
Entah angin apa yang membawa Mita datang ke rumah Ayu pagi itu. Dia hanya punya niat menemui Ayu untuk meminta bantuan membawa Alan ke rumah sakit jiwa.
Beberapa kali Mita merajuk Bu Erna bercerita pada Dika tapi Bu Erna tidak mau berurusan dengan Tania. Sehingga Mita memutuskan untuk meminta bantuan Ayu secara langsung mengingat keadaan Alan yang sangat memprihatikan.
Baru saja Mita turun dari ojek, dia di kejutkan dengan keluarnya sebuah mobil yang terlihat kotor.
Tidak mungkin itu mobil Mas Sam.
Setelah membayar, Mita berjalan ke arah pagar dan semakin di buat terkejut melihat kedua penjaga rumah tergeletak tidak sadarkan diri.
Ada yang tidak beres.
Mita berlari kecil menuju rumah seraya mencoba menghubungi kontak Samuel yang masih di simpan. Karena panggilan nya tidak di jawab. Mita berinisiatif mengirimkan sebuah pesan terlebih dahulu.
πTolong Mas. Ini penting. Apa kamu ada di rumah? Kenapa penjaga rumah pingsan dan aku melihat mobil hitam asing keluar dari pintu pagar.
Drrrrtt Drrrrtt Drrrrtt
Sambil mengatur nafas, Mita menerima panggilan dari Samuel.
πππ
"Apa yang kau katakan!
Tentu saja Samuel merasa panik walaupun dia tidak sepenuhnya percaya pada Mita.
"Serius Mas Sam. Aku berada di rumah.
"Apa mau mu!
Mita merubah panggilan biasa dengan video call. Samuel langsung merespon dan melihat sendiri jika Mita berada di pekarangan rumahnya.
"Apa yang terjadi?
Para relasi ikut merasa panik begitupun Dimas.
__ADS_1
"Pagar terbuka. Para penjaga pingsan. Apa Ayu bersama mu Mas?
Mita semakin di buat terkejut ketika melihat rumah terbuka lebar dengan tubuh Bik Ratih yang terletak di lantai. Mita mengarahkan kameranya dan seketika panggilan terputus.
πππ
"Ay.. Kau di dalam?" Teriak Mita menyerbu masuk. Dia memeriksa setiap sudut rumah yang terlihat kosong. Segera saja dia menaiki tangga, membuka setiap kamar dan menyisakan kamar utama yang tertutup rapat." Ayu. Ini aku Mita. Tolong jawab Aku. Apa kamu ada di dalam." Mita mengendor pintu kokoh tersebut tapi tidak mendapatkan jawaban.
Beberapa menit kemudian, mobil Samuel terlihat datang. Mita berteriak untuk memberitahu posisinya. Samuel bergegas naik ke lantai dua untuk memeriksa kamar utama yang kosong.
"Apa yang kau ketahui!" Teriak Samuel geram.
"Aku tidak tahu Mas. Aku hanya mengatakan apa yang ku lihat." Dimas menghembuskan nafas berat, dia berjalan menjauh seraya menelfon beberapa anak buahnya.
"Bukankah mencurigakan! Apa keperluan mu ke sini? Apa kau berusaha menghancurkan hubungan kami!!" Setelah memberikan titah, Dimas kembali berjalan ke arah Samuel.
"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk menyisir wilayah Tuan."
"Ikut aku!" Samuel menyeret kasar lengan Mita di ikuti oleh Dimas. Tentu saja dia menaruh curiga padanya sehingga dia ingin Mita ikut serta.
Dimas tahu bagaimana buruknya Tuannya ketika sudah marah. Apalagi kejadian tersebut menyangkut orang yang terkasih.
Sesuai arahan, Samuel menyuruh Dimas menyisir sekitar terlebih dahulu. Dia duduk lemah di sisi Dimas dengan wajah cemas. Samuel mulai membayangkan kehilangan Ayu sehingga beberapa kali umpatan terdengar.
"Itu mobil nya!" Tunjuk Mita ke sebuah mobil yang baru saja melintas.
Dimas membelokkan mobilnya berusaha mengejar. Dengan kecepatan tinggi dan dukungan jalan yang sepi membuat Dimas berhasil memotong laju mobil.
Braaaakkkkk!!!
