masuk mobil mu lagi."
__ADS_1
"Tidak akan terjadi hal seperti itu."
"Aku sedang mengingatkan mu."
"Setiap hari kamu mengatakan Babe."
"Kamu keberatan?"
"Tidak. Aku senang." Jawab Samuel singkat. Dia tahu pembahasan akan berbuntut panjang jika dia menjawab dengan ucapan lain.
"Aku harap kamu tidak terpaksa. Rasa terpaksa akan membuatmu bosan."
"Meski kamu mengingatkan ku seratus hari dalam satu hari, aku tidak akan bosan." Hanya Samuel yang sanggup mengimbangi pembicaraan semacam itu. Ayu kehilangan rasa percaya pada pasangannya padahal Samuel sudah sebisa mungkin menjaga perasaannya." Sudah?" Ayu hanya tersenyum sambil berdiri lalu membereskan piring kotor." Bibik sering meminta maaf karena kamu tidak bisa di hentikan." Samuel berdiri tepat di samping Ayu yang sedang mencuci.
"Ini perkerjaan ringan Bee."
"Mencuci baju juga."
"Aku juga ingin memberikan yang terbaik untukmu dan itu yang bisa ku lakukan. Mencuci baju serta piring yang kita pakai. Tugas Bibik hanya memasak, dia juga sudah tua Bee." Ayu mengeringkan tangannya dengan lap yang tersedia.
"Hm asal kamu nyaman melakukannya. Em ini pertemuan penting. Apa aku boleh memakai jas rapi?" Samuel merangkul kedua pundak Ayu lalu menggiring nya berjalan.
"Berarti aku juga harus memakai gaun?"
"Sudah ku siapkan sebab aku tahu kamu akan memintanya tapi tetap tidak boleh berdandan."
"Kau juga tidak boleh terlalu tampan." Samuel terkekeh sambil menombol pintu lift.
"Iya tidak bisa." Jawab Ayu lirih." Setidaknya jangan menyisir rambut." Imbuh Ayu menghela nafas panjang.
"Hm oke sesuai arahan."
Keduanya masuk ke dalam kamar untuk bersiap pergi. Ayu dengan gaun sederhananya sementara Samuel mengenakan jas dengan rambut acak-acakan.
Ayu melirik malas, melihat pemandangan yang tidak pantas. Dia merasa terlalu egois jika harus membiarkan Samuel tampil tidak rapi, hanya demi kecemburuan yang tidak beralasan.
"Memangnya pertemuannya dengan siapa Bee?"
"Investor asing Babe. Dia ingin membicarakan proyek yang ada di daerah E. Seharusnya aku ke daerah tersebut tapi mereka dengan senang hati datang ke kota ini hanya demi bertemu denganku." Ayu mengangguk lalu menarik laci dan mengambil sisir juga pelembab rambut milik Samuel.
"Sini." Ayu berdiri dan menggiring Samuel lalu menekan lembut pundaknya agar duduk di kursi rias. Dia mengoleskan pelembab rambut secukupnya pada rambut tebal Samuel.
"Kenapa merubah rencana?"
"Kamu harus terlihat rapi dan tampan. Aku tidak mau di sebut sebagai Istri yang tidak pandai merawat mu." Samuel tersenyum menikmati usapan tangan Ayu seraya menatapnya dari pantulan cermin.
Kini Ayu berpindah tempat dan berdiri tepat di hadapan Samuel untuk merapikan rambut sesuai dengan keinginannya. Kedua tangan Samuel melingkar lembut di pinggangnya sambil menunggu Ayu selesai mendadani nya.
"Sudah." Ujar Ayu meletakkan sisir. Ujung jarinya masih berusaha merapikan rambut hingga tiba-tiba dia terpekik ketika Samuel menarik pinggangnya lembut dan membuatnya duduk di pangkuan dengan posisi miring." Nanti rambutnya rusak." Protes Ayu menyadari tatapan melenakan yang Samuel perlihatkan.
