Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Penyesalan Mita


__ADS_3

Tepat pukul enam malam Mita terlihat baru saja pulang dari perkerjaannya. Dia membayar ongkos ojek lalu berniat masuk ke dalam rumah.


Dari pekarangan terlihat sang Ayah sedang duduk di teras dengan wajah masam. Dia langsung masuk seakan kedatangan Mita sedang di tunggu.


"Duduk dulu." Ucap si Ayah ketika Mita akan masuk ke kamarnya.


"Ada apa Yah." Mita duduk di hadapan kedua orang tuanya.


"Masih bertanya ada apa?!"


Semenjak Alan tidak berkunjung, kedua orang Mita di liputi kekhawatiran. Mereka takut pernikahan Mita akan gagal. Padahal kenyataannya, Alan memang tidak bisa di harapkan.


"Bukankah seharusnya Alan ke sini untuk mengurus masalah pernikahan kalian? Ingat Mit, dua bulan lagi sudah menginjak tahun baru. Ayah bingung ketika para tetangga bertanya tentang tanggal pernikahan mu."


Mita tertunduk, menghela nafas panjang. Dia belum memiliki keberanian untuk berkata jujur karena takut dengan kemarahan Ayahnya.


"Iya kalau Alan ke sini kan enak. Kita bicarakan tanggal pastinya kapan." Ujar Mama Mita menimpali.


"Maaf Yah, Ma. Em itu.. Jangan berharap pada Mas Alan lagi." Sontak mata Ayah Mita membulat. Dia sudah termakan janji dan bualan yang selalu Alan katakan ketika sedang berkunjung.


"Kenapa begitu? Apa dia memutuskan mu karena kau tidak bisa menahan rasa cemburu!" Mama Mita cepat-cepat berdiri lalu menutup pintu. Dia tidak ingin pembicaraannya sampai ke telinga tetangga.


"Bukan itu alasannya Yah. Mas Alan sudah tidak bisa di harapkan." Masalah Alan yang terlalu berbelit-belit membuat Mita bingung harus bagaimana menceritakannya.


"Baru kali ini Ayah tercoreng nama baiknya!! Apa kata tetangga kalau kamu gagal menikah! Apa kau mau jadi perawan tua!!" Mama Mita hanya terdiam sebab dia juga menyimpan kekecewaan pada Mita yang di anggapnya tidak becus menjaga hubungan.


"Aku juga tidak ingin ini terjadi Yah." Ayah Mita berdiri lalu masuk ke dalam, dia keluar dengan membawa sebuah tas besar di tangannya.


"Daripada Ayah kalap. Lebih baik kamu tinggal di rumah Kakak mu dulu!!" Ucapan Ayah Mita terdengar di tekan karena tengah menahan emosi. Dia kembali berjalan masuk ke dalam dan menutup pintu kamarnya keras.


Braaaakkkkk!!


"Mi Mita di usir Ma?" Tanya Mita terbata.


"Mama sudah berusaha merajuk Ayah tapi sepertinya dia kecewa padamu."


"Musibah siapa yang tahu Ma."


"Musibah ini akibat perbuatan mu sendiri."


"Ceritanya panjang Ma. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana."


"Sebaiknya kamu tinggal di rumah Kakak mu dulu sampai emosi Ayah mu turun."


"Rumah Mbak Anis terlalu kecil Ma. Aku tidak enak sama Suaminya."


"Pergi atau Ayah seret kamu keluar!!!" Gertak Ayah Mita dari dalam kamar.


Mama Mita memberikan isyarat untuk pergi. Dengan terpaksa Mita membawa tas dan melangkah keluar rumah.


Keputusan kedua orang tuanya tentu saja membuatnya menangis terisak meski mencoba di tahan.


Harus pergi kemana aku.


Mita berdiri di depan rumah sambil memikirkan tujuannya. Dia tidak berminat tinggal di rumah Kakaknya karena keterbatasan tempat. Rumah Kakaknya terlalu kecil sehingga Mita merasa sungkan pada Kakak iparnya.


Sekarang aku benar-benar berada di posisi Ayu. Apa Tuhan sedang menunjukkan kesalahan yang seharusnya tidak ku lakukan. Aku mencoba membenci seseorang yang tulus ingin berteman denganku, bahkan aku berniat merebut Suaminya. Orang macam apa aku ini..