"Di mana Istriku!!" Karena merasa tidak sabar, Samuel menyeret lalu membenturkan tubuh salah satu dari orang suruhan Tania.
Dengan cerdasnya Dimas memotret tiga orang tersebut sebelum melontarkan ancaman. Dia ingin waspada jika mungkin ketiga orang tersebut berusaha kabur.
"Anda siapa?" Jawabnya mengelak.
__ADS_1
"Kamu yakin ini mobilnya Nona?" Tanya Dimas memastikan.
"Yakin Mas. Aku juga melihatnya." Menunjuk si supir.
"Jangan asal menuduh." Teriaknya tidak terima. Mereka hanya mendapatkan tugas menculik dan tidak tahu menahu dengan rencana pembunuhan Ayu.
"Saya yakin kalian hanya orang suruhan. Katakan di mana Nona Ayu sebelum saya memenjarakan kalian." Tepat di saat Dimas selesai berkata, sebuah mobil terparkir. Beberapa orang keluar dari dalam. Mereka berpenampilan bak preman jalanan meski kenyataannya, mereka adalah anak buah Dimas." Tuan saya bukan orang sembarangan. Ini adalah penawaran terakhir sebelum kalian saya seret ke penjara." Banyaknya anak buah, membuat ketiganya saling melihat. Tentu saja mereka merasa takut kalau sampai harus berakhir di jeruji besi dengan keadaan babak belur.
"Di jembatan gantung. Dia ada di sana." Samuel yang tahu lokasinya langsung melepaskan cengkraman tangannya lalu masuk ke dalam mobil." Lepaskan kami Tuan." Imbuhnya dengan tubuh bergetar. Sial sekali! Uang yang ku dapatkan tidak seberapa tapi harus berakhir seperti ini.
"Ikat mereka sampai polisi datang." Pinta Dimas tegas. Dia membiarkan anak buahnya mengatasi ketiganya sementara dirinya masuk ke dalam mobil bersama Mita.
.
.
Samuel memarkirkan mobilnya sembarangan saat melihat mobil Dika terparkir di sisi jembatan. Awalnya dia berfikir jika mungkin Dika pelakunya. Tapi setelah melihat pemandangan di hadapannya, sontak membuatnya mempercepat langkah.
Otaknya tidak lagi bisa berfikir tentang siapa yang bersalah. Samuel bahkan tidak sanggup melihat obyek lain kecuali Ayu yang dengan jelas terjun ke bawah sungai dengan kedalaman 10 meter.
Segera saja Samuel melompat ke bawah tanpa memikirkan keselamatan sendiri. Sementara Ayu sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Tubuhnya tenggelam perlahan, walau dia mencoba menggerakkan kakinya dan berharap bisa naik ke permukaan.
Mata yang melebar dan gelembung yang keluar dari mulutnya menandakan jika dirinya kesulitan bernafas. Tidak ada yang melintas di fikiran nya kecuali kematian.
Ayu menghubungkan kejadian sekarang dengan pembicaraan Samuel dua Minggu yang lalu. Keduanya bahkan kerapkali membahas tentang sebuah kematian yang mungkin menghampiri salah satu dari mereka.
Apa itu adalah pertanda? Apa aku akan mati sekarang. Sesak.. Aku tidak bisa bernafas.. Kamu bilang kita akan mati bersama. Di mana kamu Bee.. Tolong aku..
Tubuh Ayu menggelepar. Lehernya tercekik saat air sungai memenuhi paru-paru. Sesaat setelah itu, tubuhnya sudah tidak lagi bergerak. Jatuh ke bawah di dasar air sungai yang tenang.
Tiba-tiba saja, tangan Samuel meraih pinggangnya. Dia berhasil menemukan Ayu dan segera membawa tubuhnya naik ke permukaan.
"Tidak! Babe." Teriak Samuel berusaha memberikan nafas buatan namun Ayu tidak merespon. Dia menyeret tubuh Ayu ke tepian sungai lalu menekan-nekan dada Ayu berharap air bisa keluar dari paru-paru." Kau tidak boleh meninggalkan ku! Babe! Bangun!" Samuel melakukan pertolongan pertama tanpa henti meski tubuh Ayu belum merespon. Sambil terisak-isak, Samuel melakukannya berulang-ulang dengan harapan Ayu masih bisa di selamatkan.
πΉπΉπΉ
__ADS_1