Tanpa aba-aba Samuel menekan tengkuk Ayu dan melummat bibirnya dalam. Ayu tidak memahami tujuan Samuel melakukannya semata-mata ingin menghapus lipstik yang menempel pada bibir Ayu.
__ADS_1
Cukup lama kejadian itu berlangsung. Sebab lipstik yang Ayu gunakan sulit terhapus. Samuel tidak juga menyerah dengan terus menerus melakukannya sampai-sampai nafas Ayu tersengal.
"Lupa untuk tidak memakai ini." Samuel menjauhkan wajahnya lalu menyapu bibir Ayu dengan ujung telunjuknya.
"Ku fikir kamu menginginkan itu Bee."
"Waktunya terlalu singkat. Nanti akan ku berikan sampai kamu tidak bisa berjalan."
Tidak dapat di pungkiri jika Ayu merindukan keperkasaan Samuel saat memanjakannya di atas ranjang.
"Sudah hampir jam sepuluh." Ayu berdiri sambil membetulkan gaun.
"Hm kita berangkat sekarang." Keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya berjalan beriringan keluar kamar.
🌹🌹🌹
Dimas sengaja memanggil Pak Wira perihal laporan pihak keamanan perusahaan yang berkata Tania kerapkali bersikap semena-mena dan menimbulkan kericuhan. Padahal Tania bukan termasuk staf di perusahaan tersebut. Laporan tersebut sampai ke telinga Dimas karena Pak Wira yang enggan merespon apalagi mengambil tindakan.
"Saya masih sangat menghormati Pak Wira yang sudah membantu mengelola perusahaan itu dengan baik. Tapi untuk sikap Tania yang di rasa merugikan yang lain. Bukankah sebaiknya Bapak menegurnya atau saya terpaksa mengeluarkan Dika." Ujar Dimas sekedar mengancam. Dirinya tidak memiliki kuasa untuk melakukan hal tersebut apalagi Dika sengaja di pertahankan Ayu.
"Saya mohon Pak Dimas. Tolong pahami kegilaan anak saya. Dia memang seperti itu. Semakin di cegah, dia akan semakin memberontak."
"Maaf Pak Wira. Itu perusahaan bukan tempat sembarangan. Saya takut jika laporan tidak saya proses, para pegawai itu melaporkan kasus ini sampai mencuat keluar. Saya tidak mau di salahkan Tuan Samuel nantinya."
Pak Wira menghembuskan nafas berat. Ada sesal terbesit kenapa dulu dia memutuskan memilih Tania untuk di angkat sebagai anak.
"Dia sedang hamil Pak."
"Saya tahu. Jika ini terus berlanjut maka terpaksa saya akan mengajukan permohonan untuk memecat Dika."
"Jangan Pak. Kasihan anak saya kalau Suaminya menganggur."
"Itu bukan urusan saya Pak. Saya hanya ingin para pegawai mendapatkan haknya dan berkerja dengan tenang di sana. Kalau sampai Tuan Samuel sudah turun tangan, saya pastikan masalahnya akan bertambah besar." Pandangan Dimas teralihkan ketika ponselnya berdering.
📞📞📞
"Ya Tuan.
"Apa tamunya sudah tiba.
"Mereka ada di ruang rapat.
Segera saja Dimas menyiapkan berkas yang di butuhkan sambil terus menjawab panggilan Samuel.
"Hm baik Tuan. Saya tunggu di ruangan.
📞📞📞
"Itu peringatan terakhir Pak. Tuan Samuel sudah tiba. Mari." Setelah membawa semua berkas, Dimas melangkah keluar ruangan di ikuti Pak Wira dengan hati yang di liputi kekalutan.
Kalau sampai Dika di pecat. Semua beban akan di berikan padaku. Ya Tuhan.. Kalau memiliki anak hanya menyulitkan masa tuaku. Aku menyesal sudah memungut Tania dari tempat itu..
__ADS_1
🌹🌹🌹