Mita mengambil dompetnya dan tersisa uang 25 ribu. Berkerja sebagai salesman membuat Mita hanya mendapatkan gaji sesuai barang yang di jual.


"Sepertinya aku harus meminta maaf lagi dan meminjam sedikit uang untuk menyewa tempat tinggal."


Mita sudah tidak perduli dengan rasa malu. Dia tidak memiliki teman yang bisa membantunya. Hanya Ayu satu-satunya orang yang tidak pernah berbelit ketika di mintai bantuan.


Singkat waktu. Setibanya Mita di sana, kedatangan di sambut si penjaga rumah.


"Ada perlu apa Non." Tanyanya ramah.


"Saya ingin bertemu Ayu Pak."


"Maaf, Non Ayu tidak ingin menerima tamu."


"Saya mohon Pak. Saya berjanji hanya sebentar."


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil tiba-tiba saja datang. Itu adalah mobil Dimas yang kebetulan ada keperluan dengan Samuel untuk meminta tanda tangan pada beberapa berkas.

__ADS_1


Melihat Mita berdebat dengan penjaga rumah, Dimas turun dari mobil dan menghampiri nya.


"Eh Mas Dimas. Em aku mau bertemu Ayu Mas."


"Sepertinya kamu harus kembali. Nona Ayu memang tidak menerima tamu luar."


"Please Mas. Aku butuh sekali bertemu dengannya. Tolong." Ucap Mita memohon. Dimas melirik ke arah mata Mita yang sembab.


"Sebentar ku tanyakan pada Tuan dulu."


Dimas mengambil ponselnya lalu berjalan menjauh untuk menghubungi Samuel.


📞📞📞


"Tuan Maaf. Nona Mita ingin bertemu dengan Nona Ayu.


"Suruh dia pergi. Istriku tidak ingin ada tamu luar.


"Dia sepertinya habis menangis. Saya ingin bertanya tapi takut lancang. Tolong bicarakan ini dengan Nona Ayu mungkin dia mau menemuinya sebentar saja.


"Ya akan ku tanyakan.


📞📞📞


Di sisi lain, Samuel berjalan menghampiri Ayu yang tengah berbaring sambil menonton televisi. Terlihat Samuel sempat menghembuskan nafas berat ketika akan menjelaskannya. Dia takut membuat suasana hati Ayu memburuk.


"Telepon dari siapa Bee?" Tanyanya menatap Samuel yang kini duduk di bawah sofa.


"Dimas." Dia bahkan menyuruh ku memblokir nomer Mita.


"Ya sudah kamu turun saja. Aku berjanji tidak akan keluar."


"Em ada Mita juga." Sontak Ayu menoleh cepat.


"Aku tidak menerima tamu apalagi wanita." Seakan menjadi cerminan diri. Ayu kini berubah menjadi sangat posesif pada Samuel. Terkadang membutuhkan waktu sehari bagi Samuel untuk merajuk ketika Ayu marah padanya.


"Dimas bilang kalau Mita sedang menangis."


"Me menangis?" Tanyanya mengulang.


"Menangis kenapa?" Perlahan Ayu duduk, dia mengikat rambutnya sembarangan.


"Dimas merasa sungkan bertanya. Em mungkin kamu mau menemuinya sebentar."


Semenjak Mita menggagalkan insiden pembunuhan, membuat Samuel merasa berhutang nyawa pada Mita.


"Tapi kamu janji tidak akan keluar ketika aku berbicara dengan Mita."


"Hm iya. Aku juga ada keperluan dengan Dimas. Kamu di ruang tamu lalu aku dan Dimas di kamar ini." Jawab Samuel merajuk. Dia selalu berhasil mencari selah untuk mengambil hati Ayu.


"Suruh dia masuk Bee. Tapi jangan keluar kamar. Biar aku yang menyuruh Dimas ke sini." Ancam Ayu berdiri untuk mengganti baju haram nya.


"Atur sesukamu Babe."


Setelah mengganti baju, Ayu masuk ke dalam lift untuk turun. Dia menyuruh Bik Ratih menyiapkan suguhan sebelum ke ruang tamu.


Tepat di saat Ayu keluar dari dapur, terlihat Mita baru saja datang bersama Dimas.


"Maaf Nona menganggu." Sapa Dimas seraya tertunduk.


"Kamu langsung ke atas saja Dim."


"Permisi Nona." Dimas menaiki anak tangga menuju lantai dua sementara Ayu mempersilahkan Mita duduk. Terlihat Bik Ratih menyuguhkan cemilan juga minuman hangat mengingat udara di luar sangat dingin.


"Apa kabar."


"Baik Mit. Silahkan minum dulu." Jawab Ayu mempersilahkan.


"Kamu kelihatan lebih berisi sekarang." Tanyanya setelah meneguk minuman di hadapannya.


"Sudah masuk tiga bulan." Suasana Ayu kembali berubah seakan dia tidak menaruh kebencian pada Mita yang kini tengah memasang senyuman mengembang.


"Kamu hamil?"


"Iya. Aku sudah berubah menjadi ikan buntal dan lihatlah." Ayu menunjuk ke wajahnya yang kasar.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu."


"Katanya bawaan bayi."


"Kamu terlihat bahagia."


"Hm sebab Mas Sam tidak berubah meskipun keadaan ku seperti ini."


"Kamu akan kembali cantik kalau anaknya sudah lahir. Selamat ya." Ingin rasanya Mita memeluk Ayu tapi dia merasa canggung untuk melakukannya.


"Kenapa matamu sembab." Mita terdiam sesaat lalu tersenyum simpul.


"Aku minta maaf atas sikapku dulu Ay."


"Bukankah kita pernah membahasnya. Sudah ku maafkan."


"Hm terimakasih."


"Itu saja?"


"Aku di usir dari rumah."


"Lalu untuk apa datang ke sini." Tanya Ayu tegas. Seperti ketika saat Samuel mengambil keputusan.


"Aku mau pinjam sedikit uang untuk menyewa tempat tinggal. Aku berjanji akan mengembalikan nya."


"Em begitu." Ku fikir ingin meminta tempat tinggal.


"Aku sudah mempermalukan keluarga ku Ay. Sebenarnya Ayah menyuruh ku tinggal di Mbak Anis. Tapi rumahnya terlalu kecil, aku takut merepotkan."


"Mempermalukan masalah apa?"


"Mas Alan. Bukankah kamu tahu kalau kita berencana menikah tahun depan." Ayu menghela nafas panjang. Terbesit rasa kasihan walaupun cemburu terasa bergejolak." Perkerjaan ku juga tidak bisa di harapkan." Imbuhnya menjelaskan.


"Sebentar ya Mit." Ayu beranjak dari tempatnya. Dia masuk ke dalam lift menuju kamarnya untuk mengambil dompet." Kamu tidak punya uang cash Bee." Tanya Ayu setelah melihat tiga lembar uang seratusan di dompetnya.


"Untuk apa?"


"Mita butuh uang untuk menyewa tempat tinggal." Jawabnya polos.


"Hanya ada empat lembar." Samuel memberikan empat lembar uang pada Ayu.


"Kurang Bee. Sewa tempat tinggal kan mahal sekarang."


"Biar saya ambilkan sekalian pulang Nona." Sahut Dimas cepat. Dia membereskan berkas yang sudah di tanda tangani lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Nanti dia malu Dim."


"Terus bagaimana. Ingat Babe. Kamu boleh keluar jika kandungan sudah empat bulan." Jawab Samuel mengingatkan.


"Iya ingat. Aku bukan pelupa." Jawab Ayu ketus.


"Biar Dimas yang mengurus."


"Sekalian carikan tempat tinggal untuknya Dim." Pintanya menambahkan.


"Iya Nona siap."


"Ingat Bee. Tetap di kamar sampai Mita pulang. Kalau kamu melangkah keluar sedikit saja, aku membenci mu!!" Ayu menunjuk ke arah Samuel sebelum akhirnya berjalan keluar kamar.


"Sekarang aku tahu rasanya." Gumam Samuel malah tersenyum. Sama sekali dia tidak pernah merasa kesal dengan perubahan sikap Ayu yang terkadang berkata kasar.


"Saya permisi Tuan. Takut kemalaman."


"Suruh dia tinggal di salah satu rumah dinas perusahaan agar dia tidak memikirkan sewa."


"Lantas uangnya?"


"Tetap berikan mungkin saja dia butuh. Aku punya hutang nyawa padanya."


"Baik Tuan permisi."


Samuel menutup pintu ketika Dimas sudah keluar dari kamarnya. Dia tidak ingin membuat Ayu salah faham dan berakhir ricuh.